Kirania, gadis berusia 23 tahun, sedang merasakan kebahagiaan di mana dia akan menjadi seorang pengantin. menikah dengan seorang pemuda tampan dari keluarga wijaya grub. salah satu keluarga terkaya di indonesia. dia bernama Devano wijaya.
Namun kebagian nya hancur saat Kirania tahu kalo Devano menikahinya nya hanya untuk segera mendapatkan hak waris dari orang tuanya, dan lebih parah lagi, Devano ternyata memiliki kekasih yang sangat ia cintai.
Kirania yang tau hal itu masih berusaha untuk menerima semua itu, bukan harta yang ia kejar, tapi Devano adalah teman masa kecil nya yang lama pergi. Di tambahan Kirania sangat mencintai Devano.
📿📿📿📿
Seperti apa perjuangan kirania merebut hati suami nya dan bagai mana perjuangan nya untuk tetap bertahan dengan Devano yang memutuskan untuk menikah kembali dengan kekasih nya itu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon rola, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 16
Tok
Tok
Tok
Seseorang mengetuk pintu ruang kerja Devano.
"Permisi Tuan muda," Juw datang dengan membawa sebuah kantong plastik. "Tuan muda ini pesanan ada." Memberikan bungkusan itu pada Devano.
"Berikan pada orang nya." ucap Devano menunjuk Kirania.
"Nyonya, ini yang anda minta tadi pagi." Menyodorkan bungkusan itu pada Kirania.
" Rujak?" Tanya Kirania.
"Iya."Jawab Juw.
Dengan cepat Kirania meraih apa yang Juw berikan pada nya dan dengan cepat ia membuka bungkusan itu, dan menawarkan pada Nara.
"Nara, kamu mau?" kantong pelastik itu berisi 3 bungkus rujak, memberikan satu bungkus rujak pada Nara.
"Tidak! aku tidak suka." jawab Nara.
"Baiklah, kalau begitu aku akan memakannya." Dengan wajah berseri Kirania menyantap rujak itu, tanpa ia sadari Devano dan Wijaya menatap heran Kirania yang makan dengan lahap.
" Nyonya, pelan-pelan, nanti ter-"
Uhuk
Uhuk
Uhuk
Belum juga Gaby selesai berbicara Kirania sudah tersedak duluan.
"Ini, minumlah" Reflek Devano memberikan Air minum yang Kirania siapkan untuknya."Pelan-pelan kalau makan, kayak anak kecil saja." omel Devano.
"Iya, maaf." Kirania kembali melanjutkan makan nya.
" Sepertinya ada kabar baik yang belum Ayah tau nih?," tanya Wijaya sedikit meledek.
Kirania dan Devano tengah menikmati makan mereka masing-masing terhenti seketika.
"Kabar baik?" ulang Devano.
"Iya! jadi sekarang beritahu Ayah langsung kabar baik nya." pinta Wijaya.
Kirania diam dan tidak melanjutkan makan nya, begitu juga dengan Devano.
"Kenapa? apa ada masalah?" tanya Wijaya lagi.
"Tidak! tidak ada," jawan keduanya kompak.
"Kalau begitu sampaikan pada ku," pinta wijaya lagi.
"Emm... itu... Kiran.. kiran hamil," jawab Devano dengan ragu.
"Hamil? sungguh!?," wijaya tampak antusias.
"Iya ayah, a- aku ... aku hamil 4 minggu." jelas Kirania.
"4 minggu? benarkah itu... Alhamdulillah ya Allah... syukurlah akhirnya ayah akan jadi kakek, ini harus dirayakan dengan meriah, cucu pewaris wijaya group akan segera lahir!" Wijaya tak bisa menutupi rasa bahagia nya, wajahnya berseri-seri, wijala tampak semakin menyayangi menantu sang menantu yang paling dia sayang.
"Rayakan?, Nia rasa tidak perlu, Nia takut hal ini memicu rencana buruk dari pesaing bisnis Mas Devan nantinya." jelas Kirania.
Wijaya terdiam, ia mencerna apa yang di katakan oleh Kirania dan membenarkannya. " Kamu benar sayang, kalau begitu hadiah apa yang bisa beri untuk Kamu dan calon cucu Ayah." tanya Wijaya pada Kirania.
"Hadiah?,Nia rasa itu tidak perlu, Yang penting bagi Nia cukup ayah jangan tarik kembali apa yang sudah Ayah kasih pada Mas Devan." pinta Kirania dengan bersungguh-sungguh.
"Itu mudah bagi Ayah, Ayah berjanji tidak akan cabut kembali semua yang sudah kasih untuk Devan."
"Sungguh?" Kirania dan Devano tampak sumringah, begitu juga dengan Nara.
"Tapi.."
Mimik wajah ketiganya kembali berubah saat wijaya menyebut kata"Tapi"
"Tapi apa, Yah?" tanya Devano. Kirania menatap lekat Wijaya menanti jawaban akan pertanyaan Devano, begitu juga dengan Nara.
"Ayah tetap akan mencabut hak kamu kalau kamu membuat Ayah kecewa." jelas Wijaya.
"Cihhh... Itu sama saja," Decih Devano mendengar apa yang menjadi keputusan Wijaya.
"Apa Ayah masih tidak percaya dengan ku?, Ayah, aku bukan Devan yang dulu, aku sudah jauh lebih baik, Ayah memintaku untuk menikah? yah aku menikah, Ayah minta aku untuk menjauhi teman-temanku yang ayah bilang membawa pengaruh buruk, aku sudah jauhi mereka, lalu apa lagi yang ayah mau dariku sampai ayah belum percaya sepenuhnya dengan ku!" Devano tampak kesal, bisa dilihat dari cara bicara nya.
