Mengetahui suaminya berselingkuh, Raina memilih tidak menangis. Baginya, pengkhianatan harus dibalas dengan cara yang sama.
Nyawa bayar nyawa. Selingkuh balas selingkuh.
Target balas dendamnya adalah Hadiraksa Gautama... suami dari Monica, wanita yang merebut rumah tangganya.
Raina mendekati Hadi yang selama ini dianggap pria gagal oleh istrinya sendiri: miskin, tak punya masa depan, dan hidup dari belas kasihan keluarga. Namun siapa sangka, di balik penampilan sederhananya, Hadi menyimpan identitas sebagai pengusaha muda kaya raya yang sengaja menyembunyikan status demi menguji cinta Monica.
Saat permainan balas dendam dimulai, perasaan ikut berubah.
Robby mulai menyesali perselingkuhannya. Monica panik setelah mengetahui pria yang ia buang ternyata jauh lebih berharga dari yang ia kejar.
Mereka ingin kembali pada pasangan masing-masing.
Tapi terlambat...
Karena dua hati yang awalnya dipersatukan oleh luka, perlahan berubah menjadi candu dan saling cinta.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bunda SB, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Makin berubah
Monica yang biasanya hampir tidak pernah ada di rumah, kini entah ada angin apa tiba-tiba ia sudah ada di rumah. Entah ia memang pulang lebih awal daripada biasanya... atau justru ia memang tidak keluar satu harian ini.
Tapi yang pasti, Hadi sama sekali tidak peduli. Ia yang dulu setiap hari mengemis perhatian dan waktu dari istrinya. Kini, bahkan pria tampan yang masih menyembunyikan dengan rapat identitasnya yang sebenarnya... sama sekali tidak peduli.
Seperti hari ini. Setelah mengantarkan Raina pulang, ia langsung masuk ke rumah. Istrinya menunggu di ruang tamu, tangan melipat di dada, dan tatapannya tajam. Saat ia menyaksikan sendiri, suaminya berboncengan dengan wanita lain.
"Darimana saja kamu!" tanya Monica, menatap sengit Hadi yang bahkan enggan menghentikan langkahnya.
"Pulang kerja!" jawabnya singkat.
Niatnya langsung ingin membersihkan tubuhnya yang lelah. Tapi sepertinya, Monica masih belum ingin mengakhiri percakapan ini.
"Kerja atau selingkuh?" lanjut Monica.
Suaranya datar, tapi penuh penekanan dan tuduhan yang ia yakini.
"Selingkuh?" langkah Hadi terhenti, ia berbalik. "kamu berfikir aku selingkuh?"
"Kalau kamu tidak selingkuh! Ngapain kamu boncengan sama wanita lain? Pake acara senyum-senyum segala lagi!" suara Monica naik satu oktaf sepertinya ia cemburu.
"Jika membonceng wanita lain dianggap selingkuh. Maka, kamu yang hampir setiap hari dibonceng oleh Robby... berarti selingkuh. Juga!"
Monica terdiam.
Amarahnya yang tadi memuncak, kini tiba-tiba terjun bebas seperti air hujan.
"Kamu tahu?" suara Monica pelan, hampir tidak terdengar.
"Diam bukan berarti tidak tahu!"
Hadi lanjut melangkah. Ia sudah tidak ingin melanjutkan percakapan yang bisa memancing amarahnya ini.
Ia menuju ke kamar mandi. Membersihkan diri sambil membayangkan istri tetangga yang belakangan ini membuat harinya berwarna. Entahlah, ia juga tidak tahu... mengapa sekarang ia bisa dekat dengan Raina. Mungkin karena nasib mereka yang sama, atau mungkin mereka seperti dua plaster yang menyembuhkan luka satu sama lain.
"Manis banget sih!" gumam Hadi tanpa sadar.
Bibirnya mengulas senyum. Tidak lebar, tapi cukup untuk menggambarkan suasana hatinya yang sedang berbunga.
Ia mandi sambil sambil bersenandung. Bukan nyanyian, tapi hanya gumaman yang bernada.
"Tumben dia nyanyi?" batin Monica bingung.
Mandi sambil bersenandung sama sakali bukan kebiasaan Hadi. Selama pernikahan, ia hampir tidak pernah mendengarnya.
"Apa benar dia selingkuh sama Raina?" lanjut Monica dalam hati. Tapi beberapa detik kemudian ia menggeleng. "Tapi gak mungkin. Hadi sangat mencintaiku. Dulu saja anak pak camat menyukai dirinya. Dia dengan terang-terangan menolak dan lebih memilih aku."
"Enggak-enggak! Aku gak boleh berfikiran sampai sejauh itu. Hadi cinta mati padaku. Dia tidak akan pernah berpaling dariku!"
Monica berdiri terpaku di depan pintu kamar mandi. Ia sedang meyakinkan diri, jika suaminya pasti tidak akan pernah berpaling darinya.
Cinta yang begitu besar. Monica yakin jika dengan bermodal cinta besar saja, bisa membuat suaminya tetap bertahan dan nantinya pasti bisa memaafkan kesalahan yang sudah ia perbuat.
