Ingatan akan hidup seorang wanita muda di masa lalu tiba-tiba menerpa Elena. Kisah cintanya dengan sang suami, kematian tragis mereka, hingga seucap janji yang diikrarkan sang wanita di detik-detik terakhir kematiannya, semua terekam jelas di memori gadis berusia 18 tahun itu.
Apa yang sebenarnya terjadi? Siapa wanita itu? Dan, apa yang akan Elena lakukan saat mengetahui, bahwa suami dari wanita yang ada dalam ingatannya tersebut, adalah kakaknya sendiri?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kim O, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 16 : Air Mata Elena.
Setelah selesai membersihkan tumpahan kopi, Elena mulai mempelajari sejumlah berkas terkait produk-produk Wileen Group, termasuk beberapa surat perjanjian kerja sama dengan perusahaan lain.
Meskipun bukan termasuk siswi paling cemerlang di sekolah, kecerdasan Elena tetap patut diacungi jempol. Dalam waktu singkat, ia sudah mampu mempresentasikan ringkasan sederhana di hadapan Jemima.
"Bagus sekali!" puji Jemima tulus. Keluarga Wileen memang selalu menyimpan kejutan tentang kecerdasan dan strategi mereka.
"Awalnya kupikir, tugas sekretaris hanya mencatat hasil rapat dan menyiapkan dokumen saja," terka Elena pada Jemima setelah selesai merapikan dokumen.
"Tidak sesederhana itu, El. Kita ini seperti bayangan yang harus selalu siap mengikuti atasan, ke mana pun mereka pergi. Banyak sekretaris yang bahkan harus ikut mengatur hidup pribadi bos mereka," ungkap Jemima.
Elena sontak mengangkat alisnya tinggi-tinggi. “Menjengkelkan sekali! Kalau begitu, tidak ada bedanya dengan pengasuh bayi!”
Celetukan polos itu sukses membuat Jemima terkekeh pelan.
"Baiklah, aku mau menemui Evans dulu. Ini sudah waktu makan siang. Pastikan selalu tanyakan menu makan siangnya, ya?" pesan Jemima sebelum melangkah pergi.
"Oke!" jawab Elena.
Jemima melangkah menuju ruang Evans. Tak lama, suara sahutan Evans terdengar dari dalam. “Aku makan di sini saja.”
“Baik, saya pesankan di restoran cepat saji saja ya?" kata Jemima sambil mengangkat ponselnya. Namun, Evans buru-buru menahan tangannya.
“Biar Elena saja yang beli!"” titah pria itu pelan tapi tegas.
Elena yang mendengar perkataan Evans dari luar langsung terkesiap. Sementara Jemima menatap Evans bingung.
"Makan waktu, Vans, jam makan siang sangat ramai d—"
"Tidak masalah!" potong Evans dingin. Matanya kemudian bergulir pada Elena yang kini berdiri di ambang pintu ruangan, seolah memberinya isyarat.
"Tidak apa-apa, Kak, sekalian aku juga mau beli makan sendiri." Elena tersenyum manis.
"Baiklah, kutemani ya?"
"Jangan!" sergah Evans saat mendengar tawaran Jemima untuk menemani Elena. "Sambil menunggu makan siang, kau bantu aku memeriksa file-file ini!" Evans menunjuk laptop yang ada di atas meja kerjanya.
Elena menelan ludah. Ia tahu, perintah itu bukan sekadar bentuk profesionalitas, melainkan penegasan kekuasaan yang menusuk.
Tanpa banyak bicara, ia pun bergegas pergi menuju restoran yang dimaksud, dengan diiringi tatapan iba Jemima.
Elena memikirkan makanan apa saja yang sekiranya ingin dimakan oleh Evans, sebab pria itu membebaskan Elena untuk membeli menu apapun, dan hanya meminta cola untuk minumannya.
Sesampainya restoran, Elena memesan tiga porsi burger berukuran besar dan tiga cola. Evans yang super sibuk pasti lebih memilih makanan yang tidak merepotkan.
Setelah kembali, ia mengetuk pintu ruang kerja sang kakak dan meletakkan makanan tersebut di meja tamu. Evans mengambil salah satu burger, lalu melemparkannya ke arah Elena. Untung saja, gadis itu sigap menangkapnya.
“Terima ka—”
“Ganti! Aku tidak mau makan itu!” bentak Evans.
“Tapi, Pak .…” Elena nyaris tak sanggup melanjutkan kalimatnya. Sorot mata Evans cukup membuat gadis itu terbungkam.
