"Duniaku gelap, tapi aku tidak butuh lampu. Aku hanya butuh seseorang yang tidak memalingkan wajah saat aku memanggil 'Papa'."
Di kediaman Tenggara yang megah, Aurora Alandriana adalah sebuah anomali. Di tengah kesuksesan sang Ayah dan dominasi keempat kakak laki-lakinya—Eros, Gavin, Juna, dan Arvin—Aurora hidup seperti hantu. Baginya, rumah itu bukan tempat berteduh, melainkan sebuah pengadilan yang menghukumnya atas kesalahan yang tidak pernah ia lakukan: lahir ke dunia.
Tiap sudut rumah adalah pengingat akan kebencian. Meja makan adalah tempat penghinaan, dan lorong sekolah adalah tempat ia harus berpura-pura tidak mengenal darahnya sendiri. Terutama Arvin, kakak keempatnya yang paling dekat jarak usianya, yang memilih untuk menjadi perundung paling kejam di sekolah hanya untuk membuktikan bahwa Aurora tidak punya tempat di hidupnya.
Namun, saat sebuah rahasia besar di balik kematian sang Ibu mulai terkuak, dan saat tubuh Aurora yang rapuh mulai mencapai batas kemampuannya untuk ber
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon canny***, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 15: Pelarian di Ujung Nadir
Apartemen Arvin yang terletak di lantai dua puluh dua itu biasanya berbau asap rokok dan parfum maskulin yang tajam, tempat pelarian bagi sang tuan muda dari kekakuan rumah besar keluarga Tenggara. Namun sore itu, aroma antiseptik dan ketakutan yang mencekam memenuhi ruangan luas tersebut. Arvin membaringkan tubuh Aurora di atas tempat tidur king size-nya yang berwarna abu-abu gelap. Sosok Aurora di sana terlihat sangat mungil, seolah-olah ditelan oleh kemewahan yang tidak pernah ia rasakan sebelumnya.
Wajah Aurora masih pucat, namun darah dari hidungnya sudah berhenti mengalir setelah Arvin membasuhnya berkali-kali dengan air es. Arvin duduk di tepi tempat tidur, napasnya masih memburu. Ia menatap telapak tangannya yang gemetar. Selama bertahun-tahun, tangan itu ia gunakan untuk mendorong, menjauhkan, bahkan sesekali menyakiti gadis ini. Kini, tangan yang sama mencoba menahan nyawa Aurora agar tidak melayang.
"Dok, tolong... lakukan sesuatu," pinta Arvin saat Dokter pribadi yang dihubungi Bimo selesai memeriksa denyut nadi dan pupil mata Aurora.
Dokter Hendra, seorang pria paruh baya yang sudah lama melayani keluarga Tenggara, menghela napas panjang. Ia melepas stetoskopnya dan menatap Arvin dengan sorot mata yang penuh beban.
"Arvin, ini bukan sekadar pingsan atau kelelahan," suara Dokter Hendra merendah. "Kondisi jantung Aurora sudah masuk tahap kritis. Ini adalah kegagalan fungsi jantung tahap lanjut. Darah yang keluar dari hidungnya itu karena pecahnya kapiler akibat tekanan balik dari jantung yang tidak mampu memompa darah dengan benar. Kenapa kalian membiarkannya sampai separah ini?"
Arvin terdiam. Tenggorokannya terasa seperti disumbat batu besar. "Kami... kami nggak tahu, Dok. Maksud saya, kami pikir dia cuma mau cari perhatian."
Dokter Hendra menggelengkan kepala, ada nada kemarahan yang tertahan dalam suaranya. "Cari perhatian? Anak ini sudah mengonsumsi obat penguat jantung dosis tinggi selama bertahun-tahun sendirian. Dia hidup dalam rasa sakit yang konstan, Arvin. Setiap tarikan napasnya adalah perjuangan. Sekarang, karena dia berhenti minum obat—menurut laporan Bimo tadi—jantungnya mengalami 'shock'. Jika malam ini dia tidak melewati masa kritisnya, saya tidak yakin dia akan bangun lagi."
