NovelToon NovelToon
Pergi Sakit Bertahan Sulit

Pergi Sakit Bertahan Sulit

Status: sedang berlangsung
Genre:Romansa Fantasi / Cinta Seiring Waktu / Dunia Masa Depan
Popularitas:241
Nilai: 5
Nama Author: Anisa Rahayu

Cinta adalah anugerah... tapi bagaimana jika cinta harus kamu berikan pada orang lain?

Aletta syavira levania dan Dilan Wijaya Kusuma saling mencintai sejak SMA – cinta yang tumbuh perlahan seperti bunga di musim hujan. Namun ketika sahabatnya Tamara Amelia Siregar mengaku jatuh cinta pada Dilan untuk pertama kalinya, Aletta membuat keputusan berat, melepaskan orang yang dicintainya demi menyenangkan sahabatnya.

"Dia butuh kesempatan, aku mohon Dilan, aku jaminan kamu akan lebih bahagia sama dia." Ucapnya dengan nada yang memelas sampai Dilan pun tak tega untuk menolaknya

Untuk memenuhi janjinya, Aletta mencari cinta baru melalui media sosial dan bertemu Jonathan Adista sanjaya. Sementara itu, Dilan dengan berat hati menjalin hubungan dengan Tamara. Di depan orang lain, semuanya terlihat sempurna – dua pasangan yang harmonis dan bahagia. Namun di balik senyum dan candaan, setiap tatapan Aletta dan Dilan menyimpan rasa rindu yang tak bisa disembunyikan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anisa Rahayu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 14

Pagi itu, mentari baru saja mengintip dari balik awan, menyinari jalanan yang masih sepi. Aletta berdiri di depan pintu rumahnya dengan napas panjang, menatap tumpukan koper dan tas besar di sampingnya.

Hari ini adalah hari yang sangat istimewa sekaligus mendebarkan baginya. Mulai hari ini, dia akan memulai PKL atau Praktek Kerja Lapangan di sebuah panti jompo yang terkenal asri dan nyaman di pinggiran kota.

Tidak hanya itu, karena jarak panti jompo cukup jauh dari rumah orang tuanya, hari ini sekaligus menjadi hari pertamanya pindah ke kosan baru yang letaknya hanya beberapa langkah dari tempat kerjanya nanti.

"Ya ampun... rasanya campur aduk sekali ya. Senang karena mulai babak baru, tapi takut juga harus hidup mandiri," gumam Aletta pelan sambil merapikan rambutnya.

Tak lama kemudian, Baskara datang membantu mengangkat barang-barang ke dalam mobil. "Sudah siap, sayang? Jangan lupa berhati-hati di sana ya. Lakukan yang terbaik dan jadilah anak yang berguna bagi orang lain," pesan Baskara dengan nada lembut namun tegas.

Aletta mengangguk mantapnya sambil tersenyum. "Siap, Yah! Aletta janji akan bekerja keras dan tidak mengecewakan Ayah dan Ibu. Nanti kalau libur Aletta pasti pulang."

Setelah berpamitan dan memeluk Puspa yang terlihat sedikit sedih karena anak gadisnya harus pergi, Aletta pun berangkat.

"Jaga diri Baik baik yah sayang, jangan kecapean, jangan telat makan yah" Ucap Puspa memeluk Aletta sebelum dia pergi.

"Iya buk udah ah jangan gitu dong yang ada letta malah sedih nih" Ucap Aletta membalas pelukannya.

"Iya sayang gak kok, udah sana masuk keburu telah" ucap Puspa

"kalau gitu Letta pamit yah, asalamualaikum" ucap Aletta berpamitan.

"waalaikumsalam" ucap Puspa melambaikan tantang merasa sedih tidak bisa mengantarkan Aletta karena harus menjaga oma Linda yang baru saja pulang dari rumah sakit.

Sesampainya di sekolah, suasana sudah sangat riuh. Banyak siswa yang berkumpul dalam kelompok-kelompok sesuai tempat tugasnya masing-masing. Ada kelompok yang akan ditempatkan di rumah sakit, ada yang ke puskesmas, dan sisanya menuju panti jompo.

