NovelToon NovelToon
DIKIRIM KE PESANTREN, MALAH JATUH CINTA PADA ANAK KYAI

DIKIRIM KE PESANTREN, MALAH JATUH CINTA PADA ANAK KYAI

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Diam-Diam Cinta / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:910
Nilai: 5
Nama Author: putra ilham

Reno Wijaya, CEO muda yang tampan, kaya, dan sangat dingin. Baginya, semua perempuan itu sama saja: matre dan cuma mengincar hartanya. Karena keras kepala dan selalu menolak dijodohkan, Ayah menghukumnya dengan mengirim Reno masuk ke Pesantren Al-Falah di pedalaman Kalimantan.

Awalnya Reno benci sekali, menganggap tempat ini neraka dan isinya orang kampung semua. Sikapnya masih sombong, angkuh, dan meremehkan semua orang. Sampai ia bertemu Zahrana, anak Kyai yang cantik sederhana, lembut, dan tulus. Untuk pertama kalinya, Reno bertemu perempuan yang sama sekali tidak peduli siapa dirinya dan apa kekayaannya.

Perlahan rasa benci berubah jadi penasaran, lalu tumbuh jadi cinta yang mengubah hidupnya total. Reno belajar menjadi rendah hati, berprinsip, dan setia. Meski kembali memimpin perusahaan besar dan dikelilingi banyak wanita cantik, hatinya tetap utuh hanya untuk Zahrana.

Dulu dikirim sebagai hukuman karena sifat buruknya, ternyata justru di sanalah Reno menemukan jati dirinya

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon putra ilham, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

bab 14

Waktu terus melangkah, kini menginjak bulan kesepuluh Reno berada di Pesantren Al-Falah. Tinggal dua bulan lagi sebelum masa pembelajarannya genap satu tahun. Dua bulan yang terasa begitu singkat namun begitu berharga, seperti butiran emas yang harus dikumpulkan sekuat tenaga sebelum waktu habis. Jika sebelumnya Reno telah menaklukkan ego, belajar sabar, belajar memimpin, dan belajar ikhlas memberi, maka kali ini Kyai Ahmad membawanya masuk ke medan pertempuran batin yang paling sulit dan paling berat: Belajar Memaafkan.

Suatu pagi yang mendung dan sejuk, selepas shalat Subuh, Kyai Ahmad mengumpulkan seluruh santri di pendopo utama. Wajah beliau tampak tenang namun serius, seolah menyimpan beban berat yang akan dibagikan kepada anak-anak didiknya.

“Anak-anakku sekalian,” suara Kyai Ahmad terdengar rendah namun menusuk ke dalam sanubari, “Kalian sudah belajar banyak hal tentang memberi, tentang bekerja, tentang mengendalikan diri. Tapi ada satu kekuatan lagi yang jauh lebih dahsyat daripada kekuatan fisik, jauh lebih mahal daripada harta benda, dan jauh lebih tinggi derajatnya daripada jabatan apa pun. Itu adalah: Kemampuan Memaafkan.”

Beliau menatap satu per satu wajah santri, lalu pandangannya berhenti tepat di wajah Reno yang duduk tenang namun penuh perhatian.

“Memaafkan bukanlah sifat orang yang lemah dan kalah. Justru memaafkan adalah kemuliaan orang yang paling kuat dan paling besar jiwanya. Orang yang pendendam hatinya seperti penjara bagi dirinya sendiri. Dia yang menyakiti, mungkin sudah lupa dan bahagia, tapi dia yang memendam sakit hati, dia yang tersiksa setiap hari. Dan hari ini, Kyai ingin Saudara Reno menghadapi ujian yang paling menyentuh luka masa lalu yang paling dalam di hatimu.”

Reno sedikit terkejut. Ia sudah merasa hatinya bersih, sudah merasa damai, sudah merasa tak ada lagi beban masa lalu. Ia pikir semua luka dan amarahnya pada masa lalu sudah hilang terhapus waktu dan pelajaran. Tapi ternyata, Kyai Ahmad tahu apa yang ia sendiri mungkin belum sadari sepenuhnya.

