NovelToon NovelToon
Pria Kedua

Pria Kedua

Status: tamat
Genre:Romantis / Contest / Patahhati / Kehidupan Manis Setelah Patah Hati / Janda / Tamat
Popularitas:3.8M
Nilai: 5
Nama Author: Lisa

Aira tidak pernah berharap menikah untuk kedua kalinya. Namun dia menyangka, takdir pernikahan pertamanya kandas dengan tragis. Seiring dengan kepedihan hatinya yang masih ada, takdir membawanya bertemu dengan seorang pria.


"Aku menerimamu dengan seluruh kegetiran dan kemarahanmu pada seorang lelaki. Aku akan menikahimu meski hatimu tidak tertuju padaku. Aku bersedia menunggu hatimu terbuka untukku," ujar pria itu.

"Kamu ... sakit jiwa," desis Aira kesal sambil menggeram marah.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lisa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Luka

Kisi hanya menunggu dengan gelisah di depan tv. Sejak tadi kamar Aira tidak terbuka. Hati perempuan itu pasti hancur berkeping-keping. Apakah ini yang kak Aira maksud soal dirinya yang sedang punya masalah saat itu. Ketika dirinya sendiri sempat merasakan ada yang aneh diantara mereka.

Jika itu benar. Bukankah berarti kak Aira sudah tahu bahwa kak Eros berselingkuh?

Kisi menggelengkan kepala keras. Merasa ngeri sendiri dengan kisah kakak iparnya. Kemudian Kisi melongok keluar. Ke arah ruang tamu. Kedua orangtuanya masih berada di sana dengan tersangka, yaitu Eros.

Kepulangan keluarga Nara menyisakan rasa tegang yang tidak pernah usai.

"Kenapa kamu melakukan itu, Eros?" tanya mama ingin menangis. Tidak ada jawaban dari bibir pria ini. "Mama saja sangat terpukul dengan peristiwa ini, apalagi Aira. Istrimu." Airmata mama mulai turun membasahi pipi. "Bagaimana kamu bertanggung jawab pada kedua wanita itu? Jika mama boleh memilih, mama akan memilih Aira dan membiarkan Nara. Mama sangat ingin melakukannya, Erosss ..." Tangis mama mulai menjadi emosional. Tangan beliau memukul-mukul lengan putranya.

Papa masih menundukkan pandangan dan diam. Tidak ada sepatah katapun yang keluar dari mulut beliau.

"Namun mama tidak bisa melakukannya. Mama juga punya anak perempuan. Bagaimanapun mama tidak tega. Di dalam rahim Nara juga ada darah dagingmu. Cucu mama. Namun mama tidak mau menerima Nara sebagai istrimu." Mama mengeluarkan semua kata hatinya di antara tangisan memilukan.

Plak!

Tiba-tiba saja papa mendekati Eros. Tamparan telak mengenai pipi pria ini. Mama membeliakkan mata dan membekap mulutnya sendiri melihat itu. Papa begitu marah hingga tangan beliau ikut campur dalam amarahnya kali ini. Setelah tamparan telak tadi, Papa diam. Masih dlam posisi berdiri. Mama hanya menatap putranya dengan kecewa.

"Bagaimanapun tersakitinya Aira, kamu memang wajib bertanggung jawab. Pikirkan saja itu. Papa lelah." Papa beranjak pergi meninggalkan ruang tamu. Beliau seperti tidak mampu lagi berpikir. Mama yang masih terisak akhirnya meninggalkan ruang tamu juga. Membiarkan Eros yang diam dan menunduk.

Kisi melihat kedua orangtuanya yang menjauh dari ruang tamu. Mama menangis dan langsung masuk kamar.

"Kakakmu belum keluar dari kamarnya, Kis?" tanya papa.

"Belum, Pa," jawab Kisi sambil menggeleng. "Aku sudah coba mengetuk pintu kamar, tapi tidak ada respon."

"Tolong awasi terus, Nak. Dia pasti sangat sedih. Papa sudah lelah berpikir. Papa mau beristirahat dulu."

"Ya, Pa." Setelah itu beliau masuk ke kamar tidur. Mereka pasti sangat terpukul dengan kejadian ini. Lagi-lagi Kisi hanya bisa mendesah lelah. Tak lama, muncul Eros dari ruang tamu. Kisi hanya menoleh sebentar trus balik lihat ke ponselnya.

"Aira di dalam kamar?" tanya Eros lemah.

"Ya, sejak tadi."

**

Pintu kamar Aira masih tertutup. Eros tidur di sofa depan tv. Mama kasihan melihat putranya, tapi jika ingat tadi malam ... mama enggan bersimpati pada putranya. Langkah beliau terus melewati ruang tengah dan menuju dapur.

