Li Yunru tidak pernah menyangka, bahwa cincin perak berukir naga yang menjadi hadiah saat membeli seekor kelinci akan mengubah seluruh hidupnya—menyeretnya ke dunia kuno tempat manusia dan beastmen hidup berdampingan.
Belum sempat memahami situasi, Li Yunru malah terikat sebagai pasangan hidup Raja Naga Putih wilayah utara, Bai Muzhi. Berkat cincin misterius itu, mimpi Li Yunru untuk menjadi koki akhirnya terwujud. Namun, kedatangannya ke dunia itu ternyata bukan kebetulan.
Sedikit demi sedikit, tabir asal-usulnya mulai terbuka. Dan musuh-musuh yang selama ini bersembunyi ikut bergerak. Di tengah bahaya, rahasia dan takdir yang menantinya ... mampukah Li Yunru bertahan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Risa Jey, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pasien
Bai Muzhi menatap Ruu yang jelas terkejut. Tatapan rasa bersalah tampak begitu kentara di mata kelinci gemuk itu. Sudut mulutnya sedikit berkedut, antara ingin tertawa dan kesal.
"Kelinci itu memiliki energi spiritual penyembuhan di tubuhnya. Kamu juga sama. Tapi Hei Sanfeng dan aku berbeda. Kami pasti akan keracunan jika memakan buah itu."
"Ah, benarkah?" Li Yunru menatapnya tidak percaya. "Padahal aku memetik itu untuk kamu makan."
"...."
Bai Muzhi terdiam sejenak, lalu berpikir lebih dalam. Meski buah merah yang dipetik Li Yunru tidak dianggap langka olehnya, tetap saja sangat beracun.
Sementara itu, Li Yunru menatap tubuh elang Hei Sanfeng. "Jadi ... apakah elang itu sudah mati? Daripada dikubur, lebih baik direbus saja. Aku belum tahu rasanya daging elang."
Kepala Bai Muzhi sedikit mati rasa. Bahkan kedua telinga Ruu ikut menegang. Kelinci itu sepertinya memiliki penglihatan tentang masa depannya yang suram.
Hari ini Li Yunru ingin merebus seekor elang, apakah besok menjadi gilirannya untuk masuk ke wajan?
Kelinci itu memiliki banyak pemikiran acak.
Tiba-tiba saja kaki elang hitam itu bergerak. Kepalanya langsung terangkat dan menatap Li Yunru dengan mata juling, sayapnya berkedut lemah.
"Ma-manusia! Jangan berani melakukannya! Kelinci gendut, aku belum selesai denganmu!" Setelah itu, kepalanya jatuh lagi dan ia pingsan.
Li Yunru menghela napas lega. "Syukurlah, setidaknya dia masih hidup. Lalu bagaimana cara mengobatinya?"
"Bukankah kamu akan memanggang ayam? Panggang saja dan beri dia makan. Secara alami racunnya akan hilang. Para manusia setengah binatang memiliki kemampuan menetralisir racun, meski sangat lambat. Dia tidak akan mati," jelas Bai Muzhi dengan nada tenang.
Li Yunru merasa itu masuk akal. Karena makanannya mengandung energi spiritual penyembuhan, secara alami pasti bisa mendetoks racun.
Ia segera menumbuk jahe secukupnya, menambahkan sedikit garam, minyak wijen dan kecap asin, lalu membaluri ayam itu sebelum memarinasinya selama setengah batang dupa.
Sambil menunggu, ia mencampurkan perasan jeruk lemon dan madu dalam satu wadah, mengaduknya perlahan hingga tercampur rata.
Sesekali ia melirik ke arah “pasien” yang tergeletak tak sadarkan diri. Lalu ia memastikan api unggun memiliki cukup bara untuk memanggang ayam, menambahkan beberapa potong kayu kering agar nyala api tetap stabil.
