Banyak cerita yang ingin kubagi bersama mu.
Hari-hari saat kau tak ada .
Aku selalu cemas bagaimana aku melewati hari tanpa mu.
Tapi, semestinya hidup harus terus berjalan bukan?
Bayangmu di tengah-tengah cahaya senja, gelak tawamu di sela candaanku, dan senyum di kala sore itu.
Aku senang jika waktu berhenti seperti itu.
Bahkan jauh sebelum semua ini bermula, aku telah membayangkan beberapa kemungkinan.
Entah aku atau kau mengucapkan pisah lebih dahulu atau diam yang menjelaskan keadaan.
Jika kelak kita memang tak lagi bersama, tetaplah menjadi tempat teramat rahasia dan mimpi besar ku yang kubagi hanya padamu saja.
Aku harap itu benar-benar mewakili untuk membuat mu sedikit terhanyut pada ingatan masa lalu.
Kau tahu? Aku masih berkunjung sesekali, meski tanpa mu
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Erwan Saputra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Teras Tunggu
...****************...
Di Desa Sukamaju.. ...
Billa yang tengah istirahat di tepi jalan kembali melanjutkan perjalanannya, dalam mencari rumah Putra. Ia menyusuri jalan demi jalan desa tersebut. Patokan ia adalah stasiun kereta api.
"Mana ini stasiunnya kok tidak ketemu-ketemu?" gumam Billa sambil berkendara.
Tak lama kemudian tampak dari kejauhan ia melihat tulisan "Selamat datang di Stasiun Kereta Api Sukamaju." Melihat tulisan tersebut hatinya sangatlah gembira, karena ia tidak lama lagi akan menemukan rumah Putra.
"Di dekat stasiun kereta api, rumah berwarna Kuning," gumam Billa kembali sembari mengingat isi pesan dari Juan prihal alamat lengkap dari rumahnya Putra.
"Rumah disini nampaknya banyak berwana Kuning, apa aku coba tanya aja ya dengan warga disini," ujar Billa.
Tampak sebuah rumah yang penghuninya sedang mencoba menjemur pakaian di kala sinar matahari terik seperti siang hari ini. Billa pun mencoba untuk menghampiri bertanya rumah Putra. Ia meparkirkan sepeda motornya tepat di depan pagar rumah warga tersebut. Di lepasnya helm dan letakkan di gagang spion motornya. Lalu ia berjalan menghampiri ibu-ibu yang sedang menjemur pakaian tersebut.
"Assalamualaikum permisi Bu," sapa Billa membuka obrolan itu.
"Waallaikumsalam iya Nak. Ada apa?" tanya Ibu tersebut.
"Mau nanya Bu, Rumah Putra di sekitaran sini yang mana ya Bu?" tanya Billa.
"Putra ...? Putra yang mana ya Nak? soalnya banyak disini yang namanya Putra," tanya ibu itu kembali.
Billa pun sempat kebingungan bagaimana harus menjelaskan kepada ibu tersebut Putra yang ia maksud.
"Putra Bu. Anaknya umuran saya dan baru lulus SMP," ucap Billa menjelaskan.
"Ohhhh Putra itu, anaknya ibu Surti. Kalau Putra itu rumahnya yang berwarna kuning itu nak," jawab ibu itu sambil menunjukan rumah berwarna kuning terpisahkan 1 Rumah dari rumah ibu tersebut.
Mendengar Jawaban tersebut Billa pun akhirnya senang kembali, karena tidak lama lagi ia akan bertemu Putra kembali.
"Yang itu kan Bu," ucap Billa sambil menyelaraskan telunjuk nya dengan ibu tersebut.
"Iya yang itu Nak," jawab ibu tersebut sambil mengangguk.
"Kalau begitu terimakasih banyak ya Bu," ujar Billa.
"Sama-sama, Nak. Ngomong-ngomong ada apa ya nak sebelumnya mencari nak Putra kalau boleh tau?" tanya balik ibu tersebut.
"Ohhh gakpapa bu, saya temannya Putra kebetulan lagi lewat sini dan ingat kalau Putra tinggal di desa ini. Jadi, saya sempatkan untuk mampir sebentar Bu," jawab Billa mencoba menutupi niat ia sesungguhnya kenapa mencari Putra.
"Aku pamit dulu ya Bu," izin Billa kepada Ibu tersebut.
Billa pun meninggalkan Ibu itu menuju sepeda motornya yang telah terparkir di depan gerbang rumah ibu tersebut. Sementara Ibu yang tadi melanjutkan untuk menjemur pakaian di depan rumahnya.
Setelah mengetahui keberadaan rumah Putra dan sudah tau letaknya dimana. Tanpa basa-basi lagi Billa langsung menancap gas menuju rumah Putra.
Tampak dari pinggir jalan rumah Putra sepi seperti tak ada penunggunya.
"Kok sepertinya gak ada orang ya," gumam Billa di atas motor.
