Mutia dikhianati kekasih dan temannya, di benci ibu dan saudari tirinya, di perkosa teman papahnya dan bunuh diri karena papahnya malu memiliki anak seperti Mutia.
Tapi, kehidupan keduanya merubah hidupnya meski kegadisannya harus sama-sama menghilang. Mampukah Muti membalas rasa sakit hatinya kepada orang yang sudah membuatnya menderita?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daliyah zaheer, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ayo, kita pulang!
Mutia menarik napas, ia jenuh karena seharusnya ia sudah bekerja hari ini, karena cutinya sudah habis. Tapi, karena kakinya Mutia tidak bisa bekerja, Lia mengirimkan surat dokter ke perusahaan tempat Mutia bekerja.
"Uh, bete." Keluh Mutia cemberut di atas kasur.
Lia membawa masuk nampan berisikan buah segar serta jus alpukat, Lia juga menyerahkan sebuah album merah serta memberikan sebuah tab dengan video yang sudah diputar, vidio pernikahannya.
Mutia tersenyum melihat Bimo berjalan masuk ke rumahnya didampingi seorang pria yakni suami Sesil, Sesil juga ada di video tersebut. Mutia malu tidak mengenalinya kemarin.
Siti baru saja mengetuk pintu kamarnya, Ia membungkuk singkat dan menatap ke arah Lia, Lia segera menghampiri. Mereka berbisik kemudian Siti pergi.
"Ada nona Sesil di bawah, apa anda mau menemuinya?"
"Tentu saja." Mutia senang ada yang mampir ke rumahnya.
Sesil mencium kedua pipi Mutia ia datang karena diberitahu Bimo kalau Mutia sedang sakit. "Bagaimana kau bisa jatuh?" Sesil mendengarkan Mutia bercerita sembari melihat album pernikahan Mutia dan Bimo. Lia meninggalkan ruangan membiarkan Mutia mengobrol dengan Sesil.
"Mas Bimo tampan, ya, mba?" Mutia tersenyum seraya memasukkan potongan anggur ke mulutnya. "Tapi, sayang harus menikah denganku."
"Kamu juga cantik, kok. Kalian serasi." Sesil membalik album.
"Mba Sesil ngelucu, dimana serasinya, mas Bimo seperti menikah dengan tante-tante."
"Kata siapa? Kamu cantik, kok. Jangan menghina diri sendiri."
Mutia terdiam sebentar, ia hati-hati sekali untuk bicara dengan Sesil. "Mbak."
"Hmm?"
"Apa kemarin kekasih mas Bimo hadir?" Mutia melirik, Sesil sempat tidak bergerak sesaat seperti menerima respon atas pertanyaan Mutia. "Cantik mana? saya atau kekasihnya?"
"Setahuku ia tidak punya pacar, aku belum pernah mendengarnya dari suamiku."
"Mbak."
"Apa?"
"Mba tahukan aku menikah karena di jodohkan?"
Sesil mengangguk, kemudian Sesil menceritakan pernikahannya dengan suami yang sama-sama di jodohkan. Mutia akhirnya bertanya bagaimana cara Sesil membuat suaminya jatuh cinta. Mendengar usaha Sesil mendapatkan cinta suaminya, membuat Mutia tersenyum iri.
"Sepertinya mas Bimo tidak mencintaiku." Mutia cemberut.
"Kalau Bimo tidak mencintai kamu, mungkin ia tidak akan menikah denganmu."
"Kami menikah karena wasiat, Mba." Sikap Bimo yang tidak pulang dan tidak menghubunginya membuat Mutia sadar bahwa cinta itu tidak ada. Mutia juga belum mencintai Bimo tetapi sebagai seorang istri ia mau berusaha agar rumah tangganya berjalan dengan baik seperti Sesil dan mungkin Bimo juga tidak mencintainya sehingga ia memilih untuk tidak pulang ke rumah. Proyek hanya alasan saja untuk menghindari Mutia.
"Bagaimana caranya supaya mas Bimo mencintai aku, ya?"
"Mau saran dariku?" Mutia mengangguk.
"Maaf, bukannya aku mau menghina, kamu itu cantik dan baik hanya saja berat badanmu tidak ideal, ayo mulai kecilkan tubuhmu berikan kejutan padanya."
Mutia tersenyum, membayangkan dirinya jadi kurus seperti dulu, pasti seru. Masalahnya bukan hanya berat badan, tapi tidak gadis lagi membuat Mutia tidak percaya diri untuk mendapatkan hati seorang Bimo.
Tapi, benar apa kata Sesil. Ia harus merubah penampilannya, tidak hanya demi Bimo tapi juga demi kesehatannya. Setidaknya ia harus berusaha yang terbaik, suaminya adalah orang berada mungkin akan malu saat berjalan dengannya. Mutia berpikir mungkin dirinya tidak bisa menjadi istri yang Bimo harapkan setidaknya ia menjadi partner di dalam rumah tangganya. Mutia akan menanyakan kelanjutan rumah tangganya nanti setelah Bimo kembali. Apa pun keputusan Bimo nanti Mutia harus siap dan ikhlas menerimanya.
