Aku dicintai oleh kakak laki-lakiku secara tidak wajar. Aku ingin lari tetapi dia selalu bisa menemukan tempatku sembunyi.
{Nama tokoh, author ubah.}
! Cerita ini cuma iseng-iseng aja. Jadi jangan berekspektasi tentang alur dsb !
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Elga Cadistira dr, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 14
Aku membuka mata. Seketika pening menyengat kepalaku.
"Apa kau sudah bangun, kali ini?" Suara Calvin terdengar. Aku terkejut dan menoleh ke sampingnya. Tepat di sampingku berbaring, dia ada di sana berbaring miring menatapku.
"Kakak? Kenapa kakak ada di sini?" Aku keheranan. Harusnya yang kulihat adalah Carey bukan Calvin.
Dikejutkan dengan kehadiran Calvin, aku bertambah kaget ketika melihat tubuhku sudah berganti pakaian. Seingatku, semalam aku mengenakan kaos dan jeans. Tapi begitu bangun, semua pakaian itu entah kemana digantikan dengan baju tidur pendek, dan sekarang aku berada di kamarku.
Kamarku?
Tunggu dulu, aku harus mengingat-ingat saat aku mabuk di klub malam tadi. Apa saja yang sudah aku lakukan dan mengapa aku bisa kembali ke rumah lagi?
"Apa kau tidak ingat tentang semalam?" tanya Calvin lagi. Aku meliriknya. Napasku tercekat. Baru kusadari dia tidak mengenakan bajunya.
Apa yang terjadi semalam? Ingatlah, Clara!
Apakah terjadi sesuatu antara aku dan Kak Calvin?
"Aku tidak bisa ingat apapun," ucapku menyerah. Aku hanya ingat saat terakhir kali menelepon Carey tapi tidak diangkat. Setelahnya aku tidak apapun lagi.
"Sungguh?" kata Calvin dengan sudut bibir menyeringai sedikit.
Calvin bergerak. Sebelah lengan berototnya menyebrangi sisi pundakku yang lain, sehingga wajahnya kini berada di atasku. Aku terkurung olehnya. Napasku tidak bisa berembus secara teratur saat hidung kami nyaris bersentuhan. Bibir itu masih tersenyum miring dengan tatapan mata yang mencemooh.
"Apa perlu aku buat kau ingat lagi? Semalam kau begitu liar dan panas," ucap Calvin dengan suara seraknya yang sexy.
"Tidak, aku tidak bisa ingat apapun," kataku pelan.
Calvin menunduk. Dalam sekejap aku dibungkam dengan bibirnya. Itu terlalu mendadak. Membuatku tidak sempat menghalaunya. Sehingga dia dengan mudah mengakses lidahku.
Pikiranku melayang terbang. Gerakan lidahnya membuai duniaku. Membuat reflek biologisku menyambut. Aku menggeliat sambil merapatkan pahaku. Rasanya lembab di bawah sana. Tapi aku tidak ingin dia tahu itu.
Dia menutup bibirku, menguasai mulutku sepenuhnya. Kami saling bertukar air liur. Sampai-sampai daguku basah dibuatnya. Calvin sangat pandai menciumku. Dia lihai sekali untuk membuatku terlena.
Calvin menarik punggungku. Aku dipeluknya sambil berciuman dengan intens. Sembari tangan besarnya dapat kurasakan merayap ke dalam baju tidurku. Telapak tangannya mengelus punggung polosku yang seketika memberikan efek merinding atas tindakannya.
Di saat tenggelam dalam ciuman panas kami, aku disadarkan tiba-tiba dengan sesuatu yang menusukku di bawah sana. Ah, itu lagi. Calvin sangat bersemangat menciumku sampai-sampai anggota tubuhnya menegang.
Benda lunak itu menusukku dengan keras di dalam celananya. Aku menggesekkan kakiku ke anggota tubuhnya yang kaku. Seketika kudengar suara erangan Calvin dalam ciuman kami.
Kemudian Calvin melepas ciumannya. Seperti biasa, setiap kali berciuman sangat intens, tali saliva kami selalu terhubung setelahnya. Calvin terdiam di atas wajahku, menatapku dengan sorot mata penuh napsu.
"Jangan memulai apa yang tidak bisa kau lakukan," bisik Calvin sarat peringatan keras.
Aku menunjukkan senyum kecil. "Maksud kakak?" Aku menggodanya: pura-pura tidak mengerti.
Calvin menciumku lagi. Bibirku basah lagi. Basah seperti yang ada di bawahku. Diam-diam aku menahan diri membuat otot pahaku menegang. Sentuhan telapak tangan Calvin di punggungku semakin membakar tubuhku. Tangannya bergerak naik hingga menangkup buah ceriku---****! Aku tidak memakai bra?
"Aahh!"
