Canna adalah seorang gadis desa biasa yang di nikahi seorang pengusaha ternama secara diam-diam, setelah insiden memilukan. Bahkan tanpa sepengetahuan dirinya sendiri. Ia mulai menyadari sesuatu saat hatinya sudah mulai terbuka.
Namun, kesungguhan yang diperlihatkan Delano padanya tidaklah nyata. Lelaki tampan itu hanya menginginkan seorang bayi darinya. Setelahnya ia akan menceraikannya.
Rasa cinta yang mulai tumbuh dalam diri Canna, berbaur menjadi rasa benci.
Bagaimanakah nasib rumah tangga mereka kedepannya? Bercerai ataukah bertahan? Mampukah Canna melindungi buah hatinya dari orang-orang yang ingin mengambil keuntungan darinya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon La Sha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pesta
Selama di dalam mobil, Canna terlihat melamun dan menatap kearah luar jendela mobil.
"Apa menariknya menatap jalanan berdebu itu, aku lebih tampan dari pengguna jalanan lainnya."
Canna memalingkan wajahnya menatap sekilas Delano yang berbicara dengan narsisnya. Ia mengedikkan kedua belah bahunya dan kembali menatap kearah jalanan seperti semula. Dan itu semua berhasil membuat Delano berdecak kesal karenanya.
"Sekali lagi kamu mengacuhkanku seperti itu, maka seluruh pengguna jalanan ini tidak akan aku izinkan untuk melewati jalanan yang kita lewati ini!"
Canna membulatkan matanya, beralih menatap Derris yang duduk tegap di depan mereka, di samping sopir. Lelaki itu terlihat biasa saja dengan ucapan Delano, bahkan seolah tidak masalah baginya dengan hal yang barusan.
"Sekali lagi kamu menatapnya, maka dia juga akan aku pecat!" ancam Delano kembali.
Canna menundukkan kepalanya, mencoba menahan amarahnya karena sifat laki-laki di sampingnya yang selalu mengancamnya dengan berbagai hal.
"Kenapa menatap kebawah? Apakah sepatumu lebih cantik dari wajahku sehingga kamu hanya menatapnya saja sedari tadi?"
Lagi, suara menyebalkan Delano terdengar hingga ke telinga Canna. Membuat wanita itu semakin kesal karenanya.
"Diam! Kamu sangat cerewet!" teriak Canna marah. Matanya melotot menatap Delano yang melirik kearahnya.
"Lelaki ini benar-benar!" Canna mengepalkan kedua belah tangannya. Lelaki ini benar-benar menguji kesabarannya, bahkan membuatnya cepat mati karena darah tinggi.
"Dan jangan menggangguku lagi. Kamu bahkan lebih jelek dari bebek buruk rupa!" ucap Canna dingin dengan tatapan kebenciannya.
Delano menggenggam tangannya erat, menatap Canna dan menyeringai. Membuat wanita itu meneguk ludahnya kasar.
Seringaian Delano adalah sebuah bencana bagi Canna, seringainya begitu mematikan.
Delano berdecih, menarik dasi yang terasa mencekik lehernya. Harga dirinya dilukai oleh seekor kelinci lemah di depan sopir dan asistennya.
"Matilah aku!!" Canna membatin melirik tajam kearah Delano.
Tangan Delano bergerak meraih tengkuk Canna dan langsung ********** kasar untuk melampiaskan amarahnya. Tetapi sedetik kemudian ******* itu berubah menjadi lembut. Ia tersenyum samar di balik ciumannya. Wanita ini terlalu keras kepala, apa susahnya kalau dia mencoba untuk menurut saja. Semua juga tidak akan berubah.
Harus bagaimana lagi ia membuat wanita ini agar tunduk padanya dan harus bersikap seperti apalagi agar wanita ini mau menghargainya.
Canna menarik wajahnya dan ingin menyeka bibirnya tetapi Delano sudah menyekanya terlebih dahulu dengan jari jempolnya.
"Tidak ada yang boleh menyapu ciumanku seperti ini, kecuali aku sendiri," bisik Delano. Mengakhiri sekaannya dengan jilatan.
Canna melirik kearah depan, Derris dan sopir masih bersikap layaknya patung. Seolah tidak terjadi apa-apa di belakang mereka.
"Mereka tidak akan perduli dengan apa yang akan kita lakukan barusan, walaupun kita bercinta di depan mereka sekalipun!"
Canna memalingkan wajahnya. Bercinta? Benarkah Delano menganggap hubungan yang mereka lakukan adalah bercinta? Bukankah seharusnya ia mengakui kalau ia melakukannya dengan paksaaan. Bukankah itu sama saja dengan pemerkosaan. Harga diri Canna benar-benar terluka, terlebih dengan kata bercinta. Bukankah itu artinya Canna juga menginginkannya.
