NovelToon NovelToon
Muhasabah Cinta

Muhasabah Cinta

Status: tamat
Genre:Kehidupan Manis Setelah Patah Hati / CEO / Crazy Rich/Konglomerat / Cinta Seiring Waktu / Romansa / Berbaikan / Tamat
Popularitas:548.8k
Nilai: 5
Nama Author: Uki Hara

Follow instagram @Ukiii__21 untuk info karya ini

ANGKASA SERIES
Seri 1: MENIKAHI TEMAN KELAS (END)
Seri 2: MUHASABAH CINTA (END)
Seri 3: (BUKAN) PERNIKAHAN SEMPURNA

***

Kegagalan pernikahan di masa lalu menghentikan niat Angkasa menikah lagi. Kehidupannya yang dulu kosong dan tanpa arah seolah terulang kembali, bahkan lebih buruk.

Angkasa tenggelam dalam kesedihan, hingga Sakti yang merupakan sahabat sejak SMA rela melepas kesenangan demi kesembuhan dirinya.

Kehidupan berjalan sesuai takdir. Bersama Sakti, Angkasa mulai membangun mimpinya yang pernah hilang. Namun, saat semua fokus Angkasa terarah pada pekerjaan dan pencapaian, mantan istrinya kembali.

"Kasa, kamu ingat aku?" Wanita bermata bulat dengan cadar hitam di wajahnya itu bertanya pelan.

Bibir Angkasa tertutup rapat, tetapi hati berbisik, "Bagaimana aku bisa lupa saat tajamnya namamu mampu memutus semua syaraf di kepala sampai aku nggak ingat lagi kehidupan yang sebenarnya, Myria?"

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Uki Hara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 16

Baru membuka pintu, Sakti langsung berhenti. Dia yang hari ini berangkat lebih pagi itu berdehem kuat hingga mengagetkan orang yang sudah ada di ruangan. “Nah, ketahuan, kan, beneran elo tukang bikin susu buat si Kasa. Pantes itu anak marah-marah pas mau gue minum.”

Myria yang kaget lekas menaruh gelas. Dipandanginya wajah Sakti yang tengah tersenyum lebar. “Sebagai pekerja, saya hanya menjalankan perintah, Pak.”

Tawa Sakti mengudara. Kaki yang awalnya diam, sekarang bergerak maju dan menarik kursi di depan meja Angkasa. Satu tangannya naik ke meja, lalu menyangga kepala sembari menatap Myria. “Gue nggak habis pikir, bisa-bisanya lo sama Kasa sama-sama belum nikah lagi. Bisa kompak gitu?”

Perkataan Sakti hanya dapat lirikan sepintas dari Myria. Wanita itu tidak menyahut dan bergegas kembali ke ruangan. “Permisi, Pak.”

Baru saja Myria melewati meja Angkasa dan berada di tengah-tengah ruang, Sakti berujar, “Kasa nggak ada hari ini sampai beberapa hari ke depan, dia ke luar kota. Lo bisa istirahat bikin susu pagi.”

Myria berhenti tanpa berbalik.

“Atau, lo bikinin gue aja nggak pa-pa, My. Gue yang bakal gantiin Kasa.”

Tak ada satu pun kata-kata keluar dari mulut Myria. Namun, wanita berjilbab hitam itu kembali mundur dan mengambil gelas yang baru ditaruh. Setelah itu, dia bergegas keluar tanpa mengindahkan Sakti.

Pria yang baru saja ditinggalkan Myria itu melongo. Sakti menepuk keningnya sendiri. “Wanita memang makhluk yang sulit dipahami. Apalagi kalau udah bucin.”

Tiada Angkasa di perusahaan, seharusnya Myria tenang dan damai. Namun, sudah hampir empat hari tidak melihat batang hidung pria yang dahulu jadi suaminya itu, justru membuat hati gundah. Saat posisi seperti ini, rencana Myria bekerja untuk tambah pengalaman sepertinya hanya alibi di waktu lalu. Nyatanya, memang alasan terbesar bekerja untuk lebih dekat dengan Angkasa.

