"Aku ingin putus"Ucap Michi tertunduk dia menahan tangisnya.
"Putus? kenapa?"Satria meminta penjelasan dia tidak terima begitu saja.
"Karena aku hamil"jelas Michi.
Duar....
Bagai di lempar Boom ke wajahnya Satria sungguh terkejut medengar pernyataan kekasihnya orang yang paling dia cintai hamil,bagaimana tidak karena selama ini mereka jarang bertemu bahkan Satria sangat menjaga Michi dia tak pernah berani menyentuh gadis itu meski sehelai rambut pun.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Gina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Betapa Jahatnya Aku
Malam semakin larut,Agung yang kelaparan keluar dari kamarnya kemudian mencari makanan di dapur,karena tadi dia tidak sempat makan malam karena harus berdebat dengan Michi dan nafsu makannya terganggu.
Saat dirinya berjalan kedapur dia melihat Michi tengah sibuk berkutat di dapur.
"Sedang apa kau?"tanya Agung yang mengejutkan Michi.
"Anda? Seharusnya saya yang bertanya sedang apa anda disini malam-malam?"Michi sewot.
"Aku lapar mau cari makanan"ucap Agung santai.
"Heuh...dasar menyebalkan"gerutu Michi.
"Makan malam tadi sudah habis ada juga mie instan cup tuh tinggal seduh saja"ucap Michi ketus.
Agung lalu mengambil mie instan cup di kitcen set yang di tunjukan Michi dan menyeduhnya disana.
Sambil menunggu mie itu matang Agung memperhatikan Michi yang sedang mengolah cake brownis wangi coklat yang menggoda membuat perut Agung yang lapar semakin berdendang.
"Kau buat brownis?"tanya Agung.
"Hem..."hanya itu jawaban Michi.
"Satria sangat suka brownis"tiba-tiba Michi bicara matanya menatap entah ke arah mana tapi seolah mengingat masa lalu.
Agung yang sedang menyuap mie kedalam mulutnya,menghentikan aksinya ketika melihat raut wajah Michi yang terlihat sangat mencintai adiknya itu.
"Kau masih mencintainya?"tanya Agung.
Tapi Michi hanya terdiam dan tak menjawab dia malah mengambil wortel di kulkas dan mulai mengupas kulitnya.
"Kau ingin kembali padanya?"tanya Agung lagi.
"Mumpung mereka belum menikah,kau bisa kembali padanya Chi,mau aku bantu?"Agung memberikan penawaran.
Michi mengehentikan tangannya yang sedang bekerja saat mendengar ucapan Agung.
"Aku tak mau menyakiti hati orang lain pak Agung"ucap Michi.
"Tapi hati mu tersakiti kan?"singgung Agung.
"Aku sudah terbiasa tersakiti pak,jadi tak masalah,tapi Naura sangat mencintai Satria begitu pun sebaliknya,aku tak mau merusak hubungan orang lain,aku bahagia bila melihat dirinya bahagia"
"Hahaha aku bahagia bila melihat dirinya bahagia"cibir Agung mengikuti ucapan Michi.
"Bohong banget,mana ada orang masih cinta melihat orang yang.kita cintai itu bahagia sama orang lain,terus kita ikut bahagia Chi...kalau bicara tuh yang bener dari hati bukan di mulut ajah hueh..."singung Agung.
"Terserah anda mau bilang apa"Michi melanjutkan lagi pekerjaannya.
Agung melajutkan makan mienya.
Saat Michi mulai memotong wotel menjadi bentuk dadu tiba-tiba jarinya teriris pisau.
"Aw..."Michi lalu menaruh pisau tersebut di meja.
Agung yang melihat itu entah kenapa langsung bangun dari duduknya dan membantu Michi,dia mengambil kotak obat dan membersihkan luka Michi,membalutnya dengan plester.
"Kalau kerja itu hati-hati"ucap Agung.
Deg...
Michi jadi teringat masa itu,masa ketika Satria baru menjadi pacarnya di pabrik,masa saat Satria sedang menyamar menjadi seorang buruh pabrik seperti dirinya.
saat itu jarinya terkena pisau cutter hingga mengeluarkan darah cukup banyak,Satria mengobatinya dan kata-kata yang keluar sama persis dengan yang Agung katakan saat ini.
Hatinya seolah diremas,sangat sakit saat ini bila mengingat hal itu.
Michi melepaskan tangannya yang sedang di pegang Agung.
"Terkma kasih"ucap Michi Lirih dia lalu kembali bekerja.
Agung melihat itu dan mendekat pada Michi,Michi cuek saja sudah tidak ada rasa takut lagi saat ini pada Agung entah kenapa,sepertinya perasaan yang seperti itu sudah terlupakan olehnya.
