Kanya, 22 tahun, perempuan tegar dalam menjalani hidup yang tidak bersahabat. Masa remaja yang menyakitkan karena perceraian kedua orang tuanya yang berimbas kepada dirinya yang takut untuk jatuh cinta hingga berakibat membuatnya menutup hati untuk para lelaki yang ingin menjadi kekasihnya.
Bersahabat baik dengan Rangga, 27 tahun, yang merupakan tetangga juga teman masa kecilnya. Rangga menyimpan cinta dihatinya untuk Kanya. Dan Kanya menutupi perasaan cintanya kepada Rangga.
Mereka menyimpan rapat apa yang ada di hati mereka demi menjaga sesuatu yang mereka anggap jauh lebih baik dari hubungan apapun, yaitu persahabatan.
Akankah suatu saat mereka bisa saling membuka dan menyatakan isi hati mereka? atau cukup menjadi rahasia di hati saja?
Hanya waktu yang akan menjawab.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lidya Rosalina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Fani Salting!
"Kak! Kak Rangga!" Teriak Kanya sambil melambaikan tangannya ke depan wajah Rangga.
Rangga tersentak dari lamunannya. Ia mengangkat tangannya yang masih berada di atas kepala Kanya.
"Kakak melamun??" Tanya Kanya.
Rangga menggeleng.
"Kenapa?" Tanya Rangga.
"Aku mau ke tempat Kak Devan, kakak anterin yaa!" Pinta Kanya.
"Mau ngapain?"
"Jemput Fani, kan tadi Fani sama kak Devan, sekalian kakak minta maaf sama kak Devan karena udah salah paham!"
"Gak! Ngapain juga kakak minta maaf, kamu telfon Fani aja suruh kesini!" Tolak Rangga.
"Kak Rangga!!! Ayo cepetan!" Seret Kanya. Mau tak mau akhirnya Rangga mengikuti perintah Kanya.
------------------------------...-------------------------------
Sementara di apartemen Devan.
Devan meringis saat Fani mengkompres lebam di pipi dan bibirnya.
"Sakit ya kak?" Tanya Fani.
"Enggak kok, biasa aja!" Jawab Devan
"Kalo ga sakit kok meringis?" Tanya Fani lagi sambil menekan-nekan kain kompres nya ke sudut bibir Devan.
"Adowww, pelan-pelan! Sakit tau!" Teriak Devan.
Fani kaget mendengar teriakan Devan.
"Tadi katanya ga sakit, makanya sedikit aku tekan kompresnya!" Jawab Fani membela diri.
"Ya sakitlah! Di tonjok sampai lebam gini! Sini, Gue kompres sendiri aja!" Sungut Devan sambil mengambil kompres di tangan Fani.
Fani merenggut, ia mengambil Ponsel dari dalam tasnya dan membiarkan Devan mengkompres sendiri lebamnya.
Fani nampak serius dengan ponselnya.
Devan melirik Fani jengkel.
"Buset dah ni cewek, di cuekin gue. Malah serius sama ponselnya. Biasa cewek-cewek pada klepek-klepek kalo dekat gue!" Dumel Devan.
"Ehhemm!" Devan berdehem. Dia melirik Fani, gadis itu tidak menoleh, tetap fokus pada ponselnya. "Bener-bener ni orang!" Batin Devan.
"Uhuk! Uhuk!" Batuk Devan. Fani menoleh.
"Kakak batuk? Mau aku bawain minum?" Tanya Fani.
"Ambilkan gue minuman dingin di kulkas dong, tenggorokan gue kering banget!" Kata Devan.
Fani menggangguk, dia berdiri melihat sekeliling.
"Di sana!" Tunjuk Devan yang paham kalau mata gadis itu sedang menelusuri ruangan apartemennya mencari dapur. Fani mengangguk sambil berjalan kearah Dapur.
Sampai Dapur Fani menoleh ke belakang, dia melorotkan tubuhnya ke lantai di samping kulkas.
"Haduh, mau copot jantung gue dari tadi deg-degan berduaan sama Kak Devan!" Gumam Fani pelan.