“Selamat pagi menjelang siang.”

Suara wanita dari arah pintu divisi membuat semua orang yang ada di ruang menoleh. David bangkit paling awal, lalu disusul anggota tim.

“Nyonya.” Ditinggalkannya kursi, David maju untuk menyambut. Sementara itu, anggota lain langsung keluar dari meja kerja masing-masing hingga membentuk barisan rapi.

“Tidak perlu seperti ini. Bekerjalah kalian. Aku hanya ingin memantau persiapan produksi katalog baru.” Nyonya Nasita. Ya, wanita itu yang datang ke perusahaan dan melakukan kunjungan mendadak tanpa persiapan apa pun. Beliau sengaja datang saat tidak ada Angkasa agar bisa leluasa melihat Myria. Benar saja apa yang dikatakan putranya, Nyonya Nasita melihat wanita yang sudah dianggap anak sendiri sejak dahulu.

David sedikit gugup. Meski sudah sering Nyonya Nasita datang tanpa mengabari, tetapi saat tidak ada Angkasa seperti ini, David khawatir tidak sanggup menjelaskan pekerjaan.

“Apa Nyonya ingin melihat rancangan tim kami?”

Perhatian Nyonya Nasita kembali pada David. Bagaimanapun juga, beliau tidak ingin menunjukkan rasa senangnya pada karyawan lain atau akan menimbulkan banyak pertanyaan. “Oh, tentu. Aku kemari memang untuk itu. Tapi sebelumnya, aku dengar beberapa pekan lalu Faiza mengundurkan diri, Vid.”

“Benar, Nyonya. Saya hampir lupa memperkenalkan pengganti Faiza.” Tubuh David berputar sedikit, lalu melongok ke arah Myria. “Myria, perkenalkan dirimu pada owner perusahaan ini.”

Teman-teman yang menutupi Myria memberi jalan sehingga memudahkan wanita itu maju. Dia berdiri tepat di depan Nyonya Nasita sambil melakukan apa yang diperintahkan.

Senyum lembut menjawab perkenalan Myria. Nyonya Nasita tidak mungkin memeluk dalam keadaan seperti ini. Namun, beliau tidak habis cara untuk mendekati mantan istri Angkasa tersebut. “Bagaimana kalau aku lihat desainmu lebih dulu, Myria.”

“Baik, Nyonya. Mari ke meja saya.”

Meja yang sempat ditinggalkan menjadi tujuan. Myria mengambilkan satu kursi agar Nyonya Nasita duduk. Dua wanita itu pandai menempatkan diri dalam situasi, sehingga hal yang dibahas benar-benar pekerjaan. Menjadi pemilik butik beberapa tahun, tentu  tidak membuat Nyonya Nasita kurang pengalaman dalam bidang fashion. Ibu dua anak itu beberapa kali memberi masukan pada pekerjaan Myria.

“Ke rumah Mama buat makan malam bersama, Nak,” kata Nyonya Nasita saat jam istirahat tiba dan semua tim desainer sudah keluar satu per satu. “Angkasa tidak ada di rumah, jadi tidak perlu khawatir akan timbul fitnah. Mama merindukanmu.”

Myria termenung. Selama kembali ke tanah air, dirinya memang tidak pernah mengunjungi Nyonya Nasita maupun Tuan Aji secara pribadi. Ada Angkasa, tentu saja tidak bisa sembarang datang.

“Mau, kan? Kita bisa ngobrol di rumah sambil mencoba resep baru.”

“Baik, Bun.”

Senyum Nyonya Nasita merekah sempurna. Wanita itu memberi usapan di kepala Myria, lalu bilang akan menunggu sampai jam pulang nanti.

Myria menangguk dan segera beranjak untuk istirahat, sementara Nyonya Nasita memilih ke ruangan putranya.

Jam pulang adalah hal yang dinanti para karyawan. Semua membereskan meja dan pekerjaan. Myria keluar paling akhir untuk menghindari kecurigaan. Ketika tiba di lobi, Nyonya Nasita ternyata sudah menunggu.

