NovelToon NovelToon
Will Never Let You Go

Will Never Let You Go

Status: tamat
Genre:Komedi / Patahhati / Romansa-Solidifikasi tingkat sosial / Kehidupan Manis Setelah Patah Hati / Tamat
Popularitas:220k
Nilai: 5
Nama Author: Vin Shine

Hubungan antara dua orang yang saling mencintai tentu saja akan lebih membahagiakan jika ada restu kedua orang tua di dalamnya. Namun, bagaimana akhirnya jika setelah semua usaha dilakukan, tapi tetap saja tidak ada kata restu untuk hubungannya?

Ini tentang Arasellia. Gadis dari kalangan biasa yang selalu kesulitan mendapatkan restu dalam setiap menjalin hubungan.

"Kalau pada dasarnya mereka udah nggak suka sama aku, mau aku kasih mereka uang semiliar juga nggak akan mengubah apa pun."

"Kalau misal berubah, emang kamu punya uang semiliar?"

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Vin Shine, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Diantar Pulang Lagi!

"Permisi, Kak, ini pesanannya." Seorang pramusaji yang mengantarkan makanan pesanan Darma memecah ketegangan yang baru saja tercipta.

Sebelum pramusaji itu menaruh makanan di meja, Darma yang mulai memahami situasi, lantas berujar, "Bisa di-take away aja nggak, Kak, makanannya?"

"Bisa, Kak, bisa."

"Oh, ya, udah. Tolong di-take away, ya. Saya bayar sekalian." Darma mengeluarkan dompetnya dan memberikan beberapa lembar uang.

Setelah pramusaji tadi berlalu, Elang yang sejak tadi terdiam mencoba membuka suara. "Tolong, dengerin aku dulu, Ra. Aku bisa jelasin semua ini," katanya memelas.

Ajeng yang masih setia berdiri di samping Elang tak sedikitpun melepaskan tatapannya dari Ara. Gadis itu tidak sabar menunggu setiap kata yang akan keluar dari mulut Ara. Sedangkan Darma hanya memasang wajah datar melihat pasangan kekasih di depannya yang kini terlihat seperti salah satu adegan di FTV yang sering ditonton asisten rumah tangganya.

Dengan cepat Ara menarik tangannya ketika Elang secara tiba-tiba menggenggam pergelangan tangannya. "Buat apa?" Ara memandang datar Elang. "Nggak ada gunanya!" desisnya penuh penekanan.

Merasakan dadanya kian bertambah sesak karena kekecewaannya yang begitu mendalam, Ara secepat kilat menyambar tas serta tote bag-nya, lalu keluar dari restoran tempatnya berada.

Hanya selang beberapa detik, pramusaji kembali menghampiri Darma untuk menyerahkan makanan yang tadi serta kembalian uang, yang mana membuat laki-laki itu bernapas lega. Tanpa mengacuhkan dua orang yang masih saja mematung, Darma berlari mengejar Ara.

"Ara!" Elang berseru. Dia juga ingin mengejar Ara. Namun, Ajeng yang sedari tadi mengulum senyum tentu saja menahannya.

"Lang, Nia sama suaminya pasti udah nunggu."

"Tapi, aku harus ngejar Ara, Jeng." Nada bicara Elang naik satu oktaf.

Ajeng menggeram rendah. "Kamu lupa kata-kata ibu kamu tadi sebelum kita berangkat?" Ia mengingatkan. Kali ini dengan senyuman culas yang tercetak di bibir merahnya.

"****!" Elang mengumpat dalam hati.

Untuk kali ini saja, izinkan dia durhaka kepada ibunya karena mengingat kejadian tadi siang saat dirinya sudah tampil rapi dan hanya tinggal memakai sepatu. Namun, ibunya tiba-tiba mengetuk pintu kamarnya dan berkata bahwa dia harus menemani Ajeng bertemu Nia, teman SMA mereka, yang saat ini sudah pindah ke Palembang dan kini sedang pulang kampung.

"Aku nggak bisa. Aku udah janji sama Ara mau nemenin dia beli buku," tolak Elang. "Ibu, nggak lupa 'kan kalau sebentar lagi Ara mendaftar kuliah." Ia berharap dengan mengatakan itu ibunya berhenti mendukung Ajeng untuk mendekatinya.

Dalam hatinya, Rini menggerutu. Selain ingin memiliki menantu yang berpendidikan tinggi, dia juga ingin memiliki besan yang kaya raya, dan tentu saja Ajeng adalah pilihan yang tepat mengingat gadis itu adalah anak seorang jaksa. Rini merasa tidak selevel dengan keluarga Ara yang hanya memiliki sebuah toko kelontong kecil sebagai sumber penghasilan, sementara dirinya adalah istri dari seorang kepala dinas di salah satu lembaga pemerintahan.

"Lang ...."

Panggilan itu membuat ibu dan anak yang tengah bersitegang sontak menolehkan kepala. Dilihatnya Ajeng yang kini melangkah memasuki ruang keluarga rumah mereka.