“Siang nanti, akan ada tamu datang. Tamu ini adalah seseorang yang pernah melukaimu paling dalam, yang pernah menghianatimu, dan yang menjadi salah satu alasan kenapa dulu hatimu keras dan penuh curiga. Dia adalah Riko, mantan rekan bisnismu yang dulu kabur membawa uang perusahaan, yang hampir menghancurkan masa depanmu dan Ayahmu.”

Darah Reno seketika berdesir hebat. Jantungnya berpacu cepat, dan seketika itu juga bayangan masa lalu yang kelam melintas deras di benaknya. Riko… nama yang dulu menjadi sumber amarah terbesar dalam hidupnya. Orang yang ia anggap saudara sendiri, orang yang ia percayai buta, ternyata menusuk dari belakang, membawa kabur uang miliaran rupiah, membuat perusahaan nyaris bangkrut, dan membuat Reno malu serta sakit hati luar biasa. Dulu, kalau saja Riko ada di hadapannya, Reno pasti sudah menghancurkannya, membawanya ke penjara, atau melakukan apa saja untuk membalas sakit hati itu.

Dan sekarang, orang itu akan datang ke sini? Ke tempat suci ini?

“Kenapa dia datang? Untuk apa?!” tanya Reno dengan suara bergetar, menahan amarah yang tiba-tiba bangkit kembali, seolah tidur panjang dan kini terbangun lagi.

“Dia datang bukan untuk mencari masalah, Nak. Dia datang karena hidupnya hancur lebur. Setelah lari dari kalian, dia tidak bahagia. Uang itu habis tersia-sia, dia jatuh sakit, diasingkan teman-temannya, hidup melarat dan penuh penyesalan. Dia minta izin untuk datang, untuk minta maaf, dan untuk menebus kesalahannya. Dan tugasmu, Reno… adalah menerima kedatangannya, melayaninya, dan yang terpenting: memaafkannya dengan sepenuh hati, tanpa sisa sedikit pun dendam.”

Reno terdiam kaku. Rasanya mustahil. Rasanya ada api yang menyala di dadanya. “Memaafkan orang yang sudah menghancurkan hidupku? Orang yang membuatku menderita, membuat Ayah sedih, membuat nama baik kami tercemar? Tidak! Itu terlalu berat! Dia pantas dibenci, dibuang, dan dihukum!”

Sepanjang pagi hingga siang, Reno gelisah bukan main. Ia berjalan mondar-mandir, hatinya bergemuruh antara prinsip yang sudah ia bangun dan amarah lama yang kembali menyeruak. Ia ingat pesan-pesan Kyai, ia ingat pesan Zahrana, ia ingat semua pelajaran tentang kebaikan dan kasih sayang. Tapi luka itu begitu dalam, begitu nyata, dan rasanya tak mungkin sembuh sepenuhnya.

Tepat pukul dua siang, sebuah mobil tua dan lusuh melaju pelan masuk ke halaman pesantren. Dari dalamnya turun seorang pria yang tampak sangat kurus, tua sebelum waktunya, wajahnya penuh kerutan dan penyesalan, pakaiannya sederhana dan kumal. Itu Riko. Jauh sekali bedanya dengan Riko yang dulu tampan, wangi, dan penuh percaya diri. Kini ia tampak seperti orang yang sudah kalah seumur hidupnya.

Saat melihat Reno berdiri di teras dengan wajah dingin dan kaku, Riko langsung jatuh berlutut, menangis tersedu-sedu seolah tak punya tulang kaki.

“Reno… Maafkan aku! Ampuni aku! Aku salah besar! Aku jahat! Aku hina! Aku tahu aku tak pantas diampuni, aku tahu aku tak pantas hidup apalagi minta maaf padamu… tapi aku sudah hancur, Reno. Hidupku neraka semenjak aku mengkhianatimu. Aku menyesal mati! Ampuni aku…!” Riko merangkak mendekat, ingin mencium kaki Reno dengan penuh rasa rendah diri dan penyesalan yang luar biasa.