Tidak sengaja desahanku keluar di tengah ciuman kami ketika jemari Calvin memijatku. Reflek tanganku meremas pundak lebarnya. Calvin menggeram. Perlahan cengkeramanku melemah.
Apakah aku sudah gila? Apakah kegilaan Calvin telah menular kepadaku seperti virus? Hey! Sadarlah Clara! Calvin adalah kakakmu!
Otak dan tubuhku tidak sinkron. Otakku berusaha mengakhiri aksi tak senonoh kami. Tetapi tubuhku terus merespon setiap sentuhan Calvin. Aku tergoda. Sangat tergoda. Ah... Apa yang harus aku lakukan? Godaan ini terasa sangat nikmat. Aku menyukainya. Terlebih-lebih benda lunak di bawah sana yang terasa kian marah menusukku. Benda itu sepertinya akan meledak jika terkurung di dalam sangkarnya.
Apakah kakakku baik-baik saja?
"Kak, sudah!" Kudorong dadanya agar menjauh. Namun apa daya. Kedua lengannya seperti kehilangan tenaga. Aku mendorongnya seperti setengah hati agar dia tidak benar-benar pergi. Damn.
Calvin turun ke leherku. Aku meringis ketika gigitan kecil di sana menghisap leherku. Calvin menghisap kulitku dengan kuat. Aku yakin setelahnya akan ada bekas yang tertinggal selama beberapa hari di leher.
Aku suka ini. Tapi aku membencinya. Benci pada rasa suka ini. Damn. Seseorang tolong sadarkan aku dari rasa nikmat yang begitu menggoda birahi.
"Calvin!"
Suara ayah berteriak. Suara ketukan pintunya terdengar. Menandakan sekarang ayah kami berada di depan kamar Calvin. Sedangkan kami berdua berada di kamar seberangnya!
"Kak.... Ayah memanggil," bisikku. Calvin tampaknya tidak memedulikan. Karena dia terus menjalankan aksinya pada tubuhku. Ketika jemarinya menekan buah ceri, aku tersentak dengan tubuh melengkung tertarik.
"Jangan gigit bibirmu, kau hanya akan menambah hasratku," bisik Calvin serak di telingaku. Lalu dia menjilat telingaku dan mengecupnya seduktif.
Kami berdua gila. Aku pikir begitu. Sebab, aku ingin dia pergi, akan tetapi tubuhku ingin dia terus memanjakanku sampai menemukan batasnya. Gila. Rasa nikmat yang sangat menjerumuskan. Apakah aku harus kalah dari otak waras daripada reflek biologisku?
"Calvin!"
Ayah berteriak. Kali ini dia menggedor pintu kamarnya.
Aku semakin khawatir. "Kak!"
Kumohon, ayah. Jangan pergi dari sana. Teruslah memanggil Calvin. Karena panggilanmu sedikit menarik kewarasanku dari tindakan gila kami berdua.
"Kak Calvin. Cepat temui ayah. Bagaimana kalau ayah mengamuk dan memukuli kakak?" bujukku. Saat itu tangan nakalnya merambat turun. Jantungku berdebar kencang!
Saat dia menyentuh garis celana luarku, sontak kutahan tangannya di sana agar tidak menyelinap masuk. Bahaya! Sungguh! Aku tidak mau dia tahu kalau bagian bawahku sudah basah. Akan sangat memalukan. Mungkin akan membuat dia semakin percaya diri untuk melakukan hal yang lebih dari ini. Aku takut.
"Kak, kita sudahi ini...."
"Aku belum puas. Aku yakin kau juga butuh dimanjakan bukan?"
Gila. Sinting. Memang secara biologis, tubuhku merespon semua itu dengan sangat baik. Tetapi aku masih ingat status mutlak kami sebagai kakak dan adik. Kami memiliki orang tua yang sama. Tumbuh besar di bawah atap yang sama.
Aku menggeleng. Mataku memohon untuk menyudahi ini, sambil mencengkram kuat tangan Calvin yang masih bertengger di sana.
"Baiklah, memang belum saatnya saja," ujar Calvin. Entah apa maksudnya. Kemudian dia mencium bibirku lagi tetapi dengan singkat sebelum bangun dari tempat tidurku.
Calvin membuka pintu dan keluar. Sementara aku bergegas masuk ke kamar mandi. Berniat membersihkan seluruh tubuhku dari jejak-jejak Calvin.
Ketika kubuka celanaku, aku hanya bisa menghela napas melihatnya. Terkadang aku bertanya-tanya. Bagaimana bisa aku langsung basah ketika kami berciuman? Jangankan berciuman, melihat tubuh atletisnya yang gagah saja sudah membuat tubuhku panas dingin.
Sepertinya ada yang konslet di tubuhku. Kalau otakku sudah berpikir dengan benar bahwa semua yang dilakukan Calvin adalah bentuk kerusakan moral kami.
***