Semua orang sibuk memeriksa barang bawaan, saling mengingatkan perlengkapan yang harus dibawa, dan tertawa bersama seolah merayakan petualangan baru mereka.

Aletta, Tamara, dan Ruby berdiri melingkar sambil saling berpegangan tangan. Wajah mereka terlihat sedih karena harus berpisah, tapi ada senyum yang tersungging menahan haru.

"Ya ampun, rasanya pengen menangis deh. Kita berpisah lho selama 3 bulan," kata Tamara sambil memeluk kedua sahabatnya erat-erat.

"Gue juga rasanya nggak tega ninggalin kalian. Padahal cuma beda tempat tugas, tapi rasanya kayak mau pisah benua," timpal Ruby sambil mengusap ujung matanya yang sedikit basah.

Aletta tersenyum lembut, "Hei, jangan cengeng dong! Kita janji ya, meskipun tempatnya beda, kita harus saling kirim kabar setiap hari. Kalau ada apa-apa atau susah, langsung telepon atau kirim pesan, oke?"

"Siap! Janji!" seru Tamara dan Ruby bersamaan.

"Jaga diri kalian baik-baik ya. Semangat buat tugasnya!" tambah Aletta.

"Loh juga ya, Let. Hati-hati di sana, jangan sampai sakit atau kecapekan," pesan Ruby.

Di sudut lapangan yang lain, Baskara mengajak ngobrol Diego sedikit menjauh dari keramaian. Wajahnya terlihat serius dan cemas.

"Nak Diego, Om mau minta tolong sesuatu sama kamu," kata Baskara memulai pembicaraan.

"Apaan Om?" tanya Diego bingung.

"Om titip Aletta ya. Dia kan bakal satu tempat sama kamu. Tolong jaga dia, pastikan dia makan teratur, istirahat cukup, dan jangan sampai dia kenapa-napa. Om nggak tenang kalau nggak tahu ada yang jagain dia di sana," jelas Baskara mengkhawatirkan anaknya.

Diego tersenyum lebar seperti mendapatkan sinyal lampu hijau, "Tenang aja, Om! saya bakal jaga Aletta sebaik saya menjaga adik saya sendiri. Dia aman bersama saya, pokoknya om gak usah khawatir ya."

"Makasih ya, Diego. Om percaya sama kamu," jawab Baskara lega.

Sementara itu, tidak jauh dari tempat mereka berdiri, ada sosok yang diam-diam memperhatikan. Itu Dilan. Matanya sempat tertuju ke arah Aletta, ingin sekali ia menghampiri dan mengucapkan selamat jalan, tapi entah mengapa kakinya terasa berat dan rasa canggung tiba-tiba menyeruak. Ia buru-buru memalingkan wajah dan berpura-pura asyik mengobrol dengan teman di sebelahnya.

"Eh Lan, kok ngelamun terus? Ayo berangkat rombongan kita udah mau jalan nih," panggil salah satu temannya.

"Iya, iya. Ayo duluan, aku nyusul," jawab Dilan dengan nada dingin. Dia sengaja menjauh, berusaha menghindari tatapan Aletta agar tidak ada percakapan di antara mereka.

Setelah semuanya berpamitan dan rombongan masing-masing berangkat, tibalah giliran kelompok Aletta sampai di kosan. Bangunannya cukup besar, bersih, dan lingkungannya tenang. Semua gadis langsung berlarian masuk dengan heboh.

"Wah, kosannya bagus banget lho! Aku suka!" seru Oca dengan antusias.

"Iya kan? Nyaman banget rasanya di sini," sahut Widi sambil melihat ke sekeliling.

"Yuk, kita pilih kamar sekarang! Aku udah nggak sabar mau taruh barang-barangku," ajak Cika.

Mereka segera menuju lorong kamar dan mulai melihat-lihat ruangan yang tersedia.

"Gimana kalau kita bagi kamar gini ya? Aku mau satu kamar sama Marina dan Silvia boleh nggak?" tanya Aletta melihat ke arah kedua temannya itu.

"Boleh banget dong! Aku juga pengen satu kamar sama kalian berdua," jawab Marina senang.

