Arumi Kurnia Ningsih seorang gadis berusia dua puluh tahun. Dia bercita-cita ingin menjadi desainer terkenal. Namun harapan itu pupus ketika sang ayah menjodohkannya dengan anak juragan teh.
Bagaimanakah hari-hari yang dijalani Arumi setelah menikah, akankah bahagia atau menderita. Yuk segera baca🤗🤗
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon feby_mb, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Mencari tau
Pak kades sudah sampai di kebun teh. Kedatangannya pun langsung disambut sama Sanjaya.
" Assalamualaikum"
" Wa'alaikumsalam"
Sanjaya mempersilakan pak kades duduk. Karena nggak enak ngobrol sambil berdiri.
" Jadi bagaimana kronologinya"
" Biar Rani saja yang menceritakan, karena dia yang melaporkan kalau Arumi hilang"
Rani menceritakan kapan dia terakhir bertemu dan ngobrol bersama Arumi.
" Sore hari sudah tidak ada lagi kabar tentang Arumi"
" Iya Pak. Setiap sore saya dan Arumi berjualan di dekat lapangan bola. Sore kemarin Arumi tidak datang. Dan anehnya saya tanya sama mbaknya, dia nggak tau dimana Arumi"
" Mbaknya Arumi, Anita kan "
" Iya Pak. Kalau Arumi pergi dari rumah nggak mungkin, karena dia nggak punya sanak saudara di luar sana"
" Coba bapak yang tanya sama orang tuanya Arumi" kata Buk mandor.
" Benar Pak. Siapa tau kalau sama bapak mereka bisa ngasih tau kemana Arumi "
" Nanti saya akan bicara sama keluarga Arumi"
" Kalau bapak pergi ke rumah Arumi, kita ikut" kata ibuk-ibuk pekerja.
" Iya, nanti kita pergi bersama-sama "
" Kenapa nggak sekarang aja Pak"
" Ibuk-ibuk kan mau bekerja, jadi laksanakan dulu tugasnya. Setelah itu barulah kita pergi ke rumah Arumi "
" Nggak apa-apa Pak, hari ini mereka saya liburkan "
Sanjaya tau para pekerjanya sangat peduli dan sayang sama Arumi. Jadi kalau dipaksa bekerja pasti mereka tidak akan fokus.
" Apa nggak masalah pak mereka libur bekerja "
" Nggak masalah Pak "
" Baiklah, sekarang kita berangkat ke rumah Arumi "
Rani dan ibuk-ibuk pekerja lainnya mengikuti pak kades. Bukan cuma para pekerja saja, pak mandor dan istrinya juga ikut ke rumah Arumi.
Warga heran melihat pak mandor dan para pekerjanya. Warga bertanya-tanya mau pergi kemana orang-orang itu. Apalagi ada pak kades di sana.
" Buk mau kemana?" tanya salah satu warga.
" Mau ke rumahnya pak Usman "
" Emang ada Buk"
" Arumi hilang Buk "
" Hilang?, apa Arumi diculik"
" Kita juga nggak tau Buk, makanya kita sekarang mau ke rumah Arumi untuk menanyakan Arumi"
" Kita boleh ikut juga nggak?"
" Boleh, ayo Buk"
Beberapa warga itu sangat senang karena dibolehkan ikut. Jadi nanti mereka ada bahan untuk bergosip.
Pak kades dan yang lainnya sampai di depan rumah Arumi. Pak kades mengetuk pintu rumah Arumi.
Tok.
Tok.
Tok.
" Assalamualaikum"
" Wa'alaikumsalam"
Ibu Arumi kaget melihat pak kades dan juga warga berkumpul di depan pintu rumahnya. Ia tidak tau kenapa mereka ramai-ramai ke rumahnya.
" Ada apa Pak"
" Bisa masuk ke rumahnya dulu nggak Buk, nggak enak ngobrolnya sambil berdiri "
" Ah iya, silakan masuk Pak"
Hanya beberapa orang saja yang ikut pak kades masuk ke dalam rumah Arumi. Yang lainnya menunggu di luar.
" Jadi ada apa pak kades dan pak mandor datang ke rumah saya"
" Begini Buk, saya mendapatkan kabar dari salah satu warga, dia bilang Arumi menghilang"
" Menghilang?, siapa yang bilang Arumi menghilang"
" Nak Rani bilang sama saya kalau Arumi menghilang. Apa benar ibuk"
Ibuk Arumi bingung mau menjawab apa. Karena Arumi tidak menghilang, melainkan pergi bersama calon suaminya.
