Lima ratus tahun yang lalu, Lin Chen adalah Kaisar Pedang Ilahi yang berdiri di puncak Alam Dewa. Namun, saat ia mencoba menembus batas tertinggi kultivasi, ia dikhianati oleh tunangannya, Dewi Teratai Salju, dan saudara seperjuangannya, Kaisar Naga Hitam. Tubuhnya hancur, dan jiwanya tercerai-berai.
Kini, lima ratus tahun kemudian, jiwa Lin Chen terbangun di Benua Langit Biru, di dalam tubuh seorang pemuda dengan nama yang sama. Pemuda ini dikenal sebagai "Sampah Terbesar" di Kota Daun Musim Gugur karena meridiannya cacat sejak lahir. Namun, mereka tidak tahu bahwa di dalam lautan jiwanya, Lin Chen membawa Sutra Pedang Kehampaan, sebuah teknik kultivasi purba yang memungkinkannya menyerap energi alam semesta.
Dimulailah perjalanan Lin Chen untuk merangkai kembali takdirnya, menginjak jenius arogan, menaklukkan naga suci, dan kembali ke Alam Dewa untuk menuntut darah para pengkhianatnya!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bodattt, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 15: Hukum Rimba Akademi
Angin kencang yang dihasilkan oleh kepakan sayap elang emas raksasa itu menyapu alun-alun, memaksa puluhan ribu penonton untuk menutupi wajah mereka. Tekanan spiritual dari pria paruh baya berjubah perak di atas burung itu begitu dahsyat, mengunci pergerakan semua orang yang berada di bawah Ranah Pembentukan Fondasi.
Tuan Kota Liu Yuan masih berlutut, keringat dingin membasahi dahinya. Di dekat kawah yang baru saja terbentuk, Patriark Keluarga Wang, Wang Teng, terbatuk-batuk mengeluarkan darah segar. Wajahnya pucat pasi menyadari siapa yang baru saja menamparnya dari langit.
Pria berjubah perak itu melompat turun dari elangnya. Ia mendarat di tengah arena tanpa menghasilkan suara sedikit pun, seolah tubuhnya seringan udara. Lencana berbentuk bintang jatuh di dada kirinya berkilau tertimpa cahaya matahari sore.
"Utusan Mo! S-Saya mohon ampun atas kelancangan saya!" Wang Teng buru-buru merangkak dan bersujud, mengabaikan rasa sakit di dada dan tulang rusuknya yang retak.
Pria paruh baya yang dipanggil Utusan Mo itu tidak melirik Wang Teng sama sekali. Tatapannya yang tajam bak elang langsung tertuju pada sosok Wang Xue'er yang terkapar tak berdaya di lantai arena dengan gaun yang berlumuran darah dan debu.
Alis Utusan Mo berkerut dalam, menunjukkan kekecewaan yang tidak ditutup-tutupi.
"Wang Xue'er," suara Utusan Mo terdengar dingin dan tanpa emosi. "Sebulan yang lalu, tetua pemandu kami melaporkan bahwa Kota Daun Musim Gugur memiliki seorang jenius elemen es yang menjanjikan. Namun, apa yang kulihat hari ini? Kau dikalahkan, senjatamu dihancurkan, dan semangatmu dipatahkan oleh pemuda yang berada di tingkat kultivasi yang sama denganmu."
Wang Xue'er memaksakan dirinya untuk setengah berlutut. Air mata mengalir deras di pipinya yang kotor. "U-Utusan Mo... T-Tolong beri saya kesempatan lagi! Pria ini... Lin Chen, dia menggunakan senjata aneh dan taktik licik! Saya belum menunjukkan kekuatan penuh saya!"
"Diam."
Satu kata dari Utusan Mo membuat udara di sekitar Wang Xue'er membeku, jauh lebih dingin dari sihir es yang biasa dikuasai gadis itu.
"Di Akademi Bintang Jatuh, kami tidak menerima alasan. Hukum rimba adalah satu-satunya kebenaran mutlak. Mereka yang lemah akan diinjak, dan mereka yang kalah tidak memiliki hak untuk berbicara." Utusan Mo menatap gadis itu dengan tatapan mengasihani. "Tawaran penerimaan jalur khususmu resmi dibatalkan. Akademi kami tidak membutuhkan bunga rumah kaca yang rapuh."
Duar!