Mobil meluncur menuju rumah. Tidak seperti dahulu saat ke mana pun diantar sopir, Nyonya Nasita kini berkendara sendiri.

“Ayo, masuk.”

Myria mendongak sembari mengedarkan pandangan di depan rumah yang kini menjadi tempat tinggal ibu mertuanya. Memang tidak mewah seperti dahulu, tetapi tidak terlalu buruk. Apa pun itu, Myria rasa hunian tersebut tetap nyaman, terbukti dari halaman dan taman yang begitu terawat.

Motor yang biasa dikendarai Angkasa terpakir di garasi. Myria sempat memperhatikan sebelum masuk. Dia mengucap salam, lalu duduk dengan tenang.

Dua gelas jus jeruk menjadi teman minum setelah Nyonya Nasita meminta pekerjanya mempersiapkan.

“Apa kamu kaget dengan tempat tinggal Mama sekarang?”

“Enggak, kok, Bun.”

Bibir Nyonya Nasita kembali melengkung ke atas. “Kamu juga tahu banyak hal terjadi setelah malam itu, Myria.”

Kepala hanya bisa mengangguk. Myria juga tahu tanpa dijelaskan. “Bunda, apa selama ini Ayah masih mengganggu?”

“Tidak. Ayahmu menepati kata-katanya. Hanya saja, komunikasi kami memang sebatas pekerjaan. Itu pun jarang, Papa lebih banyak menyampaikan sesuatu pada Daniel dan baru sampai ke ayahmu.”

Myria mengangguk-angguk. Dia mendekat, lalu meminta pelukan. Nyonya Nasita tidak menolak dan tentu menerima dengan sukarela.

“Ceritakan pada Myria apa saja yang telah terjadi, Bun. Ayah selalu menutupi semua kondisi di sini setiap Myria tanya. Hanya kabar ibu Friska saja yang dibahas karena Friska nemenin Myria kuliah di luar negeri.”

Ditariknya napas dalam-dalam sebelum memulai bercerita, Nyonya Nasita mengusap kepala Myria secara lembut. “Mama sebenarnya tidak ingin mengingat itu lagi, tapi kalau kamu ingin tahu, Mama ceritakan.”

Pelukan Myria makin erat. Dekapan Nyonya Nasita memang selalu membawa rasa tenang sehingga membuatnya nyaman.

“Dulu itu, setelah menyerahkan semua hak ayahmu, Papa membawa Mama dan Kasa keluar dari kediaman Sastra. Sebenarnya ayahmu tidak meminta kami pergi, tapi Papa sadar diri dan lebih memilih membeli rumah baru. Ya, rumah ini.”

“Terus, Bun?”

“Lalu, kami memulai hidup baru dengan kondisi berbeda di sini. Semua pekerja terpaksa Mama pulangkan karena di sini tidak terlalu perlu pekerja sebanyak dulu. Mama bisa mengerjakan semua sendiri sebelum berangkat ke butik. Hanya satu hal yang Mama tidak bisa tangani saat itu.”

Wajah Myria terangkat, lalu badannya menjauh perlahan. Ditatapnya Nyonya Nasita lekat-lekat, Myria lihat tatapan wanita yang melahirkan Angkasa itu mulai redup.

“Mama tidak bisa memahami perasaan Angkasa sepenuhnya saat itu, Myria. Sampai dia harus terapi di rumah sakit kejiwaan. Angkasa menutup mulut, tatapannya kosong dan tidak bisa diajak bicara apa pun. Badannya kurus karena tidak mau makan. Dia hanya diam di depan jendela kamar, banyak tidur, lalu menangis tersedu saat salat.” Nyonya Nasita mulai terisak dan Myria bergegas mengambilkan tisu. “Banyak hal Mama dan Papa tawarkan agar dia semangat lagi, apa pun keinginannya kami turuti. Termasuk hobinya soal motor Mama kembalikan. Tapi, tetap saja kebebasan itu tidak berarti setelah kepergianmu.”

“Bunda ….” Tubuh Myria kembali mendekap. Bahkan, dia ikut menangis. Tak bisa dibayangkan, seterpuruk apa Angkasa kala itu. Mendengar cerita saja sudah menyayat hati, apalagi melihat secara langsung.

