NovelToon NovelToon
Anak CEO Memanggilku Mama

Anak CEO Memanggilku Mama

Status: sedang berlangsung
Genre:Kehidupan Manis Setelah Patah Hati / Angst / Pengasuh / Ibu Tiri / Pelakor jahat
Popularitas:6.3k
Nilai: 5
Nama Author: Chandria

Dikhianati keluarga kandung yang kejam, Naya dipenjara empat tahun demi menutupi kesalahan adiknya Rania. Malam sebelum ditangkap, ia bertemu pria misterius Arkan Wiratama di kebun dan mengandung bayi kembar. Satu bayi dicuri Rania jadi pewaris keluarga Wiratama, satu lagi dibuang paksa. Saat bebas penjara, takdir mempertemukan mereka lagi—semua kebohongan akan terbongkar, dan Naya akan menuntut kembali semua haknya yang dirampas.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Chandria, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 15

Bab 15 - Nenek Tahu

Nenek Sari tahu sebelum Naya sempat bicara.

Sore itu Naya datang ke rumah sakit dengan wajah terlalu tenang. Ia membawa bubur kacang hijau dan selimut baru untuk Nenek. Lila ikut, duduk diam di kursi dekat jendela sambil memegang boneka kelinci.

Nenek Sari menatap Lila lama.

"Anak siapa itu, Nay?"

Naya meletakkan bubur di meja. Tangannya berhenti sebentar.

"Anak Naya, Nek."

Sendok di tangan Nenek bergetar.

Yuni yang baru masuk membawa air mineral langsung berhenti di pintu.

Nenek Sari menatap Naya, lalu Lila. Mata tuanya berair.

"Anakmu?"

Naya berlutut di samping ranjang.

"Iya."

"Dari... dari mana?"

Naya menggenggam tangan Nenek.

Empat tahun ia menyimpan semua ini dari perempuan yang membesarkannya. Ia berbohong tentang kuliah, kerja, sibuk, kota besar. Ia mengubur penjara, kehamilan, kelahiran, kematian palsu, semuanya di balik suara telepon yang dibuat ceria.

Sekarang kebohongan itu sudah terlalu berat.

"Nek, Naya minta maaf."

Nenek Sari langsung menangis.

"Kamu kenapa, Nak?"

Naya menunduk. "Naya tidak kuliah."

Yuni menutup pintu pelan.

Lila menatap mereka dengan mata takut. Naya menoleh dan memanggilnya lembut.

"Lila, sini."

Anak itu turun dari kursi dan mendekat. Naya mengangkatnya ke pangkuan.

"Ini Lila. Dulu Naya melahirkan dia... di rumah sakit waktu Naya masih ditahan."

Nenek Sari menutup mulut.

"Ditahan?"

Naya mengangguk.

"Naya masuk penjara, Nek. Empat tahun."

Nenek Sari seperti kehilangan napas.

"Ya Allah..."

"Maaf."

"Kenapa kamu minta maaf?"

Naya menangis untuk pertama kalinya di depan Nenek setelah bebas.

"Karena Naya bohong. Karena Naya tidak pulang. Karena Naya tidak bisa jaga anak-anak Naya."

"Anak-anak?"

Naya mengusap kepala Lila.

"Kembar. Laki-laki dan perempuan. Mereka bilang dua-duanya meninggal. Tapi Lila hidup. Dia dibawa ke panti, lalu diadopsi orang yang menyakitinya."

Nenek Sari menangis makin keras.

Tangannya gemetar menyentuh pipi Lila. Lila awalnya mundur sedikit, tetapi Naya mengangguk. Anak itu membiarkan tangan tua itu menyentuhnya.

"Cucu Nenek," bisik Nenek Sari. "Ya Allah, kecil sekali..."

Lila menatap Nenek Sari.

Nenek mencoba tersenyum.

"Nenek Sari. Kamu boleh panggil Nenek kalau nanti mau."

Lila tidak menjawab.

Tapi ia tidak bersembunyi.

Yuni menyeka air mata di sudut ruangan.

Nenek Sari lalu menatap Naya. Rasa sedihnya berubah menjadi marah.

"Siapa yang melakukan ini?"

Naya diam.

"Keluarga Pradipta?"

