NovelToon NovelToon
Three Princes And The Cat Who Knows Too Much

Three Princes And The Cat Who Knows Too Much

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Epik Petualangan / Keluarga & Kasih Sayang / Penyeberangan Dunia Lain
Popularitas:242
Nilai: 5
Nama Author: Rootea

Rumi terlempar ke dunia otome game yang sedang digandrungi. Tapi, dia bukan tokoh utama wanitanya.... Dia cuma seekor kucing!

Berbekal pengetahuan akan seluruh akhir cerita bersama tiga pangeran, Rumi bertekad mengatur jalur romansa agar semuanya berakhir bahagia.

Namun, kehidupan tidak pernah sesederhana permainan game....

Tiga pangeran berarti tiga jalan hidup. Tiga pilihan. Dan hubungan yang perlahan menghancurkan dari dalam.

Apakah yang dia ketahui masih cukup? Ataukah, pada akhirnya Rumi tidak bisa melakukan apa-apa....

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rootea, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 29 - Di Balik Perayaan

Malam itu, Astryion tidak tidur.

Setelah dihantui berita buruk yang terasa begitu lama, istana kini dipenuhi musik dan kemeriahan pesta. Aula perjamuan tampak bersinar oleh ratusan lilin dan chandelier kristal. Para bangsawan memenuhi lantai dansa dan balkon marmer dengan pakaian terbaik mereka. Tawa dan obrolan ringan terdengar di berbagai sudut ruangan. Gelas anggur dan piring makanan diangkat silih berganti.

Bahkan para ksatria yang berjaga tampak lebih rileks dari biasanya.

Seakan-akan hari itu semua orang memutuskan untuk melepas sejenak beban yang telah bercokol lama. Seakan semua sepakat mengizinkan diri untuk menikmati kebahagiaan.

Dalam pusat kemeriahan itu, Althea tampak sedikit kewalahan dengan segala ucapan selamat dan puji yang tiada habisnya. Sementara Caelian tetap berdiri tenang dan elegan, tersenyum sopan dengan postur dan wajahnya yang sempurna—apa yang ia pikirkan tetap sulit dibaca, seperti biasa.

Mungkin karena sepanjang hari itu Caelian adalah tokoh utamanya, mataku tidak lepas darinya. Sehingga, ketika dia tiba-tiba menghilang dari "panggung", refleks aku mengikutinya tanpa berpikir.

Tak pernah aku membayangkan apa yang aku temukan dari tindakan itu....

...*...

...*...

...*...

Dalam sebuah pesta pernikahan, sewajarnya yang paling berbahagia ialah kedua mempelai. Ikrar janji suci, katanya, adalah bentuk paling nyata dari cinta.

Keindahan yang menjadi langka ditemukan di istana.

Cinta adalah kemewahan. Terlalu mahal untuk dimiliki semua orang. Tidak banyak yang beruntung mendapatkannya.

Sejak lama Caelian tahu pernikahannya tidak akan dibangun di atas itu. Bukan karena ia tidak menginginkannya—tapi karena itu tidak pernah menjadi pilihan.

Cinta, bukanlah topik yang perlu ia pikirkan.

Pernikahan seorang putra mahkota ialah untuk kepentingan negeri. Yang paling utama dan pertama adalah memilih pasangan yang akan membawa paling banyak kebaikan untuk rakyat. Pernikahan putra mahkota hanyalah sebuah alat. Tidak ada suka ataupun tidak suka pada siapa yang terpilih menjadi pasangannya. Pada dasarnya ia hanya menjalankan tugas.

Pesta pernikahan ini, karenanya, tak lebih dari acara formal kerajaan. Tidak berbeda dengan yang lain. Ia telah melakukan bagiannya dengan sempurna. Mengucapkan sumpah. Berdiri di tempat yang seharusnya. Melakukan segala yang diperlukan. Menjadi apa yang diharapkan darinya.

Lebih dari itu…bukan lagi tugasnya.

Dalam hingar bingar musik dan obrolan penuh tawa, ketidakhadirannya tidak akan menjadi masalah.

Langkah membawanya menjauhi keramaian. Hingga suara tawa yang tak pernah benar-benar berupa tanda kebahagiaan itu tidak lagi mencapai telinga. Hingga semak-semak tinggi taman labirin istana ada di hadapannya.

Caelian tidak berhenti.

Boots berlapis emas menginjak jalanan berbatu.

Musim dingin belum lama dimulai, tidak ada salju yang melapisi bumi Kaelros.

“Tunggu di luar,” ia berucap tanpa menoleh.

Selalu ada pengawal yang mengikutinya. Cukup dekat untuk mencegah bahaya menimpa, cukup jauh untuk memberi ilusi bahwa ia seorang diri. Mereka tidak akan menyukai perintahnya; tidak jua berani menentangnya.

