Aku ingin menjadi satu-satunya tempat pulang yang paling kau rindukan.
Untuk kita saling merawat dan membenahi kepingan hati yang hancur karena cinta masa lalu mu.
Aku adalah satu-satunya jiwa yang bahkan tidak memperdulikan tekanan batinku sendiri demi cinta yang telah ditakdirkan untukku.
Aku akan menaklukan hatimu, melepas lelah mu, mengukir tawamu, membuang duka mu.
Hingga kita bahagia.
Kisah ini mengisahkan pengorbanan seorang istri dalam meyakinkan hati suaminya. Berperang dengan masa lalunya. Dan menerima perjodohan yang telah di atur matang oleh kedua keluarga berketurunan Ningrat.
Sanggupkah seorang Roro Dwini Hadiningrat memperjuangkan cintanya...?
Mari, ikuti kisah ku.
Terima Kasih🙏🙏
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon EmeLBy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 15 : PESTANYA USAI
Satu persatu ritual dan semua rangkaian acara pernikahan Dwini dan Bimo pun telah usai. Senyum puas kedua belah pihak orang tua mereka tentu sangat kentara. Sebab, benar - benar merasa bahagia akan perhelatan akbar penikahan anak mereka telah terlaksana dengan sempurna dan megah.
Kini Dwini dan Bimo telah berada dalam sebuah kamar hotel yang juga telah di siapkan bagian dari WO yang menyiapkan pernikahan meraka tersebut.
Dwini tampak susah payah melepas semua attribut yang terpasang membalut tubuhnya.
Tidak perlu di tanya betapa lelah dan capeknya tubuh mereka untuk beberapa hari melaksanakan pesta pernikahan yang benar-benar banyak menguras energi keduanya.
Pelan-pelan Dwini mulai membersihkan sisa make up yang menempel di wajahnya, juga melepas aksesoris pada kepala dan seluruh tubuhnya. Lama Dwini habiskan waktu di depan cermin yang ada dalam kamar hotel tersebut.
Sedangkan Bimo tampak diam seribu bahasa, juga ia tampak santai dan biasa saja lalu lalang. Melepas pakaian, mandi dan kembali memasang pakaiannya sendiri setelah mandi
Lalu menarik selimut di ranjang pengantin super mewah itu. Dan langsung tidur mendengkur dengan pulasnya di atas kasur empuk tersebut.
Setelah semuanya selesai, Dwini pun mandi merendam dirinya di dalam bath up yang ada dalam kamar mandi hotel itu.
Membutuhkan waktu lebih dari 30 menit bagi Dwini untuk menyelesaikan ritual mandinya tersebut.
Kemudian, lama Dwini berdiri di depan lemari. Untuk berpikir pakaian apa yang akan ia kenakan untuk tidur di malam pertamanya bersama Bimo, pria idamannnya yang kini telah menjadi suaminya.
Melihat Bimo yang telah tertidur pulas, Dwini memilih pakaian piyama celana panjang yang memang ada di bawanya dari rumah.
Dwini menatap nanar pada suaminya, lama ia perhatikan dengan seksama wajah tampan Bimo. Sangat tampak di sana betapa lelah yang terpancar disana. Membuat Dwini pun segera menyusul Bimo untuk berlayar kepulau dakron.
Matahari telah muncul dengan perlahan, seperti Dwini yang baru berhasil membuka kedua bola matanya.
Meraba bidang datar empuk di sebelahnya, kosong. Dwini sudah tidak menemukan sosok seorang Bimo yang semalam di sampingnya.
Dwini pun bergegas bangun. Malu mendapati dirinya yang ternyata terlambat bangun dari suaminya tepat di hari pertama setelah ia menjadi seorang istri.
Bimo tampak sudah rapi, saat keluar dari toilet yang ada dalam kamar hotel itu.
Lalu menatap Dwini dengan tatapan seolah tak suka.
"Maaf mas... Dwi bangunnya telat." Ucapnya dengan kepala tertunduk.
"Pagi ini kita cek out. Mbak mau pulang kemana? Rumahmu...? Atau rumah mertuamu...?" tanyanya masih dengan nada suara yang datar.
"Terserah mas Bimo saja. Aku manut mas. Permisi mau mandi sebentar." Jawab Dwini tak kalah datar.
Tidak ada ucapan selamat pagi, tidak ada morning kiss, bahkan berbicarapun tidak saling menatap satu sama lain.
"Inikah pernikahan yang aku idamkan selama ini...?" bathin Dwini sambil mengguyur tubuhnya di bawah shower. Seraya menahan rasa yang mulai perih dalam hatinya.
Bimo tampak melajukan jaguar hitamnya ke arah rumah Dwini. Rupanya ia memutuskan sendiri untuk pulang ke rumah mertuanya.
"Wah...pengantin baru. Kok cuma nginap satu malam di hotelnya...?" tanya bunda Dwini saat melihat anak dan menantunya telah memasuki rumah mereka.
"Besok... Kami harus sudah ke Desa Bu. Masa cuti Bimo telah habis." Jawabnya dengan sopan.
"Tapi malam ini... Nginap di sini kan ndhuk. Bunda akan merindukan mu lagi." Ucap bunda sambil memeluk anak semata wayangnya, yang mulai besok akan pergi mengabdi pada suaminya.
