Karena ingin melihat putri kembarnya (Agatha & Amanda) segera menikah, Edward menjodohkan mereka dengan pria-pria pengusaha muda tampan yang kaya, putra dari relasi-relasinya.
Agatha di jodohkan dengan Jonathan.
Amanda dijodohkan dengan Vincent.
Pertentanganpun terjadi. Agatha dan Amanda juga Jonathan dan Vincent menolak dijodohkan.
Apa yang terjadi jika Agatha bertemu dengan Vincent (jodoh buat Amanda) dan Amanda bertemu dengan Jonathan (jodoh buat Agatha).
Apakah mereka akan jatuh cinta dengan pria yang dijodohkan untuk saudara kembarnya?
*****
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon RR Maesa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
CH-12 Dua jantung satu hati
Di London…
Dua orang pria sedang berbicara di sebuah restaurant.
“Ku dengar kau sakit, maaf aku tidak menjengukmu,” kata Edward pada pria disebrangnya itu.
“Benar Mr.Edward aku terkena struk ringan tapi sekarang aku sudah lebih baik,” jawab pria itu, yang tiada lain Mr.Darwin.
“Syukurlah,” ucap Edward.
“Oleh karena itu aku ingin mempercepat pernikahan putraku, Jonathan dengan Agatha,” kata Mr.Darwin.
Edward menatap temannya itu.
“Rasanya belum tenang kalau belum melihat putraku menikah dengan putrimu,” ucap Mr.Darwin.
“Kau sudah bicara dengan putramu?” tanya Edward.
“Sudah, dan dia sudah setuju untuk menikah dengan Agatha,” jawab Mr.Darwin.
Edward tampak manggut manggut, menyimak apa yang Mr.Darwin katakan.
“Aku ingin setelah putrimu lulus mereka langsung menikah,” lanjut Mr.Darwin.
“Aku setuju. Tapi aku belum memberitahu Agatha soal siapa calon suaminya, kita tunggu sampai dia lulus, bersabarlah sebentar lagi,” jawab Edward.
Dalam hati Edward merasa lega, ternyata putra putra relasinya itu menerima putri- putrinya dan bersedia menikah secepatnya. Hanya tinggal memberitahu putri-putrinya siapa calon mereka masing-masing.
**************
Sore ini Agatha pulang dengan semangat, senyum terus mengembang di bibirnya. Rumah terlihat sepi. Mommynya sedang pulang ke perkebunan, Daddynya sedang pergi ke London.
Saat membuka pintu kamarnya, dilihatnya Amanda sedang tengkurap santai di tempat tidur sambil membuka buka majalah remaja.
“Kau sudah pulang?” tanya Agatha.
“Iya,” jawab Amanda, menatap saudara kembarnya .
“Kelihatannya kau sangat senang hari ini,” kata Amanda kembali melihat lihat majalah.
Agatha
merebahkan tubuhnya di tempat tidur di sebrang tepat tidur Amanda.
“Aku bertemu dia sudah 3x, apa itu kebetulan? Atau jodoh?” ucap Agatha seperti pada diri sendiri. Amanda menoleh pada saudara kembarnya.
“Bertemu dia? Siapa?” tanya Amanda, kini dia memutar tubuhnya menghadap langit-langit, begitu juga Agatha.
“Entahlah aku tidak tahu. Pertama di mall, kedua di jalan saat mau ke kampusmu, ketiga hari ini, saat aku dikejar si playboy Vincent,” jawab Agatha. Di dalam benaknya muncul dua balon. Satu balon dengan wajah Jonathan dan satu balon wajahnya Vincent. Kemudian balon Vincent meletus. Pletuk.
“Vincent? Vincent yang giginya ompong itu?” tanya Amanda.
“Tidak, dia sangat tampan, tapi kelakuannya membuat stress,rasanya tidak percaya pria playboy itu seorang Direktur di perusahaan tepat aku magang,” keluh Agatha.
“Dia mengejar-ngejarmu?” tanya Amanda.
“Ya begitulah, sejak bertemu di mall,” jawab Agatha.
“Mungkin dia jodohmu,” ucap Amanda.
“Mm tidak tidak aku tidak mau seorang playboy seperti itu. Aku lebih suka pria satu lagi tapi aku tidak tahu namanya dan aku tidak tahu apa aku akan bertemu dengannya lagi,” kata Agatha.
“Cinta dalam padangan pertama itu cuma dongeng. Kalau bukan jodoh tidak mungin akan bertemu lagi,” ucap Amanda.
“Kau benar, aku sama sekali tidak mengenalnya, kalau bukan jodoh aku tidak akan bertemu dengannya lagi,” kata Agatha. Dia membayangkan wajah tampannya Jonathan, tiba-tiba muncul lagi balon berwajah Vincent, membuatnya kesal dan pletuk balon Vincent meletus lagi.
“Aku juga bertemu dengan seseorang beberapa kali,” ucap Amanda, sambil menatap langit-langit. Agatha memiringkan kepalanya menoleh pada Amanda.