Kata-kata itu bagaikan petir di siang bolong bagi Wang Xue'er dan Wang Teng. Segala kebanggaan, masa depan, dan arogansi yang mereka bangun selama ini hancur menjadi debu dalam sekejap. Tanpa perlindungan Akademi Bintang Jatuh dan dengan kekalahan telak dari Keluarga Lin, Keluarga Wang pasti akan terperosok ke dasar jurang di kota ini.
Utusan Mo kemudian mengalihkan pandangannya. Kali ini, matanya menatap pemuda berjubah hitam yang masih berdiri tegak bersandar pada pedang raksasanya.
Menghadapi tekanan spiritual dari seorang ahli yang melampaui Ranah Pembentukan Fondasi, Lin Chen tidak menundukkan kepalanya apalagi berlutut. Punggungnya lurus seperti tombak yang menantang langit. Di matanya, tidak ada ketakutan, melainkan ketenangan yang sangat dalam.
"Menarik," gumam Utusan Mo. Ia bisa melihat bahwa pemuda ini baru berada di Ranah Kondensasi Qi Tingkat 6, namun fondasi fisik dan ketajaman auranya sangat tidak wajar. "Siapa namamu, Anak Muda?"
"Lin Chen," jawabnya datar.
"Lin Chen. Kau memiliki tulang yang keras dan nyali yang besar untuk tetap berdiri di hadapanku." Utusan Mo tersenyum tipis, sebuah senyum arogan dari seorang senior kepada juniornya. "Ketahuilah, jalan kultivasi itu tak berujung. Alam semesta ini sangatlah luas, dengan lapisan benua dan lautan bintang yang tak terhitung jumlahnya. Ini adalah sebuah epik panjang yang mungkin membutuhkan ribuan babak sejarah untuk sekadar dipahami oleh manusia fana."
Utusan Mo mengangkat tangan kanannya, dan sebuah token perak yang memancarkan cahaya redup terbang melesat ke arah Lin Chen.
Lin Chen mengangkat tangannya dan menangkap token tersebut. Di permukaannya terukir kata 'Bintang Jatuh'.
"Karena kau telah membuktikan dirimu lebih kuat dari kandidat yang kami pilih, kau berhak mengambil tempatnya," lanjut Utusan Mo dengan suara lantang. "Bulan depan, bawa token itu ke ibu kota Kerajaan Api Biru. Mari kita lihat apakah naga kecil dari kota terpencil ini bisa bertahan di tengah lautan monster di Akademi Bintang Jatuh."
Tanpa menunggu jawaban Lin Chen, Utusan Mo berbalik. Ia melompat kembali ke punggung elang emasnya dan melesat membelah awan, menghilang dari pandangan secepat kedatangannya, meninggalkan keheningan yang luar biasa di alun-alun.
Lin Chen menatap token perak di telapak tangannya.
"Akademi Bintang Jatuh... Kudengar mereka menguasai Jalur Vena Spiritual terbesar di kerajaan ini. Tempat yang cocok untuk mempercepat kultivasiku ke Ranah Pembentukan Fondasi sebelum aku melangkah kembali ke Benua Atas."
Ia menyingkirkan token itu ke dalam cincin penyimpanannya, lalu mencabut Pedang Berat Penelan Bintang dari lantai arena. Ia menyarungkannya kembali ke punggung, berbalik, dan berjalan menuruni arena tanpa melirik Wang Xue'er lagi. Bagi Lin Chen, gadis itu sudah menjadi masa lalu yang bahkan tidak pantas untuk diingat.
Di tribun, Lin Zhentian tertawa terbahak-bahak hingga air matanya keluar. Ia segera melompat turun menyambut Lin Chen, diikuti oleh para tetua keluarga yang kini menatap Lin Chen layaknya dewa penolong.
"Lin Chen! Kau benar-benar kebanggaan Keluarga Lin!" seru Lin Zhentian sambil menepuk bahu pemuda itu. "Tidak hanya menjuarai turnamen, kau bahkan direkrut langsung oleh Utusan Akademi!"
Lin Chen menepis tangan Patriark itu dengan lembut namun tegas.
"Jangan salah paham, Patriark," ucap Lin Chen dengan nada yang membuat senyum di wajah para tetua membeku. "Aku memenangkan turnamen ini hanya untuk melunasi hutang sumber daya yang kuambil dari keluarga. Bulan depan aku akan pergi ke ibu kota. Masa depan Keluarga Lin di kota ini terserah pada kalian."
Meninggalkan para petinggi keluarga yang terpaku, Lin Chen berjalan membelah kerumunan penonton yang secara otomatis menyingkir, memberinya jalan dengan tatapan penuh rasa hormat dan gentar.