"Aku setuju-setuju aja. Asal teman sekamarnya asik, aku pasti betah," tambah Silvia sambil tersenyum lebar.

"Nah, kalau gitu kita bertiga satu kamar ya," kata Aletta gembira.

Di kamar sebelah, Widi melihat ke arah Cika, Luna, dan Oca lalu mengangkat bahu santai. "Kalau kalian gimana? Mau satu kamar sama aku nggak? Ruangan di sini lebih luas lho, muat buat kita berempat."

"Aku mau!" jawab Oca cepat.

"Aku juga ikut aja deh, daripada sendirian," kata Luna setuju.

"Asyik! Berarti kita berempat satu kamar ya. Pasti seru banget deh kalau malam nanti," seru Cika riang.

Setelah barang-barang mereka diletakkan di kamar masing-masing, mereka semua berkumpul di ruang tengah untuk mengatur jadwal dan pembagian tugas. Suasana langsung jadi sangat ramai dan penuh tawa.

"Oke, sekarang kita bahas ya soal jadwal dan pembagian tugas sehari-hari biar nggak rebutan nantinya," kata Silvi yang bertindak seolah menjadi pemimpin.

"Setuju! Mulai dari apa dulu nih?" tanya Luna.

"Mari kita bagi dulu ya tugas masak, cuci piring, nyapu, ngepel, sama piket malam," usul Cika.

"Aku mau bagian masak aja deh! Aku suka banget bikin makanan," kata Marina bersemangat.

"Kalau masak kamu ambil, aku yang cuci piringnya ya. Aku nggak jago masak, tapi rajin nyuci," timpal Silvia tertawa.

"Kalau aku bagian nyapu dan ngepel aja ya. Soalnya aku nggak betah kalau lantai berdebu," sahut Oca.

"Wah, enak banget kalian dapet tugas gampang. Terus sisanya siapa lagi yang mau ambil bagian piket malam?" tanya Widi sambil melihat satu per satu wajah teman-temannya.

"Aku mau coba piket malam deh, seru kali ya ngobrol pas orang-orang udah tidur," usul Aletta dengan mata berbinar.

"Aku ikut Aletta aja deh buat piket malam. Biar nggak takut," kata Luna dengan nada setengah bercanda.

"Terus aku sama Widi bagian apa dong?" tanya Cika bingung.

"Kita berdua bagian belanja kebutuhan sehari-hari sekalian jadi koordinator jadwalnya gimana? Itu kan tugas penting biar semuanya berjalan lancar," usul Widi.

"Asyik! Aku setuju banget! Nanti kita bisa jalan-jalan bareng pas belanja," seru Cika senang.

"Hore! Akhirnya selesai juga pembagiannya. Semuanya setuju kan dengan tugas masing-masing?" seru Aletta memastikan.

"SETUJUUUUUUU!" teriak mereka serempak hingga menggema di seluruh ruangan.

Suasana menjadi sangat hangat dan akrab. Obrolan tak henti terdengar, ada yang saling menyodok bahu, tertawa terbahak-bahak, hingga berjanji untuk saling membantu jika ada yang merasa kesulitan.

Sejak hari itu, perbedaan di antara mereka seolah hilang, dan mereka merasa seperti saudara kandung yang sudah lama saling mengenal.

Pagi itu, matahari bersinar cerah menyinari halaman panti jompo yang asri dan sejuk. Begitu rombongan siswa masuk melalui gerbang utama, mereka disambut oleh seorang wanita paruh baya yang ramah, berwajah teduh, dan mengenakan pakaian rapi. Itu Ibu Eka, pengelola panti jompo yang sudah lama mengabdi di sana.

Semua siswa segera berbaris dengan rapi. Silvia melangkah maju sedikit sebagai perwakilan, lalu membungkukkan badan dengan sopan diikuti oleh teman-temannya.

"Selamat pagi, Ibu," sapa Silvia dengan suara lembut dan hormat. "Perkenalkan kami dari SMA Pancasila, datang ke sini untuk melaksanakan tugas magang dan membantu kegiatan sehari-hari di panti ini. Mohon izin dan bimbingan Ibu selama kami berada di sini ya, Bu."

