Kehidupan Nayla dan Azel sudah benar-benar berubah sejak terakhir kali bertemu. Nayla bertemu seseorang, kemudian putus dan tidak bisa move on. Azel menikah dengan seseorang, dikhianati kemudian bercerai.
Satu hari, mereka dipertemukan lagi di sebuah acara keluarga. Pertemuan itu membuat dunia mereka saling jungkir balik. Bagaimana kelanjutan kisahnya?
Cover obtain from pexels, free to use.
IG author : @ingrid.nadya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ingrid nadya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Nayla : Tentang Ernest
Dulu, aku selalu membenci mata kuliah Audit. Di antara semua mata kuliah jurusan Akuntansi, aku paling tidak menyukai Audit.
And here I am, being an Auditor in a Public Accountant Firm for almost five years. How ironic!
(Dan disinilah aku sekarang, menjadi seorang auditor di sebuah kantor akuntan publik selama hampir lima tahun. Ironis sekali.)
Jika kalian bertanya kenapa aku masih bertahan menjadi seorang Auditor meski aku sangat membenci Audit, itu adalah karena kejadian setelah aku mendapatkan pengalaman magang di tempat aku bekerja sekarang. Mungkin sudah kuceritakan gambaran besarnya saat aku bersama Azel di pantai kemarin, tapi akan kuceritakan secara detail.
Aku sudah menyelesaikan masa magangku sebelum aku wisuda. Selama menjadi intern, aku tau bahwa bekerja di kantor akuntan publik berarti harus menyerahkan segenap jiwa dan raga, rela lembur dari pagi sampai ke pagi
lagi. Untuk itu, saat aku ditawarkan untuk direct hire di kantorku sekarang, aku tidak berpikir lagi, aku sudah berencana untuk menolaknya, karena aku sangat mengenal diriku sendiri yang hobi mengeluh ini.
Tapi sebuah kejadian membuatku berubah pikiran.
Saat itu aku sedang mempersiapkan revisi skripsi dan wisudaku. Sebagai informasi, aku telah berpacaran selama empat tahun dengan Ernerst.
Ernest sudah bersamaku di saat-saat terbaik dan saat-saat terpurukku. Begitu pula aku untuk dia.
Di saat ibunya meninggal, aku selalu ada untuk mendengar keluh kesahnya. Di saat aku berkali-kali dijatuhkan oleh dosen pembimbing skripsiku sehingga aku harus mengulang sidang sebanyak tiga kali, dia selalu ada untuk menguatkanku.
Kami selalu berpikir bahwa perbedaan kami adalah sesuatu yang bisa kami lampaui. Karena perasaan kami begitu kuat, tidak sekalipun ada permintaan putus dari kami berdua seberat apapun cobaan yang ada.
Sampai suatu hari, Papanya Ernest mengalami kecelakaan. Baru aku mengetahui belakangan bahwa di dalam kondisinya yang lemah, Papanya meminta Ernest satu hal, meninggalkan aku. Dan dia akhirnya harus memilih.
Ernest meneleponku di satu malam setelah menghilang selama dua minggu. Saat itu, aku masih tidak tahu apa-apa. Aku tidak bisa menjenguk ke rumah sakit karena orang yang paling menentang hubungan kami adalah Papanya Ernest, aku tidak bisa datang kesana karena sudah pasti malah akan membuat kondisi Papanya semakin buruk.
“Kamu kemana aja? Gimana kabar Papa kamu?” Aku menjawab teleponnya dengan panik.
“Aku mau bilang satu hal, Nay. Tapi aku gak mau kamu tanya apa-apa lagi. Aku gak bakal kuat kalau kamu ngomong setelah apa yang mau aku bilang. Jadi kamu dengar aja ya.”
Aku tau begitu saja apa yang akan dia katakan. Tidak kusangka hari itu datang juga, hari dimana kami harus menyerah dengan perbedaan itu.
“Iya…” Aku bahkan merasa asing dengan suaraku sendiri. Tidak pernah aku mempersiapkan diri untuk menerima patah hati sebesar ini.
