Cover by me
Aidan Putra Bimantara—polisi muda berpangkat Ipda, hidupnya lurus dan rapi kayak barisan upacara. Sementara Yura Khalisa, tetangganya sekaligus mahasiswi tingkat akhir, yang sudah akrab dengan kalimat "Proposal kamu direvisi ya, Dek" dari dosen pembimbing yang sepertinya kurang kerjaan.
Mereka ini sebenarnya sudah seperti keluarga. Aidan menganggap Yura itu adik, dan Yura juga menganggap Aidan itu kakak. Pokoknya zona nyamanlah.
Tapi entah karena semesta lagi iseng atau mereka lagi sial, sebuah insiden tolol membuat mereka harus menikah dan tinggal serumah. Iya, satu atap. Satu kamar. Satu kasur, eh?.
Yang bikin tambah absurd, Aidan sampai harus melangkahi dua kakak laki-lakinya yang masih betah menjomblo. Bayangkan, bukan cuma melangkahi... ini mah loncat jauh ke babak yang belum waktunya!
Dan begitulah, dimulailah kisah rumah tangga Aidan dan Yura, dua orang yang niatnya cuma bertetangga, eh malah jadi teman hidup.
Mau tau kelanjutan ceritanya klik di bawah ini👇🏻
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Chika cha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kasur basah, Tetangga Resah
Begitu Aidan pulang dari masjid, semua yang Adian minta sebelum pergi tadi sudah tersusun rapih di atas ranjang beserta Yura. Iya, Yura juga. Gadis itu bahkan sudah tidur pulas kembali dengan mukenah yang belum di lepas. Astaga! Bukanya seharusnya seorang istri selepas ibadah langsung ke dapur gitu menyiapkan sarapan. Ini malah sudah melingkar seperti ular yang sedang hibernasi di atas ranjang.
Sungguh melihat itu membuat darah Aidan kembali bergejolak. Ia beralih masuk ke kamar mandi untuk berganti pakaian lebih dulu. Karena ini hari Senin, Aidan menggunakan baju kemeja putih, celana hitam serta dasi merah. Kenapa tidak pakai seragam resmi kepolisian? Karena unit satreskrim diperbolehkan tidak memakai baju dinas resmi. Dan hari Senin ini dia juga harus apel pagi, tepat jam 7, jadi sebelum jam 7 dia harus sudah tiba di kantor.
Begitu keluar kamar mandi, Yura masih belum bangun, sangat pulas sekali tidur gadis itu. "Woy, cel! Bangun!" Aidan mulai mengguncang tubuh Yura, masih pelan, masih pakai perasaan.
Gadis itu melengguh "iih, aku masih ngantuk bun" ia merubah posisi berguling ke kanan dan sekarang malah memeluk guling. Semakin pulas lah tidur si boncel jelmaan botol Yakult ini.
Apa tadi katanya Bun? Dikira Aidan ini bunda Rita apa? Woy, ini laki Lo boncel!
"Boncel bangun gak lo!" kembali Aidan mengguncang tubuh Yura, sedikit lebih kencang berharap Yura bangun.
Tapi itu hanya harapan, nyatanya gadis itu tidak terganggu.
"Wah, ini masih pagi loh cel, Lo udah ngajakin gue war aja. Bangun gak lo!" sungguh Aidan mulai jengkel akan si boncel yang sudah resmi menjadi istrinya mulai kemarin.
Namun masih tetap belum ada pergerakan dari Yura, benar-benar kebok sekali gadis ini. Aidan meraup wajahnya frustasi. Ia berkacak pinggang "Oke, udah cukup gue bangunin Lo dengan cara baik-baik. Rasain kemurkaan gue" ucap Aidan sembari berjalan keluar kamar mengambil air seember, bayangkan seember bukan segayung. Kesabarannya nyaris habis, hanya untuk membangunkan Yura.
Begitu tiba di kamar Aidan menatap Lamat lebih dulu wajah Yura, masih berusaha bersabar untuk terakhir kali. "Boncel Bangun!" tapi jangan harap ia mengguncang tubuh Yura kali ini dengan tangan, melainkan dengan kaki, ia menegang pelan tubuh Yura, semantara 2 tangannya berkacak pinggang.