"Kamu yakin sudah semua?" tanya wijaya." Bagaimana dengan gadis ini?" wijaya langsung menunjuk ke arah Nara.
"Ada apa dengan Nara,yah?" tanya Kirania. "Apa teman Kirania membuat Ayah tidak nyaman?" tanya Kirani. Tujuan kiranengatakan hal itu berharap wijaya tidak begitu menyudutkan Nara.
"Kamu bilang teman?, Kirania sayang Ayah pringatkan sama kamu, hati-hati dalam mencari teman, karena teman bisa menusuk dari belakang bila kamu salah pilih teman." jelas wijaya.
" Iya yah, Ayah tenang saja, aku sangat mengerti siapa Nara, dia tidak akan melakukan hal buruk." meyakinkan Wijaya.
"Ayah harap begitu, Ayah percaya dengan menantu Ayah." mengusap pucuk kepala Kirania dengan lembut.
***
Hari berikut nya, hari ini Kirania dan Indira janji untuk bertemu di sebuah kafe, dengan ditemani Gaby Kirania menunggu Indira datang.
"Permisi Nyonya, saya pamit ke toilet sebentar," pamit Gaby.
"Iya, jangan lama-lama, cepatlah kembali."
"Baik nyonya, oh iya Nyonya, apa perlu sekali saya pesankan sesuatu?,"
"Pesankan aku jus Alpukat tanpa es, kamu juga kalau mau pesan, pesan saja."
"Baik Nyonya"
Sembari menunggu Gaby maupun Indira datang, Kirania menyempatkan diri untuk mencari informasi di internet tentang kehamilan, apa yang boleh dan tidak boleh dilakukan untuk wanita hamil muda. Begitu fokusnya Kirania dengan apa yang sedang dilakukan sampai-sampi Julian datang dan duduk kursi yang ada di depan nya ia tak melihat nya.
"Apa Sih yang dibaca? Sepertinya sangat seru sampai serius begitu?" tanya Julian.
Kirania dengan cepat menoleh ke arah Julian. "Dokter?!, bikin kaget saja!" Kirania menyentuh dadanya, jantungnya berdegup kencang karena terkejut.
" Maaf, bukan maksudku seperti itu, Tapi aku sudah hampir lima menit disini, kamu belum juga memperhatikan ku."
"Benarkah? kalau begitu maafkan aku, aku terlalu fokus dengan ponsel ku."
"Memang apa yang kamu baca?, Gosip yah?" tanya Julian lagi.
" Ah Dokter bisa saja, bukan,bukan berita gosip yang saya baca, tapi info tentang kehamilan, apa saja yang boleh dan tidak boleh dilakukan oleh wanita hamil seperti ku."
"Bagus itu! jadi kamu bisa tahu dan mencegah hal buruk terjadi. Tapi... lebih baik kamu tanyakan langsung pada ahlinya saja, itu jauh lebih efektif."
"Dokter benar, kalau begitu apa Dokter punya rekomendasi dokter kandungan yang bagus?"
"Ada, tentu saja ada, aku punya kenalan kandungan yang cukup baik, dokternya juga wanita jadi kamu bisa nyaman saat menanyakan hal-hal yang pribadi, kamu juga bisa konsul masalah pribadi juga, karena dua juga memahami akan psikologi."
"Wah! hebat kalau begitu beri aku kartu nama nya, aku akan mengunjunginya lain waktu."
"Baiklah, tapi tidak sekarang, aku tidak membawanya, tapi aku akan langsung menghubungi nya saat kamu akan datang kesana, jadi beri nomor kontak mu."
"Nomor kontak ku?"
" Iya! kalau aku tidak memiliki nomor kontak kamu bagaimana aku bisa menghubungimu nanti?"
"Ah iya, anda benar juga, ini." Kirania memberikan nomor kontak pinsel nya pada Julian.
Tak lama Indira datang dengan sedikit tergesa-gesa.
"Maaf maaf sudah lama nunggu yah?"
"Indira kamu dari mana saja?" tanya Kirania.
"Maaf, tadi aku dapat klien yang cerewet, nyebelin lagi, sudah nawar minta harga murah tapi dengan kualitas baik, banyak nuntut lagi."omel Indira.
" Yang sabar, namanya juga pelanggan, dulu aku juga sering dapat yang seperti itu, pelanggan mu memang aneh, yang dijual bunga yang di tawar malah penjual nya, kan aneh." ledek Kirania.
" Tapi genteng kan dia, tajir lagi."
"Iya sih, tapi bukan karena itu aku menikah dengan nya, walaupun di tidak tajir, tidak tampan, hidup sederhana aku akan tetap mau menjadi istri nya."
" Ciyeeee.. yang bucim baget sama suami nya, bikin aku mengiri saja."
" Makanya cepetan nikah, biar nggak ngiri tapi menganan." ledek Kirania.
"Nikah sama siapa sayang ku?" mencubit gemas pipi Kirania.
"Dok, apa ada sudah punya calon? Kalau belum ini sama teman aku aja."
Uhuk
Uhuk
Uhuk
Julian yang sedari tadi fokus mendengarkan keduanya bicara terkejut bahkan tersedak kopi yang baru saja dia minum.
"Maaf Dok, maaf," Kirania membantu membersihkan kopi yang tumpah dan mengenai kemeja nya.
salfok sama boneka kudanya kirania mirip kudanya J-HOPE BTS