NovelToon NovelToon
Cinta Zaenab

Cinta Zaenab

Status: sedang berlangsung
Genre:Spiritual / Romantis / Cintamanis / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:487
Nilai: 5
Nama Author: ANGWARUL MUJAHADAH

Sebuah kisah wanita cantik yang rela di ajak sang suami hidup di negeri perantauan, yaitu ke negeri Arab Saudi di Makkah dan ingin meninggal dunia disana

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ANGWARUL MUJAHADAH, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Jadi buronan

Mbah Sidik menghela napas, sorot matanya yang tajam sejenak melembut. Ia bangkit dari amben dan mengajak Ahmad berjalan menuju sumur tua di belakang rumah untuk mencuci muka. Dinginnya air sumur itu seolah membangkitkan kembali memori saat ia pertama kali menginjakkan kaki di tanah Kudus sebagai buronan.

"Waktu itu, Ahmad, Bapak merasa dunia sudah kiamat. Difitnah saudara sendiri, diburu pasukan pusat, dan nama baik Bapak hancur jadi abu. Kudus adalah kota santri, tempat Bapak mencari perlindungan," ucap Mbah Sidik sambil menyeka wajahnya.

Dengan sisa tenaga yang ada, Sidik mendaki ribuan anak tangga menuju puncak Gunung Muria. Ia ingin berziarah ke makam Sunan Muria, memohon kepada Sang Pemilik Nyawa agar diberi jalan keluar dari benang kusut fitnah ini. Udara pegunungan yang sangat dingin dan aroma wewangian kayu cendana perlahan menenangkan batinnya yang panas.

Karena raga yang sudah mencapai batas lelah setelah pelarian dari Sayung, Sidik terduduk di pojok area makam. Suasana yang sangat sejuk dan alunan zikir yang sayup-sayup terdengar membuatnya terlelap tanpa sengaja.

Dalam tidur yang singkat namun sangat dalam itu, Sidik bermimpi. Ia tidak melihat wajah, namun ia melihat seberkas Cahaya Putih yang sangat terang, namun tidak menyilaukan mata. Cahaya itu memancarkan kedamaian yang luar biasa, melenyapkan rasa takut dan dendam di hati Sidik.

Dari tengah cahaya itu, terdengar suara yang bergema tanpa wujud:

"Sidik... perjalanannmu belum usai. Kebenaran tidak dicari dengan pedang, tapi dengan akar yang kuat. Pergilah ke Selatan, carilah petunjuk di makam Ki Ageng Selo, sang penakluk petir. Di sana, jawaban dari doamu akan kau temukan."

Sidik terbangun dengan napas tersengal. Keringat dingin mengucur, namun tubuhnya terasa sangat ringan seolah beban berat di pundaknya baru saja diangkat.

Tanpa menunggu fajar menyingsing, Sidik segera mengumpulkan anak buahnya yang bersembunyi di kaki gunung.

"Kita tidak menetap di Kudus," perintah Sidik tegas. "Kita bergerak ke Purwodadi. Isyarat langit menyuruh kita menemui Sang Penakluk Petir."

Mereka kembali bergerak menyusuri jalur tikus, menghindari jalan raya utama yang mungkin dijaga intelijen pusat.

Perjalanan menuju Desa Selo di Purwodadi bukan sekadar pelarian fisik, melainkan perjalanan batin bagi Sidik. Ia mulai paham bahwa pengalamannya sebagai tentara taktis harus segera dibekali dengan kekuatan spiritual yang lebih dalam.

Di puncak Muria yang sunyi dan wingit,

Kupinta jawaban pada langit yang menjepit.

Lelahku berujung pada mimpi yang suci,

Tentang cahaya putih yang tak pernah ingkar janji.

Selo memanggil dengan guruh yang terpendam,

Menyuruhku berjalan di tengah malam yang kelam.

Bukan lagi untuk lari dari desing peluru,

Tapi untuk menjemput takdir yang benar-benar baru.

Ahmad, itulah awal mula bapak belajar tentang 'tanda',

Bahwa dunia ini bukan hanya soal apa yang ada di mata.

Terkadang, saat semua pintu manusia tertutup rapat,

Pintu langit justru terbuka lebar memberi syafaat.

Mbah Sidik menatap Ahmad dengan serius. "Itu pertama kalinya Bapak percaya pada mimpi, Ahmad. Karena saat itu, akal Bapak sudah mentok, strategi Bapak sudah habis. Di Purwodadi itulah, sejarah Bapak berubah dari seorang tentara strategi menjadi seseorang yang kau kenal sekarang."

Lima hari perjalanan menyusuri hutan jati dan rawa-rawa dari Kudus menuju Purwodadi adalah ujian mental yang sangat berat. Mbah Sidik tahu, intelijen pusat masih menyebar foto wajahnya di setiap stasiun dan pasar.