Merasa ketentraman tidurnya terganggu, Yura mendengus kesal, lalu menggumam "entar dulu, masih ngantuk!"
Wah, ini sudah di tahap ambang kesabaran Aidan, ia nampak mengelus dadanya dan menarik nafas perlahan-lahan. Lalu Aidan mengangguk paham, memang gadis ini tidak bisa di bangunkan dengan cara baik-baik. Kemudian ia tersenyum simpul mengangkat ember berisi air penuh. Dan,
Byur!
Aidan menyiramkan air itu ke Yura yang masih terlelap, bayangkan itu air satu ember bukan satu gayung yang mengguyur tubuh Yura.
"Banjir! Banjir!" jerit Yura selanjutnya saat merasakan kini sekejur tubuhnya basah kuyup, rasanya ia sudah tergulung derasnya air banjir bandang dadakan.
"Bukan banjir lagi, tapi itu udah tsunami dodol!" sarkas Aidan.
Mata Yura membulat kala melihat Aidan yang sudah berpakaian rapih sembari memegang ember. Tunggu ember? Yura melihat tubuhnya yang sudah basah kuyup kembali, lalu kembali menatap Aidan dengan wajah tak percaya "Lo siram gue bang?!"
"Hm" jawab Aidan mengangkat dagunya tinggi-tinggi merasa puas dengan apa yang di lakukannya dan berhasil membangunkan kebok boncel jelmaan botol Yakult satu ini.
"Keterlaluan!"
"Laki jahanam!"
"Laki sarap!"
"Laki biadab!"
"Indomilk sialan!"
"Indomilk sacet bangsat! Berengsek!"
Segala umpatan dan makian Yura lontarkan pada tetangganya yang baru genap satu hari menjadi suaminya itu, tidak lupa Yura memukuli Aidan dengan guling yang tadi ia peluk. "Suami macam apa Lo hah?! Masak bangunin istri diguyur air seember!! Gak berprikeistrian Lo jadi laki!"
"Makannya jangan kebok boncel!" Aidan berusaha menghindar dari setiap serangan yang diberikan Yura. Jangan lupa pria itu juga tertawa karena melihat singa betina ini sedang mengamuknya dan memukulnya habis-habisan. Pukulan dengan bantal itu tidak sakit sama sekali hanya saja baju Aidan basah karena bantal itu tadi terkena air yang Aidan siramkan pada Yura.
Merasa perbuatannya sia-sia dan malah membuat diri sendiri menjadi lelah, alhasil Yura menghentikannya, ia menatap tajam Aidan sebelum benar-benar pergi masuk kedalam kamar mandi dan menutup kamar mandi itu dengan cara di banting.
Brak!
Aidan berjengkit di tempat "Seminggu itu boncel tinggal disini, bisa di pastikan engsel pintu rumah gue lepas semua" dumelnya, lalu setalahnya ia cekikikan mengingat bagaimana cara ia mengguyur Yura tadi. Aidan pastikan besok kalau Yura tidak mau bangun, ia akan melakukannya lagi. Kok candu ya?
Brak!
Kamar mandi kembali terbuka, memperlihatkan Yura yang sudah lepas mukenah tapi masih memakai baju basah. Ia kembali melirik tajam Aidan jangan lupakan bibirnya yang sudah merenggut kesal, namun enggan bersuara begitu juga Aidan ia hanya memperhatikan kemana boncel itu melangkah dan mengatupkan bibirnya rapat-rapat, karena tawanya sudah akan pecah melihat ekspresi singa betina yang berusaha menahan diri untuk tidak mencabik-cabiknya. Ternyata Yura mengambil baju ganti karena lupa membawanya tadi dan kembali masuk kedalam kamar mandi sembari membawa baju ganti.
Yura kembali menutup pintu sedikit pelan, walaupun nyatanya tetap di banting, tapi tidak sekeras tadi.
