Noora Agatha William adalah seorang wanita karir dan cantik yang berprofesi sebagai model papan atas, bahkan Noora juga mempunyai suami yang tampan dan juga mapan. Bahkan rumah tangga Noora begitu terlihat sangat bahagia dan harmonis, namun seketika pernikahan yang selama ia bina bersama sang suami tidak menyangka akan di rusak oleh orang ke tiga.
Akan kah pernikahan Noora dan Adam masih bisa di pertahankan, atau malah mereka berdua milih berpisah untuk kebahagian mereka masing-masing.
Kita simak terus yuk perjalanan rumah tangga Noora dan Adam, kalau kalian suka dengan Novel ini jangan lupa tinggalkan jejak. Terimakasih
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dwi cahya rahma R, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Hanya berpura-pura
Noora seketika menatap laki-laki yang berdiri tidak jauh darinya, Noora kembali menatap wajah seseorang yang sekarang sudah tidak menjadi suaminya lagi. Saat Noora melihat wajah Adam ia kembali teringat semua kenangan bersama Adam, bahkan Noora juga teringat saat pertama menikah dengan Adam satu tahun yang lalu.
"Apa jam segini seorang Direktur baru saja tiba?." tanya Noora berjalan ke arah Adam.
"Maaf sayang, eh maksut saya maaf nyonya, tadi mobil saya mogok di jalan, jadi saya sedikit terlambat." jawab Adam.
Noora yang mendengar Adam berkata bohong hanya diam, padahal ia tahu bahwa Adam sudah tiba dari tadi di kantor, bahkan mungkin Adam juga melihat Noora datang ke kantor.
"Kenapa Arsitektur ruangan ini sekarang berbeda?." tanya Noora lagi kepada Adam.
"Em_e itu karena cat tembok yang dulu sudah pudar nyonya, jadi saya ganti dengan warna yang sedikit mencolok." jawab Adam.
Noora yang mendengar alasan Adam sama sekali tidak masuk akal, karena cat yang di pakai oleh perusahaan William Grub bukan hanya memakai cat abal-abal, tentu saja cat yang berkualitas tinggi yang berharga juta-jutaan. "Alasan macam apa itu." ucap Noora di dalam batinnya
"Saya mau letak meja dan kursi di ganti seperti dulu lagi saat Ayah saya menjadi Direktur, dan saya mau dinding juga di ubah menjadi warna putih dan hitam lagi, tidak seperti warna norak dan alay seperti ini." Noora yang menunjuk ke arah dinding ruangan.
Adam yang menyadari Noora adalah pemilik perusahaan dan sekarang sudah tidak menjadi istrinya pun hanya menurut. "Baik nyonya, saya akan segera mengubahnya." Adam yang sedikit menundukkan kepalanya.
"Tiga hari lagi saya akan kesini, awas saja jika ruangan ini belum berubah." Noora yang berjalan lalu keluar dari ruangan Direktur, dengan di ikuti Viola di belakangnya.
"Baik nyonya." Adam yang kembali menunduk.
Noora keluar tanpa berpamitan dengan Adam dan juga Safa, bahkan ia tidak menatap wajah Adam begitupun dengan wajah Safa adiknya.
Adam masih syok dengan kedatangan Noora ke perusahaan, ia pun berdiri sambil memijat kening kanannya.
"Aku tau kamu pasti terkejut dengan kedatangan kak Rara." ucap Safa.
"Hem." sahut Adam tanpa menoleh ke arah Safa.
"Apa kamu tidak curiga dengan kedatangan kak Rara secara tiba-tiba ke kantor? apa lagi setelah bercerai denganmu."
Adam yang mendengar ucapan Safa seketika langsung menatap ke arah Safa."Maksut kamu?." tanya Adam
"Kak Rara meminta merubah letak susunan meja dan juga kursi, bahkan meminta mengubah warna cat dinding ruangan ini, bukan kah berarti dia akan menempati ruangan ini." jelas Safa.
"Maksut kamu Rara yang akan mengurus perusahaan ini?."
"Bisa jadi, mungkin kak Rara sudah tidak percaya lagi dengan mu, secara bagi dia kamu sekarang orang asing, bukan suaminya lagi."
Adam yang mendengar ucapan Safa seketika menjadi gelisah, Adam berfikir bagaimana kalau dia di gusur dari jabatan seorang Direktur, dan di tendang dari perusahaan yang telah membuatnya menjadi sukses hingga sekarang. Adam pun seketika melamun membayangkan jika dirinya benar-benar di pecat dari perusahaan William Grub.
"Aku tahu kamu takut di tendang dari perusahaan ini bukan, dan benci atas kedatangan kak Rara ke perusahaan ini, aku pun juga sama seperti itu." Safa yang mendekat ke arah Adam.
Adam pun kembali menatap ke arah Safa. "Apa maksut perkataan mu, bukankah justru kamu bahagia melihat aku di tendang dari perusahaan ini?."
"Memang kamu fikir hanya kamu saja yang akan di lempar dari perusahaan ini, yang menghianati kak Rara bukan hanya kamu, tapi aku juga."
"Kamu adalah adiknya, bahkan kamu juga anak pendiri perusahaan ini, tidak mungkin kakakmu akan membuangmu."
"Untung kemarin aku berpura-pura tidak mau menikah dengan mu, coba kalau aku menerima lamaran mu, aku pasti benar-benar di lempar dari perusahaan ini, dan tidak mendapatkan harta sepeserpun dari kak Rara, secara kak Rara adalah ahli waris dari semua kekayaan milik Ayah." ucap Safa.
Adam yang mendengar ucapan Safa semakin menjadi bingung. "Aku semakin bingung dengan apa yang kamu katakan."
"Ya ampun mas, kenapa kamu bodoh sekali, kamu masih tidak mengerti dengan ucapanku."
"Hem." sahut Adam.
"Coba saja kalau kemarin aku mau menikah denganmu, pasti kaka Rara semakin benci denganku, kalau aku menolakmu kan kak Rara masih sedikit welcome danganku, dan aku masih ada kesempatan untuk mengambil alih semua aset warisan dari Ayah, termasuk perusahaan ini." jelas Safa.
Adam yang mendengar penjelasan Safa seketika menjadi tersenyum. "Jadi kamu kamarin hanya berpura-pura menolak menikah denganku, karena kamu sudah menyiapkan suatu rencana?." tanya Adam yang sudah beranjak berdiri dari kursinya.
"Yub betul." jawab Safa.
"Tenyata selain cantik, kamu juga sangat cerdik dan pintar." Adam yang seketika membelai rambut Safa dari samping.
"Mas masih mencintaiku kan?." Safa yang menatap wajah Adam.
"Tentu saja sayang, aku sangat mencintaimu." Adam yang mengecup kening Safa. "Dan mari kita bekerja sama untuk mengambil harta tuan William dari tangan kakakmu Rara, setelah mendapatkan harta dari Ayahmu kita menikah dan hidup bahagia." Adam yang melingkarkan tangannya pada pinggang Safa.
"Siap sayang." Safa yang kembali mengecup pipi Adam.
biasanya cerita begini pemain nya pasti tegas dan pintar
katanya Dirut kan seharusnya pada pinter bukan bego semua