NovelToon NovelToon
Alexandria

Alexandria

Status: tamat
Genre:Romantis / Cintamanis / Berondong / Tamat
Popularitas:1.3M
Nilai: 4.9
Nama Author: ayyona

Alexandria adalah seorang gadis berumur 30 tahun yang memiliki luka masa lalu. Rencana pesta pernikahannya gagal di hari H saat seorang wanita berbadan dua hasil perbuatan calon suaminya Mahesa datang.

Lima tahun berlalu sejak saat itu Alexa berusaha mengubur lukanya dengan menjadi pribadi yang dingin terhadap orang yang belum dekat terutama lawan jenis. Seorang workaholic dan mengisi hidup untuk mewujudkan isi bucket listnya.

Kehidupan baru Alexa terusik ketika dia harus menjadi mentor Devon putra bungsu pemilik Brahmana Corporation tempat dia dan Theo suami Arika sahabatnya bekerja. Devon pemuda berusia 22 tahun terkenal karena susah diatur, suka berfoya-foya dan tidak serius menyelesaikan kuliahnya.

Selain itu satu per satu masa lalu mulai menghampiri gadis itu kembali.

Apakah Alexa akan berjodoh dengan masa lalunya?

Ataukah dia menemukan kebahagian lain?

Apakah waktu bisa menyembuhkan luka hatinya?

Berisi lagu-lagu romantis yang sesuai dengan tema chapter.

IG:ayyona_18

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ayyona, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 16 - Ke Markas

Setelah hampir 30 menit memacu mobil BMW 320i sportnya, mereka pun sampai di rumah besar berpagar tinggi yang dilengkapi sistem otomatis. Pagar besi itu terbuka setelah Devon memberitahu tuan rumah jika dia sudah ada di depan pagar.

Devon memarkirkan mobilnya di sebelah 2 mobil mewah yang telah berada di halaman rumah berlantai 2 itu. Kemudian dia keluar dan berjalan memutar untuk membantu Alexa membuka pintu bagian penumpang. Alexa membalas dengan senyum, gadis itu mulai terbiasa dengan sikap gentlemen yang ditunjukan Devon. Hal yang sama juga diperlihatkan Devon pada Ninda dan Femi jadi bukan hal yang aneh baginya.

Mereka kemudian melangkah beriringan melewati pintu kayu menjulang tinggi yang telah dibukakan oleh seorang perempuan paruh baya berseragam dress hitam beraksen putih, yang diperkirakan pelayan di rumah besar itu oleh Alexa dari sikap hormat yang ditunjukannya pada tamu yang datang.

Sepertinya wanita paruh baya tersebut sudah mengenali tamu yang berkunjung terlihat dari senyum yang diberikannya dan sikapnya yang tidak banyak bertanya serta membiarkan Devon memasuki ruangan besar itu lebih jauh. Mereka pun sampai di ruangan yang berisi beberapa set sofa besar, kedatangan mereka disambut dengan suara lantang dari tuan rumah. Pasti laki-laki itu Steven pikir Alexa.

Devon pun memperkenalkan Steven kepada Alexa yang menyambut uluran tangan laki-laki yang hampir sama tingginya dengan Devon itu sambil tersenyum ramah. Mereka pun berbincang-bincang di sofa empuk itu. Steven menceritakan bahwa dia dan kakak perempuannya Sierra akan memulai bisnis bersama untuk menyalurkan hobi masing-masing. Steven akan membuka usaha modifikasi motor dan mobil sedangkan Sierra akan membuka boutiqe.

“Jadi ini yang elo bilang mainan baru. Dapat hidayah dari mana elo tiba-tiba mau usaha."

Devon meledek Steven karena selama yang dia tahu sejak dulu mereka berlima, dia sendiri, Steven, Bima, Raka dan Jonathan hanya menghambur-hamburkan kekayaan orang tua mereka.

“Sialan elo! Temen mau baek elo kata-katain. Elo sama Bima mah enak kekayaan Brahmana Corp dan Mandira Group ga akan habis tujuh turunan. Bokap gue ntar lagi pensiun dari kementrian, lagian gue mau merintis masa depan gue sendiri."

Steven berkata dengan sedikit jumawa. Pastinya dia merasa lebih baik dari Devon yang sampai keluar negri kuliah belum bisa mandiri juga. Alexa yang mendengar itu tersenyum tipis memperhatikan reaksi Devon yang terlihat seakan tidak percaya temannya sudah mulai insyaf.

