Gus Fatih diberikan pilihan oleh kedua orang tuanya. Menikahi seorang gadis sholeha yang merupakan seorang ning atau menikahi seorang wanita malam.
Kira-kira siapa yang akan gus Fatih pilih? Apakah gadis sholeha yang pandai agama, atau seorang wanita malam yang hidupnya tak tahu arah?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon skyl, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
~Wanita Pilihan Gus Fatih~ part 16
Setelah muelewati seharian penuh yang menghabiskan tenaga akhirnya paginya Inara lebih fresh lagi hanya saja ia kesulitan berjalan sebab habis di buka segel semalam.
"Mas," panggil Inara menepuk bahu Fatih yang masih tidur terlantang sambil memeluknya.
Fatih bukannya bangun, malahan semakin memper-eratkan pelukannya.
"Mas bangun, ih," pinta Inara. Inara berusaha untuk menyengkirkan tangan kekar Fatih. Namun, tak bisa seakan lelaki itu sengaja.
Helaan napas keluar dari hidung Inara. Ia mencubit kecil pipi Fatih sehingga sang empuh meringis kesakitan dan membuka matanya.
"Kok di cubit sih?" tanya Fatih. Bangun dari tidurnya dengan wajah yang di manyukan.
"Kan mas enggak mau bangun, makanya aku cubit."
Fatih menarik Inara dan mendudukannya dipangkuannya. Inara pun seketika merasa gugup dibuat lelaki tersebut.
Apalagi saat Fatih meniup daun hidungnya, membuat semua bulu kuduknya naik.
"Sakit itunya?" bisik Fatih bertanya.
Inara mengangguk lalu mendongak ke atas. Semalam Fatih berbohong jika enggak ada rasa sakitnya, tapi sekarang ia ingin jalan pun tak bisa.
"Besok-besok aku enggak mau lagi. Mas bohong katanya enggak sakit buktinya aku enggak bisa jalan."
"Nanti juga terbiasa, sayang. Kan itu baru buka segel kalau udah sering enak kok enggak sakit lagi. Kali ini mas serius enggak bohong. Maafin masmasmu yang habibati."
Inara mendengus dan membalikan badannya ke arah Fatih. Ia menaroh kepalanya di bahu suaminya itu. Tangan Fatih pun tak tinggal diam, ia membelai surai istrinya dengan lembut.
"Mas gendong ke kamar mandi? Kita mandi sama-sama."
"Kok mandi sama? Aku aja dulu nanti mas."
"Dalam islam, mandi bersama dengan status suami istri itu sunnh, sayang. Apalagi kita ini pengantin baru tahu."
"Emang, iya?" tanya Inara memicingkan matanya. "Mas enggak bohong lagi kan?" tanya Inara lagi.
"Enggak, habibatiku, humairaku. Mas enggak bohong."
Melihat mata suaminya seperti tak menaroh kecurigaan. Inara pun mengangguk, Fatih pun menggendong istrinya menuju kamar mandi untuk mandi junub bersama.
Setelah bersih-bersih. Fatih mengajak istrinya keluar rumah. Namun, nampaknya gadis yang semalam sudah resmi menjadi wanita itu tak ingin sebab tak pede dengan cara jalannya. Nanti di tanyain aneh-aneh oleh keluarga.
"Mereka pasti mengerti kok," ucap Fatih yang hanya menggunakan baju kaos serta celana pendek yang di tutupi sarung.
Inara pun terpaksa mengikut suaminya. Fatih mengenggam tangan istrinya menuju ruang makan, keluarga sudah berkumpul.
Acara pernikahan memang hanya dilakukan di rumah, Fatih yang memintanya. Gedung atau di rumah sama saja menurut Fatih malahan lebih enak berpesta di rumah sendiri. Lagian rumah mereka besar.
"Pagi pengantin baru," sapa sepupu Fatih yang nginap dari tiga hari yang lalu.
Semua saudara dari umi Tifa dan abi Farhan datang. Ada yang menginap ada juga yang langsung pulang karena banyak pekerjaan maklum keluarga berbisnis semua.
Inara saja sempat minder, sebab sepupu suaminya yang masih muda bahkan yang lebih muda darinya ada yang sudah prestasi menjadi kebanggaan keluarga.
Untungnya, mereka semuanya baik, dan menerima Inara dengan baik tidak memandang latar belakangnya.
"Sini, nak duduk," panggil umi Tifa pada menantunya. Inara mendekat dan membantu mertuanya serta tante-tantenya Fatih untuk mengantar makanan ke meja.
Sedangkan Fatih duduk di samping sepupunya menunggu makanan siap.
"Tif, lihat cara jalan menantumu," bisik saudara dari abi Farhan pada umi Tifa.
Umi Tifa hanya tersenyum. Semoga aja secepatnya mereka berdua mendapatkan momongan, dan ia akan menjadi nenek.
"Sudah ku bilang kan? Menantuku itu masih Perawan, anakku yang membuka segelnya," celetuk umi Tifa sebab dulu saudara-saudaranya sempat menuduh Inara tak perawan lagi karena bekerja di club.
"Inara kamu duduk aja dekat suamimu. Biar tante yang siapin."
"Tidak tante, merasa tidak sopan jika para orang tua sedang bekerja, dan aku hanya duduk."
"Masya-allah."
Setelah makanan sudah selesai di sajikan. Inara duduk di samping suaminya. Fatih pun mengenggam tangan istrinya dari bawah kolong meja.
"Kamu enggak boleh makan cumi-cumi," bisik Fatih saat Inara ingin mengambil cumi-cumi yang berada di depannya. "Tante tolong daging ayamnya," pinta Fatih membuat tantenya itu memberikannya.
"Mas?" tanya Inara, sebab Fatih tidak mengisi piringnya, malahan piringnya saja.
"Kita makan satu piring yang sama," bisik Fatih.
Inara malu-malu sebab Fatih mulai ingin menyuapinya padahal ada keluarga besar. Tampaknya juga mereka sedang memperhatikannya.
"Enggak usah malu, memang gini kok kalau pengantin baru, tapi mas akan membawanya sampai kita tua."
Dengan perlahan Inara menerima suapan suaminya. Membuat mereka semua terkekeh geli melihatnya.
"Iya Allah, mah. Besok Alfin juga mau nikah," pinta sepupu Fatih membuat mereka semua tertawa.