NovelToon NovelToon
Arumi

Arumi

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Single Mom
Popularitas:5.5k
Nilai: 5
Nama Author: Miss Ra

​Dicap sebagai janda rendahan, dipermainkan oleh pria tak bertanggung jawab, dan dicemooh oleh keluarga sendiri karena kemiskinannya, Arumi memiliki segalanya untuk hancur. Namun, Arumi memilih untuk bangkit dari abu.

​Ia mematikan hatinya, menolak bantuan siapa pun, dan bekerja dalam diam hingga namanya disegani.

Saat ia kembali, ia tidak datang untuk memohon. Ia datang untuk menagih setiap air mata yang pernah ia jatuhkan.

​Karena pembalasan yang paling manis adalah kesuksesan yang membuat musuhmu tidak mampu lagi menatap matamu.

Kita Simak Kisah Selanjutnya Di Cerita Novel => Arumi.
By - Miss Ra

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Miss Ra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Part 15

Pagi itu, sinar matahari menembus celah-celah papan kayu Warung Ibu Ratna, menyinari debu yang beterbangan di atas mesin jahit tua milik Arumi.

Kirana sudah bisa duduk tegak di atas bale-bale bambu. Wajahnya tidak lagi sepucat bulan lalu, namun matanya yang jernih kini sering kali menatap punggung ibunya dengan rasa ingin tahu yang dalam.

Arumi sedang menyelesaikan jahitan terakhir pada sebuah seragam sekolah milik anak seorang pedagang sayur. Gerakannya mekanis, cepat, dan tanpa ekspresi.

Kesembuhan Kirana adalah berkah, namun proses menuju kesembuhan itu telah membekukan sesuatu di dalam jiwa Arumi. Ia bukan lagi Arumi yang akan tersenyum lembut setiap kali Kirana memanggilnya.

"Ibu, tadi Tante penjual jamu kasih Kirana permen," celetuk Kirana sambil menunjukkan sebungkus permen berwarna warni. "Katanya Kirana pintar karena sudah sehat."

Arumi menghentikan kayuhan pedal mesin jahitnya. Suasana warung yang tadinya tenang mendadak terasa mencekam. Ia berbalik, menatap permen di tangan Kirana dengan pandangan yang membuat bocah itu menciut.

"Buang permen itu, Kirana," ucap Arumi datar.

"Tapi, Bu... Tante itu baik..."

"Ibu bilang buang!" suara Arumi tidak keras, namun ketajamannya melebihi mata gunting di atas meja.

Kirana tersentak. Dengan tangan gemetar, ia meletakkan permen itu di atas meja. Arumi mendekat, mengambil permen itu, lalu melemparnya ke tempat sampah di sudut dapur.

Arumi berjongkok di depan Kirana, memegang kedua bahu kecil anaknya. Matanya menatap tepat ke manik mata Kirana, memaksa bocah itu untuk melihat realitas yang pahit.

"Dengar Ibu, Kirana. Di dunia ini, tidak ada yang memberi sesuatu secara cuma-cuma. Tidak ada permen gratis, tidak ada senyum gratis," bisik Arumi. "Orang yang memberimu gula hari ini, bisa jadi adalah orang yang akan menyirammu dengan air kotor besok jika kamu tidak lagi berguna bagi mereka."

"Tapi Tante jamu sering bantu Ibu..."

"Dia membantu karena dia butuh Ibu menjahit bajunya dengan harga murah," potong Arumi. "Jangan pernah menggantungkan kebahagiaanmu pada kebaikan orang lain. Karena saat mereka menarik kebaikan itu, kamu akan jatuh dan tidak bisa berdiri lagi. Kamu mengerti?"

Kirana mengangguk pelan, meski air mata mulai menggenang di pelupuk matanya. Ia tidak mengerti mengapa ibunya berubah menjadi sedingin es, namun ia merasakan ketakutan yang luar biasa jika ia tidak menuruti kata-kata itu.

Ibu Ratna, yang sedang memotong sayuran di dapur, menghela napas panjang. Ia melihat bagaimana Arumi sedang membentuk Kirana menjadi replika dirinya sendiri, tangguh, waspada, namun kesepian.

"Kamu terlalu keras padanya, Arumi," tegur Ibu Ratna setelah Kirana pergi ke belakang untuk bermain. "Dia masih kecil. Biarkan dia merasakan sedikit rasa manis dunia."