Arvin merosot ke lantai, punggungnya bersandar pada ranjang. Dunia yang ia bangun dengan keangkuhan seketika runtuh. Ia teringat kembali setiap kata makian yang ia lontarkan. Ia teringat setiap kali ia membiarkan Kaila merundung Aurora. Ia teringat bagaimana semalam ia membiarkan Eros menyita obat-obatan itu.
"Dia harus dibawa ke rumah sakit besar, Dok. Pakai alat medis paling canggih, saya punya uangnya!" seru Arvin frustrasi.
"Masalahnya bukan cuma uang, Arvin. Papa kamu sudah memberikan instruksi ketat kepada semua rumah sakit rekanan keluarga Tenggara agar setiap tindakan medis atas nama Aurora harus melalui persetujuannya. Jika kamu membawanya ke sana, Papa kamu akan langsung tahu, dan dia akan menyeret Aurora kembali ke rumah itu. Apa kamu pikir Aurora sanggup bertahan di rumah itu dengan kondisi mentalnya yang hancur?"
Arvin mengepalkan tangannya hingga buku jarinya memutih. Benar. Rumah besar itu bukan tempat penyembuhan, melainkan rumah jagal bagi jiwa Aurora.
Sementara itu, di kediaman Tenggara, kegelisahan mulai merayap di hati Eros. Sejak jam pulang sekolah tadi, pak sopir melaporkan bahwa Arvin dan Aurora tidak ditemukan di sekolah. Ponsel Arvin mati, dan Bimo pun tidak bisa dihubungi.
Eros berdiri di depan jendela ruang kerjanya, menatap hujan yang mulai turun membasahi taman. Di atas mejanya, strip obat jantung yang ia sita semalam masih tergeletak. Ia sempat mencari nama obat itu di internet, dan hasil pencariannya membuatnya mual: Gagal jantung stadium akhir. Digunakan untuk memperpanjang harapan hidup pasien yang tidak bisa lagi dioperasi.
"Eros, di mana adik-adikmu?"
Suara Bramantyo yang berat terdengar dari ambang pintu. Sang ayah tampak baru saja menyelesaikan rapat penting, namun gurat kekesalan terlihat jelas di keningnya.
"Aku sedang mencarinya, Pa. Mungkin Arvin membawa Aurora jalan-jalan sebentar," jawab Eros, mencoba menenangkan ayahnya meski hatinya sendiri berkecamuk.
"Jalan-jalan? Di saat dia sedang dihukum? Arvin mulai melunjak. Dia pikir dia bisa melindungi 'pembunuh' itu dari perintah Papa?" Bramantyo mendengus. "Segera temukan mereka. Jika dalam satu jam mereka tidak pulang, saya akan memotong semua fasilitas Arvin. Dan sampaikan pada anak itu, jangan harap ada biaya rumah sakit lagi kalau dia hanya ingin berakting."
Bramantyo pergi, meninggalkan Eros dalam keheningan yang menyesakkan. Eros mengambil strip obat itu, meremasnya dalam genggaman. Untuk pertama kalinya dalam hidupnya, Eros merasakan percikan keraguan. Apakah selama ini dia benar-benar membenci Aurora, atau dia hanya mengikuti kebencian ayahnya agar ia tetap menjadi putra yang sempurna?
Ia teringat saat Aurora lahir. Saat itu Eros masih sangat muda. Ia ingat bagaimana ayahnya menangis dan menunjuk bayi merah itu sebagai penyebab ibunya pergi. Sejak saat itu, memusuhi Aurora adalah cara untuk menunjukkan kesetiaan pada mendiang ibunya. Namun, jika ibu masih ada, apakah ibu ingin melihat anaknya tersiksa seperti ini?
Di apartemen, malam semakin larut. Aurora mulai mengigau dalam tidurnya. Suaranya sangat lemah, nyaris seperti desisan ular yang menderita.
"Ma... sakit... Aurora mau ikut Mama..."
Arvin, yang sejak tadi tidak beranjak dari sisi tempat tidur, segera menggenggam tangan Aurora.
"Jangan, Ra... jangan ikut siapa pun. Di sini saja sama gue. Gue janji bakal berubah. Gue janji bakal jagain lo."