" Sebenarnya Arumi mau menikah Pak"
" Menikah?. Ibuk jangan bohong, karena setau saya Arumi tidak punya pacar. Jadi dia mau menikah sama siapa "
" Kemarin siang ada orang yang melamar Arumi"
Ibuk Arumi nggak mungkin bilang kalau Arumi mereka jual untuk menebus hutang suaminya. Jadi lebih baik ia bilang Arumi mau menikah. Toh dia tidak berbohong kalau Arumi mau menikah.
" Maaf sebelumnya, kalau saya boleh tau, siapa calon suaminya Arumi" tanya buk mandor.
" Dia bukan warga sini"
Rani semakin curiga dengan ibunya Arumi. Bagaimana Arumi tiba-tiba mau menikah. Dan calon suaminya bukan orang sini. Setau-nya Arumi tidak pernah kenal laki-laki. Apalagi orang dari kampung lain.
" Apa Arumi berpacaran dengan laki-laki itu Buk"
" Iya Buk, mereka sudah lama berpacaran "
" Bohong!. Arumi tidak pernah pacaran "
" Diam kamu Rani. Kamu itu tidak tau apa-apa"
" Saya tau apa yang terjadi sama Arumi. Bahkan saya yakin, tetangga disini pun juga tau bagaimana sikap ibuk pada Arumi. Jadi tolong katakan yang sejujurnya kemana Arumi"
" Apa yang dikatakan Rani benar Buk. Walaupun kami tidak tinggal bersama Arumi, tapi sedikit banyaknya kami mengenal siapa Arumi" kata Buk mandor.
Ibuk Arumi bingung mau menjawab apa. Akhirnya ia memanggil suaminya.
" Biar suami saya yang menjelaskan"
Ibu Arumi segera memanggil suaminya. Ia tidak bisa menjelaskan sama pak kades dan juga bosnya Arumi. Jadi suaminya saja yang menjelaskan.
Usman duduk di samping istrinya. Ia tidak menyangka kalau masalah putrinya pergi akan membuat heboh sekampung.
" Apa yang disampaikan istri saya tadi benar Pak. Arumi sudah dilamar, dan kemarin siang Arumi dibawa pergi sama calon suaminya"
" Kalau boleh tau calon suaminya orang mana Pak"
Usman bingung mau menjawab apa, karena ia memang tidak tau calon suami orang mana. Ia tidak sempat menanyakan pada orang itu.
" Suami Arumi orang kota Buk"
" Iya, kotanya dimana Pak. Apa masih di kabupaten kita?"
" Sepertinya begitu Buk"
" Kenapa bapak nggak yakin begitu. Apa jangan-jangan bapak tidak tau calon suami Rumi orang mana"
Usman terdiam, ia benar-benar tidak bisa menjawab pertanyaan istri bosnya Arumi.
" Bagaimana mana ya Buk, saya juga bingung mau menjawab apa"
" Kenapa harus bingung. Masa anda tidak tau calon mantu anda orang mana. Atau jangan-jangan Anda menjual Arumi"
" Apa maksud ibuk. Saya hanya mengabulkan keinginan putri saya"
" Jadi maksud bapak, Arumi sendiri yang ingin menikah"
" Iya, makanya kami sebagai orang tua mengabulkan keinginannya"
" Nggak mungkin Arumi bilang begitu. Karena saya tau keinginan Arumi. Dia itu ingin punya butik sendiri, bukan menikah "
" Kamu itu hanya orang luar, jadi mana mungkin kamu tau Arumi"
" Bagi ibuk saya memang orang luar. Tapi bagi Arumi saya ini sahabat sekaligus keluarganya. Bahkan saya tau apa yang kalian lakukan pada Arumi. Jadi jangan pernah bilang kalau saya tidak tau apa-apa"
" Pak kades jangan pernah dengarkan omongan anak ini. Dia itu pembohong "
" Saya tidak pernah diajarkan berbohong sama orang tua saya. Kalau memang yang saya katakan tidak benar, coba bapak katakan apa impian Arumi yang sebenarnya. Kan bapak sama ibuk orang tuanya, pasti tau dong apa impian anak mereka. Dan saya rasa Arumi juga pasti bercerita pada kalian "
Rani tau kalau Arumi tidak pernah menceritakan impiannya pada orang tuanya. Karena kalau Arumi bercerita pasti orang tuanya menertawakan Arumi. Jadi impian dan keinginan Arumi hanya diceritakan padanya.
" Benar apa yang dikatakan Rani, nggak mungkin dong orang tua tidak tau keinginan dan impian anaknya " tambah buk mandor.
Lagi-lagi orang tua Arumi tidak bisa menjawab. Mereka hanya bisa diam membisu. Karena mereka memang tidak tau apa impian Arumi.
To be continued.
Jangan lupa dukungannya.
Happy reading guys 🤗🤗
ibuk macam apa itu pilih kasih..
Arumi diruh itu ini diambik lagi gajinya..
Memeras aja kerjanya.. huh..