Tak lama kemudian, rubah merah yang sebelumnya pingsan terbangun. Tubuhnya gemetar sebelum ia tiba-tiba menjerit histeris, seolah-olah masih terjebak dalam mimpi buruk.
"... Ampunnn!! Kakek! Hong kapok!" pekiknya seraya memeluk ekornya sendiri.
Hal ini mengejutkan Li Yunru. "Suara rubah ini ternyata cempreng juga," komentarnya datar.
Rubah merah jelmaan Hong Maxing akhirnya menyadari bahwa dirinya telah terbangun dari mimpi buruknya. Kemudian ia menatap Li Yunru dengan rasa takut.
Dalam mimpinya tadi, dia melihat leluhur suku rubah merah mengejarnya sambil membawa gunting raksasa untuk memotong sembilan ekornya.
Mengingat hal ini, Hong Maxing segera menghampiri gadis itu, tanpa ragu dan memeluk salah satu kaki gadis itu sambil menangis tidak karuan.
"Si Cantik Yunyun! Aku bersumpah tidak akan menyakitimu lagi! Aku adalah budakmu mulai sekarang. Terimalah semua cinta dan bakti budakmu ini!"
Li Yunru merinding setelah mendengarnya. "Rubah genit, lepaskan! Ini masih sore, jangan bermimpi. Apakah setengah jiwamu masih berada di alam mimpi?"
Ia mencoba menyingkirkan rubah itu dari betisnya, namun cengkeramannya ternyata cukup kuat.
"Tidak, Cantik! Aku benar-benar bangun. Setengah jiwaku tertinggal di hatimu."
Rayuan murah itu membuat Li Yunru hampir muntah. Mengapa rubah merah ini tiba-tiba berubah menjadi manja? Bukankah tadi ia sangat ingin membunuhnya?
Tanpa berkata banyak, gadis itu mengambil buah merah dari dalam keranjang bambu, lalu menyerahkannya pada rubah merah jelmaan Hong Maxing.
"Kalau begitu, makan ini. Buktikan kesetiaanmu sebagai budakku!"
"Aku makan! Aku pasti akan makan bahkan jika itu racun paling mematikan sekali pun! Selama para leluhurku tidak keluar dari alam baka untuk memotong ekorku."
Rubah merah itu tanpa ragu langsung menggigit buah merah tersebut.
Gigitan pertama ... Gigitan kedua ....
Tapi pada saat hendak melakukan gigitan ketiga, gerakan Hong Maxing terhenti. Mengapa dia merasa dunia berputar?
Namun tak lama kemudian, tubuhnya kejang-kejang sebelum akhirnya tumbang dan kembali koma di tanah.
Li Yunru sedikit tidak bisa berkata-kata. "... Benar-benar memakannya? Sekarang korban buah merah bertambah satu. Tidak akan mati juga, kan?"
"...."
Bai Muzhi dan Ruu hanya bisa diam tanpa suara. Melihat Li Yunru meletakkan rubah merah itu di samping elang hitam yang juga sama-sama koma, ada perasaan aneh yang tak terlukiskan dalam hati keduanya.
Melihat Bai Muzhi tampak sedikit gelisah, Li Yunru mengerutkan keningnya. "Ada apa? Kamu ingin mencobanya juga?"
"Jiwaku sendiri terluka. Jika aku makan buah itu, mungkin nyawaku akan pergi ke surga," ungkap Bai Muzhi jujur.
Seorang raja naga putih itu tidak pernah menyangka bahwa suatu hari akan ada seseorang yang secara tidak langsung mampu mencabut nyawanya.
"... Kalau begitu jangan."
Setelah setengah jam berlalu, Li Yunru memanggang ayam seraya mengoleskan campuran madu dan lemon di atas permukaannya.
Aroma daging ayam yang dipanggang berpadu dengan kesegaran lemon dan manisnya madu, perlahan menyebar ke udara dan membuat perutnya keroncongan.
"Memanggang ayam dan mengoleskan madu?" Bai Muzhi merasa heran. "Ini kali pertama aku melihatnya."