“Kita putus ya, Nay. Selama ini, kamu uda jadi yang terbaik buat aku. Kamu bahagia ya. Setelah ini aku mohon kamu temuin seseorang yang lebih baik. Makasih ya, Nay, buat semuanya. Aku… sayang… kamu.”
Suara Ernest pecah di kalimat terakhir.
Dan telepon terputus.
Tanpa satu katapun terucap dari mulutku.
“Tut tut tut.” Nada statis itu berdengung. Aku masih menempelkan handphoneku di telingaku lama setelah dia menutup telepon. Masih tidak percaya dengan apa yang kudengarkan.
Besoknya dia jadian dengan orang lain. Yang memang lebih pantas untuk mendampinginya.
Setelah itu, aku berubah.
Aku memutuskan untuk memasuki kantor akuntan publik dan menjadi seorang auditor. Aku menyerahkan seluruh perhatianku sampai di titik aku tidak lagi punya waktu untuk memikirkan Ernest. Semua yang kulakukan adalah untuk mengalihkanku dari kesedihan teramat dalam itu. Aku tidak pernah menyukai kerja lembur, tapi aku lebih tidak suka memikirkan Ernest sampai dadaku terasa sesak.
Fast forward. Disinilah aku, tidak menikmati pekerjaanku, tapi hanya menjadikannya pengalihan pikiran dari Ernest. Aku tidak perna menyalahkan keputusan Ernest. Karena kalau pun aku jadi dia, aku akan melakukan hal yang sama.
Lalu setelah lima tahun hidup tidak karuan, sebuah nama muncul di whatsapp ku pagi ini. Setelah aku cukup kuat untuk tidak memikirkannya, dan berpikir untuk melangkah maju karena perasaan yang mulai
kupupuk dengan Azel.
Dan dia, dengan gampangnya, mengirimiku sebuah pesan singkat.
Ernest
ü Nay, apa kabar?
Runtuh sudah pertahananku. Aku langsung menangis memeluk Laki.
Aku teringat pada sebuah adegan legendaris dari film kesukaanku, Harry Potter. Hal ini sama seperti ketika Dumbledore mengetahui patronus rusa betina Severus Snape. Severus Snape telah mencintai Lily Potter, ibu Harry, bertahun-tahun setelah Lily menikah James Potter bahkan setelah dia meninggal. Dia rela menjadi seseorang yang dianggap pengkhianat demi menyelamatkan nyawa Harry, mempertaruhkan hidupnya menjadi bagian dari Voldemort agar bisa mengetahui setiap rencana penyerangan Harry. Bahkan Harry pun percaya dengan hal itu. Severus melakukan semuanya itu karena dia teramat mencintai Lily Potter.
Di sela-sela tangisanku, seketika aku merasa menjadi Severus yang sedang menghadapi tatapan tidak percaya Dumbledore dan sebuah pertanyaan miris.
“After all this time?”
(Setelah semua ini?)
Aku menangis dan menjawab dengan lemah, “Always.”
(Selalu.)
***
“Nay, lo kenapa sih hari ini? Gue ajak ngobrol gak pernah nyambung.” Regina menggerutu.
“Eh?”
Aku mengalihkan perhatianku dari laptop. Sebenarnya aku tidak tahu apa yang sedang kukerjakan daritadi. Hanya ada Microsoft excel kosong yang tidak tahu akan kuisi apa. Padahal harusnya aku sudah mulai mengerjakan taxation PT Ataya.
“Ini nih. Yang kayak gini. Lo kenapa sih?”
“Gak kenapa-napa. Emang gue kelihatan gimana?”
“Lo kelihatan ada pikiran. Gak pernah gue lihat lo begini.”
Aku menggeleng.
“Gue gak kenapa-napa kok.”
“Gak kenapa-napa, your head.”
“Hahaha. Kok lo kasar sih?” Aku memukul lengan Regina.
“Kenapa sih? Si Laki sakit? Atau lagi gak nafsu makan?”
Regina terlihat khawatir.
Aku tertawa lagi. Segitu menyedihkannya kah aku sampai-sampai masalahku hanya di seputar peliharaanku?
“Mantan gue ngubungin gue tiba-tiba, gak tau ada angin apa.”
