Tias tidak pernah menyangka kalau ternyata pilihannya untuk tinggal bersama neneknya malah membuatnya bertemu dengan orang paling menyebalkan yang pernah ditemuinya.
Tias kira dengan jabatan yang cukup disegani di kampung membuat orang itu punya rasa malu untuk sekedar menggodanya di depan umum. Tapi bukannya merasa malu orang itu malah terang terangan berkata ingin menikahinya meskipun banyak warga yang melihatnya.
" Dek Tias mau nggak jadi calon ibu Kades di sini ? Enggak perlu daftar langsung saya terima."
" Nggak."
" Kalau nggak mau daftar langsung saya nikahi aja ya. Gimana ?"
" Ih ! Aku nggak mau punya suami Kepala Desa."
" Jadi dek Tias maunya dapat suami yang kayak mana ?"
" Kayak pemulung."
" Kalau gitu besok saya turun jabatan jadi pemulung. Biar bisa nikahi dek Tias terus kita mungut sampah bareng bareng. Bagus juga keinginannya dek Tias."
" Astaga !" Tias berteriak kencang merasa frustasi menghadapi sikap Kades muda yang sangat menyebalkan itu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Maysar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Mawar
" Tias ! Tias main yok !" Mawar datang ke rumah nenek Ruwi. Rencananya hari ini Mawar ingin mengajak Tias melihat peternakan kuda yang dimiliki oleh orang tuanya sekalian jalan jalan sore.
" Tias main yok !" teriak Mawar lagi.
" Ti..."
" Iya aku denger, kamu jangan teriak lagi !" Tias berlari dari dalam rumah dan segera membuka pintu pagar. Bahasa yang digunakannya pun berubah karena neneknya melarang bahasa kota diucapkan di Kampung ini.
" Sore Tias." Mawar menyapa dengan senyuman manis yang membuat Tias juga ikut tersenyum tanpa disadarinya.
" Sore Mawar, ayo masuk dulu." Tias membuka pintu pagar lebih lebar agar Mawar bisa masuk.
" Terimakasih, aku sekalian numpang minum ya ? Soalnya haus banget habis teriak teriak tadi." Mawar meminta tanpa tahu malu. Tapi memang beginilah Mawar yang selalu bersikap apa adanya.
Tias mengangguk dan berjalan masuk ke dalam rumah diikuti Mawar. " Mau minum apa ?"
" Air putih aja." balas Mawar.
" Oke tunggu sebentar." Tias beranjak menuju dapur untuk mengambil sebotol minuman dingin.
" Pesanan minuman datang untung sang tamu."
Mawar tertawa sambil mengambil botol minuman dari Tias. Lalu membuka tutupnya dan meneguknya seperti seorang lelaki. Tias yang melihatnya sedikit heran karena Mawar terlihat seperti perempuan tapi tingkahnya seperti laki laki.
" Ah segarnya !" Mawar meletakkan botol minumnya ke atas meja. Setelah dahaganya terpenuhi barulah Mawar menatap Tias dengan penuh semangat.
" Yas ayo kita berkuda." pintanya.
" Berkuda ? Emangnya ada ?" Tias bertanya ragu, pasalnya selama beberapa ia tinggal di sini dirinya belum pernah melihat seekor kuda pun yang berkeliaran.
" Ada, bapakku punya peternakan kuda yang agak jauh dari sini. Aku niatnya ngajak kamu ke sana sekalian jalan jalan sore pakai kuda." ucap Mawar.
" Memangnya boleh ? Nanti kalau kudanya bandel di jalan terus nggak mau pulang gimana ?" tanya Tias.
Mawar terperangah mendengar pertanyaan aneh dari Tias si teman barunya itu. " Kata katamu itu loh, pakai bahasa kuda bandel segala. Memangnya kamu udah pernah dibandelin sama kuda ?"
" Ya..., belum sih. Cuma itu loh Mawar yang kalo kudanya suka tiba tiba lari sendiri terus bisa hilang." Tias mencoba menjelaskan maksudnya. Kalau seandainya mereka sedang jalan jalan sore terus kudanya bertingkah dan lari jauh sampai tidak ketemu lagi. Pihak yang disalahkan pasti dirinya yang membawa kuda itu. Tias tidak mau itu terjadi karena harga kuda zaman sekarang itu mahal.
" Nggak akan itu kejadian. Kita bawa kuda yang udah jinak aja khusus buat ditunggangi. Lagian kalo hilang nanti kan ada pegawai yang nyariin. Tapi nggak mungkin sih karena selama ini kuda kuda di peternakan keluargaku semuanya jinak." ucap Mawar.
Tias mengangguk paham. " Ya udah aku ganti baju dulu baru kita ke sana. Pakai motor bisa kan ya ke sana ?"
" Ya bisalah, jalannya bagus di sana meski bukan aspal sih." jawab Mawar.
" Oke tunggu beberapa menit."
" Ya."
Tias segera berjalan masuk ke dalam kamarnya untuk mengganti pakaian. Tidak butuh waktu lama karena Tias tidak ingin berdandan lagi. Setelah dirasanya selesai Tias mengambil ikat rambut dan kunci motornya.
" Udah ?" tanya Mawar sambil memandang penampilan Tias.
" Udah."
" Cepet banget, aku kira nunggu cewek dandan itu lama. Nggak tahunya lima menit udah siap." Mawar beranjak berjalan keluar rumah.
Tias tertawa dan berjalan mengambil motornya yang masih terparkir di teras rumah. " Memangnya kamu kalau dandan nggak lama ? Kamu kan cewek juga War."
" Aku nggak suka ribet apalagi dandan dandanan kayak gitu. Jadi yang simpel aja stylenya dan itu nggak ngabisin waktu lama." jawab Mawar.
" Sama dong kita, yuk naik." Tias memberikan helm untuk Mawar.
Mawar mengambil helm itu dan memakainya. Ia memandang motor Tias lalu tersenyum jahil. " Heh ! Motor baru !"
Tias tersenyum sebelum menjawab. " Biar ada kendaraan kalau mau ke tempat yang jauh."
" Bener juga aku baru ingat kalau di rumah nenek Ruwi nggak ada kendaraan apapun selain sepeda sama angkong." ucap Mawar sembari naik ke boncengan belakang motor.
Tias mulai melajukan motornya dengan kecepatan sedang. " Tapi aku baru tahu kalau angkong itu termasuk ke dalam kendaraan."
" Aku dulu kalau mau ke ladang naiknya angkong waktu kecil. Itu berarti angkong itu kendaraan juga kan ya ?" tanya Mawar dengan polosnya yang membuat Tias tertawa.
" Kamu udah pernah naik angkong belum ?" lanjut Mawar bertanya lagi.
Tias menggeleng pelan dengan pandangan yang masih fokus menatap jalan. " Aku belum pernah naik angkong tapi kalau angkot aku udah pernah."
" Yeee, kalo angkot sih aku juga udah pernah Yas."
Tias terkekeh merasa teman barunya itu ternyata gadis yang polos dan juga bertingkah tomboi. Walau penampilannya feminim tapi berbanding terbalik dengan tingkahnya. Tias rasa Mawar itu akan menjadi temannya yang unik dan Tias juga menyukai sifat Mawar yang apa adanya ini. Sepertinya mereka berdua bisa cocok menjadi teman untuk ke depannya.
" Masih jauh tempatnya War ?" tanya Tias.
" Nggak terlalu jauh lagi kok, sebentar lagi sampai kalo kamu nyetirnya ngebut." jawab Mawar.
Tias berdecak pelan. " Biarkan aja masih jauh kalo gitu dari pada aku harus nyetir ngebut."
Mawar tertawa dan menepuk pelan pundak Tias dari belakang. " Tias nanti pulang aku yang nyetir ya ?"
" Oke." Tias menjawab santai tanpa rasa curiga.
TIN ! TIN !
Sebuah motor sport ninja hitam berkendara di sebelah motor Tias. Pemilik motor ninja itu membuka helmnya yang membuat Tias dan Mawar menoleh.
" Pak Kades mau kemana pak ?" tanya Mawar pada si pengendara motor sport ninja hitam itu.
" Mau berkuda." jawab Risam.
" Wah, sama pak kami juga mau berkuda." ucap Mawar.
Tias kembali memandang jalan dengan perasan yang sedikit kesal. Bisa tidak ya Kades muda itu jangan ada dimana mana. Padahal sudah senang Tias mau berkuda malah ada Kades itu juga.
" Iya, sore dek Tias." Risam tersenyum menatap Tias yang tengah menyetir motor dengan wajah masam.
Tias menoleh dan memaksakan senyumannya. " Sore pak."
" Kalau begitu saya duluan ya karena sudah sampai." ucap Risam.
" Iya pak." Mawar membalas ramah lalu menepuk pelan pundak Tias.
" Tias kita udah sampai, kamu belok ke kanan buat parkiran motor di sana. Kalo bingung ikutin aja motor pak Kades." pintanya.
" Iya." Tias membelokkan motornya ke kanan dengan perasaan yang mulai memburuk. Semoga saja saat berkuda itu si Kades muda tidak ada di dekat mereka.
Dari awal bertemu Tias sudah tidak menyukai Kades itu karena neneknya yang terlihat sangat menyukainya. Bukan hanya itu saja, si Kades itu juga anak dari orang yang sudah membuatnya kehilangan pamannya.
Thanks dah up,Kak..☺️
Lanjuttttt and ttp semangat!!💪
penuh Teka teki....
Semangat,Thor...
Calon adik????🤔
Astaghfirullah
Aq mikirnya apaaaaaa gitu yah Roti sumbu... ternyata ubi kayu...
aaaa Author Somplak!!!
Thanks infonya.....