Sekuel dari "Bukan Salah Cinta"
Siapkan tissu, lap, atau kanebo ya readers 🤧
Takdir seseorang tidak ada yang bisa menebak. Takdir mampu mempertemukan seseorang, takdir juga yang mampu memisahkan orang itu.
Pertemuan tidak sengaja oleh takdir antara Melodi dengan pemuda hangat dan humble bernama Ben Damian Ezra.
Disaat cinta mulai tumbuh, terjadilah sebuah tragedi yang mengharuskan Melodi meninggalkan Ben.
Tahun-tahun berlalu, bagaimanakah kehidupan mereka?
Akankah takdir mampu mempertemukan mereka kembali?
Mampukah Melodi memaafkan Ben hingga mereka bersatu kembali?
"Dunia mungkin akan mampu mengubah hidupku, tapi tidak dengan rasa cintaku padamu."
"Kamulah Takdirku"
Happy reading ya guys, i hope you'll enjoy it😉
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Riana Kristina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 16
Happy reading,
💕💕💕💕💕
Malam ini rasanya Melodi tidak bisa tidur dengan tenang. Sedari tadi dia terus memandangi layar ponselnya, berharap layarnya akan menyala. Dia menjadi gelisah karena tiga puluh menit yang Ben ucapkan tadi tidak kunjung datang, meski dua jam dari waktu yang ditentukan Ben telah berlalu.
Namun, Melodi tersenyum tipis saat bayangan Ben hadir kembali dan menari-nari di benaknya. Senyumnya, sorot matanya yang hangat, sungguh tidak bisa dia lupakan. Ditambah aroma tubuh dan wangi samponya, rasanya semua itu masih memenuhi panca indranya.
Dengan semangat Melodi bangkit dari kasurnya, lalu mengambil jaket pemberian Ben yang dia gantung di lemari. Senyumnya melebar, dihirupnya dalam-dalam aroma jaket itu, merasakan kalau Ben ada di dekatnya.
"Hei Tuan Ben Damian Ezra, kenapa kau belum juga menelponku? Bukankah tadi kau bilang hanya tiga puluh menit?" Dengan cemberut Melodi melayangkan protesnya pada jaket Ben. Dia bersikap seolah-olah sedang berbicara dengan pemilik jaket itu. Namun, begitu kesadarannya kembali, Melodi terkikik geli atas tingkah konyolnya barusan.
Puas memandangi jaket itu, Melodi kembali menghirup aromanya. Aroma yang dulunya selalu membuatnya merasa takut dan cemas kini seolah berubah dan menjadi candu baginya.
Apa yang sudah mereka lalui hari ini masih membekas jelas dalam memori Melodi. Ben memperlakukannya begitu hangat, begitu manis. Hatinya serasa berbunga-bunga, bahkan ribuan kupu-kupu seakan terbang mengelilinginya. Menimbulkan riak-riak kecil perasaan bahagia.
Kini rasanya Melodi sudah tidak mampu lagi membendungnya. Bergegas dia menuju meja belajar untuk meraih ponselnya. Kemudian, dia mengetik nama Ben dan nama kontaknya pun muncul. Hatinya kembali menghangat. Lihatlah, hanya dengan memandang nomor ponsel Ben saja hatinya sudah sebahagia itu. Dia merasa sedang berada di dekat Ben lagi.
Tanpa sengaja jarinya menekan tombol memanggil. Melodi panik dan bingung harus bagaimana. Apakah memutus panggilan itu sebelum diangkat? Atau membiarkannya dan mempersiapkan diri untuk mengobrol dengan Ben. Melodi berdehem beberapa kali, menetralkan degup jantungnya dan mengecek suaranya agar tidak memalukan saat di dengar Ben.
"Malam Kak Ben, lagi apa nih? Ah, tidak-tidak." Melodi mengoceh sendiri, mempersiapkan kalimat yang harus dia ucapkan begitu panggilannya diangkat oleh Ben.
