Generasi ketujuh keluarga The Blairs
Ada lima cerita disini tentang bagaimana cicit Abimanyu Giandra, Edward Blair dan Stephen Blair mendapatkan cinta dan pasangannya.
Duncan dan Scarlett adalah putra dan putri Bayu O'Grady dan Ajeng Pratiwi ( My 100th Secretary )
Aslan dan Diana adalah putra dan putri Omar Zidane dan Nadya Blair ( Love and Justice )
Indiana adalah putra Nelson Blair dan Marisol Braga ( Love and Justice ).
Seperti biasa, cerita ini sangat Membagongkan macam authornya.
DILARANG PLAGIAT KARENA JIWA GESREK KITA BERBEDA!!!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hana Reeves, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
DB - SK - Dua Gadis Blair
Mansion Blair Staten Island New York
"Maaf Mr O'Grady dan Mr Blair. Bagaimana anda bisa mengetahui lokasi para Ter**is yang disinyalir akan menggunakan blue print senjata buatan Jang Corp? Saya yang sudah mempelajari bolak balik, tidak bisa menemukan titik terang nya ..." Serena menatap ke kedua opa Duncan itu.
"Pengalaman dan pengamatan, Miss Kirrin" senyum Abiyasa O'Grady. "Di laporan itu ada banyak informasi dan aku tahu kamu sudah hapal tapi terkadang dari satu petunjuk kecil itu merupakan jawaban besar."
"MMS China sudah tahu markas mereka dimana tapi tepatnya mereka masih belum menemukan. Dalam laporan MI6 ada di provinsi Heilongjiang tapi lokasinya dimana, itu yang kalian tesilap" timpal Travis. "Karena aku pernah membantu pemerintah China untuk mengakusisi beberapa daerah yang dikuasai oleh orang asing termasuk warga negara Amerika. Presiden Ji An dan pemerintah Amerika meminta biro hukum Blair untuk membantu bahasa halusnya, tapi mengusir mereka dari China dengan mengambil semua aset mereka menjadi milik pemerintah Ji An. Dari sanalah, kami menjadi berteman baik."
"Bagaimana anda bisa menebak area di Heilongjiang yang merupakan markas Ter**is yang dimaksud?" tanya Serena penasaran.
"Karena Serena Kirrin, boleh aku panggil begitu, di Heilongjiang tempat yang aku datangi saat kasus itu dekat dengan perbatasan Russia, tepatnya di Xingkai Lake (atau Khanka Lake) di perbatasan dengan daerah Russia bernama Primorsky Krai." Mata biru Travis menatap serius ke Serena. "Aku pernah kesana dan area disana memang sangat cocok untuk untuk tempat persembunyian mereka."
Serena melongo. Ternyata mereka semua sudah menjelajah kemanapun dan bisa menyimpulkan dari satu petunjuk kecil.
"Jadi kamu paham kan? Baik Ter***is Russia dan China sebenarnya saling bekerja sama semacam sama - sama mencari keuntungan. Tapi mereka juga saling waspada satu sama lain karena salah satu juga bisa berkhianat... Kamu orang MI6 harusnya boss kamu lebih paham." Travis menyesap kopinya.
Serena mengakui dirinya kalah segalanya dari dua pria senior ini dan dia harus banyak belajar apalagi soal koneksi, dirinya kalah.
"Kamu harus memiliki banyak rekan intelijen dari negara lain, Serena. Jangan hanya bertumpu dengan satu dua negara, kalau bisa hampir semua intelijen kamu miliki kontaknya. Demi kerjasama yang baik dan perdamaian di masing-masing negara" sambung Abiyasa. "Tidak mudah membangun trust tapi jika kamu bisa membuktikan bahwa kamu agen yang bisa dipercaya tanpa ada tendensi apapun, aku yakin kamu bisa mendapatkan banyak koneksi."
Duncan menoleh ke Serena. "Jika kamu bingung mulai darimana, bisa kita mulai dari FBI, CIA dan NCIS yang aku kenal banyak disana. Setelah nya kita ke BIN, BND dan ABIN..."
Serena mengangguk. Setidaknya pertemuan dengan Duncan O'Grady bisa membantu karir aku di MI6. Aku bisa mendapatkan banyak koneksi intelijen yang mungkin teman seangkatan aku belum tentu bisa mencapainya.
***
Klub di Poughkeepsie Siang Harinya
Diana memulai pekerjaannya sebagai tukang cuci piring dan gelas minuman. Gadis itu dengan sengaja menyembunyikan lekuk tubuhnya dengan baju gombrong dan the power of make up hingga membuat orang merasa malas berdekatan dengannya karena saking jeleknya.
"Suara apa itu Diana?" tanya Billy Boyd melalui earpiece.
"Aku meletakkan gelas di dalam keranjang. Oh aku sudah memasang beberapa CCTV yang linenya berbeda dari line bar... Oom bisa mencarinya..." bisik Diana.
Billy Boyd langsung mencari line CCTV milik Jang Corp dan menemukan ada beberapa angle yang diperoleh. "Ivan Abramovich kira-kira datang tidak ya?"
"Belum tahu." Diana terdiam saat seorang gadis dengan pakaian seksih masuk ke dalam dapur.
"Heh muka jelek ! Apa sudah kering semua gelas-gelas nya?" ucap pelayan itu.
