Cinta Tapi Menyakitkan, adalah kisah sebuah rumah tangga Anindita Putri dan Elnino Karisma.
El menikahi Anin karena ingin melupakan istrinya yang meninggalkan dirinya begitu saja. Sementara Anin karena sudah jatuh cinta pada El, akhirnya mau dinikahi.
Saling menyakiti bermula ketika Anin tahu bahwa El sudah pernah menikah, dan belum menceraikan istri pertamanya. Pernikahan untuk El adalah sebuah cara untuk melupakan istri pertamanya, dan belum memiliki perasaan cinta pada sosok Anin yang membuat Anin sangat tersakiti.
Anin berusaha untuk bangkit sendiri, dalam sakit hatinya, tiba-tiba banyak sosok pria dengan tulus mencintai Anin dan membuat Anin merasa di cintai, tapi dalam kondisi Anin tidak bisa bercerai dengan El.
Penasarankan bagaimana akhirnya kisah cinta Anin dan El? Akankah El kembali pada istri pertamanya, atau akan tetap bertahan dengan Anin, dan mencintainya?
Yuuuk baca Novel ini sampai akhir 😉
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Felicialetha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Menunggu
Hari ini tepat 3 hari Anin di tinggalkan oleh El, itu tandanya El akan kembali pulang ke Jakarta. Anin sangat senang, ia sudah tak sabar menunggu ke pulangan suaminya itu. Anin diberitahu El bahwa ke pulangannya akan larut sore.
Sedari pagi Anin sudah menyiapkan banyak hal, untuk menyambut kepulangan suaminya itu. Anin sudah menyiapkan masakan-masakan kesukaan El, bahkan Anin sudah berdandan rapi dan wangi.
Hari ini El akan bekerja ke lapangan untuk terakhir kalinya, bersama dengan Reno.
Tiba-tiba Elvira datang menghampiri, El dan Reno yang sudah siap untuk berangkat itu.
"El.. Kamu mau pulang hari ini?" tanya Elvira karena ia tahu dari data di Resortnya
"Hasil test itu keluar 2 hari lagi.." ucap Elvira mengingatkan
El terdiam dan ia mengingat semuanya.
"Kau benar.." jawab El dingin
"Jangan dulu pulang, tunggulah sebentar lagi.. Anak mu butuh pendekatan dengan mu.." ucap Elvira mencoba menahan El
"Saya akan pergi kerja lapangan dulu.." ucap El tetap dengan wajah datarnya, lalu naik ke dalam mobil yang sudah terbuka pintunya sedari tadi
Elvira melihat kepergian El dan Reno dalam mobil itu, begitu juga dengan Erina yang memperhatikan percakapan ibunya dengan El, ikut melihat kepergian itu.
"Mami, apa itu ayah ku?" tanya Erina pada Elvira
Elvira hanya tersenyum manis kearahnya.
"Aku tidak ingin ayah seperti itu! Dia begitu sombong untuk ku!" ucap Erina sembari pergi melangkahkan kakinya
"Erinaaa Tunggu sayang" ucap Elvira mencoba menahan Erina yang ngambek itu
"Dia ayah mu, dia sangat baik kok.. Kalian belum saling mengenal saja, mungkin nanti setelah kalian saling mengenal, kamu akan menyukainya" ucap Elvira menasihati putrinya itu pelan-pelan
...----------------...
Hari semakin larut sore, Elvira masih menunggu kepulangan El dan Reno di depan Resort. Sementara Erina sudah berada dirumah.
Tak lama mobil datang membawa El juga Reno kembali ke Resort.
Elvira melihat itu, dengan tak sabar ia menghampiri El dan Reno dengan cepat.
"El, tunggu" ucap Elvira menahan langkah kaki El
El menoleh dengan cepat, begitu juga dengan Reno.
"Jadi bagaimana keputusan mu? Tinggallah sebentar lagi disini.. Aku mohonnn.." ucap Elvira sembari menguncupkan kedua tangannya
"Percaya sama aku, dia benar-benar anak kamu! Dia butuh pendekatan dengan mu" lanjut ucap Elvira meyakinkan sebuah alasannya
El dan Reno saling tatap, tak ada pembicaraan apapun di antara mereka. Elvira terus memperhatikan El dan Reno juga.
"Baiklah aku akan menunggu sampai test DNA itu keluar. Kamu pulang saja duluan ke Indonesia, urus pekerjaan kita" ucap El pada Elvira, lalu bergantian memandang Reno
Reno mengangguk mengerti, lalu melangkahkan kakinya menuju kamar Resort untuk segera check out, begitu juga dengan El ia harus mengambil segera barang-barangnya, karena ini adalah jadwal check out mereka.
Elvira masih mengikuti El dan Reno hingga mereka selesai membawa barang-barang milik mereka, dan menghampiri resepsionis.
"El tunggu.." ucap Elvira menahan ketika El akan kembali memesan kamar Resort untuk dirinya
El menoleh ke arah Elvira yang ada di dekatnya itu.
"Tinggallah bersama kami, agar Erina bisa lebih dekat dengan kamu.." ucap Elvira pada El
El masih terdiam, ia tak belum menjawab apapun soal itu. El berpikir dalam diamnya.
"Mungkin jika tinggal bersama aku bisa mencari tahu yang lebih dari ini" ucap El dalam batinnya.