"Sudahlah Bunda... Jangan terlalu di dramatisir. Toh...cah ayu pergi dengan suaminya. Sekarang sudah ada yang akan lebih bertanggung jawab pada hidup mbak Dwini. Bahkan, mas Bimo telah kita percayai bersama untuk membahagiakan putri kita, ya kan mas Bimo." Tembak ayah membuat Bimo salah tingkah.
Hanya anggukkan kecil dari kepala Bimo tanda setuju dengan ucapan mertuanya tersebut.
Sesuai informasi dari Bimo, bahwa besok mereka akan kembali ke tempat Bimo mengabdi selama ini.
Sehingga seharian itu, hampir Dwini habiskan untuk berkemas. Sebab ia akan tinggal dan menetap dalam waktu yang lama.
Tampak bunda Dwini pun, ikut menemani putri kesayangannya mempersiapkan semuanya, agar tidak ada yang tertinggal dan terlupa.
Pada malam harinya, tampak merak terlihat sangat hangat dan akrab saat menikmati makan malam di rumah keluarga Dwini.
Kedua orang tua Bimo pun hadir di sana.
Sebab mereka pun masih merasa kangen pafa Bimo putra tunggal mereka tersebut.
Karena masa cuti Bimo telah berakhir. Maka acara ngunduh mantu pun belum sempat terlaksana. Sebuah tradisi yang juga wajib di laksanakan setelah pernikahan.
Di mana menanti perempuan belum boleh menginap dan berkunjung kerumah mertianya, jika tradisi tersebut belum di laksanakan.
Dan kedua keluarga itu telah bersepakat untuk melaksanakannya 3 bulan lagi. Saat Bimo kembali mendapatkan ijin untuk mereka bisa melaksanakan tradisi tersebut.
"Mas Bimo titip cah ayu ku selama di Desa ya. Kamu adalah imamnya, jangan sungkan menegurnya jika ia salah. Mas Bimo satu-satunya orang yang di kenalnya di sana. Jadi, hidupnya bergantung padamu nak." Ucap ayag Dwini yang sebenarnya terlihat enggan melepas anak semata wayangnya.
"Iya pak." Jawab Bimo singkat.
"Mengapa hanya sesingkat itu. Apa kamu tidak punya kata-kata lain untuk meyakinkan ayah mertuamu. Bahwa kamu benar-benar akan menyayangi dan menjaga putrinya?" tanya ayah Bimo seakan heran dengan sikap putranya.
"Bimo tidak berani menjanjikan apa-apa. Takut ingkar. Tapi, Bimo akan berusaha membahagiakan mbak Dwini." Nada suara itu terdengar datar tak bernyawa di sana.
"Sudah mas. Kita maklumi saja. Mereka lama tidak bertemu, sekali ketemu langsung lamaran kemudian menikah. Mungkin mereka masih kaget. Juga...ayo kita pulang. Mungkin saja jalan rintisan untuk kita dapat cucu belum sempat di garap. Hahaha...!!" Tawa renyah ibu Bimo yang sebenarnya tau Bimo belum bisa menerima Dwini sepenuhnya itu, berkelakar memecah suasana agar tidak tegang.
Sehingga ucapan ibu Bimo memang berhasil membuat mereka semua di ruangan itu terbahak.
Sekembalinya kedua orang tua Bimo. Rumah keluarga Dwini kembali sepi. Ayah dan bunda Dwini tampak telah masuk ke kamar mereka.
Demikian juga Dwinu di ikuti Bimo yang tampak canggung masuk ke kamar Dwini.
Kamar Dwini cukup besar. Di sana kamar mandi, ada TV, meja belajar dan sebuah sofa yang berada tepat di dekat jendela kamarnya.
Dwini masuk ke kamar mandi di dalam kamarnya untuk membersihkan tubuhnya juga menggunakan lingerie yang lumayan sexy. Sebab semalam di hotel mereka memang belum melakukan ritual malam pertama layaknya suami istri pada umumnya.
Tetapi, lingerie tersebut ia gunakan di dalam. Di bagian luarnya tentu ia menggunakan jubah. Sebab ia tidak ingin nampak begitu menginginkan ritual itu terjadi.
Namun, ketika Dwini keluar kamar mandi itu. Dwini cukup terkejut melihat posisi Bimo.
Bersambung...
Oalaaah gaes...begini rasanya nulis di atas kasur ruang isolasi covid.
Sungguh virus ini masih ada
Buat kalian semua jaga kesehatan ya
tetap paruhi protokol.
Semua aturan itu bukan untuk pemerintah.
Tapi demi diri kita sendiri.
Salam sehat💪
*semua kesalahan suami diperjelas salah dan dibuat dicap kesalahan fatal dan harus dapat balasan dulu
tapi kesalahan istri malah dibenarkan dan dianggap bukan kesalahan
ini lah contoh pemikiran munafik wanita yang dibawa kedalam karya novel
dsini dengan pria lain ketemuan, berintrkasi sebagai teman yang fakta sudah sangat keterlaluan dianggap hal biasa
emang susah kalau pemikiran wanita egois dibawa kedalam novel