Taman labirin itu adalah lelucon yang dibangun kakek buyutnya. Pagar hijau tinggi dibangun mengikuti jalur yang tak seberapa sulit. Semak bunga beragam musim diletakkan sedemikian rupa, sehingga biar musim berganti, akan selalu ada bunga yang menghiasi. Di tengah labirin terdapat kubah putih tanpa dinding yang diapit pohon magnolia di satu sisi dan pohon maple di sisi lain.

Sepintas, labirin itu tak lebih dari jalur yang sedikit dilebih-lebihkan untuk mencapai taman lain.

Bukan taman itu yang dituju oleh sang putra mahkota.

Di salah satu belokan tajam, pada jalur yang seharusnya buntu, ia menembus pagar ivy yang merambat ke sana kemari. Jalur rahasia itu membawanya pada petak taman tersembunyi. Ada patung kecil naga di tengahnya, dikelilingi batu-batu melengkung, seperti lingkaran pemujaan.

Sesemakan di sana lebih liar dibanding petak lain taman, namun bunga Kamelia mekar dengan begitu sempurna. Kelopak merahnya bersinar di bawah cahaya bulan. Hellebore bergoyang samar di bawah bayangnya, sementara kelopak kecil Snowdrop muncul di dekat kaki patung.

Putra Mahkota tidak memiliki tujuan khusus mendatangi tempat itu. Bukan untuk pertemuan rahasia. Bukan pula untuk menyembunyikan barang terlarang.

Tanpa mempedulikan tanah dan kerikil di bawah tubuhnya, Caelian menjatuhkan diri di hadapan naga kecil itu. Punggungnya bersandar pada salah satu batu lengkung.

Selama beberapa waktu ia hanya terduduk diam, membiarkan angin musim dingin menampar wajah.

Ia pertama kali menemukan tempat ini di usia lima tahun, ketika sedang 'bermain' dengan ‘teman-temannya’. Naga kecil itu telah mendengar banyak hal. Apa-apa yang tidak pernah dikatakan di tempat lain.

Kepalanya mendongak menatap langit yang dipenuhi bintang. Begitu cerah. Begitu indah.

Begitu berbeda dengan apa yang ia rasakan.

“Kurasa aku membuat keputusan yang salah.” Suara Caelian terdengar kemudian; halus, seperti semilir angin.

Di antara semak kamelia itu terdapat sebuah peti. Ia mengambil salah satu botol anggur dari dalam sana dan membuka anggur itu tanpa banyak berpikir.

Tidak ada yang melarangnya minum alkohol, terlebih di malam perayaan ini. Sodoran alkohol yang nyaris tidak pernah ia terima di berbagai kesempatan, termasuk sebelum datang kemari, adalah pilihan yang ia buat secara sadar. Keengganan untuk menunjukkan celah pada mereka yang menunggunya melakukan sedikit saja kesalahan.

Anggur itu direguk langsung dari botolnya.

Segar dan pahit turun membasahi kerongkongan. Perlahan menghangatkan tubuhnya. Sedikit demi sedikit meleburkan restriksi yang ia bangun sendiri.

“Mereka sangat menginginkan pernikahan ini,” suaranya kembali terdengar, masih serupa bisikan angin, seperti sedang bercerita pada kawan lama, “dan sudah aku berikan.”

Ia menatap cairan gelap di dalam botol.

“Tetap saja,” Suaranya mengeras dan genggaman tangannya mengerat, “tidak ada yang berubah.”

Ia menatap patung naga itu, seakan tengah mengadu.

“...mereka tidak mengembalikan milikku.”

Hening adalah satu-satunya respon yang ia dapatkan.

Seperti lalu-lalu.

Tidak pula ia mengharap lain.

Karenanya, ketika suara keresak daun tiba-tiba membelah sepi, putra mahkota ini seketika awas. Kepalanya menoleh cepat ke arah sumber suara. Tangannya meraih gagang pedang di samping tubuh.

Seharusnya tidak ada yang mengetahui petak rahasia ini.

Seharusnya, tidak ada yang mengikutinya kemari.

Ketika yang muncul dari balik pagar ivy adalah sosok hewan kecil berbulu oranye, Caelian mendenguskan tawa pendek.

“Kau rupanya.” Ia berucap, tak menyembunyikan lega.

Kucing itu mengeong dan mendekat tanpa ragu. Lantas melompat ke atas pangkuannya, seolah itu adalah tempatnya.

Di waktu lain, Caelian tidak akan menyukai ini. Ia bukan Havren yang senang menenggelamkan diri di antara kerumuman hewan. Namun kali ini, bobot kecil kucing itu terasa nyaman. Hangat yang teradiasi dari tubuhnya terasa… menenangkan.

Memutuskan bahwa kucing itu tidak berbeda dengan batu penghangat, Caelian pun membiarkan, dan kembali mereguk anggur dari botolnya.

“Bagaimana rasanya menjadi kucing?” Caelian tiba-tiba bertanya.

