Novelia hidup berdua dengan adiknya Milea, Novelia sangat menyayangi adiknya itu hingga sesuatu yang menyakitkan menimpa adiknya. Adiknya dinyatakan defresi dan harus dirawat di rumah sakit jiwa dan itu membuat hati Novelia sangat hancur.
Novelia curiga kalau defresinya adiknya ada hubungannya dengan lingkungan sekolah, maka dari itu Novelia bekerja sebagai penjaga kantin untuk menyelidiki siapa orang-orang yang berada dibalik kejadian yang menimpa adiknya itu.
Akankah Novelia bisa menemukan pelakunya atau justru nyawa Novelia yang akan terancam?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon poppy susan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
NOVELIA BAB 16
🍃
🍃
🍃
🍃
🍃
Novelia tampak melamun di kantin, dia tidak menyangka kalau Angkasa memergoki dirinya.
"Terus sekarang aku harus bagaimana? Pasti gerak-gerik aku bakalan di perhatikan Pak Angkasa sekarang," batin Novelia.
Angkasa kembali memasukan ponsel Pak Dedi ke dalam tasnya, sebelum Pak Dedi kembali ke lapangan.
***
Waktu pun berjalan dengan sangat cepat, satu bulan setelah kejadian pengambilan ponsel itu, Novelia bingung dan juga malu apabila bertemu dengan Angkasa karena pasti Angkasa akan berpikir Novelia seorang pencuri.
"Uang tabunganku masih sedikit, bagaimana caranya aku bisa mendapatkan uang lebih untuk membeli sebuah ponsel, aku harus membeli ponsel," batin Novelia.
"Kamu kenapa Novel? Ibu lihat dari tadi kamu melamun terus?" tanya Bu Ningsih.
"Novel bingung Bu, Novel ingin membeli sebuah ponsel tapi tabungan Novel tidak cukup untuk membelinya," keluh Novelia.
Bu Ningsih merasa kasihan kepada Novel, hingga akhirnya Bu Ningsih mengambil uang dari dompetnya dan memberikannya kepada Novel.
"Ini, Ibu kasih kamu uang untuk membeli ponsel, cukup kan, segini?" seru Bu Ningsih.
Novelia tersenyum dan menggelengkan kepalanya. "Tidak Bu, Ibu membutuhkan uang itu jangan pikirkan keinginan Novel, Novel hanya curhat saja sama Ibu, bukannya ingin dikasihani oleh Ibu," sahut Novel.
"Tidak apa-apa, Ibu ikhlas kok karena Ibu sudah menganggap kamu seperti anak Ibu sendiri."
"Tidak Bu, Novel tidak mau. Selama ini Novel sudah sering merepotkan Ibu."
"Kalau kamu tidak mau menerima pemberian Ibu, anggap saja Ibu ini sedang meminjamkan uang kepadamu dan kamu bisa mengembalikan uang ini sampai kamu punya uang lagi, jangan buru-buru dikembalikan jika kamu tidak punya."
Novelia melihat uang itu, di satu sisi, Novelia memang menginginkan ponsel tapi di sisi lain, Novelia juga tidak mau menyusahkan Ibu Ningsih terus. Novelia tahu kalau uang itu hasil kerja keras Bu Ningsih bekerja selama ini.
Bu Ningsih memberikan uang itu ke tangan Novelia. "Ibu tahu, anak seumuran kamu itu pasti ingin ponsel, kamu terima saja ya."
Mata Novelia berkaca-kaca, dan dengan cepat Novelia memeluk Bu Ningsih.
"Terima kasih Bu, maaf selama ini Novel hanya bisa merepotkan dan menyusahkan Ibu. Novel janji, setiap gajian, Novel akan menyicilnya kepada Ibu."
"Iya, terserah kamu saja."
Di saat Novelia dan Bu Ningsih sedang berpelukan, tiba-tiba terdengar suara gebrakan meja membuat keduanya tersentak kaget.
"Di mana yang namanya, Lia!" teriak seorang Bapak-bapak.
"Siapa itu, Novel?"
"Tidak tahu Bu, ayo kita lihat."
Novelia dan Bu Ningsih pun bangkit dari duduknya dan menghampiri Bapak-bapak yang datang bersama ajudannya.
"Maaf, Bapak siapa dan mau apa ke sini?" tanya Bu Ningsih.
"Mana yang bernama Lia?"
"Saya Pak, saya yang bernama Lia, ada apa ya, Bapak mencari saya?" tanya Novelia.
"Oh, jadi kamu yang sudah mencari gara-gara sama anakku!" bentak pria yang merupakan Papanya Yani.
"Iya Pa, dia orang tidak tahu diri yang sudah berani sama aku bahkan waktu itu aku sampai sakit perut sama Malla," seru Yani.
"Kamu tidak tahu siapa saya? Berani sekali kamu membuat anak saya kesakitan? Saya bisa akan bicara kepada Pak Angkasa, supaya kamu dikeluarkan dari sekolah ini!" bentaknya.
