NovelToon NovelToon
Lost Memories

Lost Memories

Status: sedang berlangsung
Genre:Epik Petualangan / Light Novel
Popularitas:17.8k
Nilai: 5
Nama Author: ZeroGame

Hampa— tak mengerti apapun. Sang Protagonis terbangun di tempat asing bersama seorang gadis Half-Elf yang menyelamatkan nyawanya. Ia dibawa ke sebuah desa yang memberinya kehangatan.
Ketika Sang Protagonis mencoba mengingat berbagai hal, justru sakit kepala hebat yang ia dapat. Dengan ingatannya yang sebagian besar hilang, ia bertekad mengumpulkan kembali serpihan ingatannya. Tapi, perjalanannya tidak akan mudah. Ia harus dipaksa menelan pil pahit takdir yang menuntunnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ZeroGame, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

CH. 16 [Arc: Desa Harapan]

Matahari sudah mulai naik. Kami bertiga mulai menuju ke arah kota.

Adi mulai menarik nafas panjang, lalu menghembuskannya. Kedua tangannya bergerak cepat dan menampar kedua pipinya sendiri dengan sangat keras. Aku dan Riri sampai terkejut melihatnya.

"Azura, Riri, bagaimana kalau kita beristirahat sebentar di dekat sungai sebelah sana." tangan kirinya menunjuk sebuah aliran sungai yang tidak jauh dari kami. "Sekalian kita membersihkan diri. Kita akan kerepotan jika masuk ke kota dengan keadaan kotor begini."

Yang dikatakan Adi benar. Setelah pertarungan tadi malam, baju kami penuh dengan bercak darah. Jika masuk ke kota dengan keadaan begini, kami akan di curigai. 

Dan sepertinya, suasana hati Adi sudah mulai membaik. Memang seharusnya begini. Kami tidak boleh terus terlarut rasa sedih.

Aku menatap ke arah gadis mungil itu, ia kemudian tersenyum lembut. 

Tak butuh waktu lama bagi kami untuk sampai di tepi aliran sungai itu. Kami kemudian berteduh di bawah sebuah pohon yang cukup besar disana.

Gadis mungil itu langsung bersandar di bawah pohon, sementara Adi pergi ke tepi aliran sungai. Ia menadah air dari tangan kemudian meminumnya.

"Airnya sangat menyegarkan. Sungainya juga dangkal, sangat cocok untuk berburu ikan juga. Kalian lapar kan?"

Aku dan Riri mengangguk secara bersamaan. 

"Lebih baik kalian lepas dulu pakaian kalian. Biar aku cucikan."

Dari kami bertiga, hanya pakaian Riri yang terlihat masih bersih. Karena selama bertarung di desa, Riri hanya menjadi pendukung di belakang bersama Bu Mary dan Alein.

Aku dan Adi melepas pakaian kami lalu memberikannya pada Riri dan hanya mengenakan celana. Semua perlengkapan kami juga dilepas dan diletakkan di dekat pohon.

Kami bertiga menuju ke aliran sungai. Sebelum terjun ke sungai, aku dan Adi akan mencari ikan dulu untuk sarapan. Sementara Riri mencuci di tempat yang agak jauh agar ia tak mengganggu perburuan kami.

"Kau tunggu di bagian hilir saja Azura. Akan kuperlihatkan cara berburu yang paling efisien."

Aku tidak tahu apa yang akan Adi lakukan, tapi aku yakin itu sesuatu yang hebat. Aku segera menuju ke bagian hilir, tak perlu jauh-jauh, karena kami hanya perlu sedikit ikan saja.

Adi kemudian memasukkan salah satu lengannya kedalam sungai. "Wahai petir, menyambarlah!"

Sebuah kilatan listrik keluar dari tangannya dan merembet ke area sekitarnya. Dalam sekejap, beberapa ikan mulai terlihat mengambang ke permukaan. 