Tapi satu hal yang tidak ia sadari. Sebasar apapun cinta seseorang, pasti akan berkurang dan habis tak bersisa. Jika terus dikecewakan berulang-ulang kali tanpa henti.
"Ngapain kamu disini!" tanya Hadi, melihat istrinya sudah seperti satpam yang berjaga di depan pintu kamar mandi.
Monica tersentak. Ia terkejut melihat suaminya sudah ada dihadapannya. "A-aku mau buang air kecil!" jawab Monica.
Ia terlihat gugup. Kedua bola matanya membulat saat melihat suaminya hanya memakai handuk yang melilit pinggang. "Sejak kapan Hadi terlihat seseksi ini?"
Air liurnya hampir menetes. Entah karena ia yang tidak sadar atau mungkin selama ini ia terlalu larut dalam hubungan gelapnya bersama Robby. Monica baru sadar, jika suaminya memiliki bentuk tubuh yang bahkan lebih bagus dan lebih kekar dari kekasih gelapnya.
Otot-otot yang terbentuk sempurna. Perut sixpack yang terlihat menggoda ingin disentuh. Serta tetesan air yang membuat pemandangan itu kembali menarik perhatian wanita yang bahkan ia sendiri sudah tidak ingat. Kapan terakhir kali mereka melakukan hubungan suami istri.
"Aku merindukan kamu!" Monica tiba-tiba memeluk Hadi dari belakang.
Suaranya pelan, lembut dan berbisik tepat di telinga suaminya.
Hadi diam beberapa detik. Lalu ia melepaskan pelukan istrinya. "Aku sedang tidak ingin melakukannya!" tolak Hadi.
Monica mencelos. Ini tidak seperti suaminya yang nafsuan. Biasanya jangankan Monica yang meminta, Hadi... selalu jadi orang yang paling aktif meminta. Bahkan sebelum suaminya berubah, Hadi masih mengemis meminta jatah setiap malam. Tapi Monica selalu menolak dengan alasan lelah.
"Kamu menolak aku Hadi?" Monica terlihat marah. Ia yang biasanya selalu dipuja, kini merasakan dipermalukan oleh penolakan sang suami.
"Bukannya kamu selalu lelah setiap kali aku memintanya? sekarang, giliran aku yang lelah!"
Monica kembali terdiam. Suaminya benar-benar berubah.
"Kamu punya wanita idaman lain Hadi?" tanya Monica, suara pelan. Karena ia takut, jawaban sang suami akan menyakiti hatinya.
Hadi memilih untuk tidak menjawab. Sekarang, perasaannya ke Monica sudah hambar. Tapi ia sendiri juga tahu, mengapa ia masih belum mengakhiri pernikahan ini.
"Jawab aku Hadi! Apa kamu punya wanita idaman lain?" Monica kembali meninggi. Ia benci diabaikan, tapi ia sendiri juga sering mengabaikan.
"Mungkin!" jawabnya Hadi.
Monica malah tertawa. "Tidak mungkin!"
"Kenapa tidak mungkin?"
"Kamu... yang sangat tergila-gila padaku bisa memiliki wanita idaman lain? Mustahil!"
Monica masih sangat menyakini hal itu. Tapi ia lupa, jika pengabaian nya selama ini... menjadi salah satu faktor perubahan yang dialami oleh suaminya.
Di rumah no 14 juga terjadi hal serupa.
Robby juga sudah ada di rumah, bahkan sebelum Raina pulang bekerja.
"Kamu tidak memasak juga hari ini?" Robby kecewa, saat melihat istrinya yang baru pulang bekerja malah bermain ponsel di kamar.
"Tidak! Kalau laper kamu beli aja ya?" sahut Raina, tanpa menoleh dari layar ponselnya.
Robby menggeram. Ia marah, tapi masih menahannya. "kamu sekarang berubah Rain?"
"Berubah apanya? aku masih tetap Raina! belum berganti jadi Juminem!"
Robby mengepalkan tangan. Ini bukan istrinya. Raina tidak secuek ini. Raina istrinya sangat perhatian padanya.
"Aku serius Rain! Aku tidak bercanda. Kamu berbeda, kamu tidak seperti biasanya!"
Raina mengalihkan pandangan dari layar ponselnya. "Aku tidak berubah. Aku hanya sedang beradaptasi!"
"Beradaptasi?" Robby bingung dengan jawaban istrinya.
"Iya aku sedang beradaptasi!" Raina bangkit dari posisinya. "Aku sedang menyesuaikan diriku dengan lingkungan sekitar. Terutama dengan suamiku!".
"Dengan aku?" Robby makin tidak mengerti.
"Iya, seperti apa sikap mu terhadapku... begitu juga sikapku terhadapmu. Jangan buru-buru bertanya mengapa aku berubah. Tapi introspeksi diri terlebih dahulu. Karena yang bisa menjawab semua ini hanya hati kamu sendiri!"
Robby terdiam. Kedua bola matanya mengerjap dengan cepat. "Apa Raina tahu aku selingkuh?" batinnya.
Tapi lagi-lagi sisi egois dalam dirinya menampik itu semuanya. Karena ia yakin, permainan yang ia jalani berlangsung dengan rapi tanpa cela.
Robby dan Monica mungkin akan kacau, karena Monika tahunya hanya menahan uang