Penglihatan menembus dimensi ghaib. Tidak hanya di alam nyata, dalam pandangan lain bahwa sosok Indigo ketika berada alam bawah sadar itu sukmanya bisa terlepas keluar dari badannya. Berjalan-jalan menembus ruang dan waktu dunia lain. Setiap malam dirinya di kejar kematian yang mengancam. Para Indigo yang meninggal nanti ada dua kemungkinan. Yang pertama takdir dari Yang Maha Kuasa atau yang kedua karena tidak dapat kembali ke wujud tubuhnya di alam dunia. Simak kisahnya..!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ARSY AL FAZZA, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
#Tabir Kematian
Satu masa getir segala penglihatan mengakibatkan ketakutan yang terpaksa di pendam. Tidak ada kata mengeluh, hari menakutkan dan semua ganggu di tahan asal dalam sebuah kalimat penguatan.
Indera ke enam tidak akan mudah memusnahkan makhluk halus yang mengganggunya. Bisa jadi dia menutup mata selamanya.
Manusia yang tidak paham di posisi seorang indigo hanya bisa memaksa menginginkan apa yang mereka lihat di dalam dirinya. Serba salah atas semua yang di lakukan. Hidup berharap mengantarkan kebahagiaan.
❄
Bi Upik berdiri di depan pintu, dia bergeser melihat Delim masuk menggendong Jeri. Dia melihat suasana rumah yang tampak normal. Selesai mengurus Jeri, dia menuju ke ruang makan. Menyeduh segelas susu hangat untuk anaknya dan segelas teh hangat untuknya. Membuka tudung saji melihat sekeranjang telur rebus, ayam, dan cemilan jajanan basah. Semua makanan kesukaan ibunya, Rasmi menarik salah satu kursi mendekati Jeri yang sedang meneguk minuman.
“suami kamu mana? Kok nggak datang?” manik mata Rasmi melirik Jeri.
Di dalam benak dia tidak sabar menjadikan sasaran berikutnya. Dia tidak pernah menegur keponakannya atau memberikan senyuman tipis sebagai tanda kedekatan. Dia meletakkan dendam pada saudara tiri dan keponakannya itu.
Rasmi menemui si juru Kuncen. Dia di antar pak Yoyok ke alamat yang di tuju. Dia langsung mengutarakan tujuannya. Mbah Kasina menggelengkan kepala berjalan menjauhinya.
“Urusan keluarga mu dengan jin pesugihan belum selesai. Kau malah mau menyambung rantai ikatan iblis yang baru. Apa kau tidak sayang pada nyawa mu?”
“Sekalipun ibu masih hidup. Kemungkinan besar nantinya aku yang akan di tumbalkan. Semua itu sama saja mbah. Turuti saja permintaan ku.”
“Memangnya kamu tau apa tentang Pesugihan? Apa kau tau apa keuntungan dan kerugiannya? Kau tau tata caranya?”
“Ya aku tau mbah, aku suka memperhatikan semua tingkah aneh ibu. Aku tau siapa yang harus aku tumbalkan.”
“Baik, aku akan mengambil keris ku..”
Si juru kuncen mengucapkan mantra yang tidak jelas keluar dari mulutnya. Keris menyayat pergelangan tangannya, darah yang menetes di tampung di atas dupa yang berisi benda-benda sesajian. Dia juga menyiram tapal kaki kuda dengan sisa darah Rasmi.
“Sekarang kau terikat dengan jin pesugihan sampai ajal menjemput” ucap si juru kuncen.
Senyuman Rasmi menyeringai, dia tidak sabar menunggu tangisan Delim agar merasakan bagaimana rasanya kehilangan anaknya. Di malam yang dingin, suara aneh membangunkan Jeri membuka tirai melihat seekor kuda hitam melihatnya.
“Bu, ada kuda. Look at that!” teriaknya berulang kali.
Benar apa yang di katakan anaknya. Seekor kuda tidak lazim berukuran lebih besar, bola mata bersinar berwarna merah. Delim menutup rapat tirai, dia memeluk anaknya bersembunyi di balik lemari. Suara ketukan pintu, bantingan jendela, hingga pintu lemari terbuka dengan sendirinya.
“Arghh! Bu!”
Sosok tangan panjang berukuran satu meter menariknya. Delim berteriak minta tolong. Di ruangan lain Rasmi mendengar hingga melarang bik Upik membantunya. Teriakan terhenti, dia melihat dari balik pintu kedua masih selamat dari gangguan jin pesugihan kuda.
Pagi hari yang terik Rasmi menjemur pakaian memperhatikan Delim masuk ke area bangunan belakang rumah. “Ini tempat bekas pabrik tempe. Mbak tumben sampai disini.”
“Nggak apa-apa lagi pengen melihat aja. Oh ya bik Upik mana ya aku mau nitip belanjaan.”
“Ada di dapur. Oh ya mbak nanti si Jeri sekolah disini saja kan semua harta warisan ibu jatuh di tangan mbak. Rumah peninggalan ibu sayang banget di jual kan. Nanti biar saya yang pindah.”
“Nanti saya bicarakan sama suami saya mbak. Karena surat adopsi Jeri masih di Amerika.”
“Maksudnya? Jeri bukan darah daging kamu?”
“Nggak mbak, saya keguguran dua kali. Jadi saya mengadopsi Jeri sebagai pancingan. Oh ya mbak saya masuk dulu ya” ucap Delim.
Dia tidak pernah mengira Jeri bukan anak kandungnya. Di malam hari dia masuk ke dalam ruangan khusus, semua benda-benda sesajian porak-poranda. Sosok jin pesugihan menampakkan wujud. Suara berisik, lengkingan dan ramai tapak kaki kuda sangat keras memekik telinga.
Suara tangisan Delim melihat Risma membenturkan kepalanya hingga pecah lalu menusukkan pisau ke dalam perutnya.
Penggambaran suasana dan detail dalam cerita ini sangat kuat, membuat pembaca seolah-olah ikut merasakan ketegangan dan ketakutan yang dirasakan oleh Aluna.
Saya penasaran dengan bagaimana Aluna akan menemukan solusi untuk menghadapi bencana yang akan datang, dan apakah dia akan berhasil mengubah nasibnya.
Pesan tentang pentingnya keberanian, persatuan, dan harapan dalam menghadapi tantangan hidup sangat menginspirasi.