“Hmm seperti apa dia?” tanya Agatha.
“Sebenarnya aku heran, sepertinya dia tidak menyukaiku, tapi entahlah sebenarnya aku merasa aneh saja dengan sikapnya. Tiba-tiba dia ingin bertemu dengan urusan yang tidak penting, buat apa coba?” kata Amanda.
“Mungkin dia menyukaimu,” tebak Agatha.
“Cuma kadang dia bersikap tidak menyukaiku, ketus dan marah-marah,” ucap Amanda.
“Apa dia tampan?” tanya Agatha.
Amanda membayangkan wajahnya Jonathan.
“Dia sangat tampan,” jawabnya sambil tersenyum.
Agatha tertawa, diapun membayangkan wajah tampannya Jonathan, tapi bayangannya tidak satu, akan muncul lagi bayangan balon Vincent yang terus meletus.
“Tapi…bukankah Daddy sudah menjodohkan kita dengan pria yang kita juga tidak kenal siapa?” kata Amanda.
“Kau benar, kenapa Daddy melakukan itu pada kita?” keluh Agatha.
“Apa kau sudah menebak-nebak kira-kira seperti apa pria-pria itu?” tanya Amanda, menoleh pada saudara kembarnya.
“Aku tidak tahu,” Agatha mengeleng.
Amanda kembali menatap langit-langit. Mereka sibuk dengan pemikiran mereka masing-masing.
“Menurutmu, apa aku akan bertemu pria itu lagi?” tanya Agatha, kemudian menoleh pada Amanda yang sekarang sedang membuka-buka majalahnya lagi.
“Siapa? Si Playboy itu?” tanya Amanda.
“Bukan, malas ketemu sama dia. Pria yang satu lagi,” jawab Agatha.
“Kalau dia jodohmu, kau akan bertemu dengannya lagi,” kata Amanda.
“Aku berharap bisa bertemu dengannya lagi,” gumam Agatha.
“Sepertinya kau benar-benar menyukukainya ya?” tanya Amanda, menatap saudara kembarnya.
“Semoga saja aku bisa bertemu dengannya lagi, meskipun namanya saja aku tidak tahu,” gumam Agatha sambil menatap langit-langit.
Terdengar handphonenya berdering dari dalam tasnya.
“Siapa yang menelpon?” gumamnya lalu diraihnya tasnya dan mengambil ponselnya.
“Vincent? Mau apa dia menelpon? Aku fikir setelah dia membayar pizza itu dia tidak akan menelpon lagi,” gumam Agatha.
“Pria ompong itu menelpon?” tanya Amanda, menoleh pada Agatha.
“Iya,” jawab Agatha sambil mereject telpon Vincent.
Vincent menatap telponnya yang dimatikan Amanda.
“Direject,” gumamnya.
“Ini pasti karena dia mengira Tony yang menelpon,” gumam Vincent.
Keesokan harinya…
Pagi-pagi Agatha sudah siap berangkat ke kantornya Vincent. Amanda juga sudah siap dihalaman rumah menyalakan mobilnya tapi tertanya tidak nyala-nyala.
“Mobilmu kenapa?” tanya Agatha, sambil menyimpan tas di dalam mobilnya.
“Tidak tahu, sepertinya mogok, harus dibawa ke bengkel kayanya,” jawab Amanda sambil keluar dari mobilnya.
“Kau akan kemana sekarang? Ke kampus? Aku antar, sepertinya aku masih ada waktu mengantarmu,” kata Agatha sambil melihat jamtangannya.
“Aku ke kantor perusahaan tempatku magang, kau bisa mengantarku?” jawab Amanda.
“Baiklah, ayo kita berangkat sekarang,” kata Agatha, sambil masuk ke mobilnya. Amanda langsung mendekati mobil Agatha, dan ikut masuk ke mobil itu.
“Kau juga sudah dapat perusahaan baru?” tanya Agatha.
“Iya baru dapat kemarin. Itu juga karena pria itu yang merekomendasikannya ke personalia di perusahaannya,” jawab Amanda.
“Baik sekali pria itu,” ucap Agatha.
“Entahlah aku merasa aneh dengan sikapnya. Kadang dia ketus padaku tapi kadang berubah baik, membingungkan!” kata Amanda.
“Setidaknya dia tidak seperti bosku si Vincent itu, dia sangat menyebalkan dia menggangguku terus. Kalau bukan karena ingin skripsiku selesai, malas aku magang di perusahaannya,” keluh Agatha.
“Pasti dia menyukaimu, jadi cari-cari perhatian terus itu,” kata Amanda.
“Aku tidak suka cowok yang banyak pacarnya begitu, dia tidak setia dan tidak bisa dipercaya,” ucap Agatha.
“Kau benar, carilah pria yang baik dan setia,” gumam Amanda.
Tidak terasa mereka sampai di gedung perkantorannya Jonathan.
