Mengandung konten dewasa *** harap bijak dalam membaca
NOVEL PERTAMA MantanTerindahSeries BY VIIYOVII
Mata mereka kembali bertemu dalam sebuah kerja sama bisnis. Setelah empat tahun mereka berpisah. Semua hanyalah takdir. Ketika Viena Gloria Jovanca, seorang CEO Perusahaan Advertising menerima kontrak kerja sama pembuatan iklan Hotel Prime. Viena sudah yakin kalau pemiliknya adalah mantannya, Dionisius Eltima Prime.
Viena hendak menolak namun sangat menguntungkan bagi perusahaannya. Bagaimana perasaan mereka ketika bertemu? Mengapa Dion sampai hati meninggalkan Viena sedangkan Viena sudah memberikan semua yang diinginkan Dion? apakah Viena masih memiliki rasa? Atau Dion yang kembali menyukainya setelah sudah ada pengganti Viena di hatinya?
Hati hati, kisah cinta ini akan menguras hati dan perasaan anda.
Segala jalan cerita dan plot sampai tempat yang digunakan pure murni imajinasi penulis. Jika ada kesamaan, itu adalah kebetulan semata. Selamat Membaca :)
MantanTerindahSeries by viiyovii present :
1. Mantan Terindah
Dion Prime ❤ Viena Jovanca
Dior Prime ❤ Gracia Andez
Ezekhiel Dimitri ❤ Zefanya Prime
Patrick Kwan ❤ Zhavia Prime
2. Assistant Love Assistant
Leon Janson ❤ Lexa Luxurio
After Marriage
Xelino Janson ❤ Carolyn Delinsky
3. Satu Satunya yang Kuinginkan
Egnor Jovanca ❤ Claudia Gie
Wilson Jovanca ❤ soon
Willy Jovanca ❤ soon
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon viiyovii, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
PART 16
POV AUTHOR
~ Tuhan.. salahkah diri ini, yang tak pernah bisa menjauh dari angan tentangnya.. namun apalah daya ini, bahwa ternyata sesungguhnya, aku terlalu cinta dia .. ~ lirik sebuah lagu melantun di televisi. Viena tersenyum lirih. Dion sudah memutuskan untuk tidak mengganggunya lagi. Hatinya cukup lega karna tidak harus bertengkar dengan perasaannya yang masih mencintai Dion, namun raganya tidak ingin bersama. Dan benar saja. Setelah hari kedua shooting dan sudah selesai, Dion bersama team nya dan team Viena pulang lebih awal. Dion benar benar menahan diri untuk tidak menemui Viena. Walau ada rindu yang tersirat tapi Dion menahannya. Viena dan Lexa harus tinggal karna Viena mau memastikan ibunya baik baik saja. Ketika ibunya sudah bisa dipindahkan ke ruang rawat, Viena, Lexa dan Egnor kakak Viena kembali bekerja, dengan syarat Dad Viena harus terus memberikan kedua anaknya kabar mengenai ibunya.
Viena menyandarkan raganya di kursi kantornya, tak berapa lama, Lexa masuk ke ruang kantornya.
"Miss, Bapak Revo mau bertemu dengan miss, dia sudah ada di ruang tunggu sekretariat." Kata Lexa sedikit takut. Pasalnya, belum ada kliennya yang memutuskan untuk mendatangi Viena ke kantornya.
"Kenapa dia keras kepala sekali? Suruh dia masuk," balas Viena tidak beranjak dari posisi santainya.
"Selamat siang, Ibu Viena yang terhormat." Sapa Revo sambil melepas kacamata hitamnya. Viena langsung membenahi duduknya untuk bertemu dengan Revo. Viena menatapnya sesaat. Perawakannya seperti Dion. Dibagian dagunya dihiasi bulu bulu kecil.
"Selamat siang, Bapak Revo, ada yang bisa saya bantu? Bukankah semua iklan sudah dikerjakan oleh asisten saya?" Balas Viena hendak berjabat tangan. Revo juga membalas jabatan tangannya.
"Silahkan duduk," Viena mempersilahkan Revo untuk duduk.
