NovelToon NovelToon
Letting Go, My Husband

Letting Go, My Husband

Status: tamat
Genre:Romantis / Cintamanis / Patahhati / Balas Dendam / Selingkuh / Tamat
Popularitas:4.9M
Nilai: 4.9
Nama Author: Lunoxs

Bella kira hidupnya sangat sempurna, namun siapa sangka jika suaminya malah berselingkuh dengan pelayan di rumah mereka.

Bella sempat ingin mundur, namun kembali berusaha mempertahankan rumah tangga itu, apalagi saat sang suami memohon untuk kesempatan kedua.

Benarkah kami bisa bersatu? Batin Bella, saat melihat sang suami yang tertidur pulas disampingnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lunoxs, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

LGMH BAB 16 - Bukan Alasan

Keluar dari ruangan Julian, Azam langsung menjawab panggilan Raya. Diujung sana, Raya mengatakan jika ia sudah berada di rumah sakit bersama Ben.

Bahkan mengatakan jika ia sudah menemui dokter sang ayah dan urusannya sudah usai.

“Baiklah, aku akan ke sana,” jawab Azam.

Setelah mengatakan itu Azam segera pergi, tanpa sadar jika Zura mengikuti. Awalnya, Azura ingin menemui Julian, namun langkahnya terhenti saat ia melihat sang kakak keluar dari dalam ruangan itu.

Buru-buru, Zura menyingkir dan bersembunyi dibalik tembok, lagi-lagi menguping pembicaraan sang kakak. Telepon yang diyakini Azura dari perempuan itu.

Tanpa pikir panjang, Azura pun langsung mengendap-ngendap mengikuti sang kakak. Mengambil topi putih didalam tas kecilnya, Azura langsung menggunakan itu untuk menutupi wajah.

Sejak usia remaja, Azura sudah banyak memiliki fans fanatik, berkat paras cantik dan keindahan suaranya dalam teater musikal.  Jadi untuk bebas berkeliaran diluar seperti ini, dia harus menggunakan topi dan masker.

Mengikuti terus sang kakak yang menuju lantai 3 hotel ini. Lantai dimana pusat perbelanjaan berada. Zura, langsung berdecih, berpikir jika kakaknya itu akan membelikan sesuatu untuk sang kekasih.

“Benar-benar tidak punya malu, sudah beristri masih memperhatikan wanita lain,” kesal Azura, bahkan sangat kesal.

Dilihatnya sang kakak yang mengambil beberapa pakaian berwarna hitam, namun pakaian itu adalah pakaian pria. Membuat Azura mengerutkan dahinya, bertanya-tanya.

Ternyata, Azam mengganti baju kerjanya menggunakan baju biasa setelan berwarna hitam, lengkap pula dengan topi hitam yang ia kenakan.

Melihat ulah sang kakak itu, membuat Azura kehabisan kata-kata. Bahkan Azam sampai rela menyamar demi menemui sang wanita.

Merasa geram, Azura pun langsung menghampiri kakaknya itu dengan wajahnya yang tak ramah. Namun sekuat tenaga bersikap biasa aja.

“Abang! Apa yang abang lakukan?” tanya Zura, membuat Azam sungguh terkejut, bahkan seolah jantungnya mau copot.

“Bagaimana bisa kamu ada disini?” tanya Azam pula, seraya membenahi topi yang ia kenakan.

“Aku tadi mau ketempat Julian, tapi malah melihat Abang disini. Abang mau kemana pakai baju hitam-hitam seperti itu?” Azura, bertanya dengan ketus, bahkan menatap sang kakak dengan wajah tak suka.

“Tidak kemana-mana, pergilah jika ingin menemui Julian. Aku masih ada urusan,” jelas Azam, ia bahkan hendak berlalu namun urung karena Azura menahan lengan sang kakak.

“Mau kemana? Lebih baik abang antar aku pulang saja, lagipula meeting Abang sudah selesai kan?” hardik Azura, ia bahkan langsung menarik tubuh kakaknya itu agar mengikuti langkahnya.