"Ibuk sudah bangun?" tanya bik Misnah yang khawatir dengan majikannya. Setelah kejadian tadi malam, sepertinya semangat keluarga ini menurun drastis. Mama menggeleng menanggapi pertanyaan pembantunya.

"Bik Misnah sudah masak?" tanya mama terlihat sangat lelah. Masakan sudah ada yang matang.

"Iya. Saya takut ibuk kenapa-kenapa, jadi saya langsung masak tadi."

"Ya, bik. Kepala saya pusing." Bik Misnah paham itu karena putranya, Eros. "Kisi sudah berangkat sekolah?"

"Sudah, Buk. Tadi berangkat sama Bapak."

"Aku sangat pusing hingga tidak bisa keluar kamar. Suami juga enggak ke urus jadinya."

"Bapak pasti mengerti, Buk."

" Apa Aira juga belum keluar dari kamarnya?"

"Belum, Buk. Sejak tadi malam non Aira juga belum makan."

"Benarkah, Bik? Aduh ... bagaimana ini. Dia kan sedang mengandung." Mama cemas dan panik. Kaki beliau melangkah menuju pintu kamar menantunya. Pintu terbuka sebelum beliau berhasil mengetuk pintu.

"Aira ... " Mama Eros langsung memeluk tubuh perempuan ini. Tanpa perlu bertanya, dia tahu bahwa menantunya tercabik-cabik oleh kejadian yang membuat rahang mengetat akibat kemarahan yang begitu dahsyat.

"Aku mau keluar dan langsung bekerja, Ma." Aira memang sudah berpakaian rapi. Walaupun masih pagi, perempuan ini sudah berniat berangkat kerja. Mama tahu menantunya ingin menghindar dari semua orang karena kejadian semalam.

"Kamu harus makan dulu, Ai ... " pinta mama Eros bersedih.

"Aku merasa perutku agak mual, Ma kalau makan."

"Harus di paksa. Kamu harus memaksakan diri untuk makan. Kasihan bayi yang ada dalam kandunganmu. Mungkin kamu bisa kuat, tapi bayi ini tidak." Mendengar kata bayi dalam rahimnya, Aira menyerah. Walaupun dia akan tahan tidak makan karena tidak bernafsu makan apapun saat ini, mungkin bayinya tidak.

"Baiklah, Ma." Mama membimbing menantunya ke meja makan. Melihat Aira muncul ke ruang makan, Bik Misnah ikut bahagia dan lega. Dia yang tahu cerita tentang kejadian semalam ikut merasa sedih melihat menantu majikannya.

"Bik ... siapkan makanan untuk Aira. Dia perlu sarapan." Mama Eros meminta Bik Misnah menyegerakan hidangannya. Perempuan tua itu paham dan bergegas. "Mama akan ikut sarapan juga." Mama Eros segera mengambil piring dan ikut menyantap sarapan bersama. Beliau merasa punya salah besar karena kelakuan putranya.

Eros terbangun. Tubuhnya beranjak berdiri dan langsung menuju ke kamar mandi. Sebagai pelaku dari kehebohan tadi malam, dia juga menjadi pening. Teringat lagi apa yang di katakan Nara soal kehamilannya.

Padahal selama melakukannya, Eros selalu memakai pengaman. Mungkin karena mereka sudah menyakiti seseorang, inilah akibat keteledorannya juga akan kesalahan mereka berdua yang sudah menumpuk. Suatu malam Eros lupa memakai pengaman dan menikmati tubuh Nara yang sintal.

Sesudah mandi, Eros menuju ke dapur. Mama malas melihat putranya di sana.

"Aira sudah berangkat kerja, Ma?" tanya Eros.

"Ya," jawab mama singkat. Bik Misnah menyiapkan piring baru untuk tuan mudanya. Suasana masih canggung karena semalam. Eros tahu, makanya dia melahap sarapan pagi dengan tenang. Tanpa kata dan sikap berlebihan.

...----------------...

Aira berjalan menuju ruangan dengan memaksakan diri. Kakinya yang terluka tadi malam belum sembuh benar. Bahkan dengan hanya di bungkus kain bersih, Aira melakukan pertolongan pertama.

Dengan tertatih tatih dia melangkah menuju kantor. Dari kejauhan Hito melihat Aira yang kesulitan berjalan. Namun karena jarak yang jauh, Hito tidak berhasil mendekati Aira yang cepat hilang masuk kedalam gedung.

"Selamat pagi Ai ..." sapa Yeri. Lagi-lagi kamu menjadi karyawan teladan dengan datang sepagi ini."

"Entah itu pujian atau sindiran tidak masalah." Aira mencibir.

"Hei, kenapa bawah mata ada kantung matanya, Ai?"

"Aku kesulitan tidur."