Naya mengangguk kecil.

Tangan Nenek yang lemah mengepal.

"Dulu Nenek bodoh. Nenek pikir kalau darah dagingmu datang, mereka akan memberimu hidup lebih baik. Nenek yang menyuruhmu pergi."

"Bukan salah Nenek."

"Salah mereka," kata Nenek, suaranya tiba-tiba keras. "Orang tua macam apa yang menukar anak sendiri dengan nama baik? Mereka bukan manusia."

Naya menunduk, bahunya bergetar.

Selama empat tahun ia menunggu seseorang mengatakan itu.

Bahwa yang salah bukan dia.

Bahwa ia tidak kurang baik, kurang pintar, kurang pantas untuk dicintai.

Bahwa keluarga Pradipta memang kejam.

Nenek Sari menarik Naya mendekat. Tubuhnya lemah, tetapi pelukannya tetap rumah.

"Dengar Nenek, Nay. Jangan berharap apa pun dari mereka lagi. Kalau kamu masih punya rasa ingin dipeluk mereka, buang. Ibu yang melahirkan tidak selalu menjadi ibu. Ayah yang memberi darah tidak selalu menjadi ayah."

Naya menangis di pangkuan Nenek.

Lila memegang baju Naya, bingung melihat ibunya hancur. Nenek Sari mengulurkan tangan satu lagi, menyentuh kepala Lila.

"Mulai sekarang, kamu hidup untuk anakmu. Untuk dirimu. Bukan untuk orang-orang itu."

Naya mengangguk.

Di luar kamar, Arkan berdiri diam.

Ia datang bersama Raka untuk membicarakan pemindahan perawatan Nenek Sari ke rumah sakit yang lebih baik. Ia tidak bermaksud menguping. Tapi pintu yang tertutup tidak rapat membuat sebagian percakapan terdengar jelas.

Penjara.

Kembar.

Mereka bilang dua-duanya meninggal.

Lila hidup.

Keluarga Pradipta.

Arkan merasa semua suara di koridor menjauh.

Rayyan.

Lila.

Naya.

Rania.

Cincin.

Malam kebun.

Ingatan itu menekan kepalanya sampai ia hampir kehilangan keseimbangan.

Raka menatapnya cemas. "Pak?"

Arkan mengangkat tangan, menyuruhnya diam.

Di dalam, Nenek Sari berkata lagi, suaranya lebih pelan tetapi jelas.

"Anak laki-lakimu bagaimana?"

Naya tidak menjawab lama.

"Saya belum tahu, Nek."

"Kamu merasa dia masih hidup?"

"Saya takut merasa begitu."

Arkan menutup mata.

Raka juga mendengar.

Tidak ada yang bicara.

Beberapa menit kemudian, Naya keluar untuk mengambil air panas. Ia berhenti begitu melihat Arkan di koridor.

Wajahnya langsung berubah.

"Bapak dengar?"

Arkan tidak berbohong.

"Sebagian."

Naya tertawa kecil, pahit. "Selamat. Bapak mendapat tontonan gratis."

"Naya."

"Jangan."

Ia berjalan melewati Arkan, tetapi kali ini Arkan tidak menahannya. Ia hanya berkata pelan, "Aku akan buka kembali berkas empat tahun lalu."

Naya berhenti.

"Untuk apa?"

"Karena ada yang salah."

"Baru sadar?"

Arkan menerima pukulan itu tanpa membalas.

"Aku perlu tahu kebenarannya."

Naya berbalik. Matanya merah, tetapi tajam.

"Kebenaran siapa? Kebenaran Bapak? Kebenaran Rania? Kebenaran keluarga kaya yang baru terganggu karena anaknya mungkin bukan dari perempuan yang benar?"

Arkan diam.

"Saya mencari kebenaran karena hidup saya dihancurkan. Bapak mencari karena rasa penasaran. Jangan samakan."

"Rayyan juga terlibat."

Nama itu membuat Naya goyah setengah detik.

Arkan melihatnya.

"Kamu pernah melahirkan anak laki-laki."

Naya menutup wajahnya.

"Jangan katakan itu."

"Kenapa?"

"Karena kalau dia bukan anak saya, saya tidak sanggup kehilangan dia di dalam kepala saya."

