NovelToon NovelToon
Rekah Rasa Di Ambang Senja

Rekah Rasa Di Ambang Senja

Status: sedang berlangsung
Genre:Dosen / Beda Usia / Dijodohkan Orang Tua
Popularitas:134.5k
Nilai: 5
Nama Author: sinta amalia

Berulang kali patah hati oleh pemuda yang sama, membuat Lova berusaha melepas mimpinya menjadi kekasih Afnan, dan pasrah menerima perjodohan yang dilakukan oleh kedua orangtuanya.

Namun siapa sangka, nyatanya lelaki pilihan mama dan papa adalah Afif sang guru mengaji yang juga putra dari teman papa. Bukan karena jarak usia mereka yang terpaut cukup jauh, namun sosok Afif yang terkenal anti perempuan apalagi jika perempuan itu termasuk ke dalam golongan manusia minus akhlak dan ilmu agama sepertinya yang membuat Lova berpikir lebih baik ia diciptakan menjadi sebuah debu saja.

***

Disaat ia sudah bisa menerima semua yang terjadi, justru sosok pemuda impiannya itu hadir kembali di kehidupan Lova.

Akankah Afnan mampu menggoyahkan hati Lova, bagaimana pula Afif membimbing Lova demi membawa bahtera rumah tangga keduanya hingga mampu menepi di jannahnya Allah?

~~~
"Kenapa mesti surat Ar-Rahman dan surat An-Nisa yang jadi mahar?"

"Terus kamu maunya apa? Yassin? Al Jinn?"
.
.
.
.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon sinta amalia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

2.Runaway from An-Nur

Lova

Langkahnya berburu dengan anak-anak FRM yang hendak ke masjid sekolah untuk melakukan kegiatan ekskul.

Ia sudah tak bisa menahan lagi, Lova butuh jawaban Afnan kali ini. Dan kali ini, adalah waktu yang tepat untuk melakukan hal romantis, menurutnya.

Mengungkapkan perasaan tepat di depan anak-anak ekskul dimana Afnan adalah ketuanya.

Berani dan nekat beda tipis!

Afnan terlihat duduk bersila dengan guru agama senior berbaju batik yang merupakan pembina forum remaja masjid ini, terpantau ia yang manggut-manggut dengan memasang wajah serius. Sepertinya mereka tengah membicarakan sesuatu yang penting.

Hingga pak Tarmidzi terlihat mengangkat pan tat dan pamit undur diri dari sana, lalu Afnan mulai mengambil alih acara.

"Yud, absen kelilingin!" perintah Afnan setelah anak-anak itu bergantian masuk.

Dan Lova, gadis itu cukup tau diri untuk tak ikut bergabung di depan masjid bersama anak FRM. Alih-alih benar-benar sadar diri, Lova justru sedang mengatur degupan jantung yang semakin tak seirama untuk kemudian ia melesak masuk diantara anak-anak ekskul itu.

"Suthhh, Nan..." Yuda menyenggol-nyenggol pemuda dengan sweter rajut navy itu, tampilan Afnan yang selalu kalem mampu membius Lova dan beberapa gadis yang mengaguminya.

Afnan berdehem, ia sudah cukup risih dengan aksi Lova. Dan kali ini, ia harus menyudahi semuanya, menunjukan...jika ia masih memegang teguh pendiriannya sebagai remaja taat agama, memberikan contoh yang baik untuk junior- maupun rekan seangkatannya di masjid An-nur ini.

Dengan berani Afnan menatap Lova lebih dari 5 detik kali ini. Ia akui Lova cantik, sangat cantik dan mungkin jika lebih dari sekali, maka ia yakin hatinya goyah.

"Ada apa? Mau ikutan jadi anak masjid An-nur juga?" tanya nya memasang tampang jutek, dingin sekali tak terbantahkan. Sampai-sampai kulkas saja kalah saing.