“Elo mau ikutan ga, kebetulan gue di kasih link sama bokap untuk pendanaan dari Bank BUMN. Pas lagi ada program untuk pengusaha muda. Jadi gue ambil komplek ruko yang ada di deket SPBU punya bokap. Mau bikin on stop service gitu. Jadi mau ada bengkel modifikasi otomotive, boutiqe, mungkin bisa ada café, spa atau apalah nantinya."

Berapi-api Steven menjelaskan kepada temannya itu.

“Bikin usaha itu mesti buat analisis dulu bro, mulai dari market, lokasi, kompetitor bahkan produk. Kalo asal bikin bisa bisa elo bakar - bakar duit aja."

Tumben Devon bijak. Alexa hampir tak bisa menyembunyikan tawanya mendengar si tuan muda.

“Tuh tanya sama ahli business analyst," tambahnya lagi sambil melirik ke arah Alexa.

Alexa yang merasa disebut hanya senyum tidak berniat ikut serta.

“Oh jadi ini mentor elo, oh maaf aduh manggilnya apa nih, gue kira gebetan baru elo....,"ujar Steven yang langsung meringis karena kakinya ditendang oleh Devon.

Obrolan mereka terhenti ketika pelayan mengantarkan beberapa gelas minuman ke ruangan itu disusul seorang gadis tinggi semampai yang terlihat turun dari tangga menghampiri mereka. Gadis itu melambaikan tangan ke arah Devon.

“Udah lama balik dari Melbourne kok baru mampir sih," sapa Sierra yang disambut raut muka setengah hati oleh Devon.

Dia memang agak malas jika harus membahas penyebab ditarik paksanya dia pulang ke Jakarta.

“Dideportasi dia, ketahuan bawa lari bule kali," canda Steven yang membuat Devon melemparnya dengan bantalan kursi.

Sierra tak mau bertanya lebih jauh, pandangannya beralih ke gadis yang sedang duduk manis di sebelah Devon. Devon yang melihat itu langsung memperkenalkan Alexa kepada kakak perempuan Steven itu dengan lengkap menyebutkan profesi Alexa agar tidak salah paham atau digoda lagi seperti yang Steven lakukan sebelumnya.

“Oh mentornya Devon, hebat dong masih muda sudah jadi business analyst. Di Brahmana Corp lagi," ujar Sierra kagum.

“Ga lah Mbak Sierra, Devon terlalu berlebihan. Yang mentor dia itu atasan saya, saya cuma bantu aja," ujar Alexa basa basi merendah.

“Tetep aja keren, di usia 20an sudah punya karir bagus."

Kekaguman Sierra masih terlihat jelas. Sementara Alexa langsung tergelak mendengar komentar gadis berambut pirang itu.

“Kalo usia 20an iya, tapi saya sudah 30 tahun jadi agak telat sih karirnya," jawab Alexa santai, tapi justru membuat Sierra dan Steven menautkan alis mereka.

“Masak sih, aku kira kita ga beda jauh lah."

Mata Sierra mulai menyapu tubuh Alexa dari ujung rambut sampai ujung kaki. Alexa hanya tersenyum simpul melihat reaksi. Sierra langsung memberondong Alexa dengan berbagai macam pertanyaan mulai dari perawatan yang dipakai, sedot lemak atau tidak, tanam benang, sulam alis, setrika wajah, suntik kolagen dan lain lain.

Steven dan Devon pun memilih memisahkan diri dari percakapan dua wanita itu, mereka melanjutkan perkacapan rencana businessnya di ruang TV yang berbatas sekat sebuah meja dekorasi dengan ruang tamu. Steven sesekali mencuri pandang ke arah Alexa yang terlihat mulai akrab dengan Sierra.

“Hei…elo niat ga sih ngajak gue ngobrol bisnis."

Pukulan Devon di lengan Steven membuatnya gelagapan karena ketahuan mencuri pandang ke arah ruang tamu.

“Sekarang emang lagi hits yang model model korea, kecil imut gemesin.. pas banget buat dipeluk-peluk," racau Steven sambil memperagakan gerakan tangan memeluk.

Devon langsung menjitak kepala Steven yang membuat laki-laki berkulit sawo matang itu meringis.

“Jangan macem-macem elo!" ujar Devon mendelik ke arah Steven.

“Eh..elo kan demen yang tinggi bohai kayak Maya. Mbak Alexa bisalah buat gue, sama yang lebih tua kayaknya seru. Tapi ga keliatan kok, masih imut gitu."