Aku, tidak akan membiarkan abang bertemu dengan wanita itu. Ucap Azura di dalam hati. Azura memang belum tahu seperti apa rupa wanita itu, namun kebenciannya sudah begitu menumpuk. Membuatnya enggan untuk mengetahui wajahnya.

“Zura, lepas, abang masih punya urusan.”

“Urusan apa, bicara yang jelas, bahkan aku bisa tahu semua jadwal abang,” jawab Zura, ketus.

Azam tak bisa berbuat apa-apa selain mengikuti langkah adiknya ini. Meskipun hatinya mendadak gelisah, memikirkan Raya yang pasti akan menunggu kedatangannya.

Sampai di mobilnya, Azam hendak menghubungi Raya, namun kembali urung saat Zura merebut ponsel kakaknya itu.

“Bella pasti akan menunggu abang, nanti saja teleponnya,” ucap Zura, berucap sekaligus menyindir.

Yang disindir tidak menjawab apapun, hanya menghembuskan napasnya pelan.

Sore menjelang malam kala itu, Azam akhirnya mengantar sang adik pulang.

Sementara Raya yang sudah menunggu lama tanpa kejelasan, akhirnya memilih pulang ke Bandung dengan supir yang disediakan oleh Ben.

Di dalam mobil yang melaju itu, pikiran Raya berkecamuk memikirkan banyak hal. Jujur saja, ia kecewa. Hari ini, Raya sudah berusaha tampil sebaik mungkin, ia bahkan menggunakan gaun dengan motif bunga-bunga kecil untuk menyenangkan sang kekasih.

Tapi usahanya berakhir sia-sia, karena ia tidak bisa bertemu dengan Azam. Diliriknya jam yang tertera didalam ponsel, waktu sudah menunjukkan jam 7 malam, tapi Azam pun belum juga menghubungi dirinya, menjelaskan kenapa ia sampai tak datang.

Pelan, Raya menghembuskan napas kecewanya.

Ucapan sang ibu kembali terngiang dengan jelas. Perkara hati yang mudah berubah. Raya mulai merasa, jika hati Azam mulai goyah.

Antara mempertahankan dirinya atau sebuah rumah tangga tanpa cinta itu.

Menyadari itu, Raya meremat kedua tangannya. Merasakan sesak di dada yang tiba-tiba menyerang.

“Aku harus bagaimana?” gumamnya pelan.

Akhirnya Raya, mencoba untuk menghubungi Azam.

Ponsel Azam diujung sana berdering, namun sayangnya ponsel itu masih berada di genggaman tangan Azura.

Reflek, Azura pun melihat panggilan itu dan membaca nama yang tertera di sana.

“Raya,” gumam Azura, membuat Azam langsung mengerem secara mendadak dan membanting stir kepinggiran jalan raya.

Zura sontak terkejut, bahkan tubuhnya terhuyung ke depan. Andai saja ia tak menggunakan sabuk pengaman pasti kepalanya sudah terbentur dashboard mobil.

 “Berikan padaku.”

“Tidak!” tolak Zura cepat, Azura bahkan langsung membuka kaca mobil dan membuang ponsel itu kejalanan.

“Zura!” bentak Azam, membuat air mata Azura mengalir seketika. Kekesalan, kekecewaan dan  kemarahannya sudah tak bisa lagi dibendung.

Zura, tidak lagi bisa lagi berpura-pura.  Apalagi saat sang kakak sudah mulai membentaknya.

“Sadarlah Bang! Yang abang lakukan itu salah! Aku sudah tahu semuanya,” ucap Zura dengan derai air mata.

Azam bergeming, merasakan dadanya yang terasa tersengat.

Ternyata sang adik pun sudah mengetahui masalah ini.

“Apa kamu akan menyalahkan aku juga?” tanya Azam yang sudah kepalang basah.

“Istigfar Bang, kamu sudah menikah. Bagaimana jika ayah dan ibu sampai tahu masalah ini, mereka pasti sangat kecewa Bang.”

