NovelToon NovelToon
Hi, Beth! I Love You

Hi, Beth! I Love You

Status: tamat
Genre:Romantis / Teen / Cintapertama / Cintamanis / Contest / Teen School/College / Romansa-Teen school / Tamat
Popularitas:63.7k
Nilai: 5
Nama Author: Sin Cera

Betty Thompson, merupakan murid baru di Richlands High School. Ia pindah ke Virginia setelah sebelumnya tinggal di California. Betty terbiasa berpindah-pindah tempat tinggal bersama ibunya.

Betty memiliki kepribadian tertutup, tidak banyak bicara dan menolak terlibat dengan banyak orang.

Di Virginia, Betty bertemu dengan orang-orang tak terduga yang perlahan memasuki hatinya.

Menceritakan romansa diantara Betty Thompson dan Daniel McKnight. Daniel merupakan cowok paling hot di sekolah. Entah sejak kapan ia mulai menyukai Betty , tetangga barunya.

Juga menceritakan lingkaran pertemanan baru Betty dengan Inez Robinson, Laura Roberts, Alicia Brook dan Jared James.

...

"Aku bisa mengurus diriku sendiri." —Betty Thompson.

".... Kau harus berhenti bersikap seolah-olah semuanya baik-baik saja, Beth ...." —Daniel McKnight.



Note: Semoga kalian semua suka dengan ceritanya 😊☺. Terima kasih semua yang sudah mau membaca cerita ini 😊😘

This story inspired from Betty by Taylor Swift.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sin Cera, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 15: Berteman?

"Ngomong-ngomong, Daniel. Kenapa kau melarangku berurusan bahkan sampai berpacaran dengan Lucas. Kita bahkan bukan teman," kata Betty. Ia lalu tersenyum jenaka. "Apa kau menyukaiku?"

Daniel mengangkat kedua bahunya. "Mungkin saja."

Kalimat yang dilontarkan Daniel membuat senyum di bibir Betty perlahan hilang. "Apa-apaan?"

———

Sebenarnya Betty awalnya hanya bergurau untuk menggoda Daniel. Akan tetapi, ia benar-benar tetkejut dengan jawaban yang dilontarkan Daniel. Hal tersebut, membuat Betty tertegun sejenak. Bingung hendak mengatakan apa.

Mendapatkan respon diam dari Betty membuat Daniel agak kebingungan. Tiba-tiba Daniel terkekeh kecil. "Aku hanya bercanda," kata Daniel.

"Tentu saja ia hanya bercanda. Apa yang kau pikirkan, Beth!" batin Betty. Betty menyungingkan senyumnya lagi. Kali ini, agak berlebihan. "Tentu saja, aku tau kalau kau hanya bercanda," kata Betty sambil melambaikan tangannya di depan wajah.

Daniel terdiam sejenak. Nampak mengamati Betty. "Benarkah?"

Betty mengerutkan kening samar. "Apa?"

"Benarkah sejak awal, kau tau bahwa aku hanya sekedar bercanda? Bagaimana jika tadi aku serius?" tanya Daniel.

Betty melambaikan tangan di depan wajahnya. "Tentu saja aku tau. Kau tidak mungkin menyukaiku , kita bahkan nyaris tak mengenal satu sama lain," kata Betty sambil berbalik untuk mengambil segelas air. Tenggorokkannya tiba-tiba terasa kering.

"Kalau begitu, kita bisa mencoba untuk saling mengenal," kata Daniel sambil menatap punggung Betty.

Betty membalikkan badannya. "Tapi, kita sudah saling mengenal sebagai tetangga."

"Aku ingin lebih dari sekedar tetangga," Daniel terdiam sejenak. "Apa yang baru saja kau katakan, Daniel!" rutuk Daniel dalam hati.

Betty mengangkat satu alisnya. "Seperti?"

Daniel menggedikkan bahunya. "Teman mungkin," katanya sambil lalu.

"Maafkan aku. Bukan bermaksud tidak sopan karena menolak tawaranmu. Tapi, aku tidak ingin berurusan dengan terlalu banyak orang," kata Betty sambil tersenyum sopan.

"Tapi, kau berteman dengan James," kata Daniel.

"James? Jared James, yang kau maksud?" tanya Betty.