Kini 2 pasutri baru itu sama-sama mengangkat kasur untuk di jemur, bisa-bisa tidur di sofa mereka nanti malam kalau ranjangnya masih basah.
"Wih ngeri dek, baru satu malam udah langsung jemur kasur" pekik Abri meledek ia yang baru saja selesai joging dan melihat kedua pasutri baru ini masih pagi sekali sudah menjemur kasur di depan rumah. Ia bersandar di gerbang rumah sambil bersedekap dada.
Sementara itu, 2 ras terkuat di bumi yang sialnya tengah menyirami tanaman itu mendengar pekikan Abri dan langsung mengambil tempat berdiri di masing-masing gerbang rumah mereka.
"Coming Soon cucu ini mbak Nada" suara Rita terdengar bahagia sekaligus mengompori Nada. Sontak kedua pasutri baru itu mendelikkan mata mereka, sambil menggeleng kompak, menentang habis-habisan pemikiran 2 emak-emak itu.
Sementara 2 emak-emak ini, sudah tidak perduli. Mereka lebih percaya dengan apa yang mereka lihat, dan menganggap keduanya menyangkal karena masih malu.
Menanggapi ucapan Rita, Nada mengangguk antusias "gegayaan dek, dek tadi malam mau tidur di rumah mama, tau-tau masuk kamar langsung ngebut nyetak anak, sampai kasurnya kebanjiran" Nada malah menambahi meledek keduanya.
"Gak gi-" belum selesai Aidan protes, Rita sudah memotong.
"Gak papa dan. Namanya juga pengantin baru. Wajarlah. bunda paham kok." goda Rita.
Wajah Aidan sudah pasrah, tidak akan ada harapan jika ingin membela diri dari 2 ras terkuat di bumi ini.
Abri tertawa ngakak melihat wajah masam dari kedua pengantin baru itu.
"Gak usah ketawa bang. Giliran kamu bawa mantu pulang!" telak Nada menatap anak sulungnya. Mendengar perkataan seperti itu Abri langsung kicep dan menelan bulat-bulat tawa yang tadi sempat akan keluar kembali.
Sekarang gantian Aidan yang tertawa "mamam tuh mama minta mantu. Mamam!" ledek Aidan gantian. Sekarang sudah impas, lihat saja wajah Abri yang langsung berubah jadi lebih masam dari jeruk nipis.
Si kulkas keluar dari dalam rumah orangtuanya. Iya Argan siapa lagi. Ia sudah memakai seragam, plus menenteng helm. "Ma, Argan berangkat" ia mencium tangan sang mama lebih dulu, lalu mencium pipi kanan, kiri dan tidak lupa kening sang Mama terakhir. "Masih pagi banget ini loh bang? Matahari aja masih malu-malu mau keluar tuh. Udah mau berangkat aja" ucap Nada. Orang-orang yang ada di depan rumah masing-masing hanya memperhatikan.
"Lanud jauh ma, 30 menit dari sini. Takut kejebak macet nanti" jelas Argan.
Nada nampak tersenyum simpul "Ya udah, udah sarapan kan?" tanya Nada pada putra tengahnya.
Argan nampak mengangguk.
Tunggu, sarapan? Mendengar mamanya mengatakan sarapan Aidan baru teringat point penting itu.
"Cel, Lo gak siapin sarapan gue?"
Yura langsung saja menatap Aidan seraya meringis "Lo lupa apa gimana? Gue kan gak bisa masak"
Sialan! Kenapa Aidan melupakan fakta satu itu, fakta Yura yang tidak pintar memasak sama sekali. Catat sama sekali. Astaga!
Aidan langsung tepok jidat, ya Tuhan, mimpi apa Aidan sampai memiliki jodoh seperti Yura ini, sudah boncel, dodol, plus gak bisa masak. Jengkel jangan di tanya, tapi Aidan bisa apa? Cuma bisa mendongkol saja seraya mengelus dada jangan lupa bilang 'aigo-aigo'.
...auranya indomilk aur-auran👆😂...
...Boncel udah mulai oleng 👆...
suka bgt sm Aidan dan yura