"Maaf kalo aku lancang, tapi aku udah bilang ke Nia kalau kamu juga bakalan ikut. Kali ini aja, Lang. Kapan lagi coba ketemu temen nongkrong waktu SMA," ucap Ajeng harap-harap cemas.

"Ajeng bener." Rini membela. "Kalau beli buku 'kan bisa kapan aja. Lagian kamu kenapa, sih, Lang, ketus gitu sama Ajeng. Kamu lupa, ya, kalo orang tua Ajeng yang dulu bantuin kita waktu ayah masuk rumah sakit."

Elang mencoba menahan emosinya dengan memejamkan mata. Selalu saja ibunya mengungkit hal yang paling ia benci, meski tak dapat dipungkiri memang itulah kenyataannya. Ketika ayahnya mengalami kecelakaan saat dirinya masih duduk di bangku SMA dan butuh biaya banyak untuk operasi, keluarga Ajeng dengan tangan terbuka mau membantunya di saat sanak saudaranya seakan tak peduli dengan musibah yang menimpa keluarganya. Karena itu, Elang akhirnya mengangguk dan menelepon Ara untuk membatalkan janjinya bertemu gadis itu.

Dengan napas terengah-engah dan air mata yang semakin mendesak keluar, Ara yang kini sudah keluar dari Solo Square tampak kebingungan mencari di mana sepeda motornya. Dia harus segera pergi dari tempat itu sebelum tangisnya terdengar dan menarik perhatian orang lain. Beruntungnya, Ara yang saat ini sudah mulai terisak ditarik oleh seseorang dan memaksanya masuk ke sebuah mobil.

"Kamu aman di sini," kata Darma disusul helaan napas panjang. Ia sampai pontang-panting tadi mencari Ara.

"Thanks." Suara Ara yang bergetar diiringi lelehan air mata membuatnya sontak memalingkan wajah. Dia tidak ingin Darma melihatnya menangis.

"Aku masih ada urusan. Kamu di sini aja dulu nggak papa."

Ara hanya mengangguk. Begitu pintu mobil ditutup dan ia melihat Darma telah menjauh, tangis gadis itu pecah memenuhi seisi mobil. Hatinya sakit bukan main. Elang menuduhnya bermain api, tapi nyatanya laki-laki itu sendiri yang melakukannya.

Ara menghentikan tangisnya dan menghirup napas panjang kala otaknya sudah bisa diajak berpikir. Mengapa ia harus heran mengingat keduanya pernah menjalin kasih, ditambah Bu Rini yang seakan menggadang-gadang Ajeng agar menjadi menantunya.

Di saat pikiran Ara berkecamuk karena asumsinya sendiri, pintu mobil tiba-tiba dibuka. Gadis itu menjengit hingga tubuhnya terhuyung ke belakang.

"Minum buat kamu." Darma menyerahkan satu cup es cokelat.

Sejatinya, pria itu sudah berada di luar mobil sejak lima belas menit yang lalu karena "perlu" yang ia maksud hanyalah membeli minuman untuk Ara. Namun, saat dia masih mendengar isak tangis saat dirinya kembali, Darma memutuskan untuk menunggu hingga tangis gadis yang duduk di dalam mobilnya mereda.

"Udah mendingan? Aku anterin pulang, ya," kata Darma seraya menghidupkan mesin mobil.

"Eh, enggg ...." Ara mendesis merasakan kepalanya berdenyut. Ini pasti karena terlalu lama menangis ditambah dia yang belum makan siang. "Nggak usah. Aku bawa motor," sambungnya sembari mengerjap-ngerjapkan mata.

"Kamu makan dulu aja, deh." Darma menyodorkan kotak berisi sushi yang sama sekali belum tersentuh. "Masalah motor, aku suruh orang aja buat bawa."

"Beneran nggak usah. Aku masih bisa, kok, bawa motor," tolak Ara lagi.

"Udah nggak papa aku 'kan—"

"Masih punya utang enam ratus ribu sama kamu!" potong Ara cepat.

Darma tertawa terbahak-bahak hingga sudut matanya berair. Laki-laki itu juga memegangi perutnya yang terasa kaku. "Aduh ... kayaknya diem-diem kamu ada dendam kesumat sama aku, ya?" katanya usai berhasil menghentikan tawanya.

Ara tidak menjawab. Ia lebih memilih menatap ke luar jendela daripada harus beradu pandang dengan Darma.

"Padahal aku tadinya mau bilang 'aku, kan, nggak tega juga biarin cewek naik motor dalam kondisi sakit'." Darma mengeluarkan ponselnya, mencari sebuah kontak, lalu menyuruh orang di seberang telepon untuk segera datang menemuinya. Setelahnya, ia mengalihkan pandangan ke arah Ara, dan berkata, "Tunggu orangnya dateng, ya. Mana kunci motor kamu?" Ia menadahkan tangan.