"Maaf Bapak pejabat yang terhormat, pantas saja kelakuan anak Bapak seperti itu karena Bapaknya saja main menuduh orang sembarangan tanpa bukti. Seharusnya sebagai Bapak yang bijak, Bapak tanya kepada anak Bapak sendiri, apa dia sudah bersikap baik kepada semua orang?" seru Novelia.
"Bapak itu pejabat pemerintahan, seharusnya Bapak memberikan contoh yang baik kepada anak Bapak, jangan bisanya cuma menindas anak-anak yang lemah. Jangan mentang-mentang kalian punya kekuasaan, kalian bisa seenaknya bersikap seperti itu kepada semua orang. Silakan Bapak laporkan saya kepada Pak Angkasa, saya tidak takut Pak," sambung Novelia dengan beraninya.
"Berani sekali kamu berbicara seperti itu kepada Papa aku!" bentak Yani.
Yani menghampiri Novelia dan dengan cepat menjambak rambut Novelia dengan kerasnya tapi Novelia hanya tersenyum sinis.
"Bapak lihat kelakuan anak Bapak, kalau sampai wartawan tahu bisa habis karir Bapak dan Bapak tidak bisa hidup enak lagi. Cctv itu akan menjadi buktinya," tunjuk Novelia.
Wajah Bapaknya Yani tiba-tiba pucat. "Yani, lepaskan dia."
"Tapi Pa----"
"Kamu mau Papa dipecat gara-gara ini, dan kamu akan hidup miskin."
Yani pun akhirnya dengan terpaksa melepaskan jambakannya, Bapak Yani pergi meninggalkan kantin tanpa sepatah kata pun begitu juga dengan Yani yang ikut menyusul Papanya.
"Novel, kamu tidak apa-apa, kan?" tanya Bu Ningsih.
"Hanya sedikit pusing saja Bu, jambakan anak itu begitu kuat," sahut Novelia dengan senyumannya.
"Kamu berani sekali melawan Bapaknya Yani, Ibu saja yang melihatnya sudah gemetaran takut kamu di apa-apain sama mereka."
"Tenang saja Bu, Novel tidak apa-apa kok."
Novelia dan Bu Ningsih pun segera kembali dengan pekerjaannya, mereka tidak tahu kalau dari tadi Angkasa melihat semuanya. Angkasa tampak sedikit menyunggingkan senyumannya dan pergi dari sana.
***
Waktu pulang pun tiba...
"Tar, Kakak boleh minta tolong, gak?"
"Kakak, mau minta tolong apa?"
"Tolong, kamu ke rumah sakit dan jagain Milea sebentar saja, soalnya Kakak ada perlu sebentar."
"Baik Kak, Fatar akan jagain Milea."
"Terima kasih ya, Tar."
"Sama-sama, Kak."
"Kalau begitu, Kakak pergi dulu."
Novelia pun segera masuk ke dalam angkot, tujuan Novelia adalah counter ponsel. Novelia akan membeli sebuah ponsel supaya mempermudah pencarian bukti.
Tidak membutuhkan waktu lama, akhirnya Novelia pun sampai di sebuah counter ponsel.
"Selamat siang Mbak, mau beli ponsel yang mana?" tanya salah satu penjaga counter.
Novelia tampak melihat-lihat ponsel yang harganya tidak terlalu mahal, karena dia hanya butuh untuk merekam suara dan mengambil foto saja, jadi tidak perlu ponsel yang mahal. Lagipula uang Novelia pun tidak banyak, itu juga diberikan pinjam sebagian oleh Bu Ningsih.
Di saat Novelia sedang mencari-cari ponsel yang harganya terjangkau, tiba-tiba Novelia dikejutkan dengan suara yang dia kenal.
"Berikan gadis ini ponsel yang paling mahal dan bagus," seru Angkasa.
Novelia menoleh dan betapa terkejutnya dia saat melihat Angkasa sudah berdiri di sampingnya.
"Ini Pak, ponsel keluaran terbaru."
"Aku ambil itu satu."
"Baik Pak."
Penjaga counter pun dengan cepat membungkus ponsel itu dan memberikannya kepada Angkasa, setelah Angkasa membayarnya, Angkasa pun memberikannya kepada Novelia.
"Ini, ambilah!"
"I-ini buat sa-saya, Pak?"
"Iya."
"Tidak usah Pak, saya mau beli ponsel kok, lagipula itu harganya sangat mahal, saya gak sanggup untuk membayarnya."
"Siapa bilang kamu harus membayarnya, aku memberikannya untukmu."
"Tapi Pak----"
"Ambilah, aku tidak mau melihat kamu melakukan hal kaya dulu lagi. Aku tahu, kamu pasti membutuhkan ponsel ini, kan?"
Novelia masih terdiam, dia merasa tidak enak menerima ponsel mahal seperti itu. Akhirnya, karena Novelia hanya diam saja, Angkasa pun meraih tangan Novelia dan memberikan ponsel itu kepadanya.
Setelah memberikan ponsel itu, Angkasa pun segera masuk ke dalam mobilnya dan pergi meninggalkan Novelia yang masih diam membeku.
semangat buat Novelia,,😉😉
buat Authornya semangat juga,,🙂🙂
mksh k popy untuk sajisn yg bagus maaf lama nggak baca lg sibuk di rl... 🙏🙏🙏