"Saya hanya ingin bertemu, siapa orang dibalik suksesnya iklan kedua yang sudah ditayangkan. Perusahaan kami mengalami profit yang sangat tinggi. Oleh sebab itu saya kesini untuk berterimakasih dan memberikan bonus untuk perusahaan anda." Revo menjelaskan dengan lantang dan berwibawa. Viena sekilas mengingat Dion. Viena tersenyum kecil.
"Terimakasih Bapak Revo, semua juga karna kerja keras bagian kreatif," Viena melanjutkan.
"Anda memang seperti yang orang orang katakan, singkat jelas padat," Revo tertawa kecil diikuti Viena.
"Ibu Viena, bisakah saya mengajak anda untuk makan malam bersama para team iklan kedua saya, ya sekedar perayaan kecil?" Tawar Revo tersenyum.
"Saya setuju, silahkan anda atur tempat dan waktunya lalu kabari kami," balas Viena ramah. Mereka lalu berbincang bincang kecil, seketika ponsel Viena berbunyi. Rika menghubunginya.
Percakapan Viena dan Rika
Viena : halo tante apa kabar?
Rika : baik sayang, bisakah sore ini aku datang ke apartemenmu? aku ingin sekali memakan mie ayam buatanmu,
Viena : bisa tante, datanglah, aku menunggumu, tapi aku belum berbelanja, tan.
Rika : tenang saja, aku sudah mempersiapkan semuanya.
Viena : baiklah sampai jumpa nanti, tan,
Rika : sampai jumpa, jaga dirimu.
Panggilan berakhir. Viena tersenyum hangat, seketika dia merindukan Theres. Rika selalu memberikan pesan untuk menjaga dirinya di akhir telepon. Viena merasa kasih sayang seorang ibu yang sangat melekat.
"Sepertinya, anda sayang sekali dengan orang yang ada di sebrang sana," Revo tersenyum. Viena tersadar dan menatap Revo. Senyuman Revo sangat menawan, pikir Viena.
"Dia tanteku, tapi seperti ibuku," lanjut Viena singkat.
"Ibuku sudah lama meninggal, tapi dia memang sosok yang sangat tegar sampai akhir hayatnya," Revo seperti ingin masuk dalam pembicaraan Viena. Viena terperenjat menatap Revo. Terlihat Revo tampak sendu mengingat pemakaman ibunya.
"Ibumu sudah bahagia di surga," sambung Viena lembut. Revo melihat mata hitam Viena lekat lekat. Viena sangat cantik dan bercahaya, pikir Revo.
Pesta diadakan lusa malam di Restoran yang berada di Hotel Prime. Seluruh restoran sudah dipesan oleh Revo. Viena berpikir positif, Dion tidak akan datang ke restorannya, lagipula ini hanya pesta kecil. Viena mengenakan pakaian casual. Celana jeans yang sedikit robek di bagian lutut dan kemeja berbahan lemas dengan lengan yang digulung sampai sebelum sikut. Rambutnya di ikat keatas sehingga memperlihatkan lehernya yang mulus dan jenjang.
Viena memasuki lobby hotel dan menuju resto yang sudah dipesan Revo. Viena langsung menghampiri Lexa tapi terhenti karna melihat ada Leon di samping Lexa. Viena membelokan diri lalu menuju meja bartender. Dia memesan vodka. Lexa melihatnya dan merasa karna kehadiran Leon yang tidak sengaja lewat restoran ini untuk mengecek pasokan pangan dan bertemu dengan Lexa.
"Baiklah, Leon, apa kau tidak lanjut bekerja?" Tanya Lexa ingin membuat Leon pergi.
"Ohiya, kau memang pengingat waktuku, Lexa, kelak maukah kau menjadi pengingat kehidupanku?" Jawab Leon lagi lagi menggombal.
"Kehidupan dengkulmu, sana pergi bekerja, kalau kau tidak punya uang, bagaimana kau akan menjadikanku pengingat hidupmu?" Lexa ikut menggombalinya dengan wajah cemberut.
"Oke bos, aku akan membawamu dalam kehidupanku, aku kerja dulu ya sayang,"
Cup, Leon mencium pipi Lexa dengan cepat lalu berlalu. Wajah Lexa memerah padam. Dia belum pernah merasakan cinta, tapi dengan Leon, dia merasa ada yang selalu mendukung dan menemaninya. Disebrang sana, Viena terus memperhatikan Lexa. Viena senang, akhirnya Lexa bisa merasakan perasaan normal seorang wanita terhadap pria. Lexa lalu mencari keberadaan bos nya yang sedang memperhatikannya.
