"Ini milikmu sekarang, jangan biarkan orang lain merenggutnya darimu."
Setelah kakek itu berkata demikian, bum! Tiba-tiba aku menjadi penyihir terkuat sedunia yang dibenci semua orang.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon queenrexx, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Jahat?
Sewaktu aku terbangun, itu gara-gara tajamnya jarum suntik yang menusuk lenganku.
"Merasa baikan?" tanya sebuah suara familiar.
Aku membuka mata, dan datanglah sensasi terombang-ambing aneh yang mengingatkanku kepada perjalanan naik kapal laut. "Huh?" Mengerjap. Kusadari aku tidak berada di tempat tidur, tidak pula sedang dalam posisi tidur.
Napasku tercekat di tenggorokan. Ternyata bukan sekadar sensasi. Tubuhku sungguh terombang-ambing—bukan di laut, melainkan beberapa meter di atas permukaan tanah. Kedua tanganku yang terikat rantai terangkat ke atas, dipaksa menahan seluruh bobot tubuhku karena rantai itu tersambung ke langit-langit. Aku bergelantungan dengan posisi paling tidak nyaman dan menyakitkan.
Kulihat wajah Pak Albert yang muncul samar-samar di hadapanku.
"Tidak," lirihku menjawab pertanyaannya.
"Masih ingatkah kau atas perbuatan terkutukmu kemarin?"
Aku membayangkan wajah Penyihir Putih. Lalu, di benakku, sosoknya berubah bentuk menjadi Pak Gurdyn yang sedang sekarat.
Pak Albert tak membiarkanku menjawab, dia melanjutkan, "Kau membunuh kepala sekolah kita, Varrel."
Seolah-olah aku sanggup melupakannya. Kejadian itu segar di memoriku, terus berulang di mimpi burukku.
Alih-alih menjawab, aku memandang ke atas sambil menyipitkan mata. Cuma ada satu lampu di sini, redup. Sementara di sekelilingku tiada apa pun selain dinding-dinding serta lantai putih yang mengungkung. Tidak terlihat ada pintu—sekalipun ada, pasti sudah disegel rapat-rapat oleh sihir dan terkamuflase dari pandanganku sehingga aku niscaya kesulitan menemukannya. Di sisi lain, suhu ruangan teramat dingin, aku merasakannya menusuk-nusuk kulitku sampai ke tulang.
Juga, alih-alih mengenakan seragam seperti biasa, seseorang telah memakaikanku sebuah gaun hitam tanpa lengan berkeliman panjang. Gaun ini sama sekali tak nyaman dipakai. Terkadang bahannya sedingin suhu ruangan, di lain waktu dapat menjadi panas membara.
Semua ini benar-benar didesain supaya menyiksaku. Namun, aku ragu jika aku telah menerima hukuman yang sesungguhnya.
"Dua jam lagi, kuantarkan makan siang kepadamu." Pak Albert lagi-lagi berkata. Dengan begitu, keluarlah dia dari ruangan—penjara—ini.
Makan siang katanya, aku bahkan tidak tahu saat ini siang atau malam, sebab tiada sinar matahari atau kegelapan yang dapat menyusup ke dalam sini. Di sisi lain, aku sendirian. Benar-benar sendirian, maksudku, yang berarti Pak Albert telah memutuskan kontak batinku dengannya dan Zack, alhasil kami tak bisa bertelepati lagi.
Aku mengertakkan gigi. Fitrah pemilik sihir hitam. Selalu dibenci dan disalahkan. Aku tidak bermaksud membunuh Pak Gurdyn. Seharusnya mereka melihat apa yang kulihat.
Gaunku memanas, mengikuti alur emosiku yang bergejolak; lahar panas yang memberontak agar dimuntahkan, dan aku menjerit merasakan siksaannya yang membakar kulit.
Kalau si penyihir putih tidak datang, semua kesengsaraan ini takkan menimpaku!
***
Beberapa hari berikutnya pun tidak kurang menyiksakan. Aku yakin aku terserang demam, tetapi entahlah, seluruh tubuhku sakit dan benak serta pencernaanku berputar-putar; makanan yang kuterima berulang kali dimuntahkan. Tentu saja. Mustahil aku bisa baik-baik saja apabila sehabis makan, yang mana kulakukan di lantai alih-alih tergantung, pengawas-pengawasku kelewat cepat untuk menggantungku kembali.
Pada suatu waktu yang tidak kuketahui kapan tepatnya, aku kedatangan seorang pengunjung.
Pintu ruang penjaraku yang tersegel sihir terbuka. Berjalan masuk ke dalam, datanglah sosok laki-laki berambut pirang yang tidak lain adalah Zack Avcend. Seragam lengkapnya menyatakan bahwa dia sehabis dari kelas ... atau barangkali baru hendak ke kelas? Entahlah. Konsep waktuku menjadi gamang.
Aku memperhatikannya melangkah, pelan dan hati-hati, seolah entakan yang terlalu kencang dapat memicu sesuatu yang tidak menyenangkan.
Dia berhenti kira-kira enam langkah di hadapanku, mendongak menatapku yang tergantung, lantas memanggil, "Varrel?"
Ketika aku membuka mulut untuk membalas, tidak ada suara yang keluar. Aku mengatupkan rahang, mencoba lagi, tetapi tetap tidak ada hasil. Pada percobaan ketiga barulah aku hampir berhasil. Namun, alih-alih menjawab Zack dengan kalimat yang kuinginkan, lidahku sepertinya punya pemikiran sendiri.
"Kau mau membunuhku?" Begitu aku berkata. Atau, begitu sihir hitam mewakiliku berkata.
Sekilas, Zack tampak terkejut. Dia buru-buru menjawab, "Kenapa aku harus membunuhmu?"