Darah Reno mendidih. Ia ingin sekali menendang orang itu pergi, ingin berteriak melampiaskan semua sakit hati yang tersimpan selama bertahun-tahun. Tangannya mengepal kuat, rahangnya mengeras, matanya menatap tajam penuh kebencian. Suasana menjadi sangat tegang. Beberapa santri yang ada di sana menahan napas, takut terjadi hal buruk.

Di tengah kekacauan batin Reno, di saat egonya dan amarahnya hampir meledak menguasai dirinya, seketika ia menangkap bayangan sosok yang berdiri agak jauh di samping pohon beringin. Zahrana.

Zahrana berdiri diam, menatapnya dengan tatapan yang tidak takut, tidak khawatir, melainkan tatapan yang penuh harap, penuh keyakinan, dan penuh kasih sayang. Tatapannya seolah berkata: “Aku tahu kamu kuat. Aku tahu kamu mulia. Jangan biarkan masa lalu mengalahkan masa depanmu. Jangan biarkan orang lain menguasai hatimu.”

Seketika itu juga, Reno teringat percakapan mereka tempo hari.

“Mas Reno, orang yang memaafkan itu bukan berarti dia kalah atau dia lupa. Dia memaafkan karena dia mengerti bahwa memendam sakit hati itu seperti memegang bara api panas dengan niat melempar ke orang lain. Yang terbakar duluan adalah tangannya sendiri. Memaafkan itu bukan untuk orang yang menyakiti kita, tapi untuk diri kita sendiri supaya hati ini lapang dan damai.”

Kata-kata itu menembus ke tengah api amarah yang berkobar di dada Reno. Perlahan, napasnya yang berat mulai teratur. Kepalan tangannya perlahan mengendur. Tatapan matanya yang tajam perlahan melembut. Ia menatap Riko yang menangis tersedu-sedu di kakinya, melihat betapa hancurnya orang ini, melihat betapa besar penderitaannya.

Reno sadar… Riko sudah hancur. Riko sudah membayar mahal kesalahannya dengan penderitaan seumur hidup. Dan kalau Reno masih membenci, masih mendendam, masih ingin balas, berarti Reno menambah beban di hatinya sendiri. Berarti Reno masih terikat dan dikendalikan oleh orang yang sudah ia anggap musuh ini.

Perlahan, Reno menjulurkan tangannya yang besar dan kasar itu, lalu mengangkat tubuh Riko yang gemetar ketakutan itu berdiri tegak.

“Bangun, Riko. Bangunlah.” Suara Reno terdengar rendah, tenang, dan luar biasa lembut, jauh dari yang diharapkan semua orang. “Dulu, kalau kamu datang begini, mungkin aku sudah menghancurkanmu. Aku sudah membuangmu, aku sudah memasukkanmu penjara. Aku benci kamu melebihi apa pun di dunia ini. Aku menganggapmu musuh terbesarku.”

Reno berhenti sejenak, menatap mata Riko yang penuh air mata dan ketakutan.

“Tapi satu tahun ini, aku belajar banyak hal. Aku belajar bahwa membalas kejahatan dengan kejahatan, hanya melipatgandakan kejahatan itu. Aku belajar bahwa hati yang penuh dendam itu penjara yang paling sempit dan paling gelap. Dan aku belajar… bahwa memaafkan adalah jalan keluar yang membebaskan.”

Reno tersenyum tipis, senyum yang melepaskan beban berton-ton beratnya dari pundaknya.

“Riko, kesalahanmu besar sekali. Tapi penyesalanmu juga besar. Dan aku… aku sudah memilih untuk tidak lagi menjadi tawanan masa lalu. Aku maafkan kamu. Aku maafkan semua yang pernah kau lakukan padaku, pada Ayah, dan pada perusahaan. Lunas sudah. Tidak ada lagi dendam, tidak ada lagi rasa sakit, tidak ada lagi utang balas. Mulai detik ini, kita sama-sama manusia yang sedang berusaha berbuat baik.”

Riko ternganga tak percaya. Ia mengira ia akan dicaci, dimaki, atau ditendang. Tapi justru ia mendapatkan kedamaian yang tak terbayangkan. Ia menangis makin deras, kali ini karena rasa syukur yang luar biasa.