"Chi..."sapa Agung.
Tapi Michi tak menghiraukannya dia terus memotong wotel.Agung mendekatkan mulutnyanketelinga Michi dan berbisik.
"Move on baby..."bisik Agung santai kemudian dia pun berlalu dari dapur menuju kamar Michi di atas.
Saat Agung pergi Michi menghentikan pekerjaannya dan mengehapus air mata yang menetes di pipinya.
Sementara Agung yang di kamar Michi,menatap sebuah boneka keramik kecil yang di letakan di meja kecil yang sepertinya di jadikan meja rias oleh Michi,boneka dengan bentuk sepasang kekasih yang bertuliskan inisial huruf S dan M.
"Hehe seperti ukuran baju saja S Dan M"gumam Agung saat melihat boneka tersebut.
Dia lalu merebahkan dirinya di atas kasur empuk itu,meski tak se empuk kasur di kamar pribadinya.
"Huft...maaf ya Chi...gara-gara aku kamu jadi kelhilangan cinta mu,apa Satria itu cinta pertama mu?"gumamnya sambil menatap langit-langit kamarnya.
"Betapa jahatnya aku,menghancurkan hubungan kalian,tapi saat ini kau memang benar juga sih masa iya kau tega menyakiti hati orang lain demi ke egoisan diri mu huft...kau sungguh wanita yang baik,kau pantas mendapatkan yang lebih baik lagi Chi..."gumamnya lagi.
Entah sejak kapan Agung menjadi.tidak egois seperti ini,sejak mengenal Michi dirinya memang banyak mengalami perubahan sikap tanpa Michi sadari,sebanarnya Agung sedikit beurubah.
Agung tidak se egois dulu,Agung selalu bisa berbicara dengan Michi padahal Michi termasuk gadis yang tidak di kenalnya.
Agung bukanlah ciri orang yang mudah berbicara dengan orang yang baru dia kenal terlebih lawan jenis,apa lagi sampai berbebat masalah kecil terkecuali itu masalah pekerjaan tapi,memang baru Michi lah yang berani mengajaknya berdebat setiap kali mereka berbicara.
" Pantas adik ku sangat menyukai mu,ternyata kau memang wanita berhati lembut dan baik Chi..."gumamnya lagi.
Hingga malam semakin larut kantuk pun menerpa Agung,hingga akhirnya dirinya telelap dengan segala fikirannya pada Michi sebelum dia tertidur tadi.
Wajah wanita kecil itu sampai terbawa ke alam mimpinya,terlihat senyuman tulus yang terlihat beberapa tahun yang lalu saat dirinya muncul di kaca mobilnya,senyum kebahagiaan yang sudah tak nampak lagi,saat ini,senyuman itu hanya untuk seseorang yang bernama Satria Wijaya adik kandungnya.
Agung mengerjapkan matanya dia terbangun di malam itu,Agung mengusap wajahnya kasar karena mimpinya,rasa bersalah selama bertahun-tahun terus menghantui dirinya.
Karena terbangun dirinya jadi tidak bisa tertidur lagi di lihatnya jam di kamar Michi menunjukan pukul 3 dini hari.
Agung mendengar suara dari dapur memang tidak terlalu berisik,tapi dia tahu siapa yang sedang berkutat jam segini di dapur.
Agung pun keluar dari kamarnya dan menuju dapur dan benar saja Michi sedang bersiap menyiapakan adonan untuk membuat pastel dan pie.
"Kenapa tidak nambah karyawan lagi sih?buat bantu kamu,jadi kamu itu nggak selelah ini Chi"celetuk Agung.
Michi terkejut saat Agung tiba-tiba muncul.
"Bayar karyawan kan nggka sedikit pak..."ucap Michi.
"Memang omset kamu nggak cukup gitu?"tanya Agung lagi.
"Ya cukup pak...tapi kan semuanya harus di putar untuk modal lagi,dan sebagian kan untuk makan juga"jelas Michi.
"Kamu taikin saja harga kue mu"Agung memberi usul.
"Taikin tiga tau lima kalilipat jadi omset mu bisa lebih lagi'jelas Agung.
"Kalau naikin harga sampai segitu yang ada pelanggan aku pada kabur pak"Michi ketus.
"Cari pelanggan yang lain dong...jangan yang itu-itu ajah yang maunya murah,cari metode lain untuk pemasaran"
"Nanti aku ajari kamu berbisnis biar jadi pebisnis hebat kaya aku"Agung mulai sombong.
Michi hanya terdiam saja dan terus melakukan pekerjaannya.
Dia tidak tahu Agung sedang merencanakan,sesuatu untuk nanti pagi di tokonya,sesuatu yang akan membuatnya naik pitam lagi pagi-pagi.
Bersambung.