NovelToon NovelToon
SENTUHAN PAPA MERTUA

SENTUHAN PAPA MERTUA

Status: sedang berlangsung
Genre:Rumah Tangga / Balas Dendam
Popularitas:3.5k
Nilai: 5
Nama Author: Nuna_Pena

"Pa, Papa mau apa??" Adelia terkejut saat papa mertuanya tiba-tiba mendekat dan memeluknya dari belakang. la tak pernah membayangkan, kalau setelah menikah papa mertuanya itu justru berubah dan bersikap seolah ia adalah istrinya.

Apakah Adelia mampu mengendalikan diri dari papa mertuanya?

Atau ia justru ikut terjerumus juga?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nuna_Pena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

LIMA BELAS

Kinara tersenyum manis. "Ini Fikri... dia tadi nganter barang titipan tetangga. Mama cuma suruh dia duduk sebentar, kasihan dia capek."

Pemuda itu, Fikri, tersenyum kikuk sambil berdiri pelan. "Iya, Bang... saya tadi cuma-"

Namun, Althaf langsung berjalan cepat menghampirinya. Tanpa bicara panjang, ia memegang lengan pemuda itu dan menariknya menjauh dari sofa.

"Bangun, pulang sana!" ucap Althaf dingin.

Fikri menggigit bibir, panik. "Ma-maaf, Bang. Saya nggak ada niat apa-apa. Saya-"

"Kamu pulang sana cepat!" ulang Althaf dengan nada tegas.

Kinara langsung berseru kesal. "Lho, Althaf! Kenapa kamu kasar begitu sih?!"

Althaf menatap ibunya, rahangnya mengeras. "Ma! Udah berapa kali aku bilang jangan asal ajak cowok masuk rumah?!"

Kinara mendengus dan memelotot. "Apa salahnya coba?! Mama cuma ngobrol-ngobrol bentar sama dia, emang nggak boleh mama senang sedikit?!"

Fikri makin salah tingkah. Ia mengangkat kedua tangan, mencoba menjelaskan. "Maaf, Bang. Saya cuma bawa barang. Terus Ibu Kinara ajak saya masuk karena hujan-"

"Udah!" ujar Althaf cepat sambil mendorong pemuda itu pelan menuju pintu. "Balik sana!"

Fikri mengangguk cepat. "I-iya, Bang. Saya pamit. Makasih, Bu."

"Eh, kok buru-buru?!" seru Kinara, tapi Fikri sudah keburu melangkah keluar, wajahnya pucat.

Begitu pintu tertutup, Kinara langsung memelotot pada putranya.

"Althaf! Kamu tuh ya... nggak tahu diri! Mama cuma butuh hiburan sedikit, masa dilarang-larang?!" tegur Kinara.

Althaf menarik napas panjang, berusaha mengendalikan emosi yang meledak di dada. "Ma... itu bukan hiburan, itu bikin masalah namanya! Mama bukannya udah belajar dari kejadian-kejadian kemarin?"

Kinara membalik badan, menaruh tangan di pinggang. "Halah! Kamu ngomong kayak kamu ngerti hidup Mama aja. Kamu pikir Mama nggak kesepian?! Papa kamu meninggal bertahun-tahun... Mama sendirian!"

Nada suaranya pecah, sekaligus marah dan terluka.

"Ma..." Althaf melunak sedikit. "Bukan gitu maksud aku. Tapi, Mama itu perempuan... apalagi tinggal cuma sama aku. Orang-orang bisa salah paham, mereka bisa ngomong macem-macem."

Kinara mendengus sambil mengambil minumannya.

"Biarin! Mama nggak peduli orang ngomong apa, yang penting Mama bahagia."

Althaf mendekat, menatap ibunya serius. "Bahagia boleh, tapi jangan sampai Mama ngerugiin diri Mama sendiri."

Bukannya luluh, Kinara malah memalingkan wajah.

Ia berjalan menuju kamar sambil berkata ketus.

"Kamu nggak ngerti apa-apa, Thaf. Mama capek. Mama cuma mau merasa... diperhatikan."

Kemudian pintu kamar Kinara tertutup keras.

Brakk.

Althaf memejamkan mata.

Ia tidak marah pada mamanya. Ia hanya... takut.

