Berawal dijebak oleh teman sekelasnya, Anindira— gadis cantik idola kampus melakukan one night stand dengan orang asing. Menerima cacian begitu banyak orang. Image baik yang selama ini ia bangun seketika runtuh. Merasa hidupnya sangat berantakan. 5 tahun kemudian—akhirnya Anin diterima di perusahaan besar. Namun karena satu kesalahan lagi—bosnya meminta dirinya menjadi selingkuhan.
Kelvin Stewart adalah seorang CEO dari perusahaan REXTON. Selama 2 tahun telah menjalani pernikahan dengan wanita. Sampai datanglah seorang wanita yang membuatnya tertarik. Anindira—karyawan baru yang membuatnya terobsesi.
“Apa kau ingin bercinta denganku malam ini?”
Gila sangat gila—bosnya mengatakan hal itu disaat perayaan pernikahannya yang ke dua tahun. Anin terdiam tidak mengiyakan atau menolak ajakan gila bosnya.
Lebih parah lagi, semenjak kejadian itu Kelvin memaksa Anin menjadi selingkuhannya. Bagaimana kelanjutkan kisah mereka, yuk langsung baca!
❗update setiap hari
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon cahyaaaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Hukuman
“Kau terlihat bahagia,” komentar David. Setiap menoleh ia selalu melihat Anin tersenyum. padahal di layar komputer tidak ada yang menarik, hanya ada deretan kata.
Anin mengangguk. “Seperti itu.”
“Kau menang lotre?”
“Aku tidak pernah main seperti itu.”
“Lalu apa?” David mendadak penasaran dengan apa yang terjadi dengan Anin. Menyenggol keras lengan Anin hingga perempuan itu berdecak pelan. “Ayo ceritakan padaku.”
“Tidak mau! Tidak usah kepo! Dasar cowok!” sungut Anin kembali fokus dengan pekerjaannya.
Anin lupa jika kebahagiannya yang ia dapat hari ini adalah tidak nyata. Lima menit lalu, ia keluar dengan David untuk makan siang. Tapi saat sudah berada di depan Kantor. Ia justru melihat Kelvin bersama Liana. Mereka nampak mesra dan berbincang dengan seseorang.
“Apa Bakso langgananmu benar-benar enak?”
Bahkan suara David tidak didengarnya. Anin masih melihat pasangan itu, ya mereka sangat terlihat serasi.
“ANIN!” kesal David karena Anin terlalu mengacuhkannya.
“Hm?” tersentak. Ia langsung menoleh. “Kau bilang apa tadi?”
“Apa Bakso langgananmu benar-benar Enak? Anindira?”
Anin langsung mengangguk. “Tentu saja. lebih enak dari pada makanan di kafetaria. Makanan Kafetaria terlalu sehat.”
David mendekat. “Tidak ada micin dan masakonya.”
Anin tertawa. Tak lama ia merasa diperhatikan. Ia menoleh, benar. Kelvin sedang menatapnya tajam. Namun ia segera memutuskan kontak mata itu lebih dulu. Ia memilih acuh dan pergi bersama David.
~~
TING
Lift terbuka. Anin menggeser tubuhnya agar orang lain bisa masuk dengan leluasa. Ia berhenti memainkan ponsel saat mencium aroma parfum seseorang yang selalu ada di dekatnya. Berpura-pura tidak tahu, Anin semakin menjauh hingga tubuhnya membentur tembok.
Anin merasa Lift yang ditumpanginya bergerak naik padahal ia sudah menekan tombol turun. “Sir…” akhirnya ia mendongak.
“Kenapa?” suara Kelvin begitu rendak. Suaranya yang berat terdengar sangat seksi.
Anin menunjuk tombol. “Turun.”
“Pencet sendiri,” perintah Kelvin acuh.
Anin menghela nafas. Ia mendekati tombol dekat Kelvin. Namun saat tangannya akan menyentuh angka 1, tubuhnya di tarik. Dipeluk dari belakang, hingga ia bisa merasakan deru nafas seseorang.
“Sir.. Lepaskan aku.”
“Kau berani bersama pria lain, Hm?!” Kelvin semakin mengeratkan pelukannya. Menghirup aroma kesukaannya dari ceruk leher Anin.
Anin menggeliat tidak nyaman. “Sir—Lepaskan aku. Ini masih di kantor.”
“Biar saja. Biar saja semua tahu.”
Anin tidak suka dengan perkataan Kelvin. Jika hubungan mereka terkuak di depan publik, maka yang akan disalahkan adalah Anin. Di mata orang dirinya pelakor jahanam yang berani berselingkuh dengan bos yang suda beristri.
Membalikkan badannya. Belum sempat mengomel, bibirnya lebih dulu dicium. Kelvin menciumnya dengan terburu-buru. Ada rasa kesal yang masih menjalar di hati Kelvin. Di sela-sela ciumannya, Kelvin masih sempat berbisik.
“Aku akan menghukummu.”
TING
Lif terbuka di lantai paling atas. Setelah keluar, Kelvin langsung menyerang Anin. Tidak memberinya istirahat sampai Anin benar-benar merasa kehabisan nafas. Kelvin melepaskan Anin, tapi mereka sudah berada di atas sofa
reot.
Anin merasa angin yang berhembus, masuk ke dalam kulitnya. Atap kantor yang sangat tinggi membuatnya bisa melihat jajaran gedung lain. Lampu-lampu pemukiman yang masih menyala. Juga mobil dan kendaraan umum yang masih berlalu lalang di bawah sana.