Tiba-tiba, pintu apartemen terbuka dengan paksa. Arvin berjengit dan segera berdiri, menghalangi pandangan ke arah ranjang. Ia mengira itu adalah ayahnya yang datang untuk menyeret Aurora. Namun, yang muncul adalah Eros.
Wajah Eros tampak berantakan, basah kuyup karena hujan. Matanya langsung tertuju pada sosok yang terbaring lemah dengan berbagai kabel dari peralatan medis portabel Dokter Hendra yang masih terpasang.
"Jadi benar dia sakit..." bisik Eros. Suaranya tidak lagi terdengar berwibawa, melainkan penuh dengan keterkejutan yang nyata.
"Keluar lo!" bentak Arvin. "Lo udah ambil obatnya semalam! Lo mau apa lagi?! Mau liat dia mati di depan mata lo baru lo puas?!"
Eros berjalan mendekat, mengabaikan teriakan Arvin. Ia menatap wajah Aurora yang begitu tirus. Jantungnya seolah berhenti berdetak saat melihat masker oksigen yang berembun di setiap napas lemah Aurora.
"Vin, Papa mencari kalian. Dia sangat marah," ucap Eros pelan.
"Gue nggak peduli sama si tua bangka itu! Dia nggak pernah anggap kita sebagai anak, dia cuma anggap kita sebagai aset! Dan Aurora... Aurora dianggap sebagai sampah!" Arvin meluap, ia mencengkeram kerah kemeja Eros. "Lo lihat dia, Kak! Dia hampir mati karena kita! Karena lo juga!"
Eros terdiam, membiarkan Arvin mengguncang tubuhnya. Ia menatap ke arah meja samping tempat tidur, di mana buku catatan biru milik Aurora tergeletak. Buku itu terbuka di halaman yang bertuliskan: 'Aku sayang Kak Eros, meskipun Kakak selalu menatapku seolah aku adalah kotoran di sepatunya.'
Lutut Eros terasa lemas. Ia terjatuh di kursi samping ranjang. "Arvin... apa yang sudah kita lakukan?"
"Sesuatu yang nggak akan pernah bisa dimaafkan," jawab Arvin dengan suara pecah.
Keduanya kini terdiam dalam ruangan yang sunyi, hanya ditemani suara bip dari monitor jantung yang berdetak tidak beraturan. Dua kakak yang selama enam belas tahun menjadi monster bagi adiknya, kini terduduk bersimpuh di depan raga yang hampir hancur itu.
Tiba-tiba, monitor jantung mengeluarkan suara melengking yang panjang. Garis di layar itu mendatar.
Tiiiiiiiiiiiiiiiiiiid...
"Dokter! Dokter Hendra!" Arvin berteriak histeris.
Eros terpaku, matanya membelalak. "Aurora! Ra! Bangun!" ia mencoba mengguncang bahu Aurora, sesuatu yang belum pernah ia
lakukan dengan sentuhan sayang.
Dokter Hendra segera masuk dan melakukan tindakan RJP (Resusitasi Jantung Paru). Arvin dan Eros dipaksa menjauh. Mereka berdiri di sudut ruangan, saling berangkulan untuk pertama kalinya sejak mereka dewasa, menyaksikan adik kecil mereka sedang ditarik kembali dari pintu kematian yang sudah terbuka lebar.
Di sela-sela kepanikan itu, Arvin berbisik, sebuah sumpah yang ia tujukan pada langit yang gelap. "Kalau lo bangun, Ra... gue bakal kasih sisa hidup gue buat lo. Tolong... jangan pergi dulu."
Namun di dalam tidurnya yang gelap, Aurora
merasa beban di dadanya menghilang. Ia melihat seorang wanita cantik berbaju putih melambaikan tangan padanya di kejauhan. Aurora ingin berlari ke sana, ke tempat di mana tidak ada rasa sakit, tidak ada makian, dan tidak ada kebencian.
Banyak pelajaran yg bisa kita ambil dari cerita kk
sungguh sangat sedih dan menguras air mata🥹🥹🥹
tapi gak kuat bacanya
soalnya sedih banget 😭😭🥹🥹