Ara tampak ragu. Jika dia pulang bersama Darma dan orang tuanya melihat pasti mereka akan menginterogasinya. Karena itu, sebuah syarat yang membuatnya seperti tidak tahu diri pada akhirnya Ara cetuskan. "Ta-tapi nggak papa, ya, nanti kalau udah deket rumah aku turun dari mobil dan bawa motor aku sendiri."

"It's okay. Tuh, orangnya dateng." Darma menunjuk seorang laki-laki yang baru saja turun dari ojek online, dan Ara pun menyerahkan kunci motornya.

1
Studesyy
Bagus, ringan, tata bahasanya rapih dan mengalir, ga giung banget, dutunggu karya lainnya Thor ... SEMANGAAAAT!!!
grey: thanks a lot, kalo jadi bulan depan nelorin cerita baru 🥰🥰🥰
total 1 replies
Studesyy
Aku suka ceritanya Thor, proses perasaannya ditunjukin banget, ga ujug2 jatuh cinta pada pandangan pertama trus bucin maksimal trus terkesan giung banget akhirnya, iya emang ini dunia novel yg absurd dan giung mah udah biasa, tapi aku suka cerita ini, alurnya sesuai sama real life banget ..
Rahmaniar
suka ceritanya
grey: terima kasih,
aku ada cerita on going di aplikasi sebelah
total 1 replies
Putri Kelima
di tempat ku namanya king2
Ida Farida
aku suka ceritanya thor..ceritanya ringan..seperti kehidupan sehari hari...bkn cerita sprti novel kebnyakan yg cerita CEO kaya rya, yg tnggal di mansion mansion mewah...🥰🥰🥰
grey: terima kasih, boleh banget baca ceritaku yg lain. aku jg nulis di platform lain

sorry iklan 😅😅😅😅😅
total 1 replies
Imas Karmasih
salam. kenal kakak, suka cerita nya
grey: hai, makasih sudah suka ceritaku. boleh bgt baca yg lain, aku juga menulis di beberapa platform
total 1 replies
𝕭'𝐒𝐧𝐨𝐰 ❄
tolong diperjelas, merem melek karna apa 🙈🙈🙈
grey: kepedesan






tp boong
total 1 replies
𝕭'𝐒𝐧𝐨𝐰 ❄
maafkan aku Tuhan.
jujur aku seneng omanya mati
🙈🙈🙈
𝕭'𝐒𝐧𝐨𝐰 ❄
aldo kan temenya darma
PrettyDuck: Halo pembaca setia Noveltoon 🤗
Aku baru merilis cerita berjudul : "In Between" ✨️
Kalau berkenan silahkan berkunjung dan nikmati ceritanya 💕

Mila tidak pernah menyangka kalau 'penghancur' masa remajanya akan kembali lagi jadi bosnya di kantor. Ini bukan cuma soal benci, tapi soal luka yang dipaksa sembuh saat pelakunya ada di depan mata.
total 1 replies
Kenny sihyanti
Mampir
⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘ fjR💘𝓡⃟⎼ᴠɪᴘᵇᵃˢᵉ
palingan juga gak lama bakalan break 🏃‍♀️🏃‍♀️🏃‍♀️
⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘ fjR💘𝓡⃟⎼ᴠɪᴘᵇᵃˢᵉ
sengaja biar Elang cepet balik ke rumahnya 😅
⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘ fjR💘𝓡⃟⎼ᴠɪᴘᵇᵃˢᵉ
mas Elang bikin mood langsung anjlok kaya rel kereta
⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘ fjR💘𝓡⃟⎼ᴠɪᴘᵇᵃˢᵉ
berawal dari tukang ojek ceritanya..
⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘ fjR💘𝓡⃟⎼ᴠɪᴘᵇᵃˢᵉ
lagi di bioskop mana bisa tenggelam Ara ?
⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘ fjR💘𝓡⃟⎼ᴠɪᴘᵇᵃˢᵉ
ealah tadi aku plesetin,beneran muncul disini .pantes othornya kebakaran jenggot,eh punya jenggot gak sih😅🤭
grey: kata gue sih lu mending diem ☝️☝️☝️😭😭😭😭
total 1 replies
⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘ fjR💘𝓡⃟⎼ᴠɪᴘᵇᵃˢᵉ
pucuk di ulam cinta pun tiba 🤭
⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘ fjR💘𝓡⃟⎼ᴠɪᴘᵇᵃˢᵉ: sengaja 😜...othornya lg PMS nih kayanya dari pagi darting mulu 🤸‍♀️🤸‍♀️🤸‍♀️
total 2 replies
⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘ fjR💘𝓡⃟⎼ᴠɪᴘᵇᵃˢᵉ
Darma mana Darma...
⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘ fjR💘𝓡⃟⎼ᴠɪᴘᵇᵃˢᵉ
Elang ini kaya kebo yang di cocok hidungnya.ngikutin apapun kemauan ibunya sampe gak bisa belain atau sekedar menjaga perasaan Ara.
⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘ fjR💘𝓡⃟⎼ᴠɪᴘᵇᵃˢᵉ
yang sabar sabar aja ngadepin ibu² julid
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!