NovelToon NovelToon
Lagu Yang Tenggelam

Lagu Yang Tenggelam

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Cinta Seiring Waktu / Dark Romance
Popularitas:946
Nilai: 5
Nama Author: Keivanya Huang

Selama sepuluh tahun, Nana tumbuh sebagai manusia di desa nelayan — tanpa tahu bahwa dirinya adalah putri mahkota kerajaan Siren Aequoria. Setiap malam, ia mendengar lagu misterius dari dasar laut, memanggilnya dengan nama.

Jeno, Siren penjaga perairan selatan, telah mengawasinya sejak bayi. Tugasnya sederhana: lindungi Nana sampai waktunya kembali. Tapi sepuluh tahun mengamati dari kejauhan membuatnya jatuh cinta pada lagu dalam darah Nana — dan pada Nana sendiri.

Ketika Nana berubah menjadi Siren untuk pertama kalinya, tak ada jalan kembali. Ia harus belajar mengendalikan kekuatannya, menghadapi bibinya yang merebut takhta, dan memilih antara dunia yang ia kenal — atau cinta yang selama ini menunggu di dasar laut.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Keivanya Huang, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 1: Bisikan dari Kedalaman

Nanara Ciel Aequoria — atau Nana, begitu ia biasa dipanggil — tidak pernah takut pada laut.

Sejak kecil, ia lebih sering berada di dalam air daripada di darat. Rambut hitamnya selalu basah, kulitnya selalu dingin, dan matanya — dua bulatan gelap yang terlalu tenang untuk seorang gadis seusianya — selalu menatap ke arah cakrawala, seperti sedang mencari sesuatu yang tidak bisa ia sebutkan.

Orang-orang di desa nelayan itu menyebutnya anak laut. Bukan karena ia pandai berenang. Tapi karena mereka yakin, Nana tidak sepenuhnya manusia.

"Pernah kulihat sendiri," bisik seorang nenok tua di pasar ikan. "Saat bulan purnama, gadis itu duduk di karang Sendu. Sendirian. Dan air di sekitarnya... berbicara padanya."

Tak ada yang berani berteman dengan Nana. Tak ada yang berani mendekati rumah reyotnya di ujung dermaga.

Dan Nana? Nana tidak peduli.

Karena dengan sendirian — ia bisa mendengar lagu itu.

Lagu itu tidak pernah berhenti.

Sesuatu yang datang dari dasar laut, samar-samar, seperti bisikan yang teredam oleh air dan pasir. Tidak semua orang bisa mendengarnya. Nana menyadari itu sejak usia tujuh tahun, ketika ia bertanya pada ibunya — ibu yang membesarkannya di darat, seorang perempuan nelayan bernama Mira.

"Bu, siapa yang bernyanyi di bawah sana?"

Mira hanya terdiam. Wajahnya pucat. Tangannya yang sedang menjemur ikan berhenti bergerak. Lalu, tanpa berkata sepatah kata pun, ia menangis.

Sejak malam itu, Mira melarang Nana mendekati laut. "Jangan pernah pergi ke air setelah matahari terbenam," katanya dengan suara bergetar. "Mereka akan menemukanmu."

Tapi larangan tak pernah berarti bagi gadis yang sudah merasa dirinya lebih asing di darat daripada di dalam gelombang.

Dan lagu itu — ia semakin keras seiring Nana tumbuh dewasa.

Pada malam ketika cerita ini benar-benar dimulai, angin timur membawa bau garam dan badai dari jauh. Langit tidak berbintang. Ombak menghantam dermaga dengan suara seperti drum perang.

Nana baru saja berusia tujuh belas tahun.

Ia bangun dari tidurnya karena suara itu — bukan lagu kali ini, tapi jeritan. Jeritan yang hanya ia yang bisa dengar. Suara seorang perempuan yang sekarat, mengucapkan namanya dalam bahasa yang tidak ia mengerti.

"Nanara... Ciel... Aequoria..."

Nana duduk di tempat tidurnya, keringat dingin membasahi pipinya. Di kamar sebelah, Mira masih tertidur lelap — tidak mendengar apa-apa.