“Tapi alhamdulillah, dia sadar saat Mama memanggilkan Sakti. Awalnya, beberapa kali kehadiran Sakti ditolak, tetapi memang anak itu tidak menyerah dan menyayangi Kasa sepenuhnya. Sakti tahu rasanya sendirian selama ini karena dari kecil jauh dari orang tua, Sakti juga rela menghabiskan waktu satu tahunnya bersama Kasa tanpa kegiatan penting. Setelah itu, ya, kamu bisa lihat kalau mereka masih akur sampai sekarang.”

Myria mengangguk-angguk dalam pelukan. Dia yang meminta diberi tahu, tetapi nyatanya tidak sanggup mendengar.

“Sudahlah, jangan menangis lagi, Myria. Semua telah berlalu, Kasa sudah baik-baik saja. Dia hanya fokus bekerja saat ini.”

“Bunda, apa Myria boleh tanya sesuatu?” Pelukan kembali terlepas. Myria menyeka pipi dan mata yang masih tersisa jejak air mata.

“Tanya apa, Sayang?”

“Apa ….” Myria melipat bibir. Tiba-tiba ragu ingin menyampaikan keinginan. “Apa Bunda pernah meminta Kasa menikah selama ini, Bun?”

Dua mata Nyonya Nasita sempat melebar, tetapi senyumnya tersungging kembali mendengar pertanyaan Myria. “Tentu saja pernah, Nak. Tapi, Kasa tidak pernah berminat. Banyak perempuan mengajukan CV untuk taaruf, bahkan lewat Sakti juga. Banyak anak dari para kolega ditawarkan, tapi, ya, memang Kasa tidak mau. Alasannya dia ingin fokus bekerja, tapi Mama tidak bodoh. Mama tahu Kasa tetap maunya kamu.”

Awalnya kaget mendengar ibu mertua meminta mantan suami menikah lagi, tetapi saat mendengar ujung kalimat Nyonya Nasita, Myria ingin tersenyum. Namun, dia tahan sebisa mungkin meski bibir tertutup cadar.

“Sekarang, Mama yang tanya padamu. Apa kamu masih mau kembali pada Kasa?”

1
Uti Cimoy
Hai kakak author, aq suka tulisan mu. ini lagi baca maraton
ig: ukiii__21: udah tamat di f1zz0 kak
total 3 replies
Sri Puryani
kok gt sih sakti ....mbok yo mendekati faiza kasihan kan
Sri Puryani
ya deketin faiza dong sakti.....msk tanya sama ibrahim
Sri Puryani
myria egois....mementingkan diri sdr
Sri Puryani
kok rasanya gk percaya ya myria bs mikir gt, kirain ilmu agamanya tggi itu pinter ternyata.......
kenapa bs menekan suaminya spt itu? kyk gk menghormati & menghargai suaminya
Sri Puryani
thor faisa srh nolak nikah sama angkasa blg aja mo nikah sama sakti biar myrianya gk ngeyel
Sri Puryani
oalah myria ....jd orang kok gk sabar....br jg sethn blm punya anak dah bingung, aq aja 5 th br punya anak gk papa 🤭
Sri Puryani
oh faisa kirain friska ....ya udah faisa sama sakti aja
Sri Puryani
udah sama sakti aja friskanya
Sri Puryani
semangat angkasa myria
Sri Puryani
jangan" myria lg tekdung😀
Sri Puryani
sdh jd suami panggilannya dirubah dong my....
Sri Puryani
ternyata dendam
Sri Puryani
kyknya ada yg dendam sama angkasa
Sri Puryani
Luar biasa
Sri Puryani
ikut seneng baca 😀
Sri Puryani
kok gk rela ya thor angkasa sama orang lain
Sri Puryani
oalah thor kok gt nasib angkasa....kasihan thor, hukum bpk nya myria aja thor
Sri Puryani
ortu yg egois....myria lakukan sesuatu spy ayahmu kehilangan dirimu
Sri Puryani
kyknya yg dtg ortu angkasa
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!