Lova tersenyum di balik surai indah tergerainya, hanya ia hiasi dengan bando tipis saja, cukup tipis untuk membuat rambutnya tetap rapi. Ia menggeleng, cukup sadar diri dengan pakaian yang ia kenakan. Mana ada anak FRM yang seragamnya kependekan begini? Rata-rata dari mereka ya berjilbab!

"Terus?" tantang Afnan dingin.

Lova mengedarkan pandangan dimana anak-anak itu tak begitu mengindahkan kehadiran dirinya, hanya mungkin beberapanya saja yang melihat Lova, termasuk anak FRM yang notabenenya siswa satu angkatan dengan Lova maupun Afnan.

Ada gestur tangan yang membawa rambut ke belakang telinga, merapikan penampilan yang sudah rapi tanda jika ia begitu gugup, "Nan, kalo An nur itu menerangi sekolah ini. Aku mau, kamu cuma menerangi hati aku aja..."

Yuda bahkan sudah terkekeh geli, gemas betul ia dengan Lova...seandainya saja Lova melakukan itu padanya, maka sudah sejak pertama ia iyakan. Dan akan ia keep Lova untuknya sendiri sampai lulus nanti, atau bahkan sampai nanti mereka melewati jenjang serius. Pokoknya modelan gadis seperti Lova itu langka.

Sementara si pemuda datar nan dingin itu tak bereaksi apapun, selain menganggap Lova adalah hama yang harus ia singkirkan dengan segera. Memang benar jiwa dan hati Afnan sudah ia gadaikan di pusat gadai bersama barang elektronik.

"Mau ya, cuma buat aku...jadi pacar aku Nan?" Lova sudah menggigit bibir bawahnya gemas sekaligus gugup setengah mamposs. Ia hampir melompat ke angkasa menyatu bersama bintang dan matahari.

Sorot mata Afnan begitu tajam nan dingin mengingatkan Lova pada seseorang yang pastinya sekarang sudah berada di rumahnya untuk mengajarnya mengaji. Sempat terbersit wajah mengerikan lelaki matang itu, tapi...ahhh! Lova mengenyahkannya.

"Va." Kini Afnan harus memilih padanan kata dan kalimat yang benar, jangan sampai seperti sebelumnya. Ia mengatakan jika Lova cantik dan berhak dapatkan yang sepadan, ujungnya Lova justru semakin gencar mengejarnya, mengatakan jika di dunia ini cowok yang paling tampan adalah Afnan dan ia wajib mendapatkannya.

"Iya, Nan?"

"Pacaran bukan gayaku. Agamaku itu tidak mengenal yang namanya pacaran. Cuma mendekatkan kita pada kemaksiatan."

Lova baru saja ingin membuka mulutnya. Namun Afnan sudah kembali memotong, tak memberikan sama sekali kesempatan untuk Lova bicara, menyangkal apalagi beralibi.

"Kalo kamu mau bilang ta'aruf...aku ngga kepikiran buat ta'aruf...apalagi usia sekolah, ini bukan dunia novel khayalanmu, Va...aku masih sekolah, kamu masih sekolah...masih ada masa depan cerah buat kita raih, lagian nanti aku mau nafkahin kamu pake apa?"

Lova hendak kembali membuka suara. Namun Afnan, memang tak berniat memberikan Lova kesempatan.

"Kamu juga bukan tipe calon pasangan yang kuidamkan. Bayanganku akan pasangan adalah seseorang yang mampu membimbing calon anak-anakku ke jalan yang benar nantinya, jadi madrasah yang baik untuk calon penerusku. Yang mampu kubimbing dan mampu menyembunyikan sesuatu yang jelek dari khalayak umum termasuk aurat. Dan kamu, ngga punya itu sekarang...."

Bahkan Afnan tak tau apa yang akan disampaikan Lova sebenarnya, seolah ia bisa menebak apa yang akan dikatakan Lova, bisa-bisanya Lova saja yang sering menyertakan seribu statement menyebalkan demi mendebat Afnan.