Suara itu hampir tidak terdengar.

Arkan merasa dadanya diremas.

"Dan kalau dia anakmu?"

Naya menatapnya.

Air matanya jatuh satu.

"Maka seseorang mencuri dia dari saya selama empat tahun."

Arkan tidak bisa menjawab.

Karena di antara semua orang yang mungkin mendapat keuntungan dari pencurian itu, rumahnya adalah tempat anak itu dibesarkan.

Malam itu Arkan pulang ke rumah utama Wiratama dan langsung masuk ruang kerja.

"Raka."

"Ya, Pak."

"Ambil semua berkas kelahiran Rayyan. Dari rumah sakit, catatan bidan, akta, pemeriksaan DNA yang pernah dilakukan, semuanya."

"Baik."

"Dan berkas kasus tabrak lari Naya Prameswari. Aku mau rekaman CCTV asli, data kendaraan, saksi, kompensasi korban, nama jaksa, nama penyidik, semua."

"Baik, Pak."

Arkan menatap foto Rayyan di meja.

Anak itu tersenyum dengan mulut penuh cokelat. Di samping foto itu, ada gambar terbaru dari sekolah: Rayyan dan Lila berdiri dekat kandang kelinci. Wajah mereka bukan sama, tetapi cukup mirip untuk membuat orang yang mau melihat merasa takut.

Arkan mengambil foto itu.

Untuk pertama kalinya, ia tidak bertanya apakah Rania berbohong.

Ia bertanya seberapa besar kebohongan itu.

Di ruang tamu lantai bawah, Rania masih menunggu dengan segelas teh yang belum diminum. Ia berdandan seolah baru pulang dari arisan yayasan, tetapi ujung kukunya sudah digigit sampai merah.

"Arkan belum turun?" tanya Bu Mira lewat telepon.

"Belum."

"Kamu jangan panik. Laki-laki seperti dia percaya dokumen. Selama dokumen ada di tangan kita, dia tidak bisa apa-apa."

Rania menelan ludah. "Kalau dia cari ke rumah sakit?"

"Rumah sakit itu sudah tutup."

"Orang-orangnya?"

"Ada yang pindah, ada yang sudah tidak kerja. Jangan bertanya seperti anak kecil."

Rania memejamkan mata. Suara ibunya membuatnya tenang sekaligus muak. Semua kebohongan itu dulu terasa seperti jalan keluar. Sekarang setiap nama, setiap tanggal, setiap kuitansi palsu seperti tali yang melilit lehernya.

Di lantai atas, pintu ruang kerja terbuka.

Rania langsung memutus telepon dan berdiri.

Arkan turun tanpa melihatnya.

"Kamu mau ke mana?" tanyanya, mencoba tersenyum.

"Keluar."

"Sudah malam."

Arkan berhenti di anak tangga terakhir. "Rayyan pernah dirawat di rumah sakit mana saat baru lahir?"

Wajah Rania membeku sepersekian detik.

"Kenapa tanya itu?"

"Jawab."

"RS Bunda Lestari. Kamu tahu itu."

"Nama dokter?"

"Aku... aku lupa. Waktu itu aku habis melahirkan, Arkan."

Arkan menatapnya, lama dan dingin.

"Ibu yang melahirkan biasanya lupa banyak hal," katanya. "Tapi jarang lupa orang pertama yang mengangkat anaknya."

Rania membuka mulut, tetapi tidak ada suara keluar.

Arkan pergi.

Di belakangnya, Rania duduk pelan, tangannya gemetar di atas lutut. Untuk pertama kalinya, ia merasa bukan Naya yang dikejar masa lalu.

Masa lalu itu sedang berjalan pulang ke rumah Wiratama.

1
Allea
emg belom tes dna juga itu si arkan 😑naya gimana sih kamu🙄
fergusooo🙈
SEMANGATTT KAKAK💪🏻💪🏻
AKU BELA2IN BEGADANG BUAT BACA INI CERITA🤧
Ceritanya baguss dan aku belum pernah baca cerita yg alurnya sedarderdor ini😍
LUVVV buat kaka💕💕
Ariany Sudjana
dasar pelacur murahan kamu itu Rania
Dew666
👍
Citieana Pangestu
👍👍💪💪💪
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!