"Rasa manis dunia itu yang membuat saya hampir kehilangan dia di jalanan, Bu," jawab Arumi tanpa menoleh, kembali fokus pada jahitan. "Saya lebih baik melihatnya menangis sekarang karena kata-kata saya, daripada melihatnya hancur nanti karena tertipu dunia."

~~

Siang itu, saat warung sedang ramai-ramainya, sebuah motor bebek tua berhenti di depan. Sosok pria dengan jaket kulit kusam yang sangat dikenal Arumi turun dengan gaya angkuh. Sakti.

Namun kali ini, Sakti tidak datang sendiri. Di belakangnya, berdiri seorang pria paruh baya dengan kemeja rapi yang tampak asing bagi lingkungan pasar itu.

"Arumi! Lihat siapa yang aku bawa!" seru Sakti, melangkah masuk tanpa permisi dan duduk di depan meja jahit Arumi.

Arumi tidak berhenti menjahit. Suara mesinnya justru semakin cepat, seolah-olah ia sedang memacu adrenalinnya sendiri.

"Ini Pak Gunawan. Beliau punya konveksi besar di kota. Dia dengar soal tangan emas penjahit pasar ini," Sakti berkata dengan nada bangga, seolah ia adalah manajer Arumi. "Beliau mau kasih kamu borongan. Seribu potong daster per minggu. Bayangkan berapa uang yang bisa kita dapat, Rum!"

Pak Gunawan tersenyum tipis, menatap Arumi dari atas ke bawah dengan tatapan meremehkan. "Sakti bilang kamu butuh modal. Saya bisa kasih uang muka besar hari ini juga, asal kamu mau tanda tangan kontrak eksklusif dengan perusahaan saya selama dua tahun."

Arumi menghentikan mesin jahitnya. Ia menatap kontrak yang disodorkan Pak Gunawan, lalu menatap Sakti yang matanya berbinar penuh keserakahan.

Arumi tahu persis skema ini. Sakti pasti sudah mengambil komisi di depan, dan kontrak eksklusif itu hanyalah cara halus untuk menjadikannya budak korporasi dengan bayaran murah.

"Seribu potong seminggu dengan mesin tua ini?" Arumi bertanya dingin.

"Makanya, uang mukanya bisa kamu pakai beli mesin baru. Sakti yang akan urus semuanya," sahut Pak Gunawan.

Arumi mengambil kertas kontrak itu, membacanya sekilas, lalu dengan gerakan tenang namun menghina, ia merobek kertas itu menjadi dua bagian.

"Hei! Apa-apaan kamu, Rum?!" Sakti berdiri, wajahnya memerah karena malu di depan Pak Gunawan.

Arumi berdiri, memegang gunting jahitnya dengan posisi yang membuat Pak Gunawan refleks mundur satu langkah.

"Pertama, jangan pernah bicara seolah-olah kamu mengenal saya, Sakti," ucap Arumi, suaranya sangat tenang namun berwibawa. "Kedua, Pak Gunawan... kontrak ini menyebutkan bahwa semua desain yang saya buat akan menjadi hak milik perusahaan Bapak tanpa royalti. Itu bukan kerja sama, itu perampokan."

"Kamu jangan sombong, Arumi! Kamu itu cuma janda pencuci piring yang beruntung bisa pegang mesin jahit!" bentak Sakti, tangannya hampir melayang ke arah wajah Arumi.

PLAK!

Bukan Sakti yang memukul, melainkan Arumi yang dengan cepat menyabetkan penggaris besi polanya ke arah tangan Sakti.

"Keluar dari warung ini," perintah Arumi. "Dan bawa investor sampahmu ini pergi. Saya tidak butuh modal dari orang yang niat awalnya sudah ingin menipu saya."

Sakti mengerang kesakitan, memegangi tangannya. Ia menatap Arumi dengan kebencian murni. "Kamu akan menyesal, Arumi! Kamu pikir kamu bisa bertahan sendirian di pasar ini? Aku akan pastikan tidak ada satu pun orang yang berani kasih orderan ke kamu!"

"Silakan coba," tantang Arumi. "Tapi ingat satu hal, Sakti... saya sudah pernah kehilangan segalanya. Orang yang tidak punya apa-apa lagi untuk dilepaskan adalah orang yang paling berbahaya untuk dilawan."

