Berawal dari pertemuan yang tak sengaja di masa kecil, ternyata meninggalkan dampak besar bagi seorang pria tampan bernama Rengra.
Ia tak pernah menyangka, keputusannya untuk kabur demi menjauh dari hiruk pikuk masalah keluarga setelah kedua orang tuanya meninggal, justru mempertemukannya dengan Laura.
Lantas, apa yang sebenarnya terjadi? Akankah pertemuan itu benar-benar mengubah cara pandang Rengra terhadap seorang wanita?
Mari simak kisah mereka dalam novel ini.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Gledekzz, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab ~ 16
Setelah Renggra bercerita, barulah Angga mengingat semua kenangan yang tak pernah bisa ia lupakan. Namun soal gadis muda yang dulu sering menjahilinya saat memancing di danau, ternyata adalah gadis yang saat ini tengah berada di rumah Renggra.
Wajar saja jika Renggra ingin memiliki wanita tersebut. Namun yang terpikirkan oleh Angga saat ini adalah, apakah sahabatnya itu memiliki sebuah perasaan terhadap gadisnya, atau hanya hutang balas budi saja? Sepertinya kalau di perhatikan pria di sampingnya itu, memang benar memiliki sebuah perasaan.
"Gue benar-benar lupa kalau Laura adalah gadis jahil itu. Tapi Reng, Lo tau kalau wanita itu adalah Laura, dari mana coba? Eh atau Lo diam-diam menyuruh orang buat memantau gadis itu tanpa sepengetahuan gue ya?" tanya Angga yang menebak jika itu pasti di lakukan oleh sahabatnya.
Mana mungkin pria tampan di sampingnya secara langsung begitu mengenal. Angga yang sudah hidup begitu lama dengan Laura saja, seketika melupakan wajah gadis itu setelah sekian lama tak bertemu.
Kalau di ingat-ingat dan di bayangkan, memang sangat mirip wajah kedua gadis itu.
Renggra menarik garis bibirnya sebelah. "Lo emang bener, nggak salah tebak! Dulu saat kita sudah sampai di rumah, gue nggak bisa lupa sama gadis itu. Dia kayak terus menerus terbayang aja di kepala gue. Kayak apa ya, berhutang budi besar ke dia yang telah menyelamatkan gue dari marabahaya." Renggra sangat mengingat dan percaya akan ucapan Angga yang menyatakan ada hewan pemakan daging tersebut.
Angga dan Nova tersenyum tipis satu sama lain. Sahabatnya itu terlihat berbeda kalau sudah menyangkut ke gadis idamannya. Renggra tak pernah membahas wanita sedikit pun selama mereka bersama. Namun kali ini berbeda. Mereka seperti melihat angin segar itu di sembunyikan oleh sahabatnya agar bisa menjaga imagenya sebagai bos besar di negara itu.
"Setelah tujuh tahun dari kejadian itu, gue kembali ke tempat panti asuhan berada, tanpa sepengetahuan Lo Ga. Tapi, tempat itu sudah berubah menjadi tanah yang kosong, nggak ada bangunan rumah sama sekali, hanya tanah luas yang tak berpenghuni. Ternyata di situ bertuliskan tanah itu di jual, namun dari tulisannya sudah lama banget di jual dan nggak ada yang mau beli."
Renggra menunjuk Angga dan Nova. "Secara kalian tau waktu gue ngajak kalian pertama kali ke vila. Jalan itu sepi tanpa kehidupan. Sampai Lo Ga nanya ke gue masalah tempat itu dan kenapa gue bisa membeli tanah yang di jual cukup banting harga. Lo aja suka kebangetan. Banyak kenangan indah Lo di sana. Lo sampai cerita berulang berkali tentang kehidupan Lo itu, jujur kita berdua bosen dengerin curhatan Lo itu. Tuh gadis yang buat Lo kesel setiap mancing di lempar batu terus sama dia. Itu orangnya ada di rumah gue."
Angga tertawa terbahak-bahak saat mengingat kejahilan Laura terhadapnya.
"Salut gue dengan Lo Reng, nggak menyangka Lo diam-diam ternyata menjadi kayak begini. Itu kira-kira Lo cinta sama itu gadis, atau hanya mau balas budi aja?" tanya Nova yang mewakili sekali isi hati Angga yang mau bertanya demikian.
Renggra tak dapat menyembunyikan perasaannya itu. "Kayaknya gue jatuh cinta sama dia. Dia itu selain sudah menyelamatkan gue, dia wanita yang berbeda dari wanita yang gue temukan setiap hari. Awalnya sih gue mencari hanya sekedar mengungkapkan rasa terima kasih dan mau main-main aja ke panti. Eh nggak sengaja melihat dia yang semakin berubah dan berbeda. Gue akui itu," balasnya dengan wajah yang tak bisa berbohong.