Ibu Eka tersenyum lebar melihat keramahan mereka, matanya menyiratkan rasa senang. "Selamat pagi, Anak-anak. Wah, bagus sekali kedatangan kalian. Ibu senang sekali ada anak-anak muda yang mau meluangkan waktu untuk menemani dan membantu kakek serta nenek di sini. Ibu izinkan ya kalian berkegiatan di sini, asalkan selalu menjaga sopan santun, berbicara dengan lemah lembut, dan berhati-hati saat membantu mereka ya. Karena sebagian dari mereka sudah lanjut usia dan butuh penanganan yang sangat telaten."

"Siap, Ibu! Kami janji akan menjaga sikap, bekerja sebaik mungkin, dan mendengarkan arahan Ibu serta para perawat di sini," jawab Gery dengan lantang dan sopan.

"Baiklah kalau begitu. Sekarang Ibu perkenalkan, kalian akan dibagi ke beberapa ruangan sesuai dengan nama yang sudah tertulis di papan pengumuman di sana. Silakan melihatnya, dan kalau ada yang bingung bisa langsung bertanya sama Ibu atau petugas yang lain," jelas Ibu Eka sabar.

"Terima kasih banyak atas izin dan penyambutannya, Ibu. Semoga kami bisa memberi manfaat dan kebahagiaan untuk kakek dan nenek di sini," kata Silvia lagi sambil tersenyum tulus.

"Sama-sama, Nak. Semangat ya kerjanya!" balas Ibu Eka mengangguk ramah.

Setelah berpamitan dan mengucapkan terima kasih lagi kepada Ibu Eka, mereka pun bubar dan mulai melihat daftar nama pembagian tugas. Satu per satu teman sekelompok Aletta sudah mendapatkan nama kakek atau nenek asuhan dan segera menuju ruangan masing-masing dengan sopan dan riang. Namun, tinggal Aletta dan Gery yang masih berdiri di depan papan pengumuman sambil meneliti nama-nama yang tertera.

"Waduh, Al. Kok aneh ya, yang lain udah sibuk ngobrol sama kakek-neneknya, kita berdua aja yang masih berdiri di sini," kata Gery sambil membetulkan letak topinya, wajahnya terlihat bingung sekaligus lucu.

Aletta tertawa kecil lalu menepuk bahu temannya itu, "Tenang aja, Ger. Mungkin ada tugas khusus buat kita seperti kata Ibu Eka tadi. Atau mungkin kakek atau nenek kita masih di kamar, belum keluar. Yuk, kita cari keliling aja sambil menyapa, siapa tahu mereka butuh bantuan."

"Ayo kita berangkat operasi pencarian dengan sopan santun!" jawab Gery dengan gaya serius bercanda, membuat Aletta makin tertawa.

Mereka berdua pun berjalan menyusuri lorong demi lorong, menyapa setiap penghuni yang mereka temui dengan ucapan sopan seperti "Selamat pagi, Kek", "Selamat pagi, Nek" dengan nada suara yang ramah dan lembut. Belum jauh mereka berjalan, tiba-tiba terdengar suara langkah kaki kecil yang berlari mendekat dengan tergesa-gesa.

"Aletta! Aletta, tungguin gue dulu dong!"

Aletta dan Gery berbalik, ternyata itu Luna yang napasnya terengah-engah dan wajahnya tampak cemas bercampur bingung.

"Ada apa, Lun? Kok kelihatan panik banget? Ada masalah sama Nenek asuhanmu?" tanya Aletta khawatir sambil membenarkan kerah baju Luna yang sedikit berantakan.

Luna mengangguk cepat lalu meremas lengan Aletta pelan, "Iya, Let. Nenek Mariyam yang jadi tanggung jawab gue itu... Beliau kena serangan stroke dulu, jadi sebelah tubuhnya nggak bisa digerakkan sama sekali. " Menghentikan ucapannya aga ragu meminta tolong namun tak ada pilihan lain.

"Jadi" Ucap Aletta memandang Luna kebingungan seperti ragu untuk meminta bantuan nya.