Ini bukan pertama kalinya. Tapi malam ini, jeritan itu berbeda. Lebih dekat. Lebih panik. Seperti peringatan terakhir sebelum sesuatu yang buruk terjadi.

Nana melangkah keluar rumah tanpa suara.

Ia berjalan menyusuri dermaga kosong, melepas sandalnya, dan melangkah ke dalam air yang dingin dan hitam. Air laut naik ke pergelangan kakinya, lalu ke betis, lalu ke lutut.

Lagu itu berhenti.

Sunyi.

Nana hampir berbalik — tapi kemudian suara laki-laki menggantikan keheningan.

"Akhirnya kau datang."

Suara itu jernih. Dingin. Penuh dengan sesuatu yang tidak bisa ia pahami — rindu? Amarah? Kesepian? Mungkin semuanya sekaligus.

"Kau semakin dewasa, Nanara. Aku bisa merasakannya. Darahmu... sama seperti darahku."

Nana menahan napas. Bukan karena takut. Tapi karena air di sekitarnya mulai berubah aneh. Hangat. Berdenyut. Seperti air itu sendiri memiliki detak jantung.

Dan di bawah permukaan, sekitar sepuluh meter di depannya, sesuatu bergerak.

Bentuk gelap yang terlalu besar untuk ikan. Terlalu panjang untuk hiu. Dan dua titik cahaya — biru pucat, menyala redup seperti bara di dasar samudra — membuka dan menatapnya.

"Jangan takut," bisik suara itu lagi. Kali ini lebih dekat. Seperti tepat di samping telinganya.

Nana menggigit bibir bawahnya. Jantungnya berdebar kencang, tapi mulutnya berkata lain.

"Aku tidak takut."

Diam sejenak.

Kemudian suara itu tertawa. Suara tawa yang membuat air bergetar, membuat rumput laut bergoyang, dan mEmbuat jantung Nana berdetak lebih cepat dari sebelumnya.

"Bagus. Karena mulai malam ini... kau akan tahu siapa dirimu sebenarnya."

Ombak kecil naik.

Bukan ombak biasa. Air laut itu merayap naik ke tubuh Nana seperti ular dingin yang hidup. Ia mencoba mundur, tapi kakinya tidak bisa bergerak. Terpaku di dasar laut yang berlumpur.

Air mencapai pinggangnya.

Dan Nana merasakannya.

Sensasi aneh di tulang ekornya. Rasa panas yang menjalar cepat, lalu dingin, lalu mati rasa. Tulang-tulang di kakinya terasa meleleh dan menyatu. Kulitnya pecah menjadi garis-garis halus berkilau.

Sisik.

Sisik berwarna biru kehitaman — warna laut di tengah malam — tumbuh dari pergelangan kakinya hingga ke paha, ke pinggul, menyelimuti seluruh tubuh bagian bawahnya.

Ia menunduk.

Di bawah permukaan air, dua kakinya yang tadinya utuh... telah lenyap. Digantikan oleh ekor panjang ramping yang berakhir dengan sirip tipis transparan seperti kain sutra basah.

Nana tidak berteriak. Tidak berlari. Tidak menangis.

Ia hanya menatap bayangan dirinya di permukaan air yang tenang — sesosok gadis dengan rambut hitam panjang tergerai, mata gelap yang kini mulai bersinar samar, dan separuh tubuh bagian bawah berubah menjadi ekor ikan yang indah dan mematikan.

Dia bukan manusia.

Dia Siren.

Suara itu muncul lagi, kali ini tanpa bisikan. Langsung. Jelas. Dari atas air, bukan dari dalam.

"Kau tidak pingsan. Tidak histeris. Tidak mencoba mencabik-cabik ekormu sendiri."

Nana mengangkat wajahnya.

Di atas batu karang yang tertutup buih, sekitar dua puluh meter dari tempatnya terapung, sesosok pemuda duduk dengan santai. Tubuhnya separuh muncul dari air — bagian atas manusia sempurna, bagian bawah... ekor. Sisik biru gelapnya berkilau seperti langit malam yang dipenuhi bintang.