Pak Gunawan yang merasa terhina segera pergi, diikuti Sakti yang terus memaki-maki. Pelanggan warung terdiam, takjub melihat transformasi Arumi yang begitu drastis.

~~

Sore harinya, Arumi duduk di depan warung, memperhatikan Kirana yang sedang menyapu lantai dengan gerakan yang sangat rapi, persis seperti yang diajarkan Arumi. Tidak ada lagi tawa riang dari bocah itu, hanya kepatuhan yang sunyi.

Ibu Ratna mendekati Arumi, memberikan sepiring pisang goreng. "Kamu baru saja mengusir peluang besar, Arumi. Sakti itu berbahaya, dia punya banyak teman preman di pasar ini."

"Peluang yang dibangun di atas tipu daya hanya akan menjadi lubang kubur, Bu," sahut Arumi. "Saya lebih baik merangkak pelan tapi pasti, daripada berlari kencang namun kaki saya dirantai orang lain."

Arumi mengeluarkan ponsel murah yang baru ia beli dari hasil jahitannya. Ia membuka akun media sosial anonim miliknya. Di sana, ia melihat postingan terbaru Dinda. Dinda sedang memamerkan gaun baru untuk acara Gala Dinner pengusaha tekstil minggu depan.

"Gaun itu..." Arumi menyipitkan mata. Ia mengenali potongannya. Itu adalah gaun dari butik Bu Sarah, tempatnya dulu bekerja.

Arumi tersenyum dingin. Ia tahu kelemahan kain gaun itu. Ia tahu di mana sambungan jahitan yang paling rapuh jika diberikan tekanan tertentu.

"Bu Ratna," panggil Arumi tiba-tiba. "Boleh saya titip Kirana malam ini? Saya harus ke pasar induk mencari jenis benang khusus. Benang yang tidak bisa putus, namun bisa memotong kulit."

Ibu Ratna menatap Arumi dengan cemas. "Apa yang sedang kamu rencanakan, Nak?"

Arumi berdiri, merapikan bajunya yang sederhana. "Hanya ingin memastikan bahwa saat badai datang, saya adalah orang yang memegang kendali atas arah anginnya."

Arumi melangkah pergi menuju kegelapan pasar induk. Kirana menatap punggung ibunya dari kejauhan, memegang erat sapu di tangannya.

Di matanya, sang ibu bukan lagi pelindung yang hangat, melainkan sebuah menara kokoh yang terbuat dari batu karang, indah, namun sangat dingin dan tajam.

"Dinda.... nikmatilah pesta kalian minggu depan," bisik Arumi dalam hati. "Karena aku sudah menyiapkan kado yang tidak akan pernah kalian lupakan seumur hidup."

...----------------...

To Be Continue ....

1
THAILAND GAERI
👍👍kpn up thor
Dew666
💎💎💎💎
Enny Suhartini
semangat Arumi
Dyas31
bagus cerita nya KK, mengandung konflik berat, tetep semangat KK kuuuu 😘😘😘😘
Enny Suhartini
ayo Arumi semangat 💪
Sulfia Nuriawati
kok ni crta keterlaluan skali konflik nya, dlm dunia nyata bs d siksa tu yg sk fitnah knp jatuhnya arumi sampai sdh bangkit jd kesel bc nya
Enny Suhartini
semangat ya Arumi
Enny Suhartini
Miss Ra kenapa kok kejam banget
Enny Suhartini
kok kejam sekali sih
Enny Suhartini
sabar dan kuat ya Arumi 💪
Enny Suhartini
ayo semangat Arumi💪
Enny Suhartini
cerita penuh perjuangan
semoga kuat dan sabar Arumi
Dew666
☀️☀️
Dew666
🔥🔥🔥🔥
Himna Mohamad
sdh mampir baca,,lanjut kk
Ma Em
Miss Ra , Arumi atau Arini namanya , tapi semoga sukses Arini dgn usahanya dan balas tuh perbuatan mbak Sari yg menyebalkan selalu menghina dan merendahkan Arini tunjukan pada mereka yg sdh menghina kamu Arini bahwa Arini bisa sukses .🙏🙏🙏🙏🙏🙏🙏🙏🙏
Miss Ra: ooh sori, saya ingatnya arini yg di novel baru yg belum rilis..
nanti saya rubah
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!