Agatha memasukkan mobilnya ke area halaman kantor.
“Aku lewat saja ya, langsung ke tempatku magang,” kata Agatha.
“Iya, aku turun di depan loby saja,” ucap Amanda.
Agatha menghentikan mobilnya di depan pintu loby, Amandapun turun.
“Pulangnya aku naik taxi saja,” ucap Amanda. Agatha hanya mengangguk dan menyalakan klaksonnya.
Setelah saudara kembarnya itu masuk ke pintu loby. Agatha menajalnkan mobilnya perlahan tapi belum juga jauh, dia menghentikan mobilnya lagi. Apa dia tidak salah lihat? Dia melihat pria itu lagi! Apakah ini pertanda jdooh? Kenapa dia bisa bertemu pria itu lagi?
Agatha melihat Jonathan turun dari mobilnya dan berjalan menuju loby.
“Jadi pria itu bekerja disini?” gumamnya.
Tuut Tuut! Sebuah mobil dibelakang Agatha membunyikan klaksonnya, sepertinya mobil itu mau keluar tapi terhalang oleh mobilnya Agatha.
Agatha buru-buru menjalankan mobilnya lagi. Ada rasa senang dihatinya, dia sudah tahu kalau pria itu bekerja satu gedung dengan Amanda. Kalau tahu begitu, dia bisa menawari Amanda untuk ikut mobilnya setiap pagi. Atau dia bisa meminta Amanda untuk mencari tahu siapa dia bekerja dibagian apa. Tapi dengan gedung sebesar ini dan pasti karyawannya juga banyak, bagaiman acara mendapatkan informasi itu?
Agatha kembali menjalankan mobilnya menuju kantornya Vincent. Saat memasuki ruangan untuk anak-anak yang magang, ruangan itu sudah berubah diisi oleh karyawan –karyawan lain, membuatnya terkejut. Diapun menelpon temannya, Nisa.
“Nisa, kenapa ruangan kita tidak ada?” tanyanya pada Nisa.
“Bukan tidak ada, tapi dipindah ke lantai 12, kau datang saja kesini,” jawab Nisa.
Agatha mengerutkan keningnya, kenapa bisa tiba-tiba pindah? Tapi dia tidak banyak bertanya, mungkin memang dari kebijakan perusahaan seperti itu, ya dia menurut saja, toh diperusahaan ini juga cuma sebentar.
Sesampainya di lantai 12, ternyata benar, teman-temannya sudah ada disana.
“Kenapa kita jadi dipindah kesini?” tanya Agatha pada Nisa.
“Aku juga tidak tahu, menurut saja,” jawab Nisa.
Agatha mengedarkan pandangannya ke sekeliling, dia mengerutkan keningnya.
“Tapi ini kan ini ruangan-ruangan yang berbeda divisi dengan materi kita,” ucap Agatha.
“Makanya aku juga tidak mengerti,” jawab Nisa.
Agatha melihat banyak karyawan berdatangan dan memasuki beberapa pintu ruang divisi yang sudah ada namanya di dinding.
Dari dalam lift keluar seorang wanita yang ditemui Agatha kemarin, diapun teringat kalau ini ruangannya dimana kantornya Vincent berada, hanya ruangan tengah ini di rubah posisinya dijadikan ruangan untuk anak-anak yang magang.
Kepalanya langsung saja terasa pusing, jangan-jangan ini ulahnya Vincent untuk menganggunya.
“Pagi Bu,”sapa mereka pada wanita yang baru keluar dari lift itu saat dia melewati kursi-kursi mereka.
“Pagi,” jawabnya sambil lalu.
“Ih gitu amat,” guman Nisa.
“Itu kan sekretarisnya pak Vincent,” kata Wulan.
“Pantas sombong amat,” ucap Nisa. Agatha hanya diam saja.
Pintu lift terbuka lagi, kali ini pintu lift khusus yang tidak dgunakan untuk karyawan umum. Seseorang keluar dari sana. Agatha menoleh pada orang itu dan langsung wajahnya berubah masam, pria itu sudah lebih dulu tersenyum padanya dan menyapa semua teman-temannya.
“Pagi semuanya,” sapa Vincent.
“Pagi Pak,” jawab teman-temannya Agatha.
“Bagaimana dengan tempat ini? Semoga kalian lebih nyaman ya,” kata Vincent sambal tersenyum, matanya melirik Agatha.
Dia sengaja memindahkan meja-meja anak magang ke ruangan yang dekat dengan ruang kerjanya supaya dia bisa melihat calon istrinya itu setiap hari.
Agatha berdoa di dalam hati semoga urusannya diperusahaan ini cepat beres, dari pada setiap hari harus bertemu dengan pria tengil itu.
****************
Jangan lupa like vote dan komen
Semangat terus berkarya Kakak author 🔥😘
daripada mencintai..
karena cinta akan tumbuh seiring waktu..
karena kasih yang diberikan setiap hari akan mengikis kebekuan hati..
❤❤❤❤❤❤