"Sekarang waktunya beliau mau mandi dan bersih-bersih badan, tapi gue bingung banget caranya. Takut salah gerakan atau malah nyakitin beliau karena tubuhnya kaku begitu. Tolongin gue ya, Let? Gue jadi takut sendiri nih."

"Ya ampun, Lun... Ya sudah, ayo kita ke sana sekarang. Loh tenang aja ya, kita kerjakan bareng-bareng pasti bisa. Loh ke sini sama Gery dulu ya, nanti gue nyusul secepatnya," kata Aletta menoleh ke arah Gery.

Gery tersenyum mengerti dan mengangguk yakin, "Iya, ayo Lun. Loh sama Aletta dulu, gue cari pasien sendiri. Tenang aja, gue kan anak yang sopan dan pemberani, pasti kakek-kakek di sini suka sama gue!" candanya, membuat Luna sedikit tersenyum lega.

Sesampainya di kamar Nenek Mariyam, mereka mengetuk pintu terlebih dahulu tiga kali dengan lembut.

"Permisi... Selamat pagi," sapa Aletta pelan sebelum masuk.

Terlihat seorang nenek tua duduk di pinggir tempat tidur dengan tatapan lemah namun ramah. Tubuh bagian kirinya terlihat kaku dan sulit digerakkan.

"Selamat pagi, Nenek. Maaf mengganggu istirahatnya ya," ucap Aletta dengan nada suara yang sangat lembut dan sopan. "Saya Aletta, dan ini teman saya Luna. Ibu Eka yang menyuruh kami ke sini untuk membantu merawat Nenek hari ini. Izinkan kami bantu memandikan dan membersihkan badan Nenek ya?"

Nenek Mariyam mengangguk pelan sambil tersenyum tipis, matanya tampak berbinar lega melihat kebaikan dan kesopanan kedua gadis itu.

Aletta langsung mengatur strategi dengan Luna sambil berbisik pelan agar tidak terdengar oleh Neneknya, "Dengerin ya, Lun. Bagian tubuh yang lumpuh itu harus kita sangga pelan-pelan, jangan pernah ditarik paksa ya. Kita usap perlahan, gerakannya harus lembut sekali, dan sering-sering tanya apakah sakit atau tidak. Ingat, kelembutan dan kesabaran itu kuncinya. Kita anggap beliau seperti nenek kandung kita sendiri."

"Iya gue faham! Gue ikutin semua perintah loh dengan teliti," jawab Luna dengan semangat baru.

Mereka berdua bekerja sama dengan sangat hati-hati dan telaten. Aletta mengajari Luna cara memindahkan tubuh Nenek Mariyam dengan lembut, cara membersihkan badan tanpa menimbulkan rasa sakit, hingga cara mengenakan pakaian dengan nyaman dan rapi.

Sesekali Aletta bertanya dengan sopan, "Nenek sakit nggak kalau digerakkan begini? Kalau sakit bilang ya, Nek," dan Nenek Mariyam hanya menggeleng pelan sambil tersenyum haru karena diperlakukan begitu baik dan penuh kasih sayang.

"Wah, hebat banget kamu ya, Let. Gue jadi nggak takut dan bingung lagi deh. Terima kasih banyak ya bantuannya," kata Luna lega sambil mengelap keringat di dahinya setelah semuanya selesai dan Nenek Mariyam sudah terlihat bersih, wangi, dan rapi.

"Sama-sama, Lun. Kan kita belajar bareng dan saling bantu. Yuk, lanjut tugas lagi dengan semangat!" jawab Aletta riang.

Sore hari, setelah jam tugas selesai dan mereka pamit pulang dengan sopan kepada Ibu Eka serta para kakek dan nenek penghuni panti, mereka semua kembali ke kosan dengan perasaan lelah tapi hati yang senang dan puas.

Baru saja Aletta duduk santai di teras sambil melepas sepatu dan mengipas-ngipas wajahnya, tiba-tiba ada suara motor berhenti tepat di depan pagar kosan. Itu Diego, teman satu kelompok mereka.