Tanpa sadar jari-jarinya bergerak di punggung kucing itu, mengusap bulu emas yang tebal dan lembut.

“Kau tidak peduli, ya? Siapa menikah dengan siapa… siapa pergi ke mana… apa yang terjadi di mana. Semua ini…  tidak ada kaitannya denganmu.”

Kucing itu mengeong, seakan memahami perkataannya.

Seakan tengah menjawabnya.

“Mungkin seperti itu lebih baik.” Caelian bergumam.

Botol anggur kembali dibawa ke mulut. Pahit tercecap di lidah.

“Kau tahu,” ia bergumam. Tidak jelas pada siapa.

Kucing di pangkuannya bergerak sedikit, mencari posisi lebih nyaman.

“Mereka menghukumku karena aku membantah.”

Tidak ada kemarahan dalam suaranya ketika mengatakan itu. Tidak pula ada emosi yang kentara. Intonasinya datar. Tak lebih dari penerimaan atas apa yang sudah biasa. “Aku berperilaku seperti anak kecil, katanya.”

Ia tertawa. Hambar.

Angin dingin berhembus cukup kencang, membawa daun kering yang jatuh dari dahan.

“Lucu.”

Nada suaranya tiba-tiba ceria. Wajah rupawan itu menunjukkan senyum yang tampak sama sekali tidak pada tempatnya. “Aku bisa mengatur pergerakan pasukan di perbatasan. Menandatangani perjanjian yang akan bertahan puluhan tahun. Menentukan siapa yang hidup dan siapa yang mati.”

“Tapi,”

ia tertawa lagi, lebih nyaring, lebih kering,

“aku tidak tahu siapa yang benar-benar ada di pihakku.”

Pengakuan itu diucap dalam bisikan, seolah khawatir angin akan membawanya terlalu jauh.

Ia menunduk, menatap bola mata hijau si kucing.

“Bagaimana denganmu?”

Putra Mahkota itu tersenyum. Asimetris.

“Apa kau mata-mata?”

Kucing itu kembali mengeong. Tangan berbulu emas menyentuh lengan sang pangeran, seakan ingin menyampaikan sesuatu.

“Di seluruh negeri,”

bola mata biru tersembunyi di balik kelopak, sementara angin memainkan helai pirang,

“dia satu-satunya yang bisa kupercayai.”

...*...

...*...

...*...

Wajah yang kita tunjukan di hadapan publik dan wajah kita sesungguhnya, seringkali memang tidak sama.

Hal itu sangat aku pahami. Adalah fenomena yang wajar ditemukan di negeri kelahiranku. Adalah juga yang sadar tidak sadar aku lakukan sendiri.

Setiap orang memiliki tiga wajah; wajah yang diperlihatkan pada dunia, wajah yang diperlihatkan pada orang-orang terdekat, dan wajah yang tidak pernah diperlihatkan pada siapapun.

Ini bukanlah menyoal tipu muslihat, melainkan perlindungan diri dan tuntutan sosial. Berperilaku manis di hadapan atasan yang sebenarnya dibenci; tetap tersenyum walaupun ingin menangis; berkata ‘tidak apa-apa’ walau sebenarnya… ingin berhenti. Kesemua itu kadang tak terelakkan. Kehidupan tidak selalu cerah dan dihiasi pelangi. Apa yang terjadi tidak selalu ada di pihak kita. Kondisi tidak selalu berjalan sesuai keinginan. Selalu, akan selalu ada yang harus dikorbankan. Dan seringkali untuk itu kita tidak bisa sepenuhnya jujur bereaksi seperti yang kita inginkan.

Biarpun sangat memahami dan mengalami ini, mengetahui Caelian ada di kondisi serupa, tetap saja.... mengejutkan. Padahal, mengingat apa yang harus dihadapi seorang putra mahkota, sebenarnya justru sangat wajar untuknya.

Hanya saja, dia terlihat begitu… menderita.

["aku tidak tahu siapa yang benar-benar ada di pihakku."]

Sungguh pernyataan yang begitu sedih. Ingin sekali aku bertanya, apa yang sebenarnya terjadi padanya, hingga berkata seperti itu? Berapa banyak orang yang mengkhianatinya? Berapa banyak ia menaruh percaya, lantas dibuktikan salah? Lalu, "dia" yang dibicarakan itu… siapa? Apa yang terjadi padanya?

Aaaaaagghhhhh!! Seandainya saja aku bukan kucing!!

Aku sungguh ingin memeluk Caelian dan memberitahu bahwa aku—aku!—ada di pihaknya.

Aku akan selalu mendukungnya—

Mungkin....

....selama Caelian tidak sungguhan hendak menjahati Havren….

Aaakk!!!

Bagaimana kalau mereka ada di kubu yang berbeda...??

Apakah mereka musuh?

Siapa yang harus aku dukung kalau benar begitu???

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!