"Kamu tenang saja El, aku ini masih istri sah kamu loh.. Gak akan ada yang berani bilang apa-apa kok, percaya yaaa" ucap Elvira meyakinkan
Perasaan El menjadi tak enak ketika Elvira masih mengakui sebagai istri sah dari El, begitu juga dengan Reno yang langsung merasa ada yang salah.
"Ok aku ikut tinggal" ucap El pada Elvira
Reno menatap tajam ke arah El, seakan tatapan itu mematikan.
"Tenanglah, aku sudah atur rencana!" ucap El berbisik pada Reno sebelum akhirnya mereka saling berpisah
Reno menaiki taxinya untuk ke Bandara dan pulang kembali ke Jakarta, sementara El berjalan menyusuri jalanan resort untuk menuju ke rumah kecil Elvira dan Erina itu.
Elvira membukakan pintu masuk untuk El, lalu El mengikuti masuk kedalam dengan kopernya.
"Silahkan masuk, mari langsung ke kamar" ucap Elvira langsung menaiki anak tangga hendak ke lantai atas dimana ada kamar-kamar
"Iya.." jawab El singkat
Rumah yang sunyi tak banyak suara, adem dengan pencahayaan lampu redup. El terus mengikuti langkah Elvira untuk masuk kedalam.
"Silahkan kamu bisa istirahat disini.. Tenang saja, walau aku tahu kita masih suami istri tapi kita sudah lama berpisah, dan kita tidak mungkin untuk sekamar lagi bukan?" ucap Elvira panjang lebar sembari memegang dada El dengan manjanya seolah menggoda El
"Kita sudah bukan suami istri sah, sudah jatuh talak ku!" ucap El dengan tegas lalu masuk kedalam kamar dan menutup pintunya sedikit kencang
Elvira merasa kaget, ia kira El akan kembali tergoda oleh dirinya. Elvira sudah menyusun rencana untuk besok ia kembali jalani.
...----------------...
Waktu sudah semakin larut malam, Anin sangat bersemangat untuk menyambut kepulangan El. Makanan-makanan sudah tertata rapi di meja makan, Anin sudah berdandan dengan cantik dan rapi.
Ia menunggu dirumah karena memang El tidak mengizinkannya untuk pergi keluar.
Senyumnya mengembang tatkala jam semakin mendekati pukul 8 malam. Sesekali Anin berjalana ke ruang tamu, membukakan jendela melihat keluar berharap ada mobil yang membawa suaminya pulang.
Waktu terasa semakin cepat berganti, malam semakin larut. Bulan semakin terlihat sinarnya. Anin hingga lupa dengan malam. Waktu sudah menunjukan pukul 11, Anin melangkah gontai kembali ke ruang makan dan menutup kembali makanan yang sudah tersedia. Anin terduduk di kursi meja makan itu, dan menundukan dagunya di meja.
"Bu Anin, lebih baik menunggunya sembari tidur saja, biar bibi yang buka kan pintu untuk Bapak.." ucap Bi Inem dengan lembut pada Anin yang terlihat sangat lelah itu dimeja makan
"Gak apa-apa Bi, saya disini saja.. Bibi tidur aja.. Inikan sudah waktunya Bibi untuk istirahat" jawab Anin tak ingin merepotkan asisten rumah tangganya itu
Inem sangat merasa kasihan melihat istri majikannya itu yang sampai tidur di atas meja makan. Tak ada telepon yang kunjung masuk ke ponsel Anin pun.
Inem memperhatikan sedari jauh, tanpa Anin melihatnya. Inem sangat merasa dekat dengan Anin karena mereka hanya tinggal berdua saja dirumah itu.
"Bapak sebenarnya kemana sih, ini sudah tengah malam begini. Lindungi Bapak ya Allah, jauhkan dari segala macam bencana" ucap Inem dalam hatinya karena ia malah khawatir kalau El terkena kendala saat naik pesawat.
Anin terbangun, ketika pipinya di cium oleh nyamuk-nyamuk kecil. Ia melihat ke arah ponselnya sudah pukul 2 pagi, belum juga ada tanda-tanda El pulang. Anin merasa cemas, ia mencoba menghubungi El, tersambung hanya saja tidak ada jawaban apapun.
"Kamu kemana sih?" ucap Anin dengan menahan kesalnya dan tangisnya
Anin penasaran lalu membuka aplikasi google untuk mencek berita, takut ada berita kecelakaan pesawat. Namun ternyata tidak ada juga. Hati Anin semakin kesal ketika melihat berita bahwa pesawat yang seharusnya ditumpangi oleh El sudah tiba dan penumpang sudah kembali kerumahnya masing-masing.
"Kemana sebenarnya kamu ini? Ada apa sama kamu? Kamu berubah semenjak hari kedua di Singapur!" ucap Anin pelan dengan meneteskan air matanya
Anin memutuskan untuk berjalan ke kamarnya, dan mengganti pakaiannya dengan baju tidur. Isak tangis tak dapat ia hindari, sesegukan terdengar dari luar kamar. Inem yang sebenarnya tidak tidur sedari tadi mendengar isakan tangis itu.
"Ya Allah Bu Anin sampai menangis gitu.. Wajar saja ia kesal sama Bapak. Sebenarnya Bapak kenapa toh?" tanya Inem pada dirinya sendiri