Sebenarnya dari tadi Fani hanya pura-pura cuek dan serius dengan ponselnya. Jantungnya berdetak kencang seakan mau keluar saat berduaan dengan Devan. Fani hanya takut terlihat salah tingkah di hadapan Devan karena perasaan nya yang tidak karuan. Fani pun mendumel kenapa Kanya belum juga menjemput nya di apartemen Devan. Fani sudah mengirim pesan ke Kanya. Tapi Kanya tak kunjung membaca pesannya.
"Fan, ngapain kamu selonjoran di situ?" Tegur Devan yang tiba-tiba sudah berdiri di hadapan Fani.
"Eh, Kak Devan, kok di sini, ini aku mau ambil minum kakak, cuma lantainya licin, jadi tadi jatoh, eh malah keenakan duduk di sini, soalnya lantainya adem, hehe!" Cerocos Fani ga jelas.
Devan mengernyitkan keningnya mendengar alasan yang dibuat - buat Fani. Ia membuka pintu kulkas dan mengambil sebotol minuman dingin dari dalamnya. Dan membawanya ke meja makan yang ada di dapur. Devan membuka tutup botol minumannya dan meneguk isinya.
Fani memandang Devan dengan ternganga. Devan yang merasa diperhatikan menoleh ke arah Fani.
"Fan, kalo kamu mau ambil di kulkas, jangan mandang sambil nganga gitu mulutnya!" Tegur Devan.
"Eh, iya kak, ini aku ambil!" Jawab Fani cepat. Ia membuka kulkas dan mengambil 1 botol minuman dingin yang sama dengan Devan.
Fani mencoba menenangkan perasaannya.
"Hadeuh, gue kenapa sih? Kok ga karuan gini dekat kak Devan, jangan-jangan gue suka lagi!" Batin Fani.
Fani menarik nafas dalam-dalam dan menghembuskannya pelan-pelan.
Fani membalikkan badannya dan berjalan ke meja makan. Dan duduk menghadap Devan.
"Fan, kamu sudah lama ya kenal Kanya?" Tanya Devan.
"Dari SMP kak, tapi akrabnya pas udah SMA" terang Fani.
"Berati udah lama dong? Kamu tau hubungan Kanya dan Rangga gimana?"
"Aku sih tau Kanya dan Kak Rangga udah temenan lama, dari masih kecil. Kata Kanya mereka sahabatan, udah anggap kaya Kakak sendiri. Apa lagi Kanya emang udah dekat banget sama keluarga Kak Rangga. Karena ortu mereka sahabatan. Emang kenapa kak Devan nanya gitu?"
"Mau tau aja. Selama ini aku dekat sama Rangga baru sekarang ketemu Kanya. Rangga juga ga pernah cerita" sahut Devan.
"Wajar donk, Kan kak Devan sama kak Rangga kuliah di USA, aku dan Kanya sekolah di sini. Pas kak Rangga balik, aku dan Kanya udah di UK. Karena kita kuliah di sana. Kanya juga baru balik dari UK, karena sebelum lulus kuliah dia udah dapat kerjaan di sana. Jadi dia nunggu kontraknya selesai baru bisa balik ke sini lagi" terang Fani.
"Mereka pacaran?"
"Setau aku tidak sih kak, dari dulu ya mereka emang gitu, kaya orang pacaran. Tapi Kanya emang ga pernah pacaran dari dulu. Padahal banyak juga cowo yang ngejar-ngejar dia, tapi emang dia nya ga mau. Semua temenan aja!" Jawab Fani.
Bel di apartemen Devan berbunyi. Devan berjalan keluar untuk melihat siapa yang datang. Devan melihat monitor tampak Kanya dan Rangga di depan. Ia membukakan pintu apartemennya.
Kanya menyapa Devan lebih dulu. Sementara Rangga masih terlihat kesal.
Devan mempersilahkan kedua orang itu masuk.
Devan duduk di salah satu sofa panjang di ruang tamunya. Mempersilahkan Kanya duduk. Kanya duduk di sofa yang sama dengan Devan. Rangga yang melihat langsung mengambil posisi duduk di tengah di antara Devan dan Kanya.
"Apaan sih lu nyempil, itu sofa masih ada yang kosong!" Dorong Devan.
"Suka-suka gue duduk di mana, elu tuan rumah mestinya siapkan minuman, cemilan, bukan marah-marah!" Sahut Rangga.
"Kalian kenapa sih baru ketemu udah ribut!" Kesal Kanya. Ia berdiri dan pindah ke sofa single.