"Ya. James yang mana lagi, yang sedang dekat denganmu?" balas Daniel.

"Oh," Betty hanya ber-oh ria.

"Apa kalian berkencan?" tanya Daniel penasaran.

Betty mengerutkan keningnya, kemudian terkekeh. "Tentu saja tidak! Kami hanya berteman."

"Jadi, kau bisa berteman dengannya? Tapi, tidak denganku?" Daniel mengangkat satu alisnya.

"Bukan begitu maksudku—"

"Baiklah, kalau begitu kau tidak masalah, jika berteman denganku," putus Daniel.

"Mengapa kau—" Betty hendak protes. Tapi suara ibunya memutus kalimatnya.

"Beth, apakah kita kedatangan tamu? Aku melihat sepatu ... oh ... kau Daniel, bukan?" Emily muncul dari balik pintu.

Daniel mengalihkan pandangannya ke arah Emily Thompson yang baru saja pulang bekerja. "Hi, Mrs. Thompson," sapa Daniel ramah.

"Emily, saja," balas Emily.

"Bu? Tidak biasanya ibu pulang jam segini," komentar Betty.

Emily mengangkat bahunya acuh sambil mengambil segelas air. "Aku sengaja mengambil cuti setengah hari. Aku hanya ingin memastikan bahwa anakku tak melakukan hal bodoh saat dia tidak bersekolah, karena di skors."

Betty memutar matanya. "Ayolah, Bu. Tak perlu berlebihan."

Emily menegak air mineral dari gelas di tangannya, lalu berkata, "sebenarnya aku hanya pulang untuk mengambil beberapa dokumen yang tertinggal," jelas Emily.

"Dokumen?" tanya Betty.

"Kurasa, kita akan tinggal cukup lama di kota ini. Aku suka suasananya. Jadi, ketika mereka memberikan tawaran pekerjaan yang cukup bagus, aku tidak akan menolaknya," jawab Emily panjang lebar.

"Kenapa tiba-tiba ingin menetap, sih?" gerutu Betty.

Emily mengangkat bahunya sambil meletakkan gelas yang isinya sudah tandas, ke atas meja pantry. "Kurasa kau juga senang dengan kota ini. Buktinya saja kau sudah memiliki banyak teman... itu tidak seperti biasanya. Bahkan sekarang kau sudah mau berteman dengan tetangga kita, dan mengundangnya ke rumah," ia melirik ke arah Daniel yang dari tadi hanya menyimak obrolan mereka berdua.

"Aku tidak berteman dengannya," protes Betty.

Emily menoleh ke arah Daniel. "Apa kalian berteman?"

"Kurasa kita baru saja berteman beberapa menit yang lalu," jawab Daniel.

Mendengar jawaban Daniel, Emily mengalihkan pandangan ke arah anaknya. "Tapi, Daniel bilang kalian berteman." Emily melirik ke arah setoples cookies di hadapan Daniel. "Kau bahkan memberinya cookies," imbuhnya. Ia sengaja menggoda anaknya yang sekarang nampak salah tingkah.

Terdengar dering telpon dari saku baju Emily. Emily mengeluarkan ponselnya, dan menatap layarnya sejenak. Ia lalu nampak mulai mengetik sesuatu.

Emily mengangkat pandangannya dari ponselnya. "Aku harus pergi. Daniel, kurasa kita harus melanjutkan perkenalan kita lain waktu," katanya kepada Daniel.

"Senang mengobrol denganmu, Em," Balas Daniel.

"Tentu saja," Emily lalu segera pergi menuju kamarnya. Beberapa menit kemudian ia keluar lagi. "Kalian anak-anak, mengobrolah lagi. Aku harus pergi," kata Emily sambil berjalan keluar.

"Ya, Bu. Berhati-hatilah di jalan," balas Betty yang sudah mengekori ibunya ke pintu depan rumah.

Emily menghentikan langkahnya sejenak. Ia menoleh ke arah anaknya dan juga Daniel yang sekarang sudah berdiri bersebelahan. "Jangan mengobrol sampai terlalu larut malam. Dan juga... jangan berhubungan sex, aku tak mau kau hamil sebelum lulus se—"

"Bu!" Betty berteriak, memotong perkataan ibunya yang semakin tak masuk akal.