“Reno… Kamu malaikat! Kamu jauh lebih mulia dari aku! Terima kasih! Terima kasih tak terhingga! Kamu membebaskanku, dan aku tahu… kamu juga membebaskan dirimu sendiri.”

Seluruh santri yang menyaksikan perlahan menghembuskan napas lega dan kagum. Mereka melihat keteduhan luar biasa yang memancar dari wajah Reno. Ia tampak makin gagah, makin berwibawa, dan makin mulia.

Sore itu, Reno melayani Riko dengan baik. Ia memberinya makan, menginapkan, dan bahkan memberi sedikit bekal serta uang saku dari tabungan pribadinya untuk modal Riko memulai hidup baru. Sikapnya murni, tanpa pamrih, tanpa rasa ingin dipuji, semata karena hati yang sudah terbebaskan dari belenggu masa lalu.

Saat Riko berpamitan pulang dengan mata yang bersinar penuh harapan baru, Reno berdiri di gerbang pesantren dengan hati yang terasa selegah langit luas. Beban berat yang selama bertahun-tahun menindih dadanya, lenyap sudah sepenuhnya. Ia merasa terbang bebas, merasa bersih, merasa baru lahir kembali.

Tak lama setelah kepergian Riko, Zahrana datang menghampiri. Ia berjalan perlahan, menatap Reno dengan pandangan yang begitu dalam, begitu bangga, dan begitu penuh kekaguman.

“Saya lihat semuanya, Mas Reno. Saya lihat perjuanganmu, saya lihat betapa beratnya melawan egomu sendiri hari ini. Dan saya lihat kemenangan terbesarmu.” Zahrana tersenyum lembut, matanya berbinar-binar. “Memaafkan orang yang paling menyakiti hatimu, itu prestasi yang jauh lebih besar daripada mengalahkan seribu musuh di medan perang. Kamu hebat sekali, Mas. Kamu sudah sampai di tingkatan jiwa yang paling tinggi dan paling mulia.”

Reno menatap Zahrana, hatinya penuh sekali. “Zahra, aku baru tahu rasanya. Rasanya memaafkan itu bukan memberi hadiah pada orang lain, tapi memberi surga bagi diriku sendiri. Dulu aku pikir bahagia itu saat aku punya harta, punya kuasa. Ternyata bahagia yang paling murni dan paling damai itu saat hatiku bersih, saat hatiku kosong dari rasa benci dan rasa sakit. Kamu dan Bapak sudah mengajarkanku jalan ini.”

“Dan ingatlah Mas Reno,” potong Zahrana lembut, “Sifat ini yang akan membuat rumah tangga kita nanti awet dan bahagia selamanya. Laki-laki yang pandai memaafkan, adalah laki-laki yang paling indah pasangannya. Karena dia tak akan pernah menyimpan kesalahan masa lalu, dia tak akan pernah mengungkit-ungkit kekurangan, dia selalu melihat ke depan dan memberi kesempatan terus-menerus. Dan saya bersyukur sekali, saya menemukan lelaki sebaik dan sebesar hatimu ini.”

Malam itu, Kyai Ahmad memeluk bahu Reno dengan bangga. “Nak, hari ini kamu lulus ujian yang paling berat. Kamu sudah menjadi manusia yang utuh, sempurna, dan matang. Tidak ada lagi sisa Reno yang dulu di dalam dirimu. Kamu sudah lahir baru menjadi sosok pemimpin yang hebat, suami yang idaman, dan manusia yang mulia.”

Reno tersenyum lega. Tinggal satu bulan lagi. Satu bulan terakhir untuk merapikan segalanya, untuk menikmati sisa waktu emas ini, dan untuk bersiap menyongsong hari kepulangannya, hari di mana ia akan datang menjemput Zahrana dengan hati yang bersih, tangan yang kuat, dan jiwa yang penuh.

1
Rima R P
katanya anak kiyai dan pesantren ko ga pake hijab ka di liatin cowo bukan nya buru" nyari hijab ini santuy aja 🤣
T28J
baiklah 👍👍👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!