"Hai, Aletta! Asyik banget ketemu kamu di sini," sapa Diego dengan senyum lebar yang tampak berseri-seri. "Kebetulan banget aku lewat sini, eh lihat kamu lagi santai. Ayo, aku ajak makan! Ada warung mie setan enak banget deket sini, pedasnya nendang banget lho, cocok buat mengembalikan semangat habis kerja seharian. Yuk, kita berangkat sekarang!" ajaknya antusias sambil menatap Aletta berharap.

Di dalam hati Diego bersorak gembira Akhirnya bisa ngajak dia makan berdua! Pasti seru banget kita ngobrol lama-lama tanpa ada yang ganggu.

Tapi harapan Diego langsung pupus seketika saat Aletta tersenyum lebar dan langsung mengeluarkan ponselnya dengan cepat.

"Wah, asyik banget tawarannya! Makasih ya, Leon. Tunggu sebentar ya, aku kabarin teman-teman yang lain dulu biar ikut. Pasti mereka juga lapar banget dan capek habis seharian nemenin kakek-nenek di sana," kata Aletta dengan nada polos dan ceria, sama sekali tidak sadar dengan maksud tersembunyi Diego.

Diego langsung melongo, wajahnya seketika berubah lesu seperti balon yang kempes. "Eh, eh... Nggak usah repot-repot deh, Let... Kan aku cuma mau ngajak kamu aja... Kita berdua aja biar tenang," cicitnya terbata-bata berusaha mencegah dengan alasan yang kurang meyakinkan.

Tapi sudah terlambat. Belum semenit Aletta mengirim pesan ke grup obrolan mereka, muncullah Marina, Silvia, Widi, Cika, Luna, dan Oca berlari keluar rumah dengan wajah penuh semangat dan mata berbinar-binar.

"Makan?! Di mana, di mana? Kebetulan banget nih perut gue udah bunyi terus dari tadi nih," seru Cika heboh sambil memegangi perutnya.

"Mie setan? Asyik banget! Gue suka yang pedas-pedas, katanya bikin badan segar lagi habis capek kerja," tambah Oca sambil mengikat rambutnya menjadi kuncir kuda.

Diego hanya bisa menahan senyum masam dan menggaruk kepalanya yang tidak gatal. "I-iya deh... Ayo semuanya berangkat... Nanti gue traktir semuanya deh," katanya pasrah sambil menghela napas panjang. Padahal gue pengennya cuma berdua sama loh, Let... Kenapa jadi rame banget sih nasibku hari ini? keluhnya dalam hati.

Di warung mie setan, suasana jadi sangat riuh dan seru. Mereka tertawa lepas, saling menyodok bahu, hingga saling menantang untuk memesan mie dengan tingkat kepedasan paling tinggi.

Diego yang tadinya cemberut karena rencananya gagal total, akhirnya ikut tertawa dan bersenang-senang melihat keramaian dan keakraban itu. Ia lupa sejenak akan niat awalnya karena suasana yang begitu hangat dan menyenangkan.

Malam harinya, suasana di kosan mulai tenang dan hening. Aletta sedang duduk di tepi tempat tidur sambil merapikan buku catatan dan menuliskan pengalaman hari ini, tiba-tiba ponselnya berdering nyaring. Nama Tamara muncul di layar ponselnya. Aletta segera mengangkatnya dengan lembut agar tidak membangunkan teman sekamarnya yang sudah mulai tidur.

"Halo, Tam! Gimana hari pertama loh di sana? Seru nggak? Lancar kan kegiatannya?" tanya Aletta antusias namun berbisik pelan.

Suara Tamara di seberang sana terdengar campur aduk antara kesal, bingung, dan sedikit sedih. "Al... Aku bingung banget, pengen banget cerita panjang lebar sama loh. Loh punya waktu nggak sekarang? Maaf ganggu istirahat loh."

"Punya dong, pasti punya! Nggak ganggu kok. Ada apa sih yang bikin loh pusing gitu? Ceritain aja semuanya ke gue," jawab Aletta khawatir.

"Jadi gini, Al... Sejak kita berada di tempat tugas , sikap Dilan itu berubah drastis banget sampai gue nggak kenal lagi. Dulu dia selalu menghindar dan dingin banget sama gue kan? Bahkan seolah nggak kenal. Tapi sekarang, dia malah sering banget nelpon gue, nanyain kabar gue terus-terusan, bahkan dia sering bantuin gue angkat barang berat, beliin minum, atau sekadar ngobrol lama-lama. Katanya dia minta maaf pernah jahat sama gue dulu dan mau berubah jadi lebih baik," jelas Tamara panjang lebar dengan nada bingung.

