NovelToon NovelToon
Pewaris Makam Para Raja 2

Pewaris Makam Para Raja 2

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Epik Petualangan / Fantasi
Popularitas:19.2k
Nilai: 5
Nama Author: ex

Beranjak dari takhtanya sebagai penguasa berdarah di perbatasan selatan.

Lin Xiao kini melangkahkan kaki ke dalam pusaran konspirasi mematikan Kota Awan Suci, tempat di mana eksistensi Jiwa Murni berkeliaran layaknya prajurit biasa dan Empat Sekte Suci mengendalikan langit.

Di musim kedua ini, tirai misteri Makam Para Raja perlahan ditarik lebih lebar melalui sebuah ekspedisi menegangkan ke dalam reruntuhan dimensi kuno yang tidak hanya menguji batas kekuatannya untuk menembus ranah Jiwa Murni, tetapi juga menguak luka, penyesalan, serta masa lalu dari para roh kaisar yang bersemayam di dalam tubuhnya.

Ditemani oleh Xue Mingyue, raksasa setia Meng Shan, dan seorang gadis bercadar misterius yang menyimpan rahasia terdalam dari pusat benua, Lin Xiao harus menyeimbangkan ambisi penaklukannya dengan ikatan emosional yang semakin kuat, membuktikan bahwa di balik arogansi dan kekejaman seorang Kaisar Bayangan, terdapat jiwa manusiawi yang terus berjuang mendobrak takdir para dewa.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ex, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 15

Udara di dalam Labirin Dimensi Rubik semakin menipis hingga membuat paru-paru terasa seperti sedang dibakar dari dalam.

Nona Yue mulai terbatuk pelan, wajahnya memucat drastis akibat kekurangan oksigen saat mempertahankan proyeksi peta tiga dimensi.

"Tiga blok lagi, Tuan Lin Xiao!" teriak gadis bercadar itu dengan suara yang terdengar semakin serak.

"Blok biru, perak, dan hitam di sudut kanan atas harus digeser secara bersamaan ke pusat rubik!"

Meng Shan melompat meraih blok perak, namun putaran dinding di sisinya mendadak berakselerasi menjadi sangat liar.

Wush.

Pemuda raksasa itu nyaris terlempar ke dalam pusaran hampa dimensi jika dia tidak menancapkan kapaknya ke dinding.

"Perputarannya terlalu cepat, aku tidak bisa mencengkeram batu sialan ini!" raung Meng Shan bergelantungan dengan susah payah.

Lin Xiao menyadari bahwa sisa waktu mereka tidak akan cukup jika harus menunggu putaran blok itu melambat secara alami.

"Xue'er, gunakan es abadi milikmu untuk membekukan engsel putaran dinding itu sekarang juga!" perintah Lin Xiao tanpa keraguan.

Xue Mingyue tidak membuang tenaga untuk menjawab, dia langsung melesat ke tengah ruangan dan menghunuskan pedangnya ke lantai.

Sss.

Gelombang udara dingin yang luar biasa pekat meledak dari tubuh gadis pewaris es utara tersebut.

Pilar-pilar es merayap naik dengan sangat cepat, membekukan celah-celah di antara blok batu raksasa yang sedang berputar.

Kriet. Krak.

Perputaran rubik dimensi itu seketika melambat secara drastis akibat gesekan es abadi milik Xue Mingyue.

"Sekarang, Raksasa!" teriak gadis es itu dengan napas yang mulai tersengal-sengal karena otak mulai kekurangan udara.

Meng Shan langsung menggunakan pijakan es tersebut untuk melompat dan mendorong blok perak ke tengah ruangan.

Di sisi lain, Lin Xiao melesat layaknya bayangan hitam, menendang blok biru dengan tenaga fisik absolut dari Tubuh Raja Darah.

Brak. Brak.

Dua blok kunci itu masuk ke posisinya masing-masing, menyisakan satu blok hitam terakhir yang menggantung di langit-langit.

Namun saat itu juga, sisa udara di dalam ruangan tersebut benar-benar habis tersedot dimensi hampa.

Nona Yue jatuh berlutut sambil memegangi dadanya, proyeksi peta di tangannya mulai berkedip dan meredup.

Xue Mingyue juga merosot lemas ke lantai esnya, pandangan matanya mulai berkunang-kunang menuju kegelapan.

'Bocah, dorong batu terakhir itu sekarang atau kita semua akan mati konyol di sini!' teriak Kaisar Pedang Haus Darah dari dalam Dantian.

Lin Xiao menggertakkan giginya menahan rasa sesak yang meremukkan dadanya, lalu memicu sisa Niat Pedang di sekujur tubuhnya.

Sring.

Dia melompat lurus ke atas layaknya anak panah yang dilepaskan dari busur, menghantam blok hitam terakhir menggunakan punggung pedangnya.

Gruk. Ktang.

Blok hitam itu terdorong paksa masuk ke dalam slot kuncinya dengan suara dentingan logam yang sangat keras.

Tepat pada detik itu juga, seluruh rasi bintang di dinding rubik menyala terang memancarkan cahaya keemasan.

Wush.

Lantai batu di bawah kaki mereka mendadak terbuka lebar, membiarkan keempat orang itu jatuh bebas ke dalam sebuah lorong yang gelap.

Bruk. Bruk.

Mereka berempat mendarat bertumpuk di atas lantai batu giok yang memancarkan pendaran hijau.

Hal pertama yang mereka rasakan adalah embusan udara segar yang berlimpah, membuat mereka serentak menarik napas panjang dengan rakus.

"Uhuk... uhuk... aku pikir paru-paruku akan benar-benar meledak tadi." batuk Meng Shan berguling ke samping sambil memegangi dadanya.