Billa pun setelah memarkirkan sepeda motornya depan rumah Putra, ia pun masuk kedalam halaman menuju pintu. Di ketok nya pintu rumah Putra yang terbuat daru kayu tersebut, "Tok ...to ...tok...." bunyi ketokan pintu tersebut.
"Assalamualaikum," salam Billa yang pertama.
Namun nampaknya tidak ada jawaban. Di ketoknya lagi pintu rumah tersebut.
"Assalamualaikum. ...Putra," ucap salam Billa yang kedua dan nampaknya masih tidak ada jawaban.
Billa kun tetap tidak menyerah hingga sudah 10 kali mengetok pintu dan 20 salam sudah ia layangkan kepada pintu rumah tersebut. Dan hasilnya pun tidak ada jawaban dari penghuni rumah tersebut. Ia pun menunggu Hingga satu jam sampai jam 12 siang waktu sholat Dzuhur tiba.
Sementara Putra, Ibunya serta adiknya sekarang masih di kebun. Duduk di kebun sambil menyantap bekal makan siang yang mereka bawa dari rumah.
"Memang enak masakan Ibu," ujar adik Putra yang telah menghabiskan bekal makan siangnya.
"Ibu siapa dulu dong?" ucap ibu Putra.
Putra dan adiknya pun menjawab,
"Ibu Putra ...," ucap Putra tiba-tiba.
"Ibu Firman ...," ucap adiknya putra jua bersamaan dengan Putra.
Putra dan adiknya pun saling menatap karena tiba-tiba mereka mengucapkannya secara bersamaan. Sedangkan, Ibunya yang masih mencoba menghabiskan makanan di wadah plastik berwarna biru melongok melihat kelakuan anak-anaknya. Mereka pun tertawa bersama dalam pondok kecil yang berukuran 5 x 5 Meter dengan bagian depannya di buat tanpa dinding hanya ada tangga di depan pondoknya. Di tengah teriknya matahari siang hari mereka beristirahat siang itu. Mereka makan, sholat serta merebahkan badan sesekali karena kelelahan.
Di lain tempat Billa menatap Jam tangan analog nya menunjukkan pukul jam 12.15 menit dan tiba-tiba adzan di tempat tersebut berkumandang.
"Tampaknya aku harus sholat dulu," gumam Billa.
Billa pun bergegas kembali menuju sepeda motor miliknya. Sambil mencari-cari di mana sumber suara adzan di tempat tersebut berkumandang.
"Sepertinya arah situ ada masjid," ucap Billa sambil menghadapkan wajahnya ka arah sumber suara adzan tersebut.
Ia pun bergegas mengendarai sepeda motor miliknya. Namun tak lama kemudian di depan rumah tempat dia bertanya kepada ibu-ibu soal lokasi rumah Putra tadi ia berhenti. Billa kembali bertemu dengan ibu yang tadi. Billa ingin coba bertanya kepadanya kenapa rumah Putra seperti tidak anak penghuninya siang ini. Ia pun coba menghampiri Ibu tersebut yang sedang berjalan pinggir jalan dan mulai memasuki halaman rumahnya. Melihat Billa berhenti mengendarai sepeda motornya, ibu itu pun juga berhenti sejenak karena tau pasti ada yang ingin Billa tanyakan lagi.
"Maaf , Bu. Mau nanya lagi," ucap Billa sambil tersenyum.
"Nanya apa Nak?" tanya Ibu tersebut.
"Kok sepertinya rumah Putra itu tadi gak ada penghuninya ya, Bu?" tanya Billa.
"Oh iya ibu lupa kalau hari libur seperti ini biasanya, orang rumah tersebut semuanya pergi ke kebun karet terus juga kalau kakak-kakak Putra dua-duanya sekarang sudah kerja pulang sore atau malam otomatis kalau siang seperti ini biasanya gak ada orangnya nak rumah itu," jawab ibu tersebut.
"Biasanya pulangnya kapan ya, Bu?" tanya Billa kembali.
"Nah kalau soal itu ibu kurang tau Nak, tapi biasanya siang kalau gak ya sore nanti," jawab kembali ibu tersebut.
Mendengar jawaban itu sempat terdiam karena apakah ia akan bertemu dengan Putra nantinya atau malah perjuangannya hari ini sia-sia saja karena tidak bertemu dengan Putra. Billa pun bergegas kembali menuju motornya sambil mengucapkan rasa terimakasih kepada ibu tersebut.
"Terimakasih banyak ya, Bu," ujar Billa.
"Sama-sama Nak," balas ibu tersebut.
Billa pun kembai mengendarai sepeda motornya untuk menuju masjid menunaikan sholat dzuhur.....
...****************...
Terima kasih udah selalu dukung novel "Uta & Alber"
😊
Tanda elipsis pakai spasi.
Ke mana adalah yang benar, bukan kemana.
Eitsss ... Tapi--
semangat terus kak 💕