Seluruh bangunan yang berada di pulau Kanawa terancam di gusur, karena kepemilikannya berpindah tangan pada pria asing berasal dari Jerman. Yang akan merubah semua isi pulau tersebut untuk di jadikan tempat wisata yang akan menambah kekayaannya.
Pria asing itu adalah Jerricco
Alessandro, pria sukses dalam bidang teknologi dan wisata mancanegara.
Tidak ingin mata pencaharian warga hilang begitu saja karena ke serakahan pria itu, Damara harus merelakan diri menjadi istri Jerry, agar dirinya serta seluruh warga pulau Kanwa tetap bisa bekerja dan mencari pundi-pundi rupiah.
"Hidupnya harus membawa banyak keuntungan besar untukku!" pria paru baya tersebut menyeringai sambil memandangi foto wanita berparas cantik dengan rambut sebahu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Riska Almahyra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Jamuan Makan Siang
Sesuai yang di rencanakan awal Damara sudah menyiapkan foto untuk prewedding, dia mengira untuk teman dekat Galang ternyata Galang yang melakukan preweding bersama perempuan itu, bahkan setelah acara sarapan pagi yang di siapkan Icha.
Damara sudah tidak melihat keberadaan Icha lagi, dia ingin mencari keberadaan Icha tapi dia masih harus mengatur beberapa objek foto yang akan di ambil di dalam restoran.
Acara pengambilan foto cukup lama bahkan sampai matahari terik, Damara serta Gilang dan calon istrinya masuk kembali ke ruang VIP.
“Icha ke mana?”
Damara mengalihkan perhatiannya mendengar suara Galang, “Saya tidak lihat Icha, tadi katanya tidak enak badan. Mungkin Icha ijin pulang pak.”
“Dia sakit?”
Melihat raut wajah khawatir dalam diri Galang, membuat Damara terheran-heran. ‘Apa Galang masih memiliki perasaan pada Icha, lalu perempuan itu?’
Wanita yang Damara kenal dengan nama Miranda memukul bahu Galang, “Udah sana cari, bahaya kalau dia bunuh diri.”
Damara mengernyitkan dahinya, “Ini apa Pak?” tanya Damara karena dia tidak mengerti dengan semua yang terlihat membingungkan seperti ini.
Bukannya menjawab Galang keluar dari ruangan dengan langkah tergesa. Damara ingin mengejar Galang namun lengannya di tahan oleh Miranda, “Ada yang bisa saya bantu nona?”
“Kamu mau ke mana? Udah biarkan mereka berbicara. Kamu tunggu sini, pesankan minuman segar dong.”
“Baik nona.” Damara meraih gagang telepon yang berada di ruangan itu lalu memesankan minuman untuk Miranda.
Miranda memperhatikan wajah Damara, yang terlihat hampir mirip dengannya. “Kamu asli dari Indonesia?”
Damara tersenyum, “Iya, saya lahir dan di besarkan di sini.” Ucap Damara ramah.
Miranda sebenarnya penasaran tetapi dia juga tidak ingin ambil pusing dengan bagian-bagian wajah Damara yang mirip dengannya.
“Nona boleh saya bertanya?”
Melihat anggukan dari kepala Miranda sebagai jawabannya, Damara mengeluarkan rasa penasarannya karena Miranda terlihat santai. “Apa nona tidak cemburu, melihat emm … calon suami nona yang mencari teman saya?”
Miranda tertawa mendengar pertanyaan bodoh Damara, “Untuk apa cemburu, kadang cara satu-satunya cara untuk melihat orang yang kita cintai, memiliki perasaan juga pada kita atau tidak dengan cara membuatnya cemburu agar ia sadar dengan perasaannya sendiri.”
Damara mengernyitkan dahinya, “Maksud nona, ini hanya permainan untuk membuat teman saya mengakui perasaannya.”
Seorang mengetuk pintu, dia masuk dengan pesanan milik Miranda lalu menyimpannya di meja.
“Betul, aku tidak tega melihat sahabatku murung hanya karena cintanya di tolak.” Dengan santainya Miranda menegak jus yang baru saja di antarkan.
Damara diam memikirkan semua ucapan dari Miranda, ‘Membuatnya cemburu untuk mengakui perasaan, apa memang betul terjadi?’
“Lebih baik kamu istirahat saja, ini sudah jam makan siang.”
Damara membungkuk hormat, “Baik nona, saya permisi.”
Damara keluar dari ruangan VIP dia berjalan untuk sampai ke ruangannya, tapi ponselnya berdering tanda panggilan masuk ia terpaksa menghentikan langkahnya. Damara merogoh ponselnya melihat layar ponsel menunjukkan nama Jerricco.
Damara menarik nafas sebelum menekan tombol hijau, “Selamat siang tuan,” sapa Damara.
“Jangan terlalu lelah, makanlah. Kevin sudah memesankan makan siang untukmu.”
Suara Jerricco terdengar jelas di telinga Damara, “Terima kasih, tuan.” Damara memandangi layar ponselnya yang sudah menyala karena Jerricco mengakhiri teleponnya secara sepihak.
Damara hanya berusaha acuh ia memasukkan kembali ponselnya ke dalam saku lalu melanjutkan langkahnya. Sesampai di ruangannya Damara berjalan menuju sofa ia duduk dan memperhatikan sepiring nasi serta ikan bakar.
Senyum Damara mengembang, “Dari mana dia tahu aku suka ikan bakar?”
Pipinya bersemu merah mendapati perhatian dari Jerricco, ia mengambil ponsel dan mengirimkan pesan pada Jerricco.
Damara mengirimkan pesan pada Jerricco. [Terima kasih, selamat makan siang]
Kenapa setelah menikah terjesan spt gadis cengeng..?
koq aku ga paham yaa