"Kenapa? Karena Eros?" tebak Yeri dengan judes. Aira hanya mengangkat bahu dan menaikkan kedua alisnya. "Kalau enggak bisa tidur hanya karena Eros jangan dehh ... Aku ikutan sebel nih jika membayangkan kamu tidak bisa tidur gara-gara buaya jelek itu."

"Mana ada buaya darat jelek, Yer."

"Eh, iya. Eros enggak jelek, ding. Memang itu kenyataan yang tidak bisa di pungkiri. Si brengsek itu memang ganteng. Makanya kamu kepincut. Sudah ah, aku mau ke toilet dulu." Yeri setengah berlari menuju toilet. Sementara Aira menuju ruangannya.

Telepon kantor berdering. Ada nomor dengan nama Ibrar di sana.

"Iya. Disini kantor keuangan."

"Aira?" tebak suara pria disana tepat.

"Iya Pak. Saya Aira."

"Aku akan turun ke bawah. Ke kantormu. Untuk mencari berkas lagi."

"Iya, pak." Aira menghela napas. Dia harus bisa bersikap wajar di depan pria itu. Selang beberapa menit dari telepon tadi, manajer baru itu muncul sesuai janjinya. Aira juga yang sudah di beritahu terlebih dahulu segera menyiapkan kunci. Aira berjalan dengan memaksakan diri terlihat baik-baik saja.

Ibrar merasa aneh dengan keadaan Aira.

"Berhenti." Mendengar perintah, otomatis Aira berhenti. Padahal mereka sudah berada di depan pintu gudang arsip. Ibrar berjalan mendekati Aira. Berdiri tegak tepat di hadapan perempuan itu. Mata Aira menatap pak Ibrar dengan penuh keheranan.

"Buka sepatumu," perintah Ibrar aneh.

"Sepatu?" tanya Aira bingung.

"Ya. Bukalah sepatumu. Cepat."

"Aku tidak paham maksud Bapak." Aira tidak mau menuruti karena itu aneh. Tiba-tiba Ibrar merendahkan tubuhnya untuk jongkok. Menyentuh kaki Aira untuk memeriksanya. Karena Aira tidak nyaman, dia terpaksa segera membuka sepatunya. Hingga menampakkan kakinya yang di bebat oleh sehelai kain.

"Kakimu terluka." Ibrar menemukan itu.

1
ione
/Smile//Smile/
Inah Ilham
sudah baca 30 episode baru nyadar klo ini karya lady_ Ve, pantes mc nya wanita muda yg tangguh
Lienda nasution
alah....ceritanya bertele tele thor
Tri Lestari Endah
Dari awal sampai disini ceritanya buat greget
banyak pelajaran yang di dapat

berharap ada bonchap sampai aira melahirkan
masih terbawa kesel sm nara dan eros
rasa sakit dan trauma aira belum sebanding sakitnya nara dan penyesalan eros
Latifah Latifah: setujuuu
total 1 replies
Ririnyulianti Yulianti
Luar biasa
Bang Juky
umur 16 si aira dah kerja ya
Anik kartin
banyak pesan moral yg disampaikan pada tiap tokohnya..semoga kita bisa belajar dr tiap kejadian dan mengambil hikmahnya...semangat kak untuk karya selanjutnya..
Anik kartin
bukan cinta....tapi DOSA
Yomita Hervina
agak aneh ibrar jg ngomong wanitaku saat di dpn yuta n wira jg jk ga salah.kl sdh sprti itu kesannya dia mmg pny affair dgn prmpuan tsb,kecuali kl itu dia lakukan di dpn org asing/bukan kenalan.
Sri Widjiastuti
tegas mu telat eros
Sri Widjiastuti
oalah nduk2 sdh tau rasanya jd pencuri. sekarang parno kecurian
Sri Widjiastuti
adakah sosok ibrar beneran, hari gini😇😇
Tiadayanglain
Betul tu nara
Aira masih sangat ingin dekat eros
Buktinya dia masih g bisa move on
Tiadayanglain
Kok aneh perempuan ni udah di sakitin tapi kok susah move on
Kesan nya kayak perempuan bodoh
Tiadayanglain
Aneh kakak kok hri tu ibrar ngaku wanitaku
Tiadayanglain
Nah pelihara anak haram MU eros
Anak dalam nikah meninggal
Jadi aira ga da iktan lagi
seru_seruan
aku ngulang baca entah keberapa kalinya.
kalo Aira, kakaknya Ibrar dijodohin sama Yuta gimana y...?
Nurazmi Azmi
Kok nggak di cerita in Aira itu masih hamil apa keguguran ya, YG jelas dong Thor jangan bikin bingung
Adelia ZahrotusShifa
terus semangat berkarya thoooor
Sriza Juniarti
lanjut kk🥰💕
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!