Steven tidak berhenti membahas gadis di ruang tamu itu. Tapi kemudian dia memilih diam melihat raut kesal sudah mulai tampak di wajah Devon. Steven tidak menyadari jika bukan hanya niat Steven menggoda Alexa yang membuat kesal tapi juga karena temannya itu menyinggung nama gadisnya di masa lalu.

“Santai bro, becanda gue," ujar Steven yang terlihat menyusul Devon berlalu meninggalkannya menuju ruang tamu.

Pada saat Devon dan Steven sampai di ruang tamu, Sierra dan Alexa sudah berdiri hendak pergi dari ruangan itu. Ternyata Sierra mengajak Alexa ke ruang makan untuk mencari kudapan. Steven dan Devon pun mengikuti langkah kedua wanita itu. Ketika Alexa akan mengambil salad buah, Devon menegurnya.

“Lexa jangan makan itu, yang lain aja, ntar asam lambungnya naik loh, belum makan nasi kan."

Devon jadi sedikit cerewet setelah beberapa minggu lalu penyakit mag Alexa kambuh di kantor.

“ Lexa Lexa aja ga sopan..bilang 'Mbak', kenapa!" Dengan sewot Alexa menjawab.

Dia merasa tidak enak jika orang lain mendengar Devon memanggilnya tanpa embel-embel. Steven tergelak mendengar percakapan itu.

Sementara Sierra menangkap sesuatu yang lain dalam perhatian Devon kepada Alexa. Walau pun sudah lama tidak bertemu, Sierra sangat mengenal tindak tanduk Devon terhadap seorang gadis.

“Jangankan elo Al, kakaknya aja di panggil Nat ato Adrian doang. Eh sorry gue jadi ikut-ikutan. Ga apa ya biar akrab kita."

Terbahak Steven sambil berkedip menggoda Alexa. Gadis itu pun tidak memperpanjang urusan itu, ia kemudian menuruti larangan Devon dengan mengambil cake coklat sebagai gantinya.

“Eh elo ga kangen liat markas," ujar Steven sambil mengunyah cake coklat yang sama dengan Alexa.

“Ga jadi digusur?” Devon balik bertanya.

Karena seingatnya markas mereka sewaktu SMA yang merupakan bangunan berdinding bata susun tanpa disemen yang berada di bagian belakang rumah besar itu akan dijadikan gudang oleh orang tua Steven.

“Masih ada.. tenang aja, kenangan elo masih tersimpan rapat di sana."

Senyum simpul di wajah Steven seperti mengejek Devon yang diam seribu bahasa tak berniat membalas pancingan Steven.

Tiba-tiba keheningan melanda ruang makan. Sierra pun pura-pura membahas tentang bisnis fashion dengan Alexa untuk mencairkan suasana.

1
jawir
Rasanya pingin loncat2 aja bacany langsung ke part di mn devon udh jd suami alexa ,,hmmm tp penasaran y weslah pelan2 aj bcny 🤭😅
jawir
Makmur makmur amat ya manusia2 di dunua pernovelan ,aaah andai saja .......
jawir
Telat membaca sepertinya ,baiklah mari membaca marathon !!! semoga ceritanya ta membosankan heeee
💐Nie Surtian💐
Baru mulai baca... Menarik... bikin penasaran...
Etik Widarwati Dtt Wtda
kerennnnnnn ..semoga bisa menulis dengan cerita yg kerennnn semangat ..../Good//Good//Good//Good/
Etik Widarwati Dtt Wtda
buket lust sudah dilengkapi
Etik Widarwati Dtt Wtda
waktu terus berlalu umur semakin bertambah anak2 sudah beranjak remaja ...pa lagi selain menikmati dan bersyukur ..badai yg takhenti2 sudah dilalui
Etik Widarwati Dtt Wtda
50 th ...42
Etik Widarwati Dtt Wtda
momo dokter mujarab
Etik Widarwati Dtt Wtda
jgn devon ....
Etik Widarwati Dtt Wtda
raymundo itu lexa
Etik Widarwati Dtt Wtda
nobita sudah dewasa
Etik Widarwati Dtt Wtda
wah jadian athony jasmine
Etik Widarwati Dtt Wtda
udah jadian saja
Etik Widarwati Dtt Wtda
perasaan alexa kan kuat dan g gampang menyerah
Etik Widarwati Dtt Wtda
kasian adrian kena batu sendiri
Etik Widarwati Dtt Wtda
sedihhhhjj bahagia
Etik Widarwati Dtt Wtda
kena batu nya ..adik2nya g tau diri
Etik Widarwati Dtt Wtda
haduuhh sembrono ah alexa
Etik Widarwati Dtt Wtda
jgn2 adtian yg masuk rs
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!