“Tunggu sebentar, Sir. Aku ingin menikmati pemandangan di sini.” Cegah Anin saat Kelvin semakin mendekatinya.
“Tidak. Kau harus merasakan hukumanmu.”
Setelah itu, Kelvin benar-benar tidak melepaskan Anin. Sofa reot itu menjadi saksi betapa panas dan kasarnya percintaan mereka.
Kelvin berdecak. “Aku akan mengganti sofa buluk ini.”
Anin malah mengulum senyum.
“Kenapa kau tersenyum?” sewot Kelvin. “Pasti setelah ini tubuhku akan gatal-gatal.”
“Lalu kenapa memakanku di sini? Kenapa tidak menunggu sampai di rumah saja?” Anin berdecak pelan. “Ini salahmu, Sir!”
“Bilang apa?” Kelvin menarik Anin lebih dekat. Mencengkram pinggang ramping perempuan itu. “Mau kumakan lagi?”
Anin memelas. “Di sini dingin, Sir.” Bangun pelan, bergerak merapikan pakaiannya yang untungnya tidak dirobek habis oleh Kelvin.
“Jadi kau mau kumakan lagi saat sudah di rumah?” dengan mudahnya menarik Anin di pangkuannya. “Kenapa kau membuatku seperti ini Anin? Aku tidak bisa jauh-jauh darimu.”
Anin sedikit tersanjung. Tapi sampai sekarang hatinya masih terluka dengan perkataan Kelvin malam itu. Ia mencoba tidak mengungkitnya, lagi pula Kelvin juga sudah minta maaf. Berusaha menjalankan tugasnya sebaik mungkin. ‘Menyenangkan Kelvin.’
“Kenapa melamun?”
Anin menggeleng pelan. Jujur pelukan Kelvin menghantarkan hangat di sekujur tubuhnya. Sedikit menoleh ke belakang. “Apa malam ini anda pulang?”
“Stop berbicara formal saat kita berdua.”
“Nanti ada yang dengar.”
“Tidak ada. Lagipula siapa yang akan berada di rooftop perusahaan malam-malam.”
“Jadi kau akan pulang, Sir?”
Kelvin membenamkan wajahnya di ceruk leher Anin. “Panggil namaku, Anindira.”
“Kel—vin?”
“Ya seperti itu.”
“Apa kau akan pulang ke rumahmu?”
Kelvin mengangguk. “Hm. Aku akan pulang ke rumahku. Kau bisa pulang sendiri?”
Naas, harapannya malam ini untuk tetap bersama pria itu pupus. Anin harus menelan pahit kenyataan. “Hm. Tentu saja aku bisa.”
“Thanks for tonight.” Kelvin mengambil sebuah kartu hitam. “Pakailah ini. Kau bisa membeli keperluanmu dengan ini dan juga belanja apa saja yang kau inginkan. Aku akan senang jika kau menggunakan uangku untuk mempercantik dirimu sendiri.”
Anin mengangguk pelan. Menghela nafas pelan. Uang yang diberikan Kelvin tidak pernah digunakan untuk dirinya sendiri. Ia masih menggunakan uangnya sendiri untuk keperluannya. Uang pemberian Kelvin sepenuhnya untuk keperluan pengobatan ayahnya.
~~
“Kemana saja kau Kelvin?” sebuah suara tanya yang berasal dari dalam rumah.
Kelvin acuh. Ia tidak peduli sama sekali dengan pertanyaan itu. Kakinya melangkah melewati sang istri, Liana yang tengah berdiri sambil menatapnya.
“Kau bersama selingkuhanmu?!” Suara Liana mendadak meninggi. Kesal, pertanyaannya tidak kunjung di jawab Kelvin.
“Bukan urusanmu!”
“Urusanku karena kau masih suamiku, kau masih berhubungan denganku! Jika sampai ketahuan maka akan berdampak juga padaku!"
Kelvin tertawa. “Sejak kapan kau peduli? Dulu saat kau berselingkuh kenapa tidak berpikir sejauh itu?”
“Karena itu dulu bukan sekarang! aku memperingatimu sekali lagi. Lebih baik berhenti bermain-main dengan wanita penghibur di luar sana!”
“Kau mencoba mengaturku?!” kemarahan terbesar Kelvin adalah saat seseorang mulai mengaturnya. Entah bagaimana, tapi saat terpancing Kelvin tidak akan bisa menahan emosinya. Kedua tangannya mengepal.
“Demi kebaikanmu maka dengarkan perkataanku!”
Tangan Kelvin beralih mencengkram dagu Liana. “Sudah kubilang aku tidak akan diatur siapapun. Sekalipun dirimu! Jadi mulai sekarang berhati-hatilah dengan mulut kotormu itu!”
“Sembunyikan baik-baik wanitamu jika tidak ingin aku melukainya.”
BRAK
Tubuh Liana terbentur meja. Kelvin benar-benar muak dengan perempuan itu. “Lakukan saja jika kau bisa.”
Menyugar rambutnya kasar, Kelvin melangkah cepat memasuki kamarnya. Membiarkan Liana mengumpati dirinya sesuka hati. Kelvin menggeram keras dengan ancaman Liana, sampai kapanpun ia tidak akan membiarkan Anin dalam bahaya.
sudah cukup Thor cari wanita yg lebih baik dari tu s anin. memang d kiranya perempuan Dy doank yg bagus..