Regina terlihat kaget, anehnya selanjutnya dia malah tertawa terbahak-bahak.
“Kok lo malah ketawa? Busuk lo.”
“Hahaha. Sori, sori. Baru kali ini gue lihat lo ngomongin laki beneran.”
“Sialan.”
“Hahaha. Tapi serius, Nay, gue uda kenal lo dua tahun belakangan ini, tapi baru hari ini lo ngomongin cowok.”
“Bodo ah.”
“Yee, ngambek. Hahaha. Tapi kenapa lo sampai segalau ini sih? Mantan lo kapan emang?”
“Kuliah…”
“Yaelah. Mantan zaman lo perawan aja masih bisa bikin lo stress.”
“Masih ya gue sampe sekarang! Ah, males gue cerita ama lo.”
“Hahaha. Sori-sori. Kok lo ngambekan sih? Ini mantan yang bikin lo haramin laki-laki lain?”
“Kok lo brengsek sih, Gin.”
Regina tertawa lagi.
“Tapi gue bener kan?”
Aku diam saja. Regina terlihat shock saat mendapat jawabannya.
“Buset, padahal gue asal ngomong. Gak move on dari zaman kuliah? Gila, udah lima tahun dong? How could you…?”
“Emang gue kayak lo, putus hari ini besok juga uda dapat cowok baru?”
“Iya dong. Buat apa mikirin mantan. Cause honey, there are plenty fish in the sea.”
(Banyak ikan di lautan)
“But what if… I just want one kind of fish?”
(Gimana kalau gue cuma pengen satu jenis ikan?)
“Ya, cari aja ikan sejenis. Yang sifatnya sama, yang baiknya sama. Jangan sama deh. Lebih baik dari sisi manapun.”
“No, no. I only want this one fish, before.”
(Enggak, enggak. Gue cuma pengen satu ikan ini aja.)
Regina tersenyum.
“Gimana lo bisa kenal cowok lain kalau lo terus menjarain hati lo dengan pikiran semacam itu?”
“Gue gak tau, Gin. Gue juga gak pengen begini. Kayaknya bener deh kata-kata yang bilang kita gak bakal bisa ngerti kenapa hati kita memilih seseorang."
Regina mengelus pundakku.
“Kayaknya gue pengen nenangin pikiran sebentar deh. Gue turun dulu ya.”
“Do you want accompany?”
(Lo mau ditemenin gak?)
“Thanks, Gin. I think I just wanna be alone.”
(Makasih, Gin. Tapi aku rasa, aku cuma pengen sendirian.)
Regina mengangguk. Aku segera mengambil handphone dan dompet, lalu keluar dari ruangan.
Aku masuk ke dalam lift, kemudian menekan tombolnya, aku berniat untuk duduk sebentar di taman bawah gedung perkantoran ini. Tapi saat pintu lift hampir tertutup, sebuah tangan menahan.
Lalu masuklah Azel ke dalam lift. Yeah. Right. Perfect timing. Kali ini sudah tidak ada lagi lagu FTV murahan itu.
“Eh! Hi, Nay,” katanya.
“Halo.” Aku tersenyum kecil.
“Dua kali ya kita begini?” Dia tersenyum.
Pintu lift pun tertutup. Hanya kami berdua di dalam lift ini, aku harus memulai percakapan atau bagaimana ya? Pikiranku sibuk berbicara sendiri.
“Mau kemana?” Azel membuka percakapan duluan.
“Kayaknya pengen ke taman.”
“Lagi pusing ya?”
“Enggak kok, lagi bosen aja. Kamu mau kemana, Zel?”
“Starbucks. Lagi ngantuk banget.”
Pintu lift terbuka. Kami sudah tiba di lobby.
“Aku duluan, Zel.”
Aku belum sempat mendengar jawaban Azel, tapi tanpa kusadari, aku sudah berlari ke arah taman.
Iya, Regina benar. Ternyata cukup satu pesan aja, cukup satu kalimat aja dari Ernest, bisa membuatku kembali mengharamkan semua lelaki di dunia. Bahkan yang sesempuna Azel sekalipun.
***