Kesalahan membuat Andin tak sengaja menjalin hubungan dengan lelaki yang bukan kekasihnya dan terpaksa berpisah dengan kekasihnya. Namun kesalah pahaman dengan lelaki itu membuat Andin berpikir bahwa dia hanyalah selingkuhan lelaki yang mulai dia cintai tanpa sengaja.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Titin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Part 16
"Kita jemput Renata dulu ya" ujar Bagas ditengah perjalanan. Andin cuma mengangguk, pikirannya berkecamuk, entah apa yang akan Bagas tunjukan padanya, mengenai hubungannya dengan Renata.
Entah mengapa dia selalu mengikuti kemauan Bagas, yang jelas kontak pisik yang telah mereka lakukan sedikit banyak meninggalkan rasa, menciptakan kedekatan batin yang tak di sadari keduanya.
Setibanya di rumah Renata, Andin segera turun dari mobil, dia tak ingin Renata melihatnya duduk di jok depan bersama suaminya.
"Sudah siap mbak," sapa Andin saat menemui Renata di ruang tengah.
"Sudah, sayang ayo" sahut Renata seraya melajukan kursi roda elektriknya, di ikuti langkah Andin yang mengikutinya dari belakang.
Andin dan bagas membantu Renata masuk kemobil, tidak terlalu sulit melakukannya, karena Renata bukanlah mengalami kelumpuhan total dia masih mampu mengerakkan kakinya walau hanya sedikit.
Setelah Renata berhasil duduk di mobil, Andin pun naik dan duduk di sebalah Renata, sementara Bagas memasukkan kursi Roda ke jok belakang.
"Sudah bisa berangkat?" tanya Bagas saat sudah di belakang kemudi, dengan posisi menghadap kebelakang, seraya memandang mereka bergantian.
"Sudah ayo." sahut Renata.
Di perjalanan Andin lebih banyak diam, dia merasa canggung berada di antara Renata dan Bagas.
Sesampainya di Rumah sakit, Dokter Leo sudah menyambut mereka, dan membawanya keruang priksa, kemudian melakukan terapi. Renata benar-benar pasien istimewa Dokter Leo.
Hari ini Renata akan melakukan, fisioterapi,
Terapi ini bertujuan untuk mengembalikan kekuatan otot dan fungsi bagian tubuh yang mengalami cedera, mencegah kecacatan dan mengurangi risiko cedera di kemudian hari. Jenis fisioterapi yang dilakukan akan disesuaikan dengan keadaan si penderita.
Menurut pemeriksaan Dokter Leo, keadaan Renata lumayan banyak perkembangan, dari terakhir kali dia melakukan terapi, terbukukti Renata mampu mengerakkan kakinya walau masih begitu lemah, tapi hal itu pertanda baik, bahwa pungsi otot dan saraf kaki Renata masih berpungsi dengan baik.
"Re kamu boleh melatih otot kakimu di rumah, tapi harus di dampingi jangan melakukannya sendiri, di khawatirkan kamu terjatuh, dan mengakibatkan cedera yang semakin parah," ujar Dokter Leo.
"Baik Dok" sahut Renata.
"Sejauh ini perkembanganmu sangat baik, pikiran dan kontrol emosi juga sangat berpengaruh, jadi rileks aja, jangan terlalu terbebani dengan kesembuhan." Dokter Leo kembali memberi penjelasan.
"Baik Dok."
Tampak Dokter Leo memeriksa data hasil pemeriksaan tadi, lalu. "Baiklah, semua pemeriksaan sudah selesai" ujar Dokter Leo.
"Sudah Bisa pulang Dok." ujar Bagas.
"Sudah, tapi bisa aku pinjam Renata sebentar Gas. Ada hal pribadi yang akan aku bicarakan pada Renata," ujar Dokter Leo, seraya menatap Renata. Renata hanya diam tidak menolak ataupun mengiyakan, sikap itu di angap sebagai persetujuan oleh kedua lelaki itu.
"Baiklah aku tinggal dulu Re," ujar Bagas menggandeng Andin keluar ruangan Dokter Leo, Andin berusaha menepis tapi genggaman Bagas lebih kuat.
Andin keluar ruangan dengan wajah pias, kelakuan Bagas membuatnya tak tau harus bersikap apa pada Renata nanti.
Sementara Bagas terus saja menggandeng tangan Andin membawanya ke cafe yang ada di area rumah sakit.
"Mau pesan apa?" tanya Bagas saat sudah berada di cafe, Andin tak menjawab, tatapan jengkel terpancar jelas pada manik hitamnya.
"Ada apa kenapa cemberut begitu?" tanya Bagas merasa tak bersalah.