"Karena semua orang ingin melakukannya."
"Yah." Bibir Zack menyunggingkan senyum tipis. "Semua orang kecuali aku."
Aku terdiam. Sihir hitam tidak membuatku mengatakan apa-apa, dan itu memberiku kesempatan untuk mempertimbangkan apakah Zack tulus atau tidak. Kemudian aku bertanya singkat, "Mengapa?"
"Aku tahu pelakunya adalah Penyihir Putih," sahut Zack tegas. Api vectors perlahan-lahan menyusup ke dalam matanya, mengubah iris sewarna biru langit menjadi merah membara. "Aku juga melihatnya, Varrel. Karena vectors."
" ... Sungguh?"
"Tidak ada alasan bagiku untuk berbohong."
Tanganku bergerak-gerak. Aku mendadak ingin menerjang dan memeluk Zack erat-erat, sebab dia tahu dan dia mengerti, dan aku sangat bersyukur atas kejujurannya. Detik itu juga, aku tidak ragu-ragu menumpahkan semua yang kupikirkan kepada Zack, membiarkan dia mengetahui seberapa besar aku menghargai kesaksiannya.
Kini mata Zack berangsur-angsur normal. Binarnya yang cerah dan indah memancarkan sebuah harapan.
"Jam berkunjung selesai."
Zack dan aku sama-sama tersentak. Suasana nyaman yang baru kurasakan beberapa detik itu tiba-tiba saja musnah hanya dengan satu panggilan dingin.
Aku mengalihkan atensi ke ambang pintu dan menemukan Bu Walter tengah berdiri di sana, ekspresinya keras dan penuh penghakiman, tetapi aku balas menatapnya tak kalah sangar, terang-terangan menunjukkan ketidaksukaanku terhadap interupsinya.
Zack menatapku. Lalu Bu Walter. Lalu aku lagi. Air mukanya ragu-ragu. Dia membuka mulut untuk menyampaikan sesuatu. Namun—
"Zack Avcend,” Bu Walter kembali memanggil. Nadanya sarat peringatan.
Tak pelak, Zack pun menurut. Aku melihat punggungnya menghilang di balik pintu magis dan tidak kuasa berbuat apa-apa.
***
Seiring berjalannya waktu, kondisi fisik dan batinku bertambah buruk. Anehnya, di saat yang bersamaan pula, aku merasa ... bebas. Seolah siksaan-siksaan yang mereka timpakan kepadaku menyentak sebuah beban hingga jatuh dari punggungku. Tali tambang imajiner yang mengikatku terputus begitu saja.
Pada suatu hari yang tidak menguntungkan, sihir hitam mengamuk. Penjara berguncang hebat selagi mereka berusaha menyempurnakan wujud fury alias simbol kejahatan abadi yang sempat muncul kala kematian Pak Gurdyn. Aku bisa merasakan segel magis penjara melemah. Guru-guru dibuat kewalahan setengah mati akibatnya.
"Tambah lapisan gloon! Lima atau enam dinding sihir lagi!"
"Jangan biarkan dia mencapai wujud sempurna!"
"Penenang! Kita butuh air penenang!"
Di sekelilingku, guru-guru saling bantu untuk menghentikan amukan sihir hitam.
Mustahil aku sanggup berpikir di tengah-tengah keributan sekaligus ketidakstabilan sihir hitam karena saat ini, aku hanyalah sebatas boneka untuk dikendalikan. Tinggal menunggu waktu sampai jiwaku dibuang keluar oleh sihir hitam seperti yang kerap terjadi acapkali mereka mengamuk.
"Tidak ada cara lain!" Bu Walter berteriak putus asa. "Atau kita semua akan mati di sini!"
Aku tidak menangkap maksud Bu Walter; apa kiranya yang wanita itu rencanakan demi menunda kematian.
Sebelum segalanya menjadi jelas, angin kencang tiba-tiba menerpa seisi penjara, dan para guru refleks berhenti mengerjakan apa pun yang sedang mereka kerjakan.
Rantai yang menahanku bergoyang-goyang. Aku menyipitkan mata guna menghindari debu yang beterbangan menghalangi pandangan.
"Kau berlatih dengan baik." Suara familiar itu berkata setengah mencemooh.
Aku tersenyum. Di hadapanku, ahli sihir paling hebat dan tersohor sepanjang masa, yakni Adolf, datang menagih janjiku untuh bertarung melawannya.
Dahiku terbakar panasnya simbol pentagram. Sepasang tanduk iblis mencuat. Aku bahkan merasakan sesuatu yang terbuat dari kulit merambati punggung dan bahuku. Sayap fury, aku menyadari.
"Tentu saja, Adolf," jawabku, melirik sinis ke arah Bu Walter dan guru-guru lain yang bergeming pasrah. "Tak kusangka kau bakal datang sebagai penyelamat mereka."
Aku menyentak kedua tanganku kuat-kuat, alhasil memecahkan rantai besi yang selama ini terbukti berhasil mengekangku. Sayap membantuku terbang alih-alih jatuh ke lantai penjara. Sekali ini, sihir hitam tidak menendang jiwaku keluar. Kami akan menggila bersama-sama.[]
habis baca ini hatiku kosong serta berat
bener-bener ilang begitu aja ya, Varrel
huhu
mau lanjut simak lagi thor....sepertinya seruuuuuu nih story..🔥🔥🔥❤
habis?😳
masa habis Thor 😳
terus? gimana lagi ini? 😂
tarik nafas panjang..
beneran mati Verrel nya Thor?
itu sihir hitamnya belom ilang gitu 😳
agar dia menjadi kuat sendiri begitu?
aslinya mah dia gak mau tersaingi kan Thor
kreji Napa Thor 😐
kreji up Thor
terjawab sudah siapa yang memberi Zack energi