"Fani mana?" Tanya Kanya sambil memandang Devan.
"Tadi di dapur." Jawab Devan.
"Nah tu nongol orangnya!" Sahut Devan lagi sambil menunjuk Fani.
Fani berjalan ke arah Kanya dan duduk di sofa single sebelah Kanya.
"Kak Devan udah ga papa lebamnya?" Tanya Kanya.
"Masih sakit Nya, soalnya orang kesurupan yang nonjok!" Jawab Devan sambil melirik Rangga.
"Apa lu, ditonjok dikit aja pake ngadu! " Sindir Rangga.
Devan memilih tak memperdulikan ucapan Rangga. Dia malah ngomong ke Kanya.
"Makasih ya Nya, udah mau nolong gue dari orang kesurupan!" Ucap Devan sambil matanya melirik ke Rangga.
"Untung tadi sempat tukeran nomer telepon, kalo ga siapa yang nyelamatkan gue coba!" Sambung Devan jahil.
Rangga yang kesal dengan ulah Devan mengambil miniatur yang ada di meja dan melemparnya ke Devan.
"Tuk!!!" Tepat di kepala Devan.
"Aww! Apaan sih lu Ga?!" Teriak Devan.
"Kak Rangga! Apaan sih, cepetan minta maaf!" Perintah Kanya.
"Enggak, dia yang mulai kok!" Tolak Rangga.
"Jelas-jelas kakak yang lempar, ya udah kalo ga mau minta maaf kita ga pulang-pulang!" Ancam Kanya.
"Iya-iya!" Akhirnya Rangga mengalah. Ia mengulurkan tangannya meminta maaf ke Devan.
"Sorry!" Ucapnya walau terpaksa.
Devan terkekeh, seumur-umur baru kali ini ia melihat Rangga terpaksa mengalah.
"Nah, udah bereskan, kita pulang yuk Nya. Besok kerjaan kita udah nunggu!" Ajak Fani.
"Ya deh, Kak Rangga, kak Devan, aku sama Fani pamit dulu ya!" Ucap Kanya.
"Ga kita antar ni?" Tanya Devan.
"Aku bawa mobil kak!" Tolak Fani.
"Kakak antar ke bawah!" Kata Rangga sambil menarik lengan Kanya. Fani yang melihat langsung cemberut.
"Tu kan jadi kambing congek gue, mana ditinggal lagi!" keluh Fani.
"Kak, tunggu itu Fani ketinggalan!"
"Van, lu antar Fani ke bawah biar ga nyasar!" Perintah Rangga.
Devan geleng-geleng kepala melihat tingkah Rangga.
"Yuk, Fan, aku antar ke bawah!" Kata Devan. Fani menganggukkan. Ia mengikuti Devan berjalan keluar dari apartemen.
"Dari dulu kak Rangga gitu, ga tau Kanya bareng siapa tau main tarik aja! Ga tau entah posesif apa protective, dari dulu ga pernah berubah. Makanya aku males kalo Kanya ngajak yang ada hubungannya sama Kak Rangga. Jadi kambing congek!" Curhat Fani.
"Cemburu?" Goda Devan.
"Iih, ga lah!" Elak Fani.
"Beneran?" Tanya Devan.
"Kalo cowoknya kaya aku gimana?" Goda Devan lagi.
"Apaan sih!" Jawab Fani malu.
Mereka tiba di basement, Kanya dan Rangga menunggu dekat mobil Fani. Fani membuka pintu mobilnya dengan remote. Kanya dan Fani segera masuk ke dalam mobil. Setelah say goodbye mereka pun berlalu meninggalkan apartemen Rangga dan Devan.
...***...
Terima kasih sudah bersedia mampir dan meluangkan waktu membaca novel karya saya😊💐🙏
Mohon dukung karya saya dengan klik suka, berikan vote dan tinggalkan saran dan kesan di kolom komentar ya kak😊😊😊
Sekali lagi, Terima kasih😊💐🙏
nikahnya ma siapa yah??
lophe lophe akuh padamuuu thoR🥰
lanjut ya thor ceritanya benar benar keren
semangat thor
so sweet baget sih. thor terima kasih cerita bikin baper up lagi ya thor semangat 🙏🙏😊