Rumi terlempar ke dunia otome game yang sedang digandrungi. Tapi, dia bukan tokoh utama wanitanya.... Dia cuma seekor kucing!
Berbekal pengetahuan akan seluruh akhir cerita bersama tiga pangeran, Rumi bertekad mengatur jalur romansa agar semuanya berakhir bahagia.
Namun, kehidupan tidak pernah sesederhana permainan game....
Tiga pangeran berarti tiga jalan hidup. Tiga pilihan. Dan hubungan yang perlahan menghancurkan dari dalam.
Apakah yang dia ketahui masih cukup? Ataukah, pada akhirnya Rumi tidak bisa melakukan apa-apa....
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rootea, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 24 - Varkath
Pegunungan di utara—sisi lain dan lebih jauh dari Nimregohr—adalah area yang tidak sering Raien datangi. Berbatasan dengan Varkath memang memberi ancaman tersendiri, namun negeri itu tak ubahnya gunung berapi dormant. Selama tidak diusik, bentengnya tak lebih dari tumpukan batu dingin.
Suhu udara semakin turun secara signifikan semakin jauh mereka bergerak ke utara. Rombongan itu hanya membawa satu kereta kecil, dan sebagian perlengkapan diikat di kedua sisi pelana kuda. Sejak meninggalkan kota Mirstone dengan asap dari pabrik senjata yang membumbung pekat ke langit, mereka meminimalisir waktu beristirahat. Hanya berhenti ketika jalanan di depan terlalu curam untuk dilewati malam hari.
Pertambangan besi yang dikuasai Keluarga Karsten telah mereka lewati, dan rombongan kini menapaki jalanan berbatu Pegunungan Eremoor. Salju tipis turun sepanjang perjalanan, memaksa mereka bergerak lambat akibat jalanan yang licin.
Tiba di sisi lain pegunungan itu bagaikan memasuki dunia yang berbeda. Varkath terbentang di kaki pegunungan yang telah diselimuti salju. Awan tebal menggantung rendah, menutupi seluruh langit. Cahaya matahari tak berhasil menembus lapisan kelabu, membuat pergantian waktu menjadi kabur. Siang dan malam nyaris tak ada beda. Bukit dan lembah diselimuti kabut, membuat langkah terasa berat dan hati terasa sesak.
Gelap dan kelabu.
Varkath seolah enggan memiliki warna lain di tubuhnya. Kastil batu yang menjadi tujuan mereka adalah epitome nyata dari itu. Kastil batu berwarna gelap menjulang tinggi, serupa bayangan mimpi buruk. Keberadaannya seolah menelan segala harapan.
Sambutan di aula itu dingin. Kaku. Penuh jarak.
Tidak ada singgasana di ruangan itu. Tidak juga meja besar dengan kursi tinggi untuk menyambut tamu. Yang ada hanyalah dipan yang tersebar di penjuru ruangan, dengan beragam ukiran dan selimut bulu tebal bertumpuk sebagai alas.
Alih-alih aula kerajaan, mereka seperti dibawa ke ruang tidur besar. Ruang peristirahatan publik di mana para petinggi Varkath bersandar nyaman ditemani setidaknya satu orang budak—perempuan dan laki-laki, tua dan muda (—teramat muda). Para budak itu memiliki setidaknya satu perhiasan di tubuh mereka, memberitahukan keberadaan batu mulia kebanggaan Varkath, sekaligus bercak ‘warna’ di tubuh muram itu.
Para petinggi Kerajaan Varkath melirik kedatangan rombongan Kaelros dengan tatapan kosong. Gurat tipis di wajah mereka sulit untuk dikategorikan sebagai sebuah senyuman. Sepintas, mereka memberikan perhatian, sebelum kembali pada aktivitas masing-masing. Seakan tak peduli biarpun tamu dari negara lain sedang menyaksikan perbuatan yang tak sepatutnya dipertontonkan.
Raien menjaga pandangannya lurus, menghadap dipan paling megah di tengah ruangan. Raja Varkath, Fyodor Volkran, seharusnya yang berada di sana.
“Raien Dravaryn, Pangeran Kedua dan Komandan Tinggi Kekaisaran Kaelros, memberi salam pada Raja Fyodor dan Keluarga Volkran.” Dengan suara lantang, Raien berucap. Telapaknya menyentuh dada tepat di atas jantung. Ia menolak berlutut, walau kepalanya sedikit tertunduk untuk sopan santun.
Tidak ada seorang pun yang pernah bertemu Raja Varkath—atau warga Varkath secara umum. Mereka yang berkomunikasi dengan Varkath kemungkinan besar hanya bertemu para budak, yang melakukan apapun untuk majikan mereka, sementara para majikan itu sibuk bersenang-senang dengan budak favorit mereka. Seperti juga Raja mereka yang terang-terangan memainkan kancing baju budaknya di atas pangkuan.
Seorang anak laki-laki tak lebih dari usia delapan itu sejak tadi menatap lurus ke arah Raien.
Pangeran Kaelros itu mengatupkan rahang begitu kuat untuk menahan emosi yang merayap naik.
Varkath, negeri terisolir ini, benar-benar memisahkan diri dari dunia dan norma yang berlaku.
Seorang bocah! Apa yang mereka—
Suara tawa tiba-tiba terdengar memenuhi ruangan.