Tangan Canna terkepal erat. Harga dirinya sebagai wanita begitu di rendahkan. Seolah disini dialah yang begitu menikmati setiap kesakitan yang di berikan oleh Delano. Canna menahan kesalnya.
"Kita sudah sampai. Ingat! Jangan pernah kamu lepaskan tanganmu dari lenganku!" perintah Delano.
Canna hanya diam tanpa menggubrisnya, meninggalkan Delano keluar dari mobil terlebih dahulu.
"Wanita itu!" Delano kembali berdecak dan meraih tangan Canna. Menarik Canna agar tetap berjalan disisinya.
Canna tampak acuh dengan suasana pesta yang baru di masukinya. Ini adalah kali pertamanya memasuki pesta para konglomerat. Semuanya tampak sangat mewah.
Seandainya ia mempunyai handphone seperti dulu, sudah ia pastikan untuk memvideo dan menggunggah semuanya di Instragram miliknya. Tapi karena postingan itu jugalah dia harus terperangkap dengan lelaki dingin seperti Delano.
Canna seolah sudah melupakan keberadaan Delano yang berada disisinya karena saking terperangah ya pada dekorasi pesta.
"Siapa wanita ini, Delano? Aku baru pertama kali melihatnya."
Sean, sahabat Delano menatap kearah Canna dari ujung kepala hingga keujung kaki. Tetapi wanita itu tidak perduli sama sekali. Ia masih sibuk melihat seluruh ruangan pesta yang begitu mewah dan menilainya.
"Jaga matamu Sean kalau kamu masih ingin melihat isi dunia ini beserta kesenangan yang ada di dalamnya!" ancam Delano.
Sean terkekeh mendengarnya.
"Kamu begitu posesif terhadapnya Delano. Tidak salah sih, dia juga terlihat sangat cantik, bagaikan putri yang bersanding dengan seorang pangeran! Sangat cocok denganmu!"
Delano menatap tajam Sean.
"Jangan gannggu aku, pergilah dari hadapanku. Kamu membuat mataku sakit!" usir Delano.
"Baiklah. Aku tidak akan mengganggu waktu kebersamaan kalian. Tetapi tidak ada salahnya kan kalau kamu memperkenalkan nama wanita cantik ini padaku?"
Delano semakin mempererat pelukannya di pinggang Canna, merapatkan posisi mereka. Menatap tidak suka kearah Sean yang tertarik pada Canna. Dan sean adalah seorang player. Ia tidak akan membiarkan semua itu terjadi.
"Tenang saja. Aku hanya ingin tahu namanya saja, tidak akan merebut sesuatu yang sudah menjadi milikmu. Tidak ada yang salah bukan?"
Delano semakin menatap Sean tajam membuat lelaki itu berdecak beberapa kali.
"Baiklah. Baiklah. Aku akan meninggalkan kalian berdua disini. Jadi, bersenang-senanglah."
Sean melambaikan tangannya kearah Delano tetapi tidak di gubris oleh Delano sama sekali.
"Apakah kamu mau mencicipi hidangannya?" Delano membuka suara. Tetapi Canna tidak meresponnya sama sekali.
"Ck ck ck. Wanita ini!" Delano berdecak saat mendapati Canna yang masih terpana melihat dekorasi ruang pesta.
"Jaga matamu, jangan sampai kamu kelihatan konyol di hadapan mereka semua," bisik Delano.
Canna terperanjat, ia menjauhkan sedikit kepalanya. Hembusan napas Delano menggelitik di kulit lehernya.
"Tenang saja. Aku pasti akan membuatmu malu di pesta ini karena sudah salah membawaku kesini. Wanita kampungan dan udik!" sahut Canna acuh.
Ia melepaskan tangan Delano dan berjalan kearah stand makanan yang baru dilihatnya.
"Hei. Sudah aku bilang padamu agar jangan jauh-jauh dariku. Nanti kamu akan tersesat!" Delano mensejajari langkah Canna.
"Tersesat?" Canna menatap Delano dengan remeh. "Aku tidak akan tersesat di tempat seramai ini," sahutnya sombong. Canna menatap berbagai prasmanan yang tersaji disana, meneguk ludahnya beberapa kali.
"Bagaimana dengan di kediamanku dulu saat kamu mencoba untuk kabur. Bahkan kamu mencari pintu keluar selama 2 jam lamanya. Hingga salah memasuki kamar. Apakah itu tidak tersesat namanya?"
Canna terdiam, ia membeku dan melirik kearah Delano yang mengejeknya.
"Jangan perlihatkan wajah idiotmu itu, Tuan Delano!"
Canna segera berbalik dan menjauhi Delano yang terkejut mendengarnya. Wanita ini benar-benar penuh kejutan. Semakin mengenalnya maka semakin tertarik untuk memilikinya.
Delano mengikuti langkah Canna dengan matanya, wanita itu menuju kearah stand makanan yang lain. Mengambilnya satu dan mencicipinya. Terlihat jelas dari wajahnya kalau ia begitu menikmati makanan tersebut.