"Azura, ambil ikan-ikan itu sebelum mereka kembali sadar. Aku hanya membuat mereka lumpuh sesaat dengan kejutan listrik. Tak perlu khawatir tersengat, aliran listriknya tak membahayakan manusia." 

Aku kemudian masuk kedalam sungai. Aku hanya tinggal menunggu ikan-ikan itu datang kepadaku karena hanyut oleh arus air. Satu, dua— beberapa ikan mulai ku naikkan ke darat. Aku melemparnya begitu saja agar menghemat waktu. 

Adi mengangkat kembali lengannya dari dalam air dan segera menuju ke arahku. 

"Sepertinya sudah cukup. Naiklah, Azura. Kita segera memasak ikan-ikan ini."

Aku mengangguk, lalu keluar dari air. Kami berdua mengumpulkan ikan-ikan itu dalam satu tempat. 

"Aku sudah bersihkan baju kalian." Gadis mungil itu datang dengan membawa baju kami yang sudah ia bersihkan. 

"Tunggu sebentar." Adi kemudian mengambil salah satu pedangnya. Ia mulai mengeluarkan pedangnya dan memotong beberapa ranting pohon. 

Ia menancapkan dua buah kayu yang tingginya sejajar, lalu meletakkan batang kayu lagi yang menghubungkan keduanya. 

"Letakkan baju itu disini, Riri. Azura, bantu aku membawa dan menyusun ranting-ranting ini."

Gadis mungil itu kemudian menjemur baju kami, sementara aku membantu Adi mengambil kayu dan ranting.

Kami menyusun kayu dan ranting itu sedemikian rupa. Tak lupa, kami juga menusuk ikan yang sudah kami tangkap agar mudah saat dibakar.

Adi mengarahkan tangannya ke depan. Kobaran api kecil tercipta dan dengan cepat membesar. Kami kemudian membakar ikan yang sudah kami tusuk.

Suasana kembali hening saat menunggu ikan yang kami bakar matang. Semilir angin dan gemericik air yang mengalir menjadi musik alam kami.

Aku tahu pikiran tentang keluarga kami masih terasa sangat kuat. Aku harus mencari topik lain untuk dibahas. Saat melihat ikan yang sedang dibakar, aku memikirkan sebuah hal aneh.

"Hei, teman-teman. Di dunia ini ada sihir api kan. Lalu, kenapa orang-orang masih memasak menggunakan tungku dan bara api ya? Bukannya lebih cepat menggunakan sihir api?"

Mereka berdua menatapku dengan heran, lalu mereka tertawa dengan kencang.

"Hahaha! Yah, tidak heran jika Azura yang bertanya seperti itu." Adi mengambil salah satu ikan yang belum matang. "Seperti yang pernah Ibuku katakan, sihir adalah manifestasi dari mana yang ada di dalam tubuh. Alasan kenapa tidak ada orang yang memasak menggunakan sihir, karena panas yang dihasilkan tidak akan pernah stabil."

Adi membuka telapak tangan kanannya. Kobaran api kecil mulai menyala. Ikan yang sebelumnya ia ambil, ia arahkan ke atas api itu dengan tangan kirinya.

"Mana yang keluar sebagai sumber daya sihir selalu keluar acak. Apalagi mengendalikan aliran mana itu sangat susah, terlebih untuk orang yang belum ahli. Jika mana yang keluar terlalu kecil, ikannya tidak akan matang." Kobaran api di tangan Adi tiba-tiba menjadi besar dengan cepat. "Apabila yang keluar terlalu banyak, api akan menjadi besar dan menghanguskan makananmu. Dan tentu saja ini berbahaya bagi area di sekitarmu."

"Lagipula, tidak semua orang dapat menggunakan sihir." Celetuk gadis kecil itu. "Itulah alasan kenapa kita diberi sebuah cincin. Memang sihir adalah hal serbaguna, tapi bukan berarti segala hal bisa diselesaikan dengan sihir."