"Wah, itu bagus dong, Tam. Berarti dia sadar kalau sikapnya dulu salah dan dia mau memperbaiki diri. Kan bagus kalau ada orang yang mau berubah jadi lebih baik," sahut Aletta mencoba berpikir positif dan bijaksana.

"Tapi bukan gitu maksudku, Al! Gue kok ngerasa... Gue ngerasa kayak dia baik sama gue cuma karena ingin mencari pelampiasan deh buat lupain loh. Dia nanyain kabar gue, perhatikan ke gue, semuanya cuma karena dia pengen loh cemburu deh sama dia. Rasanya sakit banget dan nggak enak, kayak gue cuma jadi alat perantara atau tempat pelampiasan aja. Dia nggak beneran suka sama gue, dia cuma mau tahu tentang kehidupan loh lewat gue saja," keluh Tamara dengan nada suara yang mulai gemetar menahan kesal.

Hati Aletta langsung terasa nyeri dan sesak mendengar penuturan sahabatnya itu. Ingatan tentang sikap dingin Dilan yang dulu sengaja menjauhinya dan menyakitinya masih terasa jelas dan sangat menyakitkan di benaknya.

Rasa sakit hati itu masih tersimpan rapi dan dalam di sudut hatinya. Namun, ia berusaha sekuat tenaga untuk terdengar tegar, tenang, dan bijaksana saat berbicara dengan sahabatnya itu.

Aletta menarik napas panjang pelan-pelan sebelum menjawab, suaranya terdengar lembut namun menyembunyikan luka yang begitu dalam.

"Tam... Gue ngerti banget perasaan loh, gue ngerti rasanya pasti nggak enak dan bikin sakit hati kan? Tapi, coba deh loh lihat dari sisi lain ya. Mungkin selama ini Dilan itu sebenarnya bingung dan nggak tahu cara yang benar buat minta maaf atau mendekat lagi ke loh. Dia merasa bersalah besar dan sungkan kalau bicara sama loh, makanya dia cari jalan buat perbaiki hubungan kalian. Dia takut loh masih marah atau benci sama dia karena perlakuan dia dulu," kata Aletta menasihati dengan sabar.

"Tapi Al... Loh yakin nggak kalau dia cuma pura-pura baik aja demi kepentingan dia sendiri? Aku takut dia cuma main-main sama perasaan gue sendiri," kekeh Tamara yang masih belum yakin dan merasa curiga.

"Dengerin gue baik-baik ya, Tam. Walaupun dulu dia nyakitin loh banget, walaupun sikapnya dulu bikin loh menangis dan sakit hati berkali-kali sampai rasanya nggak mau ketemu dia lagi... Gue percaya satu hal nggak ada orang yang beneran jahat selamanya. Kalau dia mau berubah dan mau memperbaiki kesalahannya, biarin aja dia nunjukin usahanya. Loh jangan langsung berburuk sangka ya. Coba kasih dia kesempatan buat membuktikan semuanya, tapi loh juga tetep jaga hati dan perasaan loh sendiri ya biar nggak sakit lagi. Percaya aja sama prosesnya, kalau dia beneran tulus dan mau berubah, lama-lama pasti kelihatan kok kebenarannya," nasihat Aletta dengan nada yang meyakinkan, padahal di dalam hatinya ia bergumam pelan Ya Tuhan, kenapa rasanya masih sakit banget ya ingat semua itu... Kenapa dia harus muncul lagi sekarang?

"Baiklah, Al... Kalau loh bilang begitu dan loh aja masih sabar, gue coba percaya dulu deh. Makasih ya udah ngasih saran dan kasih nasihat yang bagus. Loh di sana juga yang kuat dan sehat ya!" kata Tamara terdengar jauh lebih lega dan tenang setelah mendengar penjelasan Aletta.

"Iya, sama sama

~be to continued~

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!