"Kau ini, senyum apa miss? Jangan jangan kau melihatnya," Lexa sudah menghampiri Viena. Viena tersenyum menggoda.
"Cih, kau ini, sudah saatnya kau berpacaran. Leon sepertinya cocok untukmu," tanggap Viena mendukung hubungannya dengan Leon.
"Kau mengijinkanku, miss?" Tanya Lexa sedikit takut.
"Dasar adik kecil bodoh! Kau pantas berbahagia, memangnya aku siapa mu menentukan kehidupanmu?" Lanjut Viena sendu sambil mengelus kepala Lexa.
"Ya, aku hanya anak yatim piatu yang diangkat anak oleh kakakmu dan menjadi orang kepercayaanmu. Siapa lagi yang ku punya selain kau dan Kak Egnor?" Lexa menunduk dan berkaca kaca. Benar saja, Lexa hanyalah seorang mahasiswi yang dibully habis habisan di universitas yang ketika itu, Egnor sedang menjadi pembicara sebuah seminar. Egnor yang merasa kasihan memutuskan untuk membiayai kuliah Lexa di Legacy dan setelah lulus disuruh menjadi asisten Viena.
"Jangan katakan itu, kau punya aku dan Kak Egnor, dan sebentar lagi punya Leon," Viena tersenyum menepuk nepuk bahu Lexa. Lexa menghapus air matanya yang hendak terjatuh.
"Selamat malam semuanya, hari ini saya mengadakan pesta atas keberhasilan iklan kedua kita, semoga semuanya meraih keuntungan bersama, silahkan nikmati makan malamnya," sambut Revo memulai pesta yang dihiasi penyanyi yang sungguh merdu. Terlihat Viena tidak menikmati pesta karna dikirimi sejumlah foto ibunya yang sedang makan dan tersenyum. Viena sangat merindukan ibunya itu. Revo yang melihat Viena sendiri menghampirinya.
"Ibu Viena, apa kau sudah makan?" Sapa Revo menepuk pundak Viena. Viena terperanjat.
"Viena! Panggil aku Viena kalau acara seperti ini, bapak Revo," Viena membenarkan.
"Sama halnya denganku, Viena, panggil aku Revo," Revo tersenyum. Sesaat Viena mengingat Dion. Mereka seperti pinang dibelah dua dalam hal perkataan. Sangat tegas dan berwibawa.
"Mengapa kau sendiri disini, Viena?" Tanya Revo lirih.
"Ya, sebenarnya aku tidak suka pesta pesta seperti ini, terlalu ramai, tapi aku menghargai keberanianmu untuk langsung mengundangku," lanjut Viena menaikan bahunya.
"Oh, kalau begitu bagaimana jika malam minggu besok ikut aku menghadiri konser piano terkenal di kota Legacy. Arnold McKenzie. Kau pasti tahu kan pianis terkenal itu?" Lagi lagi Revo menawarkan hal yang cukup membuat Viena tertarik.
"Ya aku tahu, tapi karna banyaknya urusanku, aku masih belum sempat menyaksikan pianis handal itu, kau ada tiketnya?" Viena menyetujui.
"Tentu, jam 18.00 aku akan menjemputmu, setuju?" Revo hendak menjabat tangan Viena yang disetujui oleh Viena sambil tersenyum. Revo sungguh bisa mengambil hati Viena sedikit.
Seketika itu, Dion menyaksikan kedekatan Revo dan Viena. Dion tahu siapa Revo. Dion bertanya tanya pada Leon, siapa yang mengadakan pesta di restoran hotelnya sampai menyewa seluruh hotel. Ternyata Revo untuk keberhasilan iklan kedua yang dibuat Viena. Dion penasaran, apakah Viena hadir, ternyata ini yang dia lihat. Hatinya sedikit teriris.
Next part 17
Siapa sebenarnya Revo?
Apa dia baik? Apa dia bisa menggantikan Dion di hati Viena?
Plis like dan komen
I need you all ☺
plis jangan donk