Angga dan Nova tentu menjadi geli melihat perubahan Renggra yang seperti ini. "Terus, Lo nggak cerita dulu ke dia, bahwa Lo pria yang pernah di tolongin sama Laura?"
Renggra menggeleng cepat. "Entar aja, gue sekali-kali menjahili dia dulu. Siapa tau dia mengingat gue? Kesel juga, kenapa dia yang dulu kayak menyukai gue, terus paling aktif untuk ngajak gue ngomong, lalu minta gue secara terang-terangan main ke panti agar kami bisa bertemu dan bermain bersama, jadinya kayak begini. Main lupa aja! Masa wajah gue yang terpampang di pinggir jalan dia masih nggak ingat sama gue. Perasaan dari dulu wajah gue kayak begini-begini aja," protes Renggra yang kesal pada gadisnya.
Angga tertawa kecil. "Iya wajar aja Reng, dia melupakan Lo. Gue aja lupa sama tuh gadis perusuh. Apalagi kaget aja lihat dia sudah menggunakan hijab dan terlihat lebih sopan dalam tingkah lakunya." ingat Angga pada gerak-gerik Laura yang berbeda jauh. "Sudahlah Lo juga sadar diri. Lo sama, cukup jauh berbedanya, sama kayak gadis itu."
Renggra tetap pada pemikirannya, ia secara paksa membuang nafas kasarnya.
"Jika itu yang terbaik untuk hidup Lo, kami berdua akan mendukung apa pun yang ingin Lo inginkan. Secara ini juga kabar baik untuk semua orang, bahwa seorang Renggra Wijaya adalah pria normal idaman para kaum wanita," ucap Nova agar suasana hati Renggra membaik.
"Betul banget Nov. Ternyata di antara kita sekarang sudah harus kehilangan satu jomblo." sambung Angga yang merasa sedih.
"Walau kita nantinya sudah menikah semua, persahabatan ini nggak akan hilang sampai kapanpun. Lagian kita juga kerja kayak begini setiap hari," balas Renggra yang mana suasana hatinya masih kesal terhadap gadisnya.
Setelah berbicara panjang lebar, Renggra baru ingat pada gadisnya yang secara tak sengaja ia melihat di luar jendela sudah mulai sore. Gadisnya harus mandi dan mengganti pakaian.
"Ga, carikan baju buat Laura." Renggra kembali berpikir apa saja yang harus ia beli untuk gadisnya selain pakaian. "Kayaknya bukan baju aja. Beli semua pelengkapan yang bisa di gunakan gadis itu untuk apapun. Susun semuanya di ruangan perlengkapan gue. Kami juga akan segera menikah dan satu kamar, jadi letakan di sana aja."
Angga dan Nova tak bisa menahan kegelian masing-masing.
"Nggak usah berpikiran yang kalian sendiri juga rasakan nantinya. Apalagi Lo," Renggra menunjuk Nova. "Sudah berpengalaman," sindir Renggra secara langsung.
Nova semakin tertawa renyah. "Lo mau gue ajarkan cara yang paling jitu untuk membuat sang gadis tak bisa berhenti mendesah memanggil nama Lo?"
"Nggak!" jawab Renggra mantap. "Gue walaupun belum pernah, tapi gue paling ngerti dan nggak perlu Lo ajarkan."
Nova mengangkat kedua bahunya. "Kita lihat aja nanti. Gue butuh bukti Reng, bukan sekedar omongan belaka," ucapnya yang menantang sahabatnya itu.
"Gue aja nggak melihat bukti bahwa Lo bisa berbuat demikian." Renggra berbalik menantang Nova.
Sedangkan Angga sibuk mengotak atik tabletnya. Ia masa bodoh kalau di luar kinerjanya. Saat ini adalah perintah Renggra yang paling utama. Angga sudah berjanji sedari awal untuk bekerja sepenuh hati untuk sang penyelamatnya itu. Angga mungkin tak bisa seperti ini, jika Renggra tak membantunya saat itu.
"Gue terima tantangan Lo. Gue rekam dan memberikan video yang akan membuat Lo nggak tahan lagi. Jika Lo tahan, Lo sendiri yang akan pusing menahannya," seru Nova yang akan memberikan bukti. "Jika perlu kita video call, biar Lo lihat secara live."
Renggra tertawa meremeh. "Sudah gila Lo!"
"Lo juga yang minta bukti," Nova tak akan kalah.
Renggra semakin tertantang jadinya. "Coba aja Lo kirim dan lakukan! Gue mau lihat!"
"Oh, Lo juga harus dong, masa gue aja." Nova menjahili Renggra.
Renggra mendatar melihat Nova. Wajah beringas pria itu tampak sekali membuat Nova mulai terdiam, ketakutan. "Okelah gue aja!" ia tak mau banyak masalah jika sudah berhadapan dengan pria di hadapannya itu.
Sedangkan Angga tersadar bahwa kedua sahabatnya mulai bersitegang. Ia tak ambil pusing dengan kedua pria yang setiap bertemu seperti itu.