"Ini. Sudah saya siapkan." Diana meletakkan keranjang berisikan gelas-gelas yang sudah bersih dan kering diatas meja dapur.
"Tata yang rapih sesuai dengan fungsinya ! Kamu tahu kan? Jangan sampai ada yang pecah !" bentak wanita itu membuat Diana mengangguk malas.
"Dasar balon berjalan ! Itu kalau silikon elu meledak kena tusuk, bakalan bikin kamu Molay karena cairannya bisa..." omel Diana membuat Billy Boyd tertawa.
"Please Diana, kamu semakin mirip dengan ibumu..." kekeh Billy yang menoleh saat pintu mobil Van terbuka. Tampak agen Park Joon-seo datang membawakan makan siang dan kopi yang banyak.
"Makan siang dulu Boss" ucap Agen Park. "Aku juga harus mengisi amunisi untuk membongkar laptop milik Maruyama."
"Masih belum berhasil?" tanya Diana di earpiece Agen Park.
"Belum miss Zidane."
"Aku yakin kamu bisa memecahkan misteri laptop yang rusak..." celetuk Diana.
"Kok jadi macam judul novel yaaa..." gumam Billy Boyd.
***
Manhattan New York, Starbucks
Scarlett O'Grady memilih duduk di sudut sembari melihat gedung tempat perusahaan milik Timothy Jones berada. Scarlett tahu jika pria yang pernah berseteru dengan Duncan, menyewa gedung perkantoran itu untuk cabang perusahaan senjatanya. Sementara kantor pusatnya berada di daerah Bronx yang notabene adalah area di bawah empat borough lainnya di New York.
Seperti kita tahu di negara bagian New York dibagi menjadi lima county ( borough macam Jakarta ada timur, selatan, Utara, pusat dan Barat ) yang terdiri dari Bronx, Brooklyn, Manhattan, Queens dan Staten Island. Manhattan adalah pusat bisnis dan daerah terkaya dari lima county itu disusul Staten Island.
Scarlett bisa paham kenapa Timothy Jones memilih Bronx sebagai tempat dimana perusahaan senjatanya didirikan disana karena tingkat kriminalitas cukup tinggi dan dengan merengkuh para anggota geng atau pun raja-raja kecil disana sebagai pelindung dari polisi ataupun IRS, pabrik senjata Jones akan lebih aman dari gangguan pemerintah.
Gadis itu menyesap kopinya sembari membuka MacBooknya untuk menunggu jadwal penempatan bekerja di rumah sakit New York. Scarlett memilih antara Bellevue atau Bathesda dan tanpa bantuan Oom Samuel Prasetyo ataupun Tante Blaze Bianchi yang notabene adalah dokter senior dari dua rumah sakit itu. Scarlett ingin membuktikan bahwa dirinya bisa masuk sana tanpa nepotisme.
Jika dia bisa masuk karena kemampuannya sendiri, Scarlett menjadi orang yang bisa mendongakkan wajahnya karena otak dan skillnya pantas masuk ke rumah sakit tersebut.
Suara pintu Starbucks terbuka membuat Scarlett yang mengenakan airpods, melirik dan tampak Timothy Jones bersama dengan beberapa orang China datang untuk membeli kopi. Scarlett bersikap seolah tidak melihat siapa yang datang dan dia fokus dengan layar MacBooknya yang sedang menyetel film jadul karya Alfred Hitchcock berjudul Topaz. Scarlett mirip dengan ibunya, Ajeng, yang sangat menyukai film-film kuno.
Timothy berbicara dengan bahasa Mandarin ke keempat orang China itu lalu mulai memesan kopi untuk mereka semua. Ketika sedang menyapu pandangannya, dia melihat Scarlett sedang duduk sambil menatap layar MacBooknya tanpa melihat sekelilingnya.
Timothy tersenyum smirk melihat gadis yang ditaksirnya berada di Starbucks yang sama. Timothy meminta para orang China itu untuk duduk dan mengatakan hendak bertemu dengan temannya.
Tanpa Timothy tahu, Scarlett mengirimkan wajah-wajah orang-orang China itu melalui ponselnya yang sengaja diletakkan berdiri dengan harapan bisa dilakukan face recognition di markas Jang Corp.
Scarlett bisa melihat dari balik bulu matanya kalau Timothy datang menghampiri dirinya. Gadis itu tetap bersikap acuh sampai pria itu mengambil kursi di depannya dan duduk berhadapan.
"Halo Scarlett..." sapa Timothy Jones.
Scarlett seolah terkejut melihat Timothy duduk di hadapannya. "Oh hai. Kamu ngapain?"
"Melihat gadis cantik yang duduk sendirian... Kamu sendirian kan ?"
"Yup. Kamu sama siapa?" tanya Scarlett sambil memencet tombol active mic pada penyadap yang dia letakkan di bawah meja agar Giordano bisa mendengar percakapan Scarlett dan Timothy.
"Tuh dengan teman-teman aku ..." Timothy menunjukkan keempat pria China disana.
"Oh. Tukang dimsum?" ucap Scarlett asal membuat Timothy tertawa.
"Jangan sama ratakan dengan orang-orang yang bekerja di Chinatown, Scarlett. "
Scarlett hanya mengedikkan bahunya.
***
Yuhuuuu Up Malam Yaaaaaa
Thank you for reading and support author
Don't forget to like vote and gift
Tararengkyu ❤️🙂❤️