"Hai Kak Ben, kakak sudah makan malam apa belom? Aaahhh ... bokis banget sih," omel Melodi pada dirinya sendiri. Ya Tuhan lihatlah, tingkahnya benar-benar menggelikan.
Setelah semua persiapan yang Melodi lakukan, nyatanya dia harus menelan rasa kecewa karena pada kenyatannya Ben tidak menjawab panggilan itu.
Melodi meraba nama kontak itu seakan dia sedang menyentuh wajah Ben. Wajahnya kembali memerah. Kemudian, dia mengutuk pikiran kotornya sendiri.
"Heh Mel, kau bodoh sekali, bagaimana bisa kau berpikir Ben akan menciummu?" Melodi menggeleng kuat, berusaha membuang jauh pikiran kotornya itu.
Sampai akhirnya dia membuka matanya kembali dan binar kecil tampak di kedua matanya. Dia seperti menemukan sebuah ide. Melodi mengusap layar ponselnya lalu mencari akun sosmed milik Ben. Banyak nama Ben Damian Ezra yang muncul, tetapi dengan foto profil yang berbeda. Dia terus menscroll layarnya sampai menemukan foto Ben. Wajahnya memanas saat menemukan apa yang dia cari. Ya, dia memang menemukan akun Ben yang menggunakan foto Ben, tetapi bersama seorang gadis.
Bibir Melodi bergetar. Harusnya dia segera menutup ponselnya, tetapi rasa ingin tahunya mengalahkan segalanya. Dia mengklik foto profil itu, hingga muncullah foto mereka yang lebih banyak lagi. Foto-foto mesra Ben bersama gadis yang di profilnya tadi. Gadis yang sangat cantik dan modis.
Hati Melodi mencelos, dia merasa nyeri dan sesak di dadanya. Perlahan dia meraih cermin mini miliknya.
"Hei Mel, dari awal harusnya kamu tau diri. Siapa dirimu dan siapa Ben. Ben pemuda yang sangat tampan, dia punya segalanya, dan dia idola para gadis. Sementara dirimu siapa? Kamu hanyalah gadis cupu dan miskin. Kamu tidak lebih dari seorang Upik Abu sedangkan Ben adalah pangeran. Kalian bagaikan bumi dan langit, sangat jauh berbeda." Tanpa Melodi sadari, butiran bening sudah terjun bebas di pipi mulusnya.
"Ben hanya kasian padamu. Dia tidak mungkin menyukaimu. Jangan geer dan jangan berharap lebih lagi." Melodi terus mengoceh dan memaki bayangan dirinya sendiri di cermin. Dia merasa kecewa dan sakit hati, tetapi mau menyalahkan siapa? Bukankah ini adalah salahnya sendiri? Salahnya karena terlalu hanyut pada kebaikan yang sudah Ben berikan padanya.
❤️❤️❤️❤️❤️
"Hai," sapa Ben begitu panggilan video callnya dijawab.
"Bee, aku sangat merindukanmu," sahut seorang gadis dari layar ponsel milik Ben. Gadis itu terlihat sedang sibuk memasang anting dibantu seorang penata rias yang berdiri di sebelah gadis itu.
"Sepertinya kau sangat sibuk?"
"Ah iya, sebentar lagi ada pemotretan. Ada apa? Apa kau juga sangat merindukanku sampai vidcall aku tiba-tiba begini?"
"Sebenarnya aku ingin bicara sesuatu padamu."
"Oh ya, apa itu?"
"Aku ...."
Penasaran??? Lanjut tar siang ya guys🤭🤭🤭
Yuk jangan lupa bagi jempol kalian disini ya😁
Dukung aku yuk dilapak sebelah, bacanya juga sama tanpa koin,
Jgn lupa mampir ya krna ada give away di akhir bulan,
Aku tunggu 😊