NovelToon NovelToon
Imam Yang Seperti Bapak

Imam Yang Seperti Bapak

Status: tamat
Genre:Romantis / Tamat
Popularitas:267.7k
Nilai: 5
Nama Author: lilinur m

"Diterima ya, Mba. Dijalani saja dulu, banyak shalat dan baca Qur'an. Semoga tugas akhirmu, lekas selesai. Insya Allah, ini keputusan yang baik, Mba. Sepertinya Mas Akbar, anak yang shaleh."

"Iya, Pak, Bu. Saya jalani. Makasih restu dan doanya."

Aku berdiri, pamit. Masuk ke kamar. Kututup pintu, segera sujud syukur kepada Pemilik Semesta.

"Bismillah, semoga aku bisa."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon lilinur m, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Lamaran 'Kakang Prabu'

Wajah Akbar terlihat pucat, tapi tidak mengurangi tingkat ketampanan hakiki yang dimiliki. Fatih, sang adik, sudah berapa kali saja, menertawakan dan menggoda 'kakang prabu-nya' itu. Ia sudah tidak sabar, melihat pipi merah Mas Akbar-nya. .

"Kamu ya, Tih, belum saja merasakan posisiku sekarang. Lihat saja besok, saatnya tiba, aku juga akan meledekmu, haha," Kata Akbar tertawa jahat.

"Tidak Mas, itu masih lama. Aku masih mau kerja dulu, cari recehan, ditabung di kendi, supaya banyak." Jawab Fatih sambil menghayal.

"Hey, adik 'kakang' yang paling ganteng, jangan bilang 'masih lama,' Masmu ini sering bilang kaya gitu, eh, jodohnya deket rumah lagi, kan nggak nyangka." Tutur 'kakang prabu' dengan bijak, melupakan acara yang akan dilewati sejenak.

"Ternyata lebih deg-degan kaya begini, ya, Tih. Beda kalau lagi ngadepin mahasiswa di kelas." Akbar curhat sedikit dengan adiknya.

"Iya apa Mas? Perasan biasa saja, deh. Mas, dibawa santai saja. Fatih yakin, Mba Sekar menerima Mas, kok. Mas Akbar sudah berusaha, sudah berdoa, pasrah sama Yang Kuasa, Mas."

Akbar langsung mengacungkan jempol kepada adiknya, menandakan ia menerima ucapan yang baru saja dilontarkan sang adik tercinta, jarang-jarang mereka berdua bercerita seperti ini.

Kesibukan masing-masing terkadang menjadikan mereka berdua untuk bertukar pikiran seperti sekarang ini.

Sekar masih duduk di kursi rias. Menatap lurus ke depan. Bayangan wajah yang sudah dipoles tipis dan jilbab yang dikenakan sederhana tapi terkesan elegan. Ibunya telah memberikan gamis brokat berwarna biru laut, ditambah manik pink menambah kesan lembut pada pemakainya.

Sekar berdandan sendiri. Ia tidak mau ber make-up tebal. Riasan tipis selalu ia aplikasikan ketika ada acara kondangan, atau acara formal di kampusnya. Jilbab sengaja ia pasang sampai menutup dada.

Sekar sudah melihat di internet cara mengenakan jilbab yang modern tapi tidak melupakan kewajiban seorang muslimah.

"Mba Sekar, sudah siap?" Alina, sepupu Sekar, datang tadi pagi, mendengar Mbanya mau lamaran, Alina minta izin kepada orangtuanya untuk ikut.

"Iya sudah selesai. Masuk saja, Al." Jawab Sekar. Alina pun membuka pintu dan langsung masuk ke dalam kamar Sekar.

"Masya Allah, cantik sekali, Mba." Ujar Alina.

Jilbab kuning emas yang Sekar kenakan, menambah ayu wajah imutnya. Begitu kata Alina.

"Ayo, Mba. Kita keluar. Di ruang tamu, keluarga Mas Akbar sudah menunggu. Katanya sudah tidak sabar melihat bidadari desa." Ujar Alina, menggoda Sekar. Alina senang sekali melihat pipi merah Sekar, disamping itu, supaya Sekar tidak terlalu tegang, seperti sekarang.

"Sudah Mba, jangan tegang. Rileks. Inikah bukan ujian." Tutut Alina sambil mengusap pelan punggung tangan Sekar yang berkeringat.

"Nah, itu Sekar sudah tiba. Acara mari kita mulai. Sepertinya, Mas Akbar sudah tidak sabar mengikat Mba Sekar. Ini juga sudah pukul 20.00. Jangan terlalu malam. Nanti kita digerebek." Kata Pak Wira bercanda. Guyonan Pak Wira disambut tawa oleh semua orang.

Acarapun dimulai. Pembawa acara mempersilahkan pihak dari laki-laki untuk mengutarakan niat kedatangan. Setelah itu diterima oleh pihak perempuan niat baik dari pihak Mas Akbar. Acara puncak yaitu mendengarkan jawaban Sekar atas lamaran dari Akbar Zafran, lelaki bersurai hitam legam.

Sekar dengan gemetar, menerima pelantang dari pewara berasal Melayu-Jawa tersebut.

Senyum anggun memperlihatkan lesung pipi kanan kirinya. Menghadap Bapak dan Ibunya, menganggukkan kepala. Lalu menghadap ke depan. Berhadapan langsung dengan keluarga Mas Akbar.

Sambil tersenyum, "Bismillahirrohmanirrohim, saya menerima lamaran dari Mas Akbar."

1
Suyatno Galih
disn othor sll menyebut desa asal dan domisili, ku kenal Ambal Mirit Kebumen Jateng---Makmur p rimau Banyuasin Sumsel benar or salh thor
Eny Hidayati
kata hati yang sama...
Eny Hidayati
ujian hidup selalu ada ...
Eny Hidayati
sahabat selalu ikut gembira untuk sahabatnya...
Eny Hidayati
mode on going ...
Eny Hidayati
Bapak ibu Suryo sepertinya baik, orangnya tidak sok ...
Eny Hidayati
seneng banget lamaran diterima...
Eny Hidayati
masih menyimak...
Eny Hidayati
nembung itu namanya...
Eny Hidayati
berlanjut berarti...
Eny Hidayati
sama2 berdebar ...
Eny Hidayati
mohon maaf sebelumnya... masih bingung pov-nya ... tapi aq nikmati saja karena adanya begitu ... tetap semangat Thor.
Eny Hidayati
memasak itu yg paling ditakuti kalo keasinan ...se buyar-buyarnya pokoknya...
Eny Hidayati
Akbar pasti terkejut dan tentu ingat itu adik tingkat .
Eny Hidayati
Bapaknya Sekar itu disebut orang yang nyungkani ...
Surya Langit
bagus
Eny Hidayati
pesawat melangit... seperti melangitnya sebuah harapan ...
Eny Hidayati
menyimak ceritamu Thor... AQ semangat membaca... Author semangat menulis... sehat selalu Thor...
Aminah Mimin
maaf perasaan waktu USG anak nya kembar kok waktu lahiran cm 1
Kimie Meonk
colon imam pilihan jga so sweet loh.. aq rekomend... bgt dh...
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!