"Kamu, tidak pernah sekalipun ada dalam lirikan mataku, bahkan namamu aja engga, Va. Jadi stop mengejarku, karena semuanya cuma bikin aku ilfeel, ngga suka bahkan mungkin---aku benci." Pungkas Afnan menyiratkan kebencian yang kini sukses memukul jantung Lova dan meninggalkan Lova disana, iya...tepat disana! Tepat disaat semua mendadak hening, tepat disaat anak-anak masjid An Nur menjadikan keduanya pusat perhatian mengingat mereka yang tengah menunggu Afnan.

Dealova mematung, padahal aku cuma mau bilang kasih kesempatan buat kenal kamu lebih deket aja, Nan. Teman juga ngga apa-apa...

Di bawah tatapan iba, ia memandang dirinya yang menyedihkan dari sorot mata anak-anak FRM. Sementara Afnan tak sedikitpun menoleh ke arahnya, sama sekali.

"Nan...Afnan..." panggil Lova sama sekali tak digubris pemuda itu. Lova hanya dapat menangkap punggung Afnan yang menjauh dan masuk masjid dengan nanar.

Bahkan teguran Yuda tak membuat Afnan menoleh untuknya.

Nafas Lova memburu, ia berlari menjauh. Menjauh dari An Nur....

Langkahnya semakin lama semakin cepat. Baru kali ini penolakan Afnan terasa sakit. Entah ia yang memang tak tau malu! Lova menampar pipinya sendiri, bodohhh....

Air matanya lolos berurai menganak sungai tanpa ia sadari.

Tidak mengatakan cara Afnan terlalu sadis, karena memang itu salahnya.

"Kenapa mesti begini Lova, kenapa baru kerasa sakitnya sekarang sih! Kenapa baru sadar sekarang?" jeritnya pada diri sendiri. Larinya semakin kencang dan menjauh dari masjid sekolah, dimana detik yang lalu An Nur masih menjadi surga untuknya, impiannya dan tempat ternyaman demi melihat pujaan hati.

Kecewa? Malu, baru ia rasakan kali ini. Alika benar....ia yang terlalu mengejar.

Sangat menyedihkan Lova. Sangat memalukan....

Ia terisak dengan rambut yang telah berantakan karena berlari, ia tak peduli menjadi tontonan temannya yang terlintasi. Menangis sendirian, menghabiskan isaknya yang sesak di belakang ruang kesenian dengan harapan tak ada yang tau.

Ia hanya ingin menghabiskan bodohnya disini. Untuk selanjutnya ia akan kembali dengan baik-baik saja.

.

.

.

.

.

1
Icka Soesan
cukup bikin geregetan
Siti
good the best lah pokoknya
Ney Maniez
enknya pacaran halal...
jgn bikin ambyaaarrrr teh sin
pas Afif tau tentang Afnan
Ney Maniez
alhamdulilah,, bersyukur ya Va
Ney Maniez
ihhh soo sweett 🥰🫰
Ney Maniez
nahh gituuu va,,CPT move-on karna ad yg halal...
jujur kpn va tentang Afnan ny
Ney Maniez
KLO tau BKN buat Afif gmn,nyesekkk GK sihhh
Va bukan dibuang ajj sih kertas ny
Trituwani
asikk bener kalian nonton,berasa abg lagi ya mas...tp ya tahan nafas jg klo depan belakang samping kiri kanan ad yg slonong boy gitu berasa milik berdua..... berasa pengen bilang "woee halalin dululah sebelum kecap kecup kemat kemut"jiwa meronta ya va pengen nyakar 😅
Trituwani
cupidnya baru dateng dikala kamu patah, diwaktu yg tepat bgt va
Trituwani
yahhh bunga biasa va...q kira bunga bank sekalian va 😂😂
Trituwani
cieeeeeeeeeeeeee q nganan va ihh 😄
Trituwani
lebih lebihh mantabsnya va... lebihh yahudh pula
Trituwani
jatuh cinta berjuta rasanya...
Rita
Va aduhhh bs dilepas dulu ngga kertas minyaknya pgn romantis buyar gr2 kertas nempel di mukamu😂
Rita
berasa jadul😂
Rita
😂😂😂😂😂😂😂i fell u Va
Rita
😍😍😍
Rita
terAfif Afif skrg🥰
Rita
🥰🥰🥰🥰🥰🥰
Rita
wehh😂😂😂😂sklian praktek
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!