Daniel terkekeh. "Tenang saja, Em. Kami tidak akan melakukannya. Setidaknya sampai Betty lulus sekolah," gurau Daniel.

Betty menoleh ke arah Daniel dengan tatapan membunuh. "Aku tidak—"

" Well, aku mempercayaimu Daniel," kata Emily sambil tersenyum jenaka. "Aku pergi dulu, kalau begitu. Dah."

....

"Kurasa, aku juga harus pergi," kata Daniel kepada Betty saar Emily sudah hilang dari pandangan mereka berdua.

"Tidak ada yang menahanmu," kata Betty ketus. Sambil kembali masuk ke dapur dan menegak segelas air.

"Kau marah padaku?" tanya Daniel.

"Tidak!"

"Tapi, kau tampak kesal."

"Aku tidak kesal. Astaga, Daniel," balas Betty.

"Baiklah kalau kau berkata begitu." Daniel terdia. sejenak. "Makan malam di rumahku?" tawarnya kepada Betty.

Betty membuang nafasnya pelan. Ia bingung, kenapa juga ia harus merasa kesal. "Tidak. Aku akan makan malam di rumah. Sendiri," jawabnya.

"Ayolah, kurasa ibuku akan senang jika kau mau makan malam di rumahku."

"Tidak. Aku bisa mengurus diriku sendiri."

Daniel mengangkat setoples cookies di tangannya. "Anggap saja sebagai bayaran atas cookies-cookies lezat ini."

"Aku tidak memberikannya untuk mendapatkan balasan."

"Tapi, aku ingin membalasmu. Ayolah, terima saja niat baikku," kata Daniel sambil tersenyum membujuk.

Betty nampak berpikir sejenak. Ia menggigit sedikit bibir bawahnya, lalu mendongakkan wajahnya untuk menatap Daniel. "Baiklah. Akan kupertimbangkan," katanya pelan.

Daniel menyunggingkan senyum lebarnya. "Baiklah kalau begitu. Sudah diputuskan. Kau akan makan malam di rumahku."

"Hei, aku bilang, aku akan mempertimbangkannya," protes Betty.

Daniel mengangkat bahu acuh. "Tapi, aku menganggapnya sebagai persetujuan."

"Sudah kubilang—"

"Baiklah, aku pulang dulu kalau begitu. Dah," kata Daniel sambil melambaikan tangan dan segera berlalu pergi, menolak mendengar apapun yang akan dikatakan Betty.

1
Lies Atikah
daniel kurang laki gak ada gereget nya apa2 gak jelas kelamaan ama cewe gatel juga gak tegas tau ah jadi ngeselin
Lies Atikah
dibujeng enggalna nya thor
Lies Atikah
Daniel kalah sama Daren aku suka sipat nya Daren gak munafik
Lies Atikah
ayo Bet jangan terlalu kaku sama Danil
Evitha Junaedy
sukses sll thor...
Evitha Junaedy
aduuuh hati2 betty...kdg apa yg trlihat tuh blm tentu kebenarannya
Evitha Junaedy
greget klw suka blg suka 😆
Evitha Junaedy
y ampun lucu bgt darren..
Evitha Junaedy
manis sekali.daniel...
Evitha Junaedy
y benr bantu daniel kasian betty...
Evitha Junaedy
aku makin greget dah...
Evitha Junaedy
aku suka karakter betty ni
Evitha Junaedy
😚😚
Evitha Junaedy
aku suka novel klw ceritanya d luar negri gt...
Vera Veronica
hm
atmaranii
lah msa Daniel gk peka..msa iyh hbis ngliat bgtuan trus beti blg suka gtu..GK mgkinlh bkin malu ajh...beti jg PNY harga dr
atmaranii
crtanya kliatan natural...realistis...GK brlbhan..aku suka
Sin Cera 😉: makasih bgt kak dah baca novelku 😊😉
total 1 replies
atmaranii
mnarik
Elkuna
yah kok habis thor, kenapa cerita mereka pacaran nggk diceritain, belum lagi nikah, terus punya anak 😂🤣. itu setelah pacaran cobaannya lebih banyak loh 😗
Elkuna
mampus kau axel, mamam tuh 😏
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!