Xue Mingyue merangkak duduk dan bersandar pada dinding batu, wajahnya masih sangat pucat namun perlahan mulai memerah kembali.

Lin Xiao berdiri perlahan dan menepuk debu dari jubahnya, seolah dia baru saja selesai berjalan-jalan santai di taman.

Dia menatap Nona Yue yang masih terbaring lemah di lantai dengan napas yang perlahan mulai teratur.

"Kau melakukan pekerjaan yang sangat bagus dengan petamu itu, Nona." puji Lin Xiao mengulurkan tangannya ke arah gadis bercadar tersebut.

Nona Yue menatap tangan yang kasar itu, lalu menyambutnya dengan lembut dan membiarkan dirinya ditarik berdiri.

"Kerja sama kalian juga sangat mengesankan, Tuan Lin Xiao." balas Nona Yue dengan senyum kelelahan di balik cadarnya.

Mereka berempat kini berada di sebuah ruangan melingkar yang diterangi oleh lumut bercahaya, terlihat seperti ruang perhentian sebelum altar utama.

"Kita akan beristirahat di sini selama beberapa jam untuk memulihkan energi sebelum melanjutkan." putus Lin Xiao mengambil kayu spiritual dari cincinnya.

Srak.

Lin Xiao menyalakan sebuah api unggun kecil di tengah ruangan, memberikan kehangatan yang sangat dibutuhkan oleh otot tubuh mereka yang tegang.

Mereka berempat duduk melingkar mengelilingi api unggun, menikmati keheningan yang sangat langka di dalam reruntuhan mematikan ini.

Nona Yue menatap wajah Lin Xiao yang diterangi oleh cahaya api, matanya memancarkan rasa penasaran yang tidak bisa lagi disembunyikan.

"Seorang pemuda yang bisa mengambil keputusan setenang itu di ambang kematian tidak mungkin lahir di pinggiran benua." ucap Nona Yue memecah kesunyian.

"Siapa kau sebenarnya, Lin Xiao? Penduduk Kota Jade River tidak memiliki tatapan sedingin dirimu." selidik gadis misterius tersebut dengan suara pelan.

Meng Shan dan Xue Mingyue menoleh ke arah Lin Xiao, mereka juga tertarik mendengar jawaban dari tuannya.

Lin Xiao memutar sebatang kayu di tangannya, menatap lidah api yang menari-nari dengan pandangan kosong.

"Tatapan dingin ini tidak dibentuk oleh letak geografis suatu kota, Nona Yue." jawab Lin Xiao dengan suara bariton yang berat.

"Tatapan ini dibentuk ketika kau dikhianati oleh orang yang paling kau percayai, dan dibiarkan mati membusuk di atas tumpukan mayat musuhmu." sambungnya menceritakan kelamnya masa lalu.

Nona Yue sedikit melebarkan matanya, dia bisa merasakan beban penderitaan yang luar biasa berat di balik kalimat yang singkat tersebut.

"Orang yang dikhianati sedalam itu biasanya akan hancur dan menyerah pada nasibnya." gumam Nona Yue dengan nada penuh simpati.

"Atau mereka akan bangkit dari tumpukan mayat itu sebagai iblis pendendam yang akan menghancurkan dunia." potong Xue Mingyue tersenyum tipis ke arah Lin Xiao.

"Dan sayangnya bagi dunia ini, bosku memilih jalan yang kedua." tutup gadis es itu dengan nada bangga.

Lin Xiao hanya tertawa pelan mendengar pembelaan yang sangat jujur dari Xue Mingyue.

"Kau tidak perlu bersimpati padaku, Nona Yue, karena orang-orang yang mengkhianatiku kini sudah berubah menjadi debu di bawah kakiku." tegas sang kaisar bayangan.

Nona Yue terdiam, namun hatinya justru merasakan sebuah ikatan simpati yang aneh dengan pria yang duduk di seberang api unggun ini.

'Dia adalah monster yang lahir dari rasa sakit pengkhianatan, sama sepertiku yang hidup ketakutan dalam sangkar emas beracun.' batin gadis bercadar itu menyadari kesamaan takdir mereka.

Keheningan kembali menyelimuti ruang aman tersebut, namun kali ini keheningan itu terasa jauh lebih hangat dan manusiawi.

Ikatan kepercayaan di antara kelompok ekspedisi ini telah melampaui batas transaksi bisnis biasa.

Mereka kini adalah sekutu yang saling memahami luka masa lalu satu sama lain, bersiap untuk menghadapi hadiah terbesar dari makam bintang tersebut esok hari.

1
VirgoRaurus 31Smile
cincin kan di pakai di jari... kenapa Meng Shan pakai peluk mayat segala, kalau cuma mau ambil cincin....
VirgoRaurus 31Smile
emangnya orang koma itu pasti tubuhnya kaku ya ..
Muh, Manan
mc lemah banyak ngomong..
VirgoRaurus 31Smile
menikah dg siapa... bukankah calon pengantin pria sudah mati...?
Salafudin
lanjut....
Hironimus Dachi
cadassss
aliff mocet
bagusssss
sutrimo trimo
semangat thir lanjut💪💪💪💪
Hironimus Dachi
mantaps
Bambang Hartono
lanjut Thor... semangat
VirgoRaurus 31Smile
mati aja belum kok terbaring kaku... 🤭
VirgoRaurus 31Smile
mencabut pedang es nya ke arah leher MC... maksudnya gimana Thor...?
Ironside
Request tambahkan makam raja insect Kak /Smile/
✍️⃞⃟𝑹𝑨 Han Boshalvaya
Busetttt, ditunggu insect nya
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!