Matanya dua titik biru pucat. Sama persis dengan cahaya yang ia lihat di bawah air tadi.

Pemuda itu tersenyum. Bukan senyum ramah. Tapi juga tidak jahat. Lebih seperti senyum lega — seseorang yang sudah menunggu terlalu lama dan akhirnya sampai.

"Kau bereaksi lebih baik daripada yang aku kira," katanya. "Kebanyakan Siren yang baru pertama kali berubah biasanya berteriak sampai tenggorokan mereka robek."

Nana mengepalkan tangannya di bawah air. "Kau yang memanggilku. Selama ini."

"Aku."

"Siapa kau?"

Pemuda itu meluncur dari batu karang dengan gerakan yang terlalu mulus untuk makhluk sebesar dirinya. Dalam sekejap, ia sudah berada satu meter di depan Nana, cukup dekat untuk Nana melihat detail wajahnya — rahang tegas, hidung mancung, dan bibir tipis yang melengkung membentuk senyuman misterius.

"Aku Jeno," katanya. "Penjaga perairan selatan. Dan kau, Nanara Ciel Aequoria..."

Ia mengulurkan tangan. Telapak tangannya dingin, basah, tapi anehnya terasa seperti ajakan pulang.

"...kau bukanlah manusia yang tersesat. Kau adalah putri yang hilang dari singgasana laut."

Nana menatap tangan itu. Lalu menatap mata Jeno.

"Putri?"

"Putri mahkota kerajaan Aequoria. Satu-satunya pewaris Ratu Ruenna yang sah." Jeno menunduk sedikit, seperti membungkuk hormat meski di dalam air. "Aku ditugaskan menjagamu sejak kau masih bayi, sejak ibumu—"

Ia berhenti. Matanya meredup.

"—sejak ibumu meninggal."

Angin timur bertiup lebih kencang. Di kejauhan, kilat menyambar tanpa suara. Nana merasa kepalanya berputar — terlalu banyak informasi dalam satu malam — tapi di dadanya, ada sesuatu yang aneh.

Tenang.

Seperti baru saja menemukan potongan puzzle yang selama ini hilang.

"Kau mengatakan 'ditugaskan'," kata Nana perlahan. "Tugasmu apa?"

Jeno menatapnya lama. Terlalu lama. Ketika ia menjawab, suaranya turun setengah oktaf, menjadi lebih berat dan lebih dalam.

"Melindungimu. Sampai napas terakhirku."

Hening.

Air di sekitar mereka bergetar dengan suara yang tidak berasal dari mana pun — mungkin dari jantung Nana yang berdetak terlalu keras, atau mungkin dari sesuatu yang lebih tua dan lebih kuat dari keduanya.

Nana meraih tangan Jeno.

Dingin. Tapi hangat.

"Mau ikut denganku pulang, Putri?" bisik Jeno.

Nana tidak menjawab dengan kata-kata.

Ia hanya menggenggam tangan Jeno lebih erat.

Dan tenggelam bersama ke dalam gelap.

Di rumah reyot di ujung dermaga, Mira terbangun dari tidurnya.

Ia meraih kasur di sampingnya.

Kosong.

Ia berlari ke luar, ke dermaga, ke tepi air yang bergelombang. Tidak ada siapa pun. Hanya riak-riak kecil yang perlahan menghilang.

Mira jatuh berlutut di pasir basah.

Ia tidak menangis. Tangisnya sudah habis sepuluh tahun lalu, saat seorang pemuda bermata biru datang ke rumahnya dengan bayi perempuan yang terbungkus sisik.

"Jaga dia," kata pemuda itu waktu itu. "Sampai aku kembali menjemputnya."

Dan sekarang, pemuda itu telah kembali.

Mira memejamkan mata.

"Jagalah dia, Jeno," bisiknya ke laut yang tidak menjawab. "Jagalah putri kalian."

1
hrarou
seruuu!! Lanjut yaaa 😍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!