Mata Delano menajam saat melihat Pinus berjalan kearah Canna. Dengan cepat Delano menghampiri Canna, tetapi terlambat. Pinus sudah terlebih dahulu berada dihadapan Canna.
"Canna? Kamukah itu?"
Canna menghentikan kunyahannya dan mendapati Pinus yang sudah menatapnya dengan tersenyum. Canna terpana dalam sekejap, melupakan makanan yang ada ditangannya.
"Kak Pinus juga kesini?" tanya Canna tanpa basa-basi.
"Iya. Kebetulan aku juga diundang." Pinus menatap lekat Canna.
"Kamu, bersama siapa kamu kemari?" tanya Pinus.
Canna berdehem sesaat, melirik ke kanan dan ke kiri.
"Tuan Delano yang memintaku sebagai pasangannya. Waktu itu aku menolaknya, tetapi ia memaksa. Sekarang aku tidak menyesal untuk ikut dengannya karena disini terdapat banyak makanan!" sahut Canna polos disertai tawa renyahnya.
"Bagus kalau kamu menikmatinya!" tangan Pinus mengacak pelan rambut Canna.
Tangannya kembali bergerak kearah Canna, terangkat ke wajahnya. Canna menatapnya terkejut.
"Ada makanan di pinggir bibirmu!"
Belum sempat tangan Pinus menyentuh ujung bibir Canna, Delano sudah menghalanginya dengan berada di depan mereka berdua.
"Kenapa kamu makan seperti anak kecil, wajahmu belepotan." Delano menyerahkan sapu tangan miliknya.
"Sapu sendiri! Tidak perlu minta bersihkan dengan orang lain! Kamu sudah dewasa," sindir Delano melirik Pinus tajam. Ia tampak sangat kesal dengan sikap manis Canna pada Pinus.
"Apa kabar Tuan Pinus?" Delano berbalik dan menatap Pinus dengan tatapan menantang.
"Baik!" sahut Pinus kembali menurunkan tangannya. Ia cukup terkejut melihat sikap Delano terhadap Canna. Ia yakin kalau hubungan mereka berdua tidak sesederhana ucapan Canna.
"Sepertinya kalian sangat akrab. Kalau boleh tau, ada hubungan apa diantara kalian berdua?"
Delano menyimpan kedua belah tangannya di balik saku celananya.
"Kami hanya teman!" sahut Pinus melirik kearah Canna yang menunduk.
"Baguslah kalau hanya teman. Itu artinya, Tuan Pinus harus menjaga sikap dengan Canna karena dia adalah pasanganku malam ini!" sahut Delano meraih pinggang Canna dan mendekapnya erat.
Pinus mengangguk, tangannya tergerak meraih kepala Canna, kembali mengacaknya pelan. Membuat Delano marah.
"Lain kali kita akan bicara lagi, aku akan bertemu seseorang dulu!"
Delano menatap Canna tajam, wanita itu mendengus dan berbalik pergi. Dengan cepat Delano meraih tangannya.
"Kepalamu kotor, sini aku bersihkan!"
Delano menyapu rambut yang di sentuh oleh Pinus dengan saputangan miliknya yang baru, membuat Canna melotot.
"Kamu adalah pasanganku malam ini. Jadi, jaga sikapmu jangan sampai membuatku malu!"
Delano mengakhiri kegiatannya, menarik Canna kearah kursi yang ada disana.
"Duduklah. Makan makananmu sampai habis. Tidak baik makan sambil berdiri."
Canna terdiam sesaat, ia tidak mengerti dengan sikap Delano yang sebenarnya. Terkadang lelaki ini baik padanya dan terkadang lelaki ini selalu membuatnya kesal seperti bonglun.
Canna menyentuh rambutnya.
"Rambutku acak-acakan karenamu!" ucap Canna kesal.
"Salahkan Pinus yang dua kali mengacaknya!" sahut Delano kesal. Ia membuang sapu tangan miliknya kearah tempat sampah. Membuat Canna melongo karenanya. Sepertinya Delano benar-benar orang yang gila kebersihan, bahkan saputangan yang tidak kotor pun sudah dibuangnya saat bersentuhan dengan benda... rambut? Apakah rambutku sekotor itu? Canna menatap Delano tajam saat menyadarinya.
***
kau anggap apa jika ada wanita lain kayak gini, saat kalian (author dan reader) berbuat salah pada suami kalian dan rumah tangga kalian ada masalah dan datang wanita lain yang mendekati dan selalu baik pada suami kalian, wanita itu selalu merayu dan selalu mencari cara mendekati bahkan wabita itu menyarankan suami kalian untuk bercerai dan suami kalian juga bersikap baik pada suami kalian,
jadi kalian anggap apa wanita kayak gini, setelah kalian menilai maka kalian bandingkan sikap kalian pada louis, disitu lah kalian bisa lihat sifat aslinya kalian?