“Karena itu diamlah, sampai aku menyelesaikan semuanya.”

Azura, tak bisa lagi berkata-kata mendengar jawaban sang kakak. Seolah kini, Azura sudah tak mengenal lagi sosok dihadapannya ini. Dia bukan Azam abangnya, dia adalah Azam yang lain.

“Apa yang membuat Abang sampai tega seperti ini pada Bella Bang, apa salah Bella?”

“Zura, kamu paling tahu, apa yang membuat Abang tidak bisa menerima Bella.”

Azura, tersenyum getir.

“Itu bukan alasan Bang, keihklasan dan penerimaan adalah yang harus abang lakukan. Semua orang bisa berubah, termasuk Bella. Tapi Abang malah mencari di perempuan lain. Apa abang pikir abang sudah sempurna?” tanya Zura, saat mengatakan itu tenggorokkannya tercekak, terasa sakit.

Betapa ia sudah tak lagi mengenal sang kakak.

“2 bulan lalu saat Bella kembali dari Amerika dia sudah mengatakan padaku untuk berhenti dari dunia hiburan, dia ingin berusaha menjadi istri abang...” ucap Azura dengan sesenggukan.

Hal itu, Bella sampaikan pada Azura dan Julian sebelum dia pulang ke mansion saat makan siang di hotel Luxurious.

“Tapi saat dia sampai di rumah, dia melihat abang memeluk wanita itu, apa Abang tidak bisa merasa bagaimana sakitnya jadi Bella.”

Lagi, Air mata Zura semakin tumpah.

Sementara Azam bergeming, dengan pikirannya yang

gamang.

1
si kece
masalahnya yg meminggal itu bkn sodara, bkn siapa2, hanya mantan pekerja, kecuali dlu dia pernah nyelametin nyawa lo atau ngasih sebelah ginjalnya, baru deh msh masuk akal alasan lo bela2in ke bandung dan mengabaikan istri lo zam.
si kece
cm demi rusli yg bukan siapa2, km mengorbankan banyak hal zam ckckck
si kece
lu emang jahat. lu org dewasa, bkn anak2 yg gampang kehasut. mikir..
si kece
puassss bgt. dr awal gk ada rasa kasihan gw sm si raya.
si kece
telaaatttttt.. makanya jd laki kudu tau prioritas. udh tau bela msh sensitif soal raya, malah maksa ttp pergi, mau gmn pun mereka org lain, kan bs nyuruh si ben aja yg wakilin takziah.
si kece
alhhh basiiiiii
si kece
nih kelakuan cewek yg lu anggap lebih baik dr bella LOL 🤪🤪
si kece
maaf dah gw mah gk ada kasian2nya sm si raya. dia tau resiki berhubungan sm suami org. mau dipaksa gmn pun sm si azzam, klo dia pnya harga diri, jgn mau lah disuruh nunggu. jd apa yg dia rasain sendiri adalah penyakit yg dia bikin sendiri.
si kece
sengaja. biar azzam simpatik sm dia
si kece
sama bel. gw jg benci bgt. mau secinta apapun, namanya laki2 udh beristri, kita sbg perempuan baik2 ya hrs tau diri. menjauh, bkn malah mau2 aja diajak bertahan. manusia diberi akal, gunanya agar berfikir atas segala sesuatu.
si kece
sundari: sundal tidak tau diri 🤣🤣
si kece
sok perfect sih lo jd manusia. merasa paling tak berdosa
si kece
najis. munafik
si kece
gw paling benci sm org sok suci, dan menganggap org lain ahli neraka, hanya krn casing luarnya
si kece
makanya jgn suuzon sm org.
si kece
yg jelas derajat bela jauh lbh baik dr wanita yg hadir jd org ketiga, bahkan Nabi aja gk mau ksh safaat bagi perusak rumahtangga org.
si kece
dihhh
si kece
naik lg air mata gw 🤣🤣🤣
Sulati Cus
baru inget blm ksh pdhl dah lama baca
Visencia Alingga
alur ceritanya bagus
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!