Takut suatu hari ibunya terseret masalah. Takut

Ibunya jatuh ke tangan orang yang salah. Dan takut ia tidak bisa menghentikannya.

Althaf mengusap wajahnya kasar. "Aduh, Ma..."

Ia duduk di sofa, menghela napas panjang, merasa rumah itu tiba-tiba terasa lebih berat daripada kampus yang penuh tekanan.

Lalu tiba-tiba... sebuah pesan masuk ke ponsel.

Intan:

"Hey, makasih banget ya soal tadi! Kamu beneran nolong aku. Kapan-kapan kita makan bareng lagi, kamu mau gak?"

Althaf menatap layar itu lama, wajahnya yang kusut perlahan berubah menjadi senyum.

Tapi, ia tidak tahu bahwa Intan punya rencana lain-dan tanpa sengaja, ia sedang masuk perlahan ke dalamnya.

Sementara itu, di rumah Adelia, malam semakin larut. Bastian duduk sendirian di ruang tengah. Lampu temaram membentuk bayangan panjang di wajahnya.

Tatapannya kosong... namun pikirannya sangat sibuk. Tentang Adelia. Tentang jarak yang makin dekat. Tentang rencana yang perlahan terbentuk.

Dan ketika Lukas turun sebentar untuk mengambil minum, ia tidak melihat bahwa ayah tirinya sedang memperhatikan pintu kamar di lantai dua dengan tatapan yang tidak mudah ditebak.

"Uhh sayaangg... serabi kamu masih kerasa semplt aja sih, padahal udah sering aku gempvr! Ahhsss kalo kayak gini, aku susah buat nahan lama sih!" er4ng Lukas yang saat ini tengah beradv kel4min dengan istrinya di ranj4ng kamar mereka.

Adelia berbaring santai di bawahnya, terlentang sambil tersenyum dan mengalungkan lengannya pada leh3r sang suami.

"Iya mas, gapapa gausah ditahan terlalu lama. Aku malah seneng kalo bisa mvasin kamu dengan cep4t, aku pengen ngerasain sembvran mayones kamu terus, mas!" balas Adel.

"Oohhh kamu ini paling bisa godain aku, sayang!! Ahh ahh shiittt!!" Lukas mend3s4h makin kvat.

Pompaan pinggvlnya terasa makin cep4t, pertanda Lukas memang terbawa suasana dan sulit menahan diri karena jepit4n serabi Adel yang begitu nikm4t. Persatvan itu menimbulkan suara yang cukup ker4s, nyaris menggema di seluruh ruangan.

Kamar itu terasa makin pan4s, meski ac terus menyala. Lukas mendekap erat tvbvh Adel, mencivmi tiap inci kvlit tvbvhnya yang wangi tanpa terlewat sedikitpun.

Lengvhan demi lengvhan kelvar dari mvlvt keduanya,

menambah kesan hangat persetvbvhan itu. Lukas terus memompa tanpa kenal lelah, sementara Adelia juga membantu mer4ngs4ng dengan cara menivp leh3r sang suami.

Sampai akhirnya, mereka sama-sama ingin mencapai pvncak dan sudah tak bisa menahan diri lagi.

"Haahh sayang, aku mau sampai! Aku gak tahan lagi!" er4ng Lukas.

"Aku juga, Mas. Kita kelvarin sama-sama, ya! A-akhh maasss!!" balas Adel.

Tak berselang lama, keduanya meng3r4ng cukup panj4ng dan sama-sama mencapai pvncak di dalam serabi Adel. Sembvran mayones bercampur dengan der4snya air madu milik Adel, membuat suasana sangat ramai.

Mereka tersengal, Lukas ambruk di atas istrinya dan terlihat kelelahan. Adel pun memandangi wajah suaminya itu, membelainya lembut dengan perasaan tak menentu. Entah kenapa, Adel masih takut jika Lukas pergi besok selama beberapa hari dan ia hanya berduaan dengan Bastian.

"Sayang, makasih ya? Kamu masih mau lay4nin aku walau lagi capek, aku jadi makin sayang deh sama kamu!" bisik Lukas sambil mencivmi kening Adel.

Adel tersenyum tanpa menjawab, namun ia terpejam dan menyembunyikan wajahnya di tvbvh sang suami sebelum mereka sama-sama terlelap sambil berpelukan.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!