"Semuanya, dengar!" perintah Sidik di tengah hutan gelap. "Mulai detik ini, tidak ada lagi Komando Sidik. Buang semua nama asli kalian. Panggil aku Rosyid. Kita adalah rombongan pedagang keliling yang tersesat, bukan tentara."

Sesampainya di Desa Selo, suasana terasa sangat mistis. Makam Ki Ageng Selo, sang penakluk petir, berdiri dengan wibawa yang dingin. Sidik, atau kini disebut Rosyid, langsung melakukan riyadhah. Tiga hari tiga malam ia tidak beranjak dari area makam. Ia berzikir, memohon petunjuk atas fitnah yang menghimpitnya.

Namun, hingga malam ketiga, langit tetap diam. Tidak ada suara, tidak ada mimpi. Rosyid mulai merasa putus asa. Tubuhnya menggigil karena lapar dan dinginnya udara malam Purwodadi.

"Apa aku salah dengar isyarat di Muria?" batinnya dengan hati yang mulai goyah.

Tepat pada jam tiga dini hari, saat kabut turun begitu tebal, Rosyid melihat sesuatu yang mustahil di rimbunnya pohon pisang belakang area makam. Ada seberkas Cahaya Putih yang berpijar lembut, menggantung di atas selembar daun pisang yang hijau segar.

Antara rasa takut yang luar biasa dan rasa penasaran yang mendalam, Rosyid mendekat dengan langkah gemetar. Ia menyibak semak-semak, dan jantungnya nyaris berhenti berdetak melihat pemandangan di depannya.

Di atas selembar daun pisang yang tipis itu—yang seharusnya robek jika dihinggapi seekor burung sekalipun—duduklah seorang kakek tua yang sangat tenang. Kakek itu mengenakan pakaian putih lusuh, rambutnya memutih panjang, dan sorot matanya seperti menembus langsung ke dalam jantung Rosyid. Itulah pertemuan pertamanya dengan Mbah Pupus.

"Kau mencari kemenangan, atau kau mencari kebenaran, Sodik?" suara kakek itu terdengar seperti guntur yang diredam, tenang namun bertenaga.

Sodik langsung bersimpuh di tanah yang lembap. Keangkuhannya sebagai komandan veteran yang ahli strategi runtuh seketika. Ia sadar, strategi manusia ada batasnya, namun kekuatan yang ia lihat di depannya ini berada di luar akal sehat.

"Hamba mencari keadilan, Mbah. Nama hamba dicoreng, kawan hamba dibunuh oleh fitnah," jawab Sodik dengan suara serak.

Mbah Pupus turun dari daun pisang itu dengan gerakan yang sangat ringan, seolah-olah tubuhnya tidak memiliki berat sama sekali. Ia mendekati Sodik dan menepuk pundaknya.

"Keadilan manusia itu semu, Nak. Mulai malam ini, simpan senjatamu. Aku akan mengajarimu cara menaklukkan petir dalam dirimu sendiri, sebelum kau menaklukkan musuh-musuhmu."

Lima hari menepi dengan nama yang berganti,

Mencari jawaban di tempat yang paling sunyi.

Tiga malam bersimpuh dalam putus asa yang dalam,

Menanti isyarat di tengah pekatnya malam.

Di atas daun pisang, kau nampak bertahta,

Melampaui logika, melampaui segala karsa.

Mbah Pupus datang saat duniaku telah runtuh,

Membawa cahaya agar imanku kembali utuh.

Ahmad, itulah saat bapak berhenti mengandalkan bedil,

Dan mulai belajar tentang takdir yang maha adil.

Sebab di atas daun pisang itu, bapak mengerti,

Bahwa kekuatan sejati lahir dari kerendahan hati.

Mbah Sidik menatap Ahmad dengan mata yang berbinar-binar. "Sejak saat itu, Ahmad, Bapak resmi menjadi murid Mbah Pupus. Bapak tidak lagi belajar cara menembak, tapi belajar cara menghilang, cara mengobati, dan cara memahami bahasa alam."

"Lalu, apa latihan pertama yang diberikan Mbah Pupus, Pak?" tanya Ahmad dengan penuh rasa ingin tahu.

Mbah Sidik tersenyum penuh arti. "Bapak disuruh berdiri di tengah sawah saat badai datang, Ahmad. Menunggu petir menyambar."

1
Ariasa Sinta
q yakin ini cerita asli, begitupun mbah sidik, iya kan thor ?
SANTRI MBELING: makasih kak
total 1 replies
Ariasa Sinta
ya Allah ...
thor q merinding sekaligus ke inget sama mbah mansyur (Kh.Tubagus Mansyur) yg d ceritain sama guru aku
Ariasa Sinta
loh loh loh ....
q berasa kaya lagi ngaji thor

siapa kah sebenarnya kang sidik ?
SANTRI MBELING: hehe he. makasih mampir disini juga
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!