“Fyodor tidak di sini, anak muda.”
“Tua bangka itu pasti sedang bersenang-senang sendiri di ruang bawah.”
“Siapa yang dia kira sebagai Fyodor? Peliharaan Yvar itu? Pfft!”
Raien terkesiap.
Sekali lagi ia memperhatikan penghuni dipan di tengah ruangan.
Seorang pria dan seorang anak laki-laki. Anak laki-laki yang, baru pemuda ini sadari, alpa dari keberadaan perhiasan apapun di tubuhnya. Pakaiannya memang tidak mencolok, namun juga tidak kelewat sederhana. Rambutnya gelap dengan kulit yang begitu pucat nyaris transparan, sudut matanya merah seperti seorang yang sakit. Sedikit mengingatkannya pada Havren. Tapi, tidak ada emosi yang bisa dibaca di wajahnya. Ketenangan yang mengingatkan Raien pada Caelian—hanya saja… asing dan lebih berat, seperti sesuatu yang tidak seharusnya dimiliki seorang bocah.
Yvar Volkran,
adalah nama putra mahkota Varkath yang diberitahukan padanya.
Tentu, Raien tidak mengira putra mahkota yang dimaksud adalah—
“Maafkan kekeliruan saya, Yang Mulia Yvar. Kehormatan untuk bisa bertemu dengan Anda. Saya mengharapkan kerja sama yang baik dengan Keluarga Volkran dan Varkath.”
—seorang bocah!
Betapa kejam.
Mereka yang mengusulkan dan menyetujui perjodohan ini adalah manusia sakit tanpa moral.
Pernikahan politik? Hah!
Ini tak lebih dari penjara yang dibungkus lelucon dan kata-kata manis.
“Crimson Blade.”
Yvar menatap tamunya lurus, suaranya dingin serupa glasier yang rubuh perlahan.
“Berapa banyak yang sudah kau bunuh?”
...*...
...*...
...*...
Pertanyaan itu seharusnya sederhana.
Namun, yang terlintas di benak Raien bukanlah angka—melainkan suara lain. Ketenangan yang sama. Penuh otoritas. Selalu penuh perhitungan dan membuat keputusan dengan kepala dingin.
Yang untuk pertama kalinya dalam ingatan Raien, kehilangan kendali di malam itu.
Brakk!!!
Pintu itu terhempas hingga membentur dinding. Para pelayan yang kebetulan ada di sana sontak terlonjak. Setelah meletakkan air hangat untuk Pangeran Raien di kamarnya, mereka bergegas menyingkir tanpa mengatakan apa-apa. Tak satupun dari mereka mengangkat wajah begitu menyadari kedatangan sang putra mahkota.
Caelian berdiri di ambang pintu, napasnya terlihat tidak stabil. Bahkan setelah semua orang pergi dan pintu tertutup rapat, ia tidak langsung berbicara. Seolah masih berusaha mengumpulkan kembali apa yang hampir lepas dari genggamannya.
“Kau—”
Satu kata itu tertahan. Rahangnya tampak mengeras.
“Kau menyetujuinya?” Nada suaranya sedikit turun di akhir—ketenangan yang terasa ganjil, nyaris kentara dipaksakan.
Raien tidak menjawab. Tidak pula menghentikan aktivitasnya, mengelap pedangnya dengan kain basah. Raut wajahnya netral, seakan tidak ada yang salah.
"Kau menyetujuinya," Caelian mengulang, “tanpa berkonsultasi lebih dulu—” ia mengambil satu langkah mendekat, “Mengabaikanku?"
Kali ini suaranya pecah di ujung tanya.
Gerakan tangan Raien di atas bilah pedangnya sempat terhenti. Mata biru gelap bergulir ke arah lawan bicara, walau mulutnya tetap bungkam.
Emosi yang tidak biasanya tampak, kini membayang di wajah rupawan sang putra mahkota.
Amarah yang begitu kentara.
“Ini harus dibatalkan.” Caelian berbalik, berjalan cepat ke sisi lain ruangan, lalu kembali mendekat—gelisah, tidak terarah. Ia bergerak mondar-mandir di dalam ruangan itu.
“Titah konyol macam apa—!”
Tangannya terangkat ke depan wajah, tanpa sadar menggigit ujung kuku sebelum menjatuhkannya kembali.
“Varkath!” Nada suaranya naik. “Varkath bukan pilihan baik. Mereka bisa membunuhmu tanpa seorangpun tahu.”
Untuk pertama kalinya, ada hal lain yang membayang lebih jelas dibanding amarah.
Takut.
Pedang dengan bilah gelap dan batu garnet merah tertanam di dekat gagang itu akhirnya kembali dimasukkan ke dalam sarungnya. Terdengar suara logam yang tidak seberapa nyaring, diikuti benturan kecil ketika ia diletakkan di atas meja.
“Cael.”
Raien akhirnya berucap.
Panggilan itu rendah dan tenang, menghentikan gerak panik sang putra mahkota.
“Aku akan melakukan apapun untuk memenuhi tugasku.”
Bola mata biru gelap bertemu dengan yang lebih terang.
“Aku sudah bersumpah,” ia berucap; lamat, namun lugas, “di depan makam ibuku.”