"Mas mikir gak sih, apa yang mas lakuin di depan Renata!" tukasnya jengkel, dengan sikap Bagas yang seperti tak menghargai istrinya.
"Din." panggil Bagas dengan wajah serius. Andin tak menyahut.
"Pernikahan kami bukan seperti yang kamu bayangkan, aku menikahinya karena alasan tertentu, kami tidak saling mencintai satu sama lain sampai detik ini. Itu sebabnya Renata mengijinkan ku mendekati mu," jelas Bagas berharap Andin memahami sikapnya.
"Apa pun alasan pernikahan kalian. Pernikahan kalian sah dimata hukum dan agama, nikah itu sakral," ujar Andin.
"A..ku, mungkin tidak akan menemui mas lagi" imbuh Andin ada kesedihan pada kalimatnya.
"Din apa yang kau bicarakan?!" seru Bagas tak terima dengan ucapan Andin.
"Aku merasa semakin tak mampu mengendalikan perasaanku saat dekat dengan mu mas, aku tidak mau menjadi perusak rumah tanggamu, apa pun alasan pernikahan kalian, aku tak mau jadi penyebab perpisahan kalian, aku juga wanita. Tidak rela suamiku di rebut orang lain, apapun alasannya, aku benar-benar tak ingin menjadi perusak rumah tangga kalian." ujar Andin dengan mata berkaca-kaca.
Ada kepedihan di hatinya kenapa harus Bagas yang merenggut kesuciannya, lelaki beristri yang tak mungkin dia mintai pertanggung jawabannya.
"Din jangan seperti ini, bicaralah dengan Renata agar semuanya jelas, kumohon," ucap Bagas memohon. Dia bingung tak menyangka reaksi Andin akan seperti ini.
Sementara Andin tak habis pikir, Bagas memintanya bicara pada Renata, apa dia sudah tak waras. Apa yang akan dia katakan pada Renata? "Re aku menyukai suamimu bolehkah aku berhubungan dengannya," kalimat itukah yang akan dia ucapakan, Andin benar-benar tak habis pikir.
"Mas sampaikan pada mbak Renata aku ada urusan mendadak," ujar Andin seraya beranjak bangkit dari duduknya.
"Din pleas," mohon Bagas, tapi tak di indahkan oleh Andin.
Bagas mengejar Andin, mencekal lengannya untuk menghentikan langkah kaki Andin.
"Din, bisa tidak gak keras kepala gini."
"Yang keras kepala kamu mas, bukan aku. Dari awal aku gak nuntut kamu harus tangggung jawabkan? Tapi kamu ngotot dan malah menyeretku terlalu jauh. Kamu juga tega ngajain aku bermain di belakang Renata. Dia wanita baik mas, apa kamu gak punya hati?" cecar Andin berapi-api.
Bagas terdiam. Jadi Andin terpaksa meladeninya?
"Pulanglah, nanti kalau kamu sudah tenang kita bicara lagi."
Bagas dengan terpaksa melepas Andin. Bicara pun percuma, hati Andin sedang kacau.
Andin pulang dengan taksi yang di pesan oleh Bagas. Sementara dia sendiri kembali ke kafe menunggu Renata selesai dengan urusan pribadinya.
Setrengah jam kemudian Renata minta di jemput di lobby rumah sakit.
"Mana Andin?" tanya Renata begitu mereka sudah berada di dalam mobil.
"Pulang."
"Loh, kok?"
"Dia itu keras kepala tau gak?!" sungut Bagas. Wajah kesalnya membuat Renata tertawa lucu.
"Kok ketawa?"
"Abisnnya kamu lucu, mana sikap dewasamu? Ngadepin Andin aja kalang kabut."
"Andin itu aneh Re, aku bisa merasakan kalau dia suka sama aku. Tapi di ajak menjalin hubungan serius malah nolak mentah-mentah. Aneh gak?"
Renata mengulum senyum. "Makanya jangan main teka teki. Andin nolak kamu karena gak mau jadi perusak rumah tangga kita. Kamu gak liat sikapnya ke aku belakangan ini? Dia ngindari aku karena merasa bersalah."
"Dengan sikap Dokter Leo ke kamu, harusnya dia bisa lihat bahwa di antara kita gak ada perasaan apa-apa."
"Bebal kamu ya. Dia orang baru dalam hubungan kita, mana tau dia perasaan Doktet Leo sama aku. Kamu kira dia cenayang bisa lihat hati orang."
"Terserahlah aku pusing."
Renata terkekeh, Bagas benar-benar di bikin pusing oleh Andin. Tapi biar saja semua itu kan karena kebodohannya sendiri.
Bersambung
Bersambbung