"Ya, namanya adalah ayam panggang lemon madu. Rasanya nanti menjadi asam dan sedikit manis," kata Li Yunru santai.
Ayam itu terus dipanggang bolak-balik agar matang merata. Sesekali Li Yunru kembali mengoleskan saus madu lemon agar meresap hingga ke dalam.
Sampai akhirnya warna kulit ayam berubah menjadi cokelat keemasan yang menggoda. Sedikit gosong di beberapa titik justru menambah aroma khas panggangan.
"Tuan, aromanya wangi sekali! Cepat beri aku sepotong!"
Ukuran ayam di zaman ini cukup besar, sehingga Li Yunru merasa satu ekor saja sudah lebih dari cukup. Ia mengeluarkan talenan, lalu memotong ayam itu menjadi beberapa bagian dengan rapi.
Ia memberikan sepotong untuk Ruu, serta beberapa potong wortel di sampingnya.
Kelinci itu langsung menunjukkan ekspresi tidak senang saat melihat wortel di piringnya. "Mengapa kamu menambahkan wortel?"
"Jangan tidak menyukainya. Jika kamu tidak makan wortel, aku curiga kamu adalah serigala berbulu kelinci."
"Mana ada serigala menyamar jadi kelinci!" Ruu marah, namun tetap memakan wortel itu dengan enggan. "Rasanya tidak buruk," gumamnya pelan.
Namun saat ia memakan potongan daging ayam panggang yang lembut dan harum, mata merahnya langsung berbinar hingga kedua telinganya berdiri tegak. Kaki depannya yang berkuku tajam, bergerak semakin cepat untuk mengambil potongan berikutnya.
Li Yunru lalu melirik Bai Muzhi yang makan dengan tenang, gerakannya elegan seperti biasa.
"Bagaimana rasanya?"
"Ini enak, sama seperti biasanya."
Bai Muzhi memuji masakannya dengan tulus. Setiap kali memakan masakan gadis itu, ia bisa merasakan sesuatu yang hangat mengalir di dalam tubuhnya. Jiwanya yang sempat terluka perlahan mulai pulih.
Tak lama kemudian, elang hitam jelmaan Hei Sanfeng dan rubah merah jelmaan Hong Maxing terbangun oleh aroma makanan yang menggugah selera.
Li Yunru telah meletakkan dua potong ayam panggang untuk keduanya. "Kalian akhirnya bangun. Makanlah cepat."
Hong Maxing terkejut. Rupanya, makanan harum itu berasal dari ayam panggang di depannya. Lalu ia menoleh ke arah Li Yunru.
"Mengapa baunya wangi sekali? Si Cantik Yunyun, apakah kamu yang memanggangnya?"
Hei Sanfeng yang masih sedikit pusing melirik si rubah merah. "Bagaimana kamu tahu kalau manusia itu yang memanggangnya?"
Hong Maxing menjawab jujur. "Aura spiritual hijau di tubuh gadis itu juga ada di ayam panggang. Jadi kupikir dia yang memasak. Apakah gadis itu seorang koki spiritual?"
"Kamu sepertinya tahu banyak."
Si rubah merah menatap elang hitam dengan seringaian tipis, memperlihatkan gigi dan taringnya.
"Jangan pikir aku ini bodoh sepertimu. Ras peri hutan sudah mengasingkan diri dari Benua Changyu selama ratusan tahun lamanya. Dan keturunannya ada di sini. Siapa yang tidak terkejut?"
ayo Yunru botakin aja Lan Peijun🤣🤣
Yunru hrs tetap sm Tuan Naga satu²nya.. ga boleh ada yg lain.. apalagi Merak bau.. bikin botak aj itu Merak...
Yunru kamu udah mulai berani ya minta cium dulu 🤣/Facepalm//Facepalm/
Klo kata Yunru, Narsistik sekali kelinci gendut ini 😒😒😒
Liatin aj noh pantatnya si Ruu yg montok dan seksih