Ah, jadi itu alasan tidak ada orang yang memasak menggunakan sihir. 

Setelah itu kami hanya diam sambil menunggu ikan yang kami bakar masak. Tak butuh waktu lama untuk ikan itu berubah warna menjadi kecoklatan. Kami langsung mengambil satu persatu, lalu menyantapnya.

"Ini enak." Meskipun tanpa bumbu penyedap, rasa ikan ini tetap enak. 

Kami bertiga makan dengan lahap. Setelah menghabiskan semua ikan bakar, kami kemudian merapikan kembali peralatan kami dan mematikan api unggun. Aku dan Adi mengenakan kembali baju kami yang sudah kering.

Pedang-pedang kami juga mulai kami pasang di pinggang. Tapi, aku begitu penasaran dengan pedang berwarna merah milik Adi yang masih tergeletak. Aku tahu itu merupakan pusaka keluarganya, tapi aku begitu penasaran dan berniat memegangnya.

"Azura! Jangan pegang pedang itu!" Adi yang melihatku ingin menyentuh pedang pusaka miliknya, sontak berteriak ke arahku.

Tapi, ucapannya terlambat beberapa detik. Tanganku sudah terlanjur memegang gagang pedangnya. Namun, baru saja ku sentuh, aku langsung menarik tanganku dengan cepat.

Bukan karena peringatan Adi. Tapi tanganku terasa terbakar setelah menyentuh pedang itu.

Benar saja, tanganku melepuh seketika. Rasanya begitu panas dan sakit. Aku sampai harus menahan rasa sakit dan panasnya, padahal aku baru sedetik menyentuh pedang itu. Namun rasa sakit yang diberikan bisa separah ini.

Gadis mungil itu langsung bergegas merapalkan sihir penyembuh. "Heal…"

"Maaf, Azura. Aku lupa memberitahumu lebih awal."

"Tidak— ini salahku karena bertindak ceroboh. Tapi, aku penasaran kenapa tanganku bisa terbakar hanya karena menyentuh pedang itu. Apa pedang itu dikutuk?"

Adi menggeleng pelan. "Aku juga tidak tahu. Ayahku hanya memberitahu kalau pedang ini adalah pusaka keluarga. Hanya orang-orang terpilih dan garis keturunannya saja yang dapat memegang pedang ini. Jika ada orang asing berniat memegang pedang ini, maka ia akan terbakar. Hanya itu yang kutahu."

Adi langsung mengambil pedang merah itu dan meletakkannya di punggung. Setelah luka bakarku sembuh, kami kembali bergegas melanjutkan perjalanan.

Tak lupa juga kantung yang berisi sejumlah uang dan surat penting yang harus kami antar ke tempat tujuan juga kami bawa. Tidak mungkin kami meninggalkan barang sepenting ini.

1
Kang Nyimak
Kutai Kartanegara? Indonesia?
Ayano
Diriku mampir thor. Baru baca chapter satu dulu. Abis cas handphone dilanjut lagi. Semangat ya. Kalo sempet mampir juga ya
Helmi Sintya Junaedi
otor kepentok apa ini ya??? sekian paripurna baru lanjut..
btw mkasih mo lanjutin y thor
ZeroGame: aku sibuk sama pekerjaan di real life kak wkwkwk
maaf banget jarang update, gak bisa kupaksakan juga karena bakal menganggu kualitas cerita
total 1 replies
Inira
Bunga untukmu, biar lebih semangat update!
ZeroGame: Makasih kak ≧﹏≦
total 1 replies
Cheonma
Semangat updatenya thorrr...
ZeroGame: Makasih kak ≧﹏≦
total 1 replies
Wardi Kun
Azura menggambarkan gweh nih
Jeco Alana
Baru baca eps 1, tapi bahasanya gurih banget. Mantap.
ZeroGame: makasih kak
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!