...***...
Kaki Mutia sudah lebih baik, ia juga sudah mulai berangkat untuk bekerja, dengan diantar Lia dan supir pribadinya. Rosa memenuhi keinginan Mutia untuk pindah bagian, mencoba menghindari Dirga dan Lala. Meski Mutia juga tahu, tidak mungkin untuk tidak bisa bertemu dengan mereka karena masih bekerja di gedung yang sama. Tidak ada yang istimewa di perusahaan Mutia bekerja, Mutia pandai beradaptasi dengan lingkungan baru.
Setelah kembali dari bekerja, Sesil datang dengan seorang wanita, ia seorang instruktur yoga. Sesil tidak memberikannya waktu untuk beristirahat, Mutia di paksa mengganti pakaian yang ia sudah belikan karena Sesil yakin Mutia tidak memiliki pakaian untuk yoga.
"Mba, aku baru pulang, loh," protes Mutia. Rengekannya tidak di gubris oleh Sesil.
Sangat banyak manfaat Yoga. Memperbaiki kerusakan kulit, membuat Kulit Wajah Lebih glowing, mengurangi risiko penuaan dini, memperbaiki postur tubuh, meningkatkan kualitas tidur, melawan dampak buruk yang disebabkan stres. Sebagian besar gerakan yoga melibatkan kekuatan otot yang membuatnya jauh lebih aktif. Jika rutin berlatih, otomatis postur tubuh akan terbentuk lebih ideal dengan sendirinya. postur tubuh inilah yang ideal ini yang mampu meningkatkan rasa percaya diri untuk mutia.
Jadwal juga sudah dibuatkan oleh Sesil, agar mereka bisa melakukannya secara bersama-sama. Selain yoga makanan Mutia juga mulai di atur dengan menu oatmeal serta minuman jus asli buah dan sayuran. Sesil juga meminta Lia untuk menjadwalkan Mutia bertemu dengan dokter kecantikan, serta ke salon untuk merombak abis penampilannya.
Waktu terus berlalu tidak terasa dua bulan sudah berlalu perubahan Mutia sangat signifikan, Sesil sampai takjub dengan perubahan yang terjadi dengan Mutia. Tubuh Mutia terlihat ideal dengan bokong yang bulat serta dada yang kencang, selain penampilannya Mutia juga menjadi semakin percaya diri.
Sesil adalah saksi dimana Mutia bekerja keras merubah penampilannya menjadi lebih baik. Mutia sangat berterima kasih kepada Sesil.
"Tak sia-sia aku keras padamu, Mutia."
"Terima kasih, mbak."
Sesil juga mulai komplen dengan pakaian Mutia yang kuno, sesil mengajak Mutia untuk membeli berbagai pakaian yang merubah stylenya untuk menunjang penampilannya.
Perubahan Mutia tidak hanya Sesil yang memuji, karyawan di perusahaan juga memuji Mutia, penampilan Mutia justru lebih cantik dari pada dulu meski sama-sama memiliki berat badan yang ideal.
Sedangkan di tempat lain, seorang pria sedang berkutat di meja kerjanya, ia bersandar di kursi sambil memejamkan mata. Ia membuka satu kancing kemeja atasnya dan melonggarkan dasi, meski memakai kemeja tapi ototnya terlihat, jelas sekali ia pria yang menjaga kualitas hidupnya.
Setelah menikahi Mutia, Bimo belum pernah menemui istrinya hanya sekali saja ia menghubungi Mutia itupun karena Mutia terkilir. Bimo menarik napas kasar, hidupnya sangat monoton selama beberapa bulan ini.
"Kenapa tuan?" tanya Tio.
"Entah kenapa, aku merindukan rumah."
"Proyek kita berjalan dengan baik, kenapa tidak menyerahkan semuanya pada bawahan anda seperti biasa."
"Kau benar, Tio. Apa aku gila kerja?" Bimo terkekeh. "Bagaimana kabar dia di rumah?"
"Nona pergi bekerja seperti biasa, kesehariannya mengikuti kegiatan rutin bersama nona Sesil."
"Siapkan tiket, ayo, kita pulang."
"Baik, Tuan.
Aku pengen banget cekek ama penggal mereka dan kugantung di kamar macan
Berbahagialah karena sebentar lagi dirimu akan pergi ke isekai yang disebut neraka ☺☺
Gak butuh sebenernya
Mutia juga gak tegas sih
Gak guna cowok kek gitu. Amoeba aja sini
Nanti aku jodohin ama kucingku 🤣🤣🤣
DIA CUMA BUTUH ELU PERGI DARI UNIVERSENYA DIA
HUSH HUSH🗡🗡🗡🗡
Kamu ketauan pacaran lagi
Boleh terjunin mereka ke kandang buaya kagak ini?
Bau bau tukang php
Tapi agak ngakak pas bagian masuk tanpa permisi 🤣🤣
Gak mungkin dia ngetok jendela dulu buat menyinari Mutia kan 😅