Jemima tak bersuara. Tatapannya penuh iba. Ia ingin turut membela, tapi tidak bisa ia, sebab ia tahu, ini bukan ranahnya untuk ikut campur.
“Apa yang Anda inginkan, Pak? Apa mau saya belikan spaghetti?” tanya Elena, berusaha tetap tenang.
"Terserah!" Jawaban Evans cukup memberikan Elena sedikit petunjuk. Ia pun bergegas pergi keluar menuju restoran yang tadi, meski perutnya sendiri sudah keroncongan.
Lima belas menit kemudian, dengan wajah memerah dan napas tak beraturan, ia berhasil meletakkan seporsi spaghetti di hadapan Evans.
Namun, bukannya menerima, Evans justru menyingkirkan makanan tersebut dengan sangat kasar.
“Makanan ini sudah dingin! Ganti! Dalam waktu sepuluh menit kamu harus sudah membawa spaghetti ke sini dalam keadaan hangat!”
Elena terdiam. Keringatnya belum sempat mengering, tetapi ia dipaksa kembali berlari demi sepotong makanan. Tak ingin mempermalukan diri dengan air mata, ia pun menunduk pergi, setelah mengganti sepatu kerjanya dengan sandal bulu terlebih dahulu.
Namun langkah kaki gadis itu tetap goyah.
Di tengah perjalanan, Elena tidak bisa lagi menahan sesak yang menyergap dadanya. Satu per satu air mata pun jatuh, mengalir begitu saja tanpa mampu dibendung.
Elena bahkan tidak peduli, pada beberapa karyawan yang menyadari air matanya, saat mereka berpapasan.
Diam-diam Elena memukul dadanya beberapa kali demi meminimalisir rasa sakit yang lagi-lagi ditanamkan oleh Evans.
"Sepertinya, dia memang tidak menginginkanku menjadi adiknya! Cih, siapa juga yang mau jadi adik dari pria brengsek itu? Aku hanya sedang sial saja karena ditakdirkan memiliki darah yang sama dengannya!" seru Elena seraya menghapus air matanya berkali-kali.
“Nona Elena!” sapa seorang petugas keamanan yang ternyata sudah memperhatikan gadis itu sejak tadi. “Saya lihat, Nona selalu bolak-balik membeli makanan siang. Kalau boleh saya tahu, untuk siapa, Nona?”
“Untuk Pak Evans, Pak. Beliau kurang cocok dengan menu pertama,” jawab Elena dengan senyum yang dipaksakan.
“Begitu rupanya. Memang beliau ingin makan apa, Nona?” tanya si petugas keamanan tersebut.
“Spaghetti, tapi aku harus cepat supaya tidak keburu dingin!” jawab Elena yang sudah mulai panik.
Sang petugas muda itu pun menawarkan bantuan dengan membelikan makanan yang dimaksud.
Rasa syukur menyelimuti diri Elena. Ia pun menyerahkan sejumlah uang, disertai kelebihannya pada sang petugas keamanan sebagai tanda terima kasih.
"Eh, jangan, Non! Saya ikhlas membantu!" tolaknya.
“Saya pun ikhlas memberikannya. Terima kasih, ya, Pak,” balas Elena, sambil menyelipkan uang tersebut ke saku seragam sang petugas.
Sepuluh menit kemudian, makanan itu pun tiba. Dengan napas terengah-engah dia pun buru-buru pergi menuju ruang kerja Evans.
Namun, pemandangan yang ia lihat di sana malah membuat hatinya semakin tercabik.
Bagaimana tidak, Evans saat ini sedang duduk santai sembari menyantap burger pertama yang tadi ia beli. Sementara Jemima sedang fokus menatap layar laptop.
Elena berjalan pelan menuju keduanya lalu meletakkan makanan tersebut di atas meja.
Tanpa sedikit pun rasa bersalah, Evans memandangi Elena dan berkata, “Lain kali jangan kelamaan!"
Detik itu juga, jiwa Elena luruh. Tanpa berkata apa-apa ia pun pergi meninggalkan ruangan tersebut.
Di sisi lain, Jemima menatap nanar kepergian gadis itu.
Air mata yang sempat mengering pun kini kembali mengalir membasahi pipinya.
Batin Elena tumbang. Kelelahan fisik dan rasa